← Back to list

Benarkah Effective Altruism merupakan Moralitas Borjuasi?

Bayangkan kita bisa menyelamatkan nyawa hanya dengan beberapa dolar. Apakah kita siap untuk menyumbangkan uang tersebut? Effective…

Yogi Timor Ardani · 2026-05-28 07:30 · 0 claps · 6.8 min read
#filsafat #etika #atruisme #filsafat-manusia #kesadaran-sosial
Open on Medium ↗

Benarkah Effective Altruism merupakan Moralitas Borjuasi?

Bayangkan kita bisa menyelamatkan nyawa hanya dengan beberapa dolar. Apakah kita siap untuk menyumbangkan uang tersebut? Effective altruism, sebuah gerakan filantropi modern, mendorong kita untuk menjawab ‘ya’ dan mengajak kita untuk mendonasikan dana demi kebaikan yang lebih besar. Meski gerakan ini telah berkembang secara global, ide-idenya masih memicu perdebatan, terutama dalam bidang filsafat dan etika, terkait dengan prioritas mana yang seharusnya diutamakan dalam melakukan kebaikan.

Dalam sepuluh tahun terakhir, sebuah gerakan sosial dan pendekatan filantropi baru yang disebut effective altruism telah berkembang pesat. Effective altruism mendorong individu untuk menjadikan altruisme sebagai prioritas dalam hidup mereka dan berusaha melakukan sebanyak mungkin kebaikan, sering kali dengan menyumbangkan sebagian pendapatan mereka kepada organisasi bantuan dan pembangunan yang paling efektif di dunia. Lebih dari itu, para pendukung gerakan ini percaya bahwa analisis ilmiah dan pemikiran mendalam dapat membantu kita menentukan tindakan mana yang secara moral paling tepat.

Gerakan effective altruism telah mencapai banyak keberhasilan. Mereka mendirikan lembaga seperti GiveWell dan Giving What We Can, yang memberi informasi terpercaya tentang seberapa efektif lembaga amal tertentu. Gerakan ini juga menyoroti betapa besar perbedaan dampak yang dihasilkan oleh berbagai lembaga amal, mendorong mereka untuk membuktikan hasil kerja mereka dengan cara yang jelas dan terukur. Selain itu, effective altruism mengajarkan pesan penting bahwa orang yang hidup di masyarakat makmur memiliki potensi besar untuk melakukan kebaikan yang signifikan, jika mereka meluangkan waktu untuk memikirkan cara terbaik untuk melakukannya. Gerakan ini diperkirakan akan terus berkembang di masa depan.

Meskipun telah mencapai banyak keberhasilan, gerakan effective altruism juga mendapat kritik, terutama dari para ahli filsafat. Gerakan ini sering dianggap menyederhanakan aspek penting dalam etika, seperti mereduksi nilai menjadi hanya soal penderitaan, atau melihat nilai hanya dalam bentuk angka dan perhitungan matematis. Selain itu, effective altruism juga dinilai rentan terhadap masalah dalam sistem ekonomi kapitalisme, di mana bias dan monopoli menjadi tantangan yang sulit dihindari.

Apa yang Salah dengan Effective Altruism?

Dalam esai Famine, Affluence, and Morality (1972), Peter Singer mengajukan eksperimen pemikiran: jika kamu melihat seorang anak yang tenggelam dan menyelamatkannya akan membuat pakaianmu kotor, apakah kamu akan tetap melakukannya? Jawabannya hampir selalu “ya.” Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan lain: jika ada seorang anak yang kelaparan di belahan dunia lain dan kamu bisa menyelamatkannya dengan berdonasi, misalnya dengan uang yang biasanya kamu habiskan untuk membeli pakaian mahal, apakah kamu akan melakukannya? Jawabannya seharusnya “iya” juga. Meski konteksnya berbeda, esensi moral keduanya sama: membantu mereka yang menderita adalah tindakan yang mencerminkan kerendahan hati dan tanggung jawab moral. Pada tahun 1975, Singer memperluas definisi etis ini untuk mencakup kebaikan yang berlaku bagi semua entitas hidup.

