Manusia Tangguh Tak Mengenal Menyerah
Editor : Pena Devisha
Berlian edisi 31
Manusia Tangguh Tak Mengenal Menyerah
Editor : Pena Devisha
Halo kawan Perspektif Perempuan. Bertemu lagi dengan saya Nadya Tutor sebagai editor Perspektif Perempuan. Berlian edisi kali ini adalah edisi ke-31, Perspektif Perempuan. Ada lima tulisan yang akan saya ulas. Jangan lupa baca juga naskah-naskah ini sebagai bentuk dukungan untuk penulis ya...
- Merayakan Warna Kita yang Berbeda
Tulisan pertama berjudul "Merayakan Warna Kita yang Berbeda" dari kak Rizkia Fitriani membahas banyaknya perbedaan mulai dari pembentukan alam semesta ada siang dan malam, langit, bumi lautan. Semuanya tersusun dari warna yang berbeda. Begitupun manusia, walaupun bahan pembentuknya sama namun rasa, emosi, pola pikir dari kita berbeda-beda. Kak Rizkia Fitriani juga mencantumkan Qur’an Surat Al-Hujurat: 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari perempuan & laki-laki sera berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.
- Operasi Caesar dan Standar Keibuan yang Tak Pernah Diminta
[embed]Operasi Caesar dan Standar Keibuan yang Tak Pernah Diminta Editor: Nadya Tutormedium.com
Tulisan kedua oleh kak Winda Dwi Ardiani membahas tentang standar seorang ibu terutama saat melahirkan dengan operasi caesar. Kalimat yang sangat berkesan bagi saya dari tulisan kak Winda Dwi Ardiani
Menjadi seorang ibu tidak hanya dituntut untuk merawat dan membesarkan anak, tetapi juga kerap dihadapkan pada berbagai penilaian mengenai keputusan-keputusan yang ia ambil selama masa kehamilan, persalinan, hingga masa pengasuhan.
Meskipun saat ini saya maupun kak Winda Dwi Ardiani belum menjadi seorang ibu, membayangkan bahwa tanggung jawab besar yang dipikul mulai dari melahirkan anak sampai mengasuh anak hingga bisa hidup mandiri sangat besar sungguh sangat luar biasa.
- Paradoks Kesetaraan Gender
Tulisan kak Luthfiyyah Damayani membahas kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan di negara maju. Contohnya negara Skandinavia yang mana kehidupan disana tergolong sejahtera sehingga perempuan cenderung lebih ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Lain cerita di negara berkembang seperti Indonesia, perempuan cenderung lebih banyak yang bekerja banting tulang mencari nafkah.
- Islam yang Katanya Membatasi Kebebasan Perempuan
Tulisan Kak Yopi Makdori membahas tentang kebebasan perempuan secara filsafat dan dalam pandangan Islam. Saya tertarik dengan kalimat kak Yopi yang ini "Kebebasan bagi kebanyakan orang kita adalah bisa melakukan apa saja yang kita mau, selama tidak menyakiti orang lain." Namun dalam Definisi secara ketat kebebasan adalah sebagai ketiadaan paksaan (absence of coercion). Seseorang dikatakan bebas bila ia tidak sedang dipaksa.
Istilah seseorang bisa disebut bebas ketika tidak dipaksa saya rasa lebih sesuai daripada definisi yang dipahami banyak orang. Walaupun orang tersebut tidak dipaksa tetap harus mengikuti norma yang ada.
- Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai
[embed]Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai Editor: Nadya Tutormedium.com
Terakhir, prosa karya Kak Rizkia Fitriani menceritakan perasaanya melihat lukisan Kakak dan Adik karya maestro Basoeki Abdullah. Lukisan ini sangat relate dengan kak Rizkia sebagai seorang kakak perempuan ya kak? Karena tanggung jawab yang besar. Terima kasih kak sudah berjuang sampai saat ini.
Berlian kali ini saya tutup dengan terima kasih dan salam hormat kepada rekan penulis Atmadeva Wiranata, stef, DyPa Dinara, Dewi Cahyanti, Stepanus BP, Hani, Luthfiyyah Damayani, adelia, Yopi Makdori. Serta para editor lainnya DyPa Dinara, putrimelati_123, Cindiana Famelia, Dewi Cahyanti, *Choirun Niswah, Pena Devisha.*
메타데이터
- post_id
- 2d7dd70c7e88
- slug
- manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
- url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
- canonical_url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/manusia-tangguh-tak-mengenal-menyerah-2d7dd70c7e88
- author_url
- https://medium.com/@nadya-miftaqul-janah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11