← Back to list

Menjadi Jomblo Keren ala Kant

“Zwei Dinge erfüllen das Gemüth mit immer neuer und zunehmender Bewunderung und Ehrfurcht: der bestirnte Himmel über mir und das moralische…

Taufik Rahman · 2026-06-22 08:17 · 0 claps · 4.8 min read
#jomblo #filsafat #kant #cinta
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Menjadi Jomblo Keren ala Kant

“Zwei Dinge erfüllen das Gemüth mit immer neuer und zunehmender Bewunderung und Ehrfurcht: der bestirnte Himmel über mir und das moralische Gesetz in mir.”

(Dua hal memenuhi jiwa dengan kekaguman dan kehormatan yang selalu baru: langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku.) _Immanuel Kant, Kritik der praktischen Vernunft (1788)

Perhatikan: Kant tidak menyebut nama siapa pun di situ. Tidak ada “kekasihku”, tidak ada “belahan jiwaku”, tidak ada “sayang yang selalu menemani di kala senja.” Yang ada hanya langit dan kesadaran. Seorang pria dari Königsberg, anak pembuat pelana kuda, yang menjalani seluruh hidupnya sebagai bujangan. Delapan puluh tahun tanpa cincin, tanpa pasangan, tanpa drama percintaan. Ketika ditanya soal pernikahan, jawabannya terkenal dingin sekaligus jenaka: “Ketika saya membutuhkan seorang wanita, saya tidak mampu menghidupinya, dan ketika saya mampu menghidupinya, saya tidak lagi membutuhkannya.” Absolut sinema bukan, haha

Kalimat itu terdengar seperti alasan kaum jomblo jaman sekarang yang bilang “fokus karir dulu.” Bedanya, Kant benar-benar melakukannya. Dan dari kesendirian itu, ia menulis salah satu arsitektur pemikiran paling megah dalam sejarah umat manusia.

Saya ingin bicara tentang ini. Tentang Kant, tentu, tetapi lebih jauh lagi, tentang kemungkinan, yang hari ini terasa makin ganjil bin ganjal, bahwa seseorang bisa sendirian dan tetap utuh.

Digenerate menggunakan Chatgpt

Digenerate menggunakan Chatgpt

Jomblo sebagai Krisis Eksistensial

Mari kita jujur, menjadi jomblo di Indonesia tahun 2020-an adalah semacam kegagalan sosial. Tidak ada undang-undang yang melarangnya, tentu saja. Tetapi ada pengadilan-pengadilan kecil yang lebih kejam dari hukum tertulis, tatapan dan pertanyaan “mana pasangannya?” yang dilontarkan dengan nada manis tetapi menusuk seperti pisau belati, dan tentu saja, algoritma media sosial yang terus-menerus menyodorkan foto-foto pasangan romantis seolah-olah bumi milik mereka berdua.

Akui saja kisanak, kita hidup dalam masyarakat yang telah menjadikan relasi romantis sebagai penanda kelayakan hidup. Anda belum lengkap kalau belum punya pasangan. Anda belum dewasa kalau belum punya gebetan. Anda belum sungguh-sungguh hidup kalau belum pernah jatuh cinta (ini saya setuju sih). Narasi ini begitu dominan hingga mereka yang sendirian mulai mempertanyakan, melampaui sekadar status, tapi eksistensi mereka sendiri.

Otonomi: Harga Diri yang Tidak Butuh Validasi

Jika ada satu kata yang bisa merangkum seluruh proyek filosofis Kant, kata itu adalah otonomi. Otonomi di sini bermakna lebih dalam dari sekadar “terserah gue”: ia adalah kemampuan untuk menentukan hukum bagi diri sendiri berdasarkan akal budi, terlepas dari dorongan nafsu, tekanan sosial, atau rasa takut akan kesepian.