Pemikiran Peter Singer sangat menginspirasi dan mendorong banyak pemikir lain untuk melanjutkan gagasannya, termasuk William MacAskill, yang menjadi figur penting dalam gerakan effective altruism (EA). Gagasan ini tidak hanya populer di kalangan filsuf, tetapi juga di kalangan aktivis dan masyarakat luas. Hal ini terlihat dari berdirinya lembaga-lembaga donasi yang mengakui bahwa ide mereka berakar dari gagasan Singer. Dukungan juga datang dari pebisnis besar seperti Bill Gates dan Elon Musk, yang mendukung gerakan EA dan mendirikan lembaga amal serupa. Mereka percaya bahwa dengan mengumpulkan dana sebanyak mungkin, mereka dapat memiliki kekuatan untuk berdonasi dan membantu sebanyak mungkin orang.

William MacAskill, seorang filsuf dari Oxford, mendirikan kelompok Giving What We Can pada tahun 2009. Kelompok ini membantu banyak orang untuk menyalurkan donasi mereka ke organisasi-organisasi seperti Against Malaria Foundation, yang memberikan kelambu untuk keluarga miskin di Afrika dan Asia agar terhindar dari malaria. Contoh lain adalah donasi ke TerraPraxis, yang mengerjakan proyek terkait energi hidrogen dan nuklir. Kelompok yang didirikan oleh MacAskill ini kemudian menginspirasi lahirnya berbagai kelompok lain, yang bersama-sama membentuk gerakan Effective Altruism (EA).

Effective altruism mengusung prinsip utilitarianisme, yaitu menilai suatu tindakan berdasarkan dampak yang ditimbulkan. Artinya, tindakan dianggap lebih baik jika memberikan manfaat besar

untuk banyak orang, bukan hanya melihat pada tindakan itu sendiri. Dalam prinsip ini, tujuan utamanya adalah mencapai “kebahagiaan terbesar untuk sebanyak mungkin orang.” Namun, dalam konteks ekonomi, penerapan pilihan ekonomi rasional dalam memberi amal bisa bertentangan dengan kenyataan sosial yang lebih rumit, yang bisa memperburuk ketidaksetaraan dan bias, didorong oleh mekanisme pasar.

Bernard Williams menolak utilitarianisme dengan alasan bahwa pendekatan ini mengabaikan integritas moral. Ia berpendapat bahwa utilitarianisme mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang paling penting dalam hidup, seperti hubungan pribadi, komitmen, dan nilai-nilai yang kita pegang. Menurut Williams, utilitarianisme menyarankan bahwa proyek atau keterikatan pribadi seseorang tidak lebih penting dari milik orang lain. Hal ini bisa membuat kebebasan individu dianggap tidak penting dalam menentukan bagaimana kita seharusnya hidup atau bertindak. Ia berargumen bahwa menerima pandangan ini berarti mengorbankan semua hal yang membuat hidup kita bermakna.

Amia Srinivasan, yang mengulas buku William MacAskill, berpendapat bahwa pandangan impersonal yang diadopsi oleh MacAskill, atau pandangan alam semesta, mencoba untuk “keluar dari sudut pandang pribadi” dalam melihat tindakan etis. Menurut Srinivasan, pendekatan ini mengaburkan kenyataan bahwa kita seharusnya lebih memperhatikan hubungan pribadi dan komitmen kita, yang merupakan dasar dari tindakan etis yang lebih bermakna. Ia memberi contoh bahwa menghibur teman yang sedang berduka lebih penting daripada melakukan tindakan lain yang mungkin lebih menguntungkan dari sudut pandang impersonal, “bukan karena kamu sudah memenuhi kuota kebaikanmu, tetapi karena dia adalah teman yang sedang dalam kesusahan.” Ini juga menjadi alasan mengapa kita seharusnya tidak terlibat dalam praktik imoral seperti mengeksploitasi tenaga kerja, meskipun dampaknya lebih besar positif daripada negatif — karena hidup kita itu penting, dan secara moral, apa yang kita lakukan dengan hidup kita itu memiliki nilai.

