Asyura: Padang Pasir Nainawa Berdarah
Tragedi Karbala bukan ledakan tunggal. Ia adalah puncak dari luka yang mengendap lama, dari darah yang telah lebih dulu tumpah sejak umat…
Asyura: Padang Pasir Nainawa Berdarah

(Sumber foto: Pinterest) Ilustrasi.
Di padang pasir Nainawa, yang kelak dikenal sebagai Karbala, darah tumpah lebih deras dari hujan yang tak pernah turun.
Tepat hari ini, 1.345 tahun lalu, 10 Muharram 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, sebanyak 4.000 pasukan di bawah komando Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash mengepung dan membantai rombongan kecil Husein bin Ali yang hanya berjumlah 72 orang.
Di tanah tandus Irak itu, sejarah Islam menancap dengan luka paling purba, memerah dan basah oleh air mata darah. Karen Armstrong dalam Islam: A Short History (2000) menyebutnya sebagai "fitnah" yang melanda dunia Islam. Dan Perang Karbala pula yang menjadi puncak permusuhan itu menjadi batu tapal dimulainya keterbelahan antara kaum Sunni dan Syiah secara luas di seluruh dunia.
Asyura menjadi lorong panjang kesedihan yang tak kunjung sembuh, terutama bagi mereka yang mewarisi duka Husein sebagai identitas spiritual dan politik.
Setiap tetes darah di Karbala menjelma bara api yang berkobar dan bergejolak dalam sejarah: memantik pemberontakan, perlawanan, dan menciptakan jarak tak kasatmata antarmazhab yang belum juga pulih hingga hari ini.
Di banyak negeri, perbedaan antara Sunni dan Syiah bukan sekadar soal fikih dan tradisi, tapi soal luka yang diwariskan turun-temurun. Luka yang bernama Karbala itu menjelma jadi batas tak tampak dalam pergaulan, dalam politik, bahkan dalam kemanusiaan umat yang seharusnya satu.
Dan di tengah semua itu, nama Husein bin Ali tetap berdiri: sebagai simbol keteguhan, sekaligus saksi sunyi bahwa kekuasaan bisa menjadi lebih bengis dari musuh, ketika ia kehilangan malu kepada kebenaran. Bahkan darah dan nyawa saudaranya halal.
Tragedi Karbala bukan ledakan tunggal. Ia adalah puncak dari luka yang mengendap lama, dari darah yang telah lebih dulu tumpah sejak umat Islam kehilangan kemampuan menjaga nyawa pemimpinnya sendiri.
Sejarah Islam awal ditulis bukan hanya oleh wahyu dan dakwah, tetapi juga oleh pedang yang mengarah ke dada saudaranya sendiri.
Umar bin Khattab, khalifah kedua, ditikam saat memimpin salat Subuh di tengah masjid, di hadapan umat.
Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dibunuh di rumahnya saat membaca Al-Qur’an, tubuhnya ditinggalkan berhari-hari tanpa dikebumikan. Peristiwa ini dikenal dengan istilah al-fitnah al-ula (fitnah pertama).
Lalu, Ali bin Abi Thalib, sang khalifah keempat, ayah dari Husein, ditusuk saat hendak menunaikan salat di Kufah oleh Abdurrahman bin Muljam al-Muradiy.
Tak berhenti di situ, Husein bin Ali menjadi sasaran berikutnya. Tanah Karbala basah oleh darah dan tangis. Kepala Husein ditikam pedang, lehernya dibusur.
Karbala adalah deretan pembunuhan. Sejak Umar ditikam hingga Husein ditebas, tak ada satu pun darah itu yang tumpah karena kufur. Mereka semua Muslim, salat ke arah yang sama, menyebut nama Tuhan yang sama.
لِيْ خَمْسَةٌ أُطْفِيْ بِهَا # حَرَّ الْوَبَاءِ الْحَاطِمَةْ اَلْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَضَى # وَابْنَاهُمَا وَالْفَاطِمَة )*
Aku mempunyai lima yang memadamkan panasnya wabah yang menghancurkan.
Muhammad, Ali, dua putranya (Hasan dan Husain), dan Fatimah.
Dikutip dari Malâhiq fî Fiqh al-Dakwah al-Nûr karya al-Syaikh Badi'uzzaman Sa'id al-Nursi.
*(Ijazah KH. Hasyim Asy’ari bila menghadapi pagebluk penyakit.
메타데이터
- post_id
- 2ccbf16e7e95
- slug
- asyura-padang-pasir-nainawa-berdarah-2ccbf16e7e95
- url
- https://medium.com/@rofiqideni/asyura-padang-pasir-nainawa-berdarah-2ccbf16e7e95
- canonical_url
- https://medium.com/@rofiqideni/asyura-padang-pasir-nainawa-berdarah-2ccbf16e7e95
- author_url
- https://medium.com/@rofiqideni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 03:33:22