← Back to list

Manusia Tangguh Tak Mengenal Menyerah

Editor : Pena Devisha

Nadya Tutor in Perspektif Perempuan · 2026-06-19 02:49 · 105 claps · 2.1 min read
#berlian #perspektif-perempuan #self-improvement #self-love
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement 💑 · Relationships

Berlian edisi 31

Manusia Tangguh Tak Mengenal Menyerah

Editor : Pena Devisha

Halo kawan Perspektif Perempuan. Bertemu lagi dengan saya Nadya Tutor sebagai editor Perspektif Perempuan. Berlian edisi kali ini adalah edisi ke-31, Perspektif Perempuan. Ada lima tulisan yang akan saya ulas. Jangan lupa baca juga naskah-naskah ini sebagai bentuk dukungan untuk penulis ya...

  1. Merayakan Warna Kita yang Berbeda

[embed]Merayakan Warna Kita yang Berbeda Sebuah catatan kecil tentang cara berdamai dengan perbedaan dan pentingnya saling mendukung sebagai sesama manusiamedium.com

Tulisan pertama berjudul "Merayakan Warna Kita yang Berbeda" dari kak Rizkia Fitriani membahas banyaknya perbedaan mulai dari pembentukan alam semesta ada siang dan malam, langit, bumi lautan. Semuanya tersusun dari warna yang berbeda. Begitupun manusia, walaupun bahan pembentuknya sama namun rasa, emosi, pola pikir dari kita berbeda-beda. Kak Rizkia Fitriani juga mencantumkan Qur’an Surat Al-Hujurat: 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari perempuan & laki-laki sera berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

  1. Operasi Caesar dan Standar Keibuan yang Tak Pernah Diminta

[embed]Operasi Caesar dan Standar Keibuan yang Tak Pernah Diminta Editor: Nadya Tutormedium.com

Tulisan kedua oleh kak Winda Dwi Ardiani membahas tentang standar seorang ibu terutama saat melahirkan dengan operasi caesar. Kalimat yang sangat berkesan bagi saya dari tulisan kak Winda Dwi Ardiani

Menjadi seorang ibu tidak hanya dituntut untuk merawat dan membesarkan anak, tetapi juga kerap dihadapkan pada berbagai penilaian mengenai keputusan-keputusan yang ia ambil selama masa kehamilan, persalinan, hingga masa pengasuhan.

Meskipun saat ini saya maupun kak Winda Dwi Ardiani belum menjadi seorang ibu, membayangkan bahwa tanggung jawab besar yang dipikul mulai dari melahirkan anak sampai mengasuh anak hingga bisa hidup mandiri sangat besar sungguh sangat luar biasa.

  1. Paradoks Kesetaraan Gender

[embed]Paradoks Kesetaraan Gender Mengapa negara-negara paling setara justru tidak memiliki tingkat partisipasi kerja perempuan tertinggi?medium.com

Tulisan kak Luthfiyyah Damayani membahas kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di negara maju. Contohnya negara Skandinavia yang mana kehidupan disana tergolong sejahtera sehingga perempuan cenderung lebih ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Lain cerita di negara berkembang seperti Indonesia, perempuan cenderung lebih banyak yang bekerja banting tulang mencari nafkah.

  1. Islam yang Katanya Membatasi Kebebasan Perempuan

[embed]Islam yang Katanya Membatasi Kebebasan Perempuan Bicara tentang hak, pembatasan dan kebebasan, mulai dari ‘filsafat kebebasan' ala John Stuart Mill sampai ‘logika…medium.com

Tulisan Kak Yopi Makdori membahas tentang kebebasan perempuan secara filsafat dan dalam pandangan Islam. Saya tertarik dengan kalimat kak Yopi yang ini "Kebebasan bagi kebanyakan orang kita adalah bisa melakukan apa saja yang kita mau, selama tidak menyakiti orang lain." Namun dalam Definisi secara ketat kebebasan adalah sebagai ketiadaan paksaan (absence of coercion). Seseorang dikatakan bebas bila ia tidak sedang dipaksa.

Istilah seseorang bisa disebut bebas ketika tidak dipaksa saya rasa lebih sesuai daripada definisi yang dipahami banyak orang. Walaupun orang tersebut tidak dipaksa tetap harus mengikuti norma yang ada.

  1. Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai

[embed]Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai Editor: Nadya Tutormedium.com

Terakhir, prosa karya Kak Rizkia Fitriani menceritakan perasaanya melihat lukisan Kakak dan Adik karya maestro Basoeki Abdullah. Lukisan ini sangat relate dengan kak Rizkia sebagai seorang kakak perempuan ya kak? Karena tanggung jawab yang besar. Terima kasih kak sudah berjuang sampai saat ini.

Berlian kali ini saya tutup dengan terima kasih dan salam hormat kepada rekan penulis Atmadeva Wiranata, stef, DyPa Dinara, Dewi Cahyanti, Stepanus BP, Hani, Luthfiyyah Damayani, adelia, Yopi Makdori. Serta para editor lainnya DyPa Dinara, putrimelati_123, Cindiana Famelia, Dewi Cahyanti, *Choirun Niswah, Pena Devisha.*


메타데이터
post_id
2d7dd70c7e88
slug
manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
author_url
https://medium.com/@nadya-miftaqul-janah
status
ok
fetched_at
2026-06-21 12:17:11