Gerakan effective altruism (EA) adalah komunitas global yang terus berkembang, terdiri dari orang-orang yang mengambil tindakan berdasarkan bukti untuk menilai cara terbaik melakukan kebaikan, dan kemudian bertindak berdasarkan penilaian tersebut. Didirikan pada tahun 2011, gerakan ini kini memiliki ribuan anggota dan telah berhasil mengumpulkan donasi senilai miliaran dolar. Gerakan ini juga berhasil meningkatkan kesadaran bahwa beberapa

tindakan altruistik jauh lebih hemat biaya daripada yang lain, artinya mereka memberikan dampak kebaikan yang lebih besar dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Effective altruism menggunakan beberapa pendekatan ekonomi dalam proses donasi. Salah satu prinsip utamanya adalah pilihan rasional (rational choice), di mana individu membuat keputusan berdasarkan pilihan yang memberikan manfaat atau utilitas terbesar menurut mereka. Tindakan seseorang didorong oleh asumsi bahwa mereka memiliki pengetahuan atau pengalaman yang cukup, sehingga mereka secara rasional menghitung keuntungan dan kerugian dari tindakan yang akan diambil. Teori ini cukup populer, misalnya di kalangan teoritisi neoklasik seperti Talcott Parsons. Dalam bukunya The Structure of Social Action, Parsons menjelaskan bahwa ide-ide ini, bersama dengan pemikiran Émile Durkheim dan ekonom Alfred Marshall, mengarah pada teori tindakan manusia yang bertujuan dan dipandu oleh norma-norma. Parsons menggambarkan “tindakan satuan rasional” sebagai contoh dari tindakan umum, di mana tujuan, cara, dan kondisi terkait dengan aturan yang berlaku. Dalam hal ini, gerakan effective altruism mengadopsi pendekatan ini dengan mempelajari data, bukti, dan metode kuantitatif untuk menentukan langkah-langkah yang memberikan dampak terbesar. Dengan kata lain, effective altruism mengadopsi prinsip rational choice, tetapi dengan tujuan yang lebih altruistik: memaksimalkan dampak positif bagi dunia, bukan hanya untuk keuntungan pribadi.

Dengan dasar asumsi tersebut, effective altruism menawarkan solusi berupa pilihan-pilihan yang sesuai dengan preferensi tertentu bagi para donatur. Contohnya, GiveWell bertujuan untuk menilai lembaga amal mana yang dapat membantu memilih badan amal yang paling efektif untuk membantu orang miskin. Begitu juga dengan Animal Charity Evaluator yang berfokus pada kesejahteraan hewan. Dengan demikian, sumbangan yang diberikan oleh seseorang seringkali didasarkan pada rekomendasi dari lembaga yang berbasis pada prinsip “effective altruism”, yang juga dikenal sebagai “meta-charities”. Ada juga 80,000 Hours yang merekomendasikan jenis pekerjaan yang memungkinkan seseorang untuk memberikan sumbangan sebanyak mungkin sepanjang hidup mereka.

Namun, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Salah satunya adalah pendekatan yang terlalu mengutamakan aspek kuantitatif dalam menghadapi realitas yang kompleks, seperti mengabaikan faktor-faktor emosi, hasrat, dan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam. Selain

itu, fokus pada masa depan (dalam konsep longtermism) membuat mereka terkadang melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sekarang, serta masalah-masalah individu yang lebih partikular. Walaupun penting untuk memprioritaskan hasil yang cepat dan terukur, pendekatan ini kurang memberi perhatian pada perubahan sistemik jangka panjang.

Kurangnya inklusivitas juga menjadi masalah besar. Banyak orang kaya dan berpengaruh yang tertarik dengan gerakan filantropi besar ini, seperti Bill Gates, Elon Musk, Dustin Moskovitz, Sam Bankman-Fried, serta organisasi filantropi seperti Founders Pledge dan Giving What We Can, yang mendorong orang kaya untuk mendonasikan sebagian besar kekayaan mereka. Hal ini mendorong ide bahwa untuk dapat beramal, seseorang harus terus mencari kekayaan, demi tujuan kemanusiaan yang lebih besar. Pendekatan ini didorong oleh pandangan bahwa moralitas bersifat universal dan bahwa manusia pada dasarnya baik, sehingga menolong orang lain dianggap sebagai kewajiban moral. Karena itu, effective altruism sering dianggap sebagai bentuk moralitas borjuasi, yang lebih mengutamakan perspektif orang-orang kaya.

Kita juga perlu berhati-hati dengan cara Effective Altruism mendistribusikan dana. Gerakan ini sangat mengutamakan data dan metrik terukur, seperti cost-effectiveness atau impact per dollar (dampak per dolar), terutama pada area yang lebih mudah dijangkau atau

“market-friendly”, demi kemudahan akses. Sebagai contoh, dalam bidang kesehatan, seperti upaya pencegahan malaria, kita bisa mengukur dampak dengan jelas, seperti jumlah nyawa yang bisa diselamatkan per dolar yang dikeluarkan. Pendekatan ini membuat evaluasi lebih transparan dan efisien karena dampaknya terukur.

Namun, masalah muncul ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks yang tidak bisa hanya diukur dengan angka atau metrik kuantitatif. Contohnya, masalah kemiskinan dan kesehatan mental, yang seringkali membutuhkan penilaian lebih subyektif dan berdampak tidak langsung dalam jangka panjang. Dalam kasus-kasus ini, evaluasi dampaknya menjadi lebih sulit dan tidak selalu terukur secara langsung. Akibatnya, ada kecenderungan untuk lebih fokus pada isu-isu yang lebih terukur dan mudah diakses, sehingga masalah sosial yang lebih kompleks dan mendalam, seperti kesehatan mental atau kemiskinan, bisa terabaikan atau tidak mendapatkan perhatian yang layak.

Efisiensi dalam pendekatan Effective Altruism (EA) juga mendapat kritik dari kalangan pemikir kiri. Paul Gomberg, dalam bukunya The Fallacy of Philanthropy, menyoroti ketegangan antara solusi amal jangka pendek dan solusi sistemik terhadap masalah sosial seperti kemiskinan.

Ia berpendapat bahwa gerakan ini sering mengabaikan penyebab struktural yang lebih dalam, seperti sistem kapitalisme itu sendiri, yang justru memperburuk ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial. Menurutnya, meskipun distribusi dana untuk amal dapat memberikan dampak positif jangka pendek, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah struktural yang mendalam yang menjadi akar ketidaksetaraan ekonomi. Dengan kata lain, fokus pada solusi amal jangka pendek justru membatasi perubahan sistemik yang dibutuhkan untuk mengatasi ketidakadilan.

Selain itu, kritik juga datang dari aktivis lingkungan yang merasa bahwa Effective Altruism terlalu sempit dalam cakupannya. Mereka berpendapat bahwa setiap elemen kehidupan, seperti pohon, sungai, dan spesies lain, memiliki nilai yang perlu dihargai. Namun, EA cenderung hanya fokus pada konsep ‘penderitaan’ sebagai variabel utama, yang dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas moral. Aktivis lingkungan mengkritik bahwa pendekatan ini mengabaikan dimensi hubungan antar elemen yang membentuk kehidupan yang baik (the good life), serta nilai moral yang terkandung dalam spesies atau ekosistem itu sendiri. Dalam pandangan mereka, EA terjebak dalam simplifikasi yang mengesampingkan banyak aspek penting dalam etika hubungan dan keberlanjutan kehidupan.


메타데이터
post_id
2d8a2105d551
slug
benarkah-effective-altruism-merupakan-moralitas-borjuasi-2d8a2105d551
url
https://medium.com/@yogitimorardani/benarkah-effective-altruism-merupakan-moralitas-borjuasi-2d8a2105d551
canonical_url
https://medium.com/@yogitimorardani/benarkah-effective-altruism-merupakan-moralitas-borjuasi-2d8a2105d551
author_url
https://medium.com/@yogitimorardani
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31