← Back to list

Menangisi yang Tak Pernah Ada: Makna Kesedihan dalam “Pavane, For a Dead Princess” by Maurice Ravel

Defa Augista Montaine Dhanarto Putera · 2025-06-14 03:59 · 1 claps · 3.6 min read
#pavane #ravel #ichigo-domei #your-lie-in-april
Open on Medium ↗

Menangisi yang Tak Pernah Ada: Makna Kesedihan dalam “Pavane, For a Dead Princess” by Maurice Ravel

“Pavane pour une infante défunte.” Atau dalam bahasa Indonesia, untuk “Untuk Putri Yang Mati” Begitu mendengar judulnya, kita mungkin langsung membayangkan sebuah lagu duka. Lagu yang ditulis untuk mengenang seorang putri yang telah tiada. Dimana lagu ini dinyanyikan dengan biola untuk mengiringi kepergian sang putri. Didalam kamarnya yang sunyi, lagu terputar, dan sang putri menutup mata tanpa membukanya lagi.

Judul ini memberi ruang untuk banyak bayangan. Kita tak tahu siapa putri itu, tapi kita seolah sudah merasa kehilangannya. Begitu juga saat mendengar lagu ini terputar. Sendu. Lambat. Khas Pavane. Seperti lagu pengiring tarian kematian. Horn membuka dengan lembut, seperti meniup ruang kosong didalam diri pendengarnya. Flute muncul pelan, hembusannya nyaris tak terdengar, hanya seperti desir angin yang lewat. Oboe menyusul. Suara khas oboe, tipis, rapuh, seperti tangis yang jika tidak ditahan akan pecah.

Ini membuat kita bertanya-tanya. Untuk siapa kah musik ini? Untuk siapa pengiring kematian yang begitu indah ini? Apakah kematian sang putri selembut Pavane yang mengiringnya? Mari kita temukan jawabanya.

For A Dead Princess: Bukan Untuk Siapa-Siapa

Ya! Sayangnya, Ravel menulis ini bukan untuk siapapun. Bukan untuk putri yang sedang sekarat, atau untuk putri yang telah mati. Katanya, Ravel memilih judul ini karena ia menyukai bunyinya. Bunyi infante défunte terdengar lembut, puitis.

Judul ini memberi ruang. Ruang untuk bayangan yang samar, untuk sosok yang mungkin tak pernah ada, untuk kepergian yang tidak pernah kita saksikan, tapi seolah kita rasakan.

“Saya menulisnya bukan untuk mengenang seorang putri yang wafat,”

“tapi untuk membayangkan bagaimana bunyinya pavane yang dimainkan oleh seorang putri Spanyol abad ke-17 jika ia mati.”

Di situlah letak romantisasi kematian yang Ravel ciptakan. Dia meromantisasi kematian, dari seorang putri yang dia bayangkan. Dia tidak memberi kita wajah untuk dikenang. Tidak ada nama. Tidak ada cerita.

Romantisasi Putri Yang Mati

Putri itu tak pernah ada. Tapi kita, pendengar, penulis, pengkhayal, justru mengisinya dengan bayangan kita sendiri. Kita beri dia wajah yang pucat, gaun sutra yang menyapu lantai, ruangan tempat dia duduk menghadap jendela, dan sebuah kematian yang kita bayangkan selembut pavane yang mengiringinya.

Begitulah kita sering memperlakukan kehilangan. Kita buat dia indah, kita lembutkan ujung lukanya, kita tutupi rasa takut pada kematian dengan cerita tentang putri yang menutup mata perlahan, dengan musik yang seolah bisa mendamaikan akhir.

Seperti dalam novel Ichigo Dōmei, di mana kehilangan dibungkus manis, dan menggabungkan Ravel sebagai pemanis kematian si karakter utama perempuan. Beberapa kalifor a Dead Princess’ muncul disitu.

“As I was playing Ravel’s ‘Pavane for a Dead Princess’ in the music room, the door suddenly slammed open…”

Dan juga adegan ikonik di novel itu, permintaan Naomi kepada Ryoichi.

“Kau benar benar aneh, datang ke rumah sakit unutk mengunjungiku, tapi kau tidak mengatakan apapun. Mau bunuh diri bersamaku”

Dan mengabulkan permintaan itu, Ryoichi memainkan Pavane — For A Dead Princess. Ini menjadi bukti bahwa Pavane — For A Dead Princess sudahmenjadi pengiring imajiner bagi tokoh-tokoh dalam meromantisasi kematian yang lembut dan pelan.

Dan jejak romantisasi kematian ini terasa lagi di Your Lie in April. Kaori, adalah gadis yang berdiri di ambang kematian. Disitu, dimalam hari, saat dia putus asa dan menyerah, dia mengatakan kepada Kousei untuk memintanya mati bersama dia. Dan pada episode itu, soundtrack yang terputar adalah Pavane — For A Dead Princess.

Tapi, pada episode selanjutnya, Kousei menolak kematian Kaori dengan mengatakan.

kamu bukan Putri, bukan juga protagonis novel. Dan aku tidak akan memerankan Ravel.

Pavane, For A Dead Princess bukan hanya menjadi sekadar lagu, dia sudah menjelma menjadi simbol. Simbol tentang bagaimana kita, entah sebagai pendengar, sebagai tokoh dalam cerita, atau sebagai manusia yang takut kehilangan, berusaha melembutkan kematian. Kita ingin akhir terasa damai, terasa seperti tarian terakhir yang lambat, bukan kejatuhan yang tiba-tiba.

Kita dan Pavane: Kenapa Kita Memilih Mendengarnya

Ada banyak lagu duka. Ada banyak musik yang bisa mengiringi air mata dan kehilangan. Tapi entah bagaimana, Pavane For a Dead Princess selalu muncul di ruang-ruang sunyi kita. Dia hadir di karya-karya yang berbicara tentang kematian, dan kita menyambutnya sebagai musik yang seolah memang cocok dengan semua itu. Tapi, mengapa kita menerimanya?

Lagu ini sendu, tapi bukan karena kehilangan yang nyata. Kita tidak tahu siapa putri itu. Dia bisa saja fiksi, hanya bayangan yang dilukis dengan nada. Tapi rasa sedih yang datang saat kita mendengarnya itu nyata.

Mungkin karena kita terlalu sering merasakan kehilangan, bahkan pada sesuatu yang tak pernah benar-benar kita miliki. Pavane mengalun seperti bahasa sunyi untuk duka yang tak kita sebutkan. Dan memang, sejak awal dia ditulis untuk itu. Bukan untuk meratap, tapi untuk menemani kesedihan.

Musik ini tidak memaksa kita menangis, tapi membiarkan kita merasakan sepi. Karena pada akhirnya, Pavane For a Dead Princess adalah musik yang memang diciptakan untuk sedih. Bukan sedih karena kehilangan yang nyata, tapi sedih karena kehilangan itu selalu ada, entah kita sadari atau tidak.

Dan mungkin, Pavane For a Dead Princess bukan hanya untuk putri yang mati. Pavane adalah untuk kita semua, yang diam-diam meratapi sesuatu yang hilang. Pavane bukan hanya musik duka. Pavane adalah cara kita berdamai dengan kehilangan, dengan diam.

Tambahan

Pavane adalah genre musik untuk pengiring tarian lambat (Mirip seperti Waltz)

Ravel berkata: “Jangan anggap penting judulnya. Aku hanya menyukai bunyi kata-katanya.”

Versi Orkestra menonjolkan French horn, oboe, clarinet, flute, yang membentuk suasana sendu dan ruang hening.

Penulis pribadi mengetahui Musik ini dari Your Lie In April, dalam adegan yang sudah disebutkan diatas.


메타데이터
post_id
2dbcd72841d7
slug
menangisi-yang-tak-pernah-ada-makna-kesedihan-dalam-pavane-for-a-dead-princess-by-maurice-ravel-2dbcd72841d7
url
https://medium.com/@defaputra505/menangisi-yang-tak-pernah-ada-makna-kesedihan-dalam-pavane-for-a-dead-princess-by-maurice-ravel-2dbcd72841d7
canonical_url
https://medium.com/@defaputra505/menangisi-yang-tak-pernah-ada-makna-kesedihan-dalam-pavane-for-a-dead-princess-by-maurice-ravel-2dbcd72841d7
author_url
https://medium.com/@defaputra505
status
ok
fetched_at
2026-08-20 05:17:12