Berapa Harga Yang Pantas Untuk Menjual Masa Depan?
Berapa Harga Yang Pantas Untuk Menjual Masa Depan?

Hari ini mereka datang membawa peta, mengukur hutan dengan angka dan neraca. Di meja-meja rapat yang jauh dari suara satwa, rimba Aceh disulap menjadi deret komoditas belaka. Padahal di sana, pohon-pohon menyimpan usia yang lebih tua dari pidato penguasa. Akar-akar menegakkan tanah dari bencana, dan sungai-sungai menjaga kehidupan hingga ke muara. Namun bagi mereka yang mabuk laba, hutan hanyalah angka yang bisa dipindahkan ke kolom keuntungan semata. Tak terlihat kicau burung, tak terdengar jerit rusa, tak terhitung nyawa yang akan kehilangan rumahnya. Mereka berkata: pembangunan. Mereka berkata: pertumbuhan. Mereka berkata: kemajuan.
Seakan setiap luka pada bumi selalu dapat dicuci dengan istilah-istilah yang terdengar menenangkan. Bukankah kita sudah terlalu sering tertipu bahasa? Dahulu hutan dibuka demi kesejahteraan, namun yang tumbuh justru ketimpangan. Gunung dibelah demi kemakmuran, namun yang datang kemudian banjir dan kehilangan. Kini Aceh kembali dihadapkan pada pertanyaan lama, berapa harga yang pantas untuk menjual masa depan?

Apakah sebatang pohon dihitung dari kubik kayunya? Apakah sungai dinilai dari mineral di bawahnya? Apakah harimau, gajah, dan orangutan harus mengajukan proposal ekonomi terlebih dahulu agar berhak mempertahankan rumahnya? Betapa ganjil logika negara ini. Hutan yang menjaga kehidupan dianggap menghambat investasi, sementara tambang yang mengoyak perut bumi disebut solusi. Yang mempertahankan rimba dicap penghalang kemajuan, yang menggali luka dipuji sebagai penyelamat pembangunan.
Padahal setiap pohon yang tumbang adalah arsip hujan yang hilang. Setiap bukit yang dilubangi adalah bencana yang sedang disiapkan diam-diam. Ketika banjir turun dari hulu, ketika longsor menyapu kampung-kampung, ketika sungai berubah warna menjadi keruh dan muram, mereka akan kembali berkata, "Ini musibah alam." Bukan. Sering kali itu bukan musibah alam.

Itu adalah keputusan politik yang menjelma bencana. Itu adalah tanda tangan yang berubah menjadi lumpur. Itu adalah izin yang menjelma air bah. Itu adalah keserakahan yang berganti nama menjadi pembangunan. Jika benar mencintai bumi, maka biarkan hutan Aceh tetap menjadi hutan. Sebab emas dapat habis digali. Nikel dapat habis ditambang. Batu bara dapat habis dibakar. Tetapi hutan yang hilang sering kali tak pernah benar-benar kembali.
Kita tahu bahwa ketika rimba meminta perlindungan, terlalu banyak manusia sibuk menghitung keuntungan. Sementara pohon-pohon berdiri dalam sunyi, menjadi saksi bagaimana peradaban modern masih saja mengira kemajuan adalah kemampuan mengubah hutan menjadi lubang.
메타데이터
- post_id
- 2cd318ff70d2
- slug
- berapa-harga-yang-pantas-untuk-menjual-masa-depan-2cd318ff70d2
- url
- https://medium.com/@sorenavistha/berapa-harga-yang-pantas-untuk-menjual-masa-depan-2cd318ff70d2
- canonical_url
- https://medium.com/@sorenavistha/berapa-harga-yang-pantas-untuk-menjual-masa-depan-2cd318ff70d2
- author_url
- https://medium.com/@sorenavistha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30