Kant membedakan antara tindakan yang dilakukan sesuai kewajiban (pflichtmäßig) dan tindakan yang dilakukan karena kewajiban (aus Pflicht). Orang bisa saja berpacaran karena memang jatuh cinta. Itu indah, tentu. Tetapi orang juga bisa berpacaran karena takut sendirian, karena malu ditanya keluarga, karena semua temannya sudah punya pasangan, karena Instagram-nya terasa kosong tanpa foto couple goals.

Yang kedua itu sama sekali bukan cinta. Itu adalah heteronomi: membiarkan faktor di luar diri menentukan pilihan kita. Dan bagi Kant, tidak ada yang lebih merendahkan martabat manusia selain menyerahkan kemudi hidupnya kepada sesuatu di luar akal budinya sendiri.

Maka, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan: “Apakah kamu menjalin hubungan karena benar-benar memilih, atau karena kamu tidak sanggup memilih untuk sendiri?”

Imperatif Kategoris

Sekarang, mari kita bermain sedikit dengan imperatif kategoris, rumusan paling terkenal dalam etika Kant: “Bertindaklah hanya menurut maksim yang dapat kamu kehendaki menjadi hukum universal.”

Terapkan ini pada dunia percintaan. Jika Anda mendekati seseorang hanya untuk mengisi kekosongan, hanya untuk menghilangkan rasa sepi, hanya untuk membuktikan kepada dunia bahwa Anda layak dicintai, maka Anda sedang memperlakukan orang lain sebagai alat. Sebagai means, alih-alih end. Dan itu, dalam bahasa Kant, adalah pelanggaran moral yang mendasar.

Rumusan keduanya bahkan lebih tegas: “Perlakukanlah kemanusiaan, baik dalam dirimu maupun dalam diri orang lain, selalu sebagai tujuan dan tidak pernah semata-mata sebagai sarana.”

Saya pikir, mungkin Kant sedang mengatakan sesuatu yang sangat sederhana, bahwa sebelum kamu bisa mencintai orang lain dengan layak, kamu harus terlebih dahulu memperlakukan dirimu sendiri sebagai tujuan.

Königsberg dan Kos-Kosan

Ada yang menarik, bahkan absurd, dari kehidupan Kant. Ia lahir pada 22 April 1724 di Königsberg, Prusia Timur (sekarang Kaliningrad, Rusia), dari keluarga sederhana Lutherian Pietis. Ayahnya pembuat pelana kuda. Ia masuk universitas berkat seorang pendeta yang melihat kecerdasannya sejak dini. Selama bertahun-tahun setelah lulus, ia hidup pas-pasan sebagai tutor privat, sebelum akhirnya memperoleh jabatan profesor logika dan metafisika pada 1770, di usia 46 tahun.

Hidupnya teratur sampai pada titik karikatur, tulis sejarawan Simon Blackburn. Ia bangun pukul lima pagi setiap hari. Minum teh, selalu teh, tidak pernah kopi. Mengajar, menulis, lalu berjalan kaki tepat pukul 3.30 sore dengan presisi yang membuat warga Königsberg menyetel jam berdasarkan langkahnya. Makan malam dengan teman-teman dekat (ia dikenal sebagai pembicara yang menarik dan sosok yang menyenangkan secara sosial, menurut sejarawan H. Chisick), lalu tidur pukul sepuluh. Selama lebih dari empat puluh tahun. Tanpa variasi yang berarti. Tanpa drama percintaan. Tanpa plot twist romantis.

Di ruang kerjanya hanya tergantung satu lukisan: potret Jean-Jacques Rousseau. Bukan potret kekasih, bukan foto keluarga. Seorang filsuf memajang filsuf lain di dindingnya. Itu memberi tahu kita segalanya tentang prioritas hidupnya.

Dan dari rutinitas yang oleh ukuran kita terasa membosankan itu, ia menghasilkan tiga Kritik yang mengubah seluruh lanskap filsafat Barat. Ia membongkar metafisika tradisional, mendirikan etika deontologis, dan merombak cara kita memahami pengalaman estetis. Semua dari kamar kerja kecilnya, sendirian. David Hume, filsuf Skotlandia yang sangat ia kagumi, pernah “membangunkannya dari tidur dogmatