← Back to list

Adagio: “Pengendara Angin.”

“Mengembara di negeri asing, pengendara angin  Tak ubahnya ombak samudera, hempaskan daratan  Lewati hari bersama pelangi, badai pun…

Rahmi · 2025-04-19 07:37 · 0 claps · 2.7 min read
#adagio #adagioseries #bahasa-indonesia #cerita-pendek #rahmi
Open on Medium ↗

Adagio: “Pengendara Angin.”

“Mengembara di negeri asing, pengendara angin Tak ubahnya ombak samudera, hempaskan daratan Lewati hari bersama pelangi, badai pun bersemi Tak kuasa menahan imaji untuk menangkap mimpi Aku suntuk, remuk”Vadya Masa, “Pengendara Angin”

Hamburg Flughafen Airport, 25 September 2016

Aku punya cerita yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Meski belakangan ingatanku mulai samar, untunglah tulisan selalu punya cara untuk tinggal lebih lama dari memori.

Hari itu, aku akan terbang dari Zadar, Kroasia ke Hamburg, Jerman menggunakan germanwings, bagian dari eurowings. Tapi sesampainya di Zadar Airport, aku diperlakukan layaknya seorang kriminal — hanya karena satu hal: aku tidak punya visa Schengen. Padahal sebelumnya, aku sudah memastikan ke Kedutaan Jerman di Tokyo bahwa visa tersebut tidak diperlukan.

Aku tetap berusaha tenang. Meski sesungguhnya, setelah menahan air mata di depan petugas, aku berlari ke kamar mandi dan menangis. Mengambil beberapa tisu untuk dibawa. Dasar, Mi. Selalu saja begitu.

Suhu hari itu 15–20 derajat. Dan bodohnya, aku hanya mengenakan jaket tipis.

Setelah mendarat di Hamburg, seluruh penumpang bertepuk tangan. Katanya, itu tradisi kecil sebagai bentuk syukur telah sampai dengan selamat. Aku menyukainya. Tapi rasa takut belum selesai.

Aku ditolak masuk. Dua petugas di bagian imigrasi Uni Eropa — seorang wanita paruh baya dan seorang pria muda berjanggut, ramah, dan… bermata biru langit (warna favoritku) — menyatakan bahwa aku harus dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan.

Untuk pertama kalinya, aku naik mobil Polizei. Di pojok belakang, dengan pengawalan dan seorang pria bersenjata. Bukan karena aku berbahaya, katanya, ini hanya prosedur.

“Jangan takut. Ini prosedur di Jerman, ya. Kamu bukan satu-satunya yang pernah seperti ini. Alles ist gut.”

Di kantor polisi bandara lantai 3, aku ditangani oleh lima orang. Mereka semua memeriksa dokumenku dengan teliti.

  • Seorang petugas berusia sekitar 40-an, bertanya mengapa aku tidak punya visa. Aku tunjukkan email dari kedutaan. Ia memintaku mengirimkannya ke email kantor. Lucunya, dia tak tahu cara mengaktifkan hotspot. Aku bantu. Dalam hati aku tertawa, teringat Papa yang selalu minta diajarkan teknologi terbaru.
  • Seorang pria muda, seumuran denganku, tinggi, pirang, penasaran dengan semua hal. Dia menyebut usiaku dalam bahasa Jerman, “zwanzigfünf” — aku mengingat sedikit pelajaran SMA-ku. Aku habiskan waktu menunggu dengan main sudoku.
  • Seorang sekretaris polisi berkepala botak, melihatku mengusap hidung. Ia mengira aku menangis. Tapi aku hanya pilek. Tapi ya, matanya indah.

Mereka mengecek dompetku. Ada sekitar 70 Euro. Petugas wanita bertanya dengan nada sinis, “Cuma ini?” Aku tunjukkan yen Jepang yang kubawa. Ia meminta konversinya ke Euro, lalu aku tunjukkan hasilnya: lebih dari 700 Euro.

“Cukup?” tanyaku.

Aku diminta tidur di ruang istirahat. Sepi sekali. Tidak ada akses internet selain satu jam Wi-Fi gratis. Aku tidur sebisanya, tapi tetap waspada.

Jam 6 pagi, bandara mulai kembali beroperasi. Dua petugas tadi kembali muncul. Si pria — dengan bahasa tubuhnya — menenangkanku.

“Alles ist gut,” katanya. Aku tidak perlu membayar biaya tambahan. Dua petugas lain akan mengantarku sampai ke gate pesawat.

Aku minta maaf atas semua kerepotan.

Prinsipku sederhana: dua kata, “maaf” dan “terima kasih,” selalu penting dibawa ke mana pun.

Bisa jadi mereka terlihat dingin, tapi aku tahu itu tuntutan pekerjaan. Dalam diam, mereka tetap manusia yang peduli.

Danke schön, Pak Polisi.

Dalam hati aku berjanji, suatu hari nanti, aku akan kembali ke Jerman. Dengan izin yang lengkap, dan langkah yang lebih pasti.

“Hopelessly, I feel like there might be something that I’ll miss. Hopelessly, I feel like the window closes oh so quick. Hopelessly, I’m taking a mental picture of you now. ’Cause hopelessly, the hope is we have so much to feel good about.”“Good Life” by OneRepublic

Gambar 1. Pengendara Angin

Gambar 1. Pengendara Angin

11 Oktober 2016

Pengalaman ini adalah tentang bagaimana rasanya menjadi “asing” di negeri orang — tentang perasaan takut, tidak dipercaya, bahkan nyaris kehilangan kendali atas rencana. Tapi juga tentang bagaimana kebaikan tetap bisa ditemukan di balik wajah-wajah tegas berseragam. Adagio: Pengendara Angin adalah catatan perjalanan seorang mahasiswi yang mencoba tetap kuat, sambil diam-diam berdoa agar mimpinya tetap utuh, meski sempat diombang-ambingkan angin asing.


메타데이터
post_id
2d8b904d3d4f
slug
adagio-pengendara-angin-2d8b904d3d4f
url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-pengendara-angin-2d8b904d3d4f
canonical_url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-pengendara-angin-2d8b904d3d4f
author_url
https://medium.com/@rahmi.ami
status
ok
fetched_at
2026-07-20 06:28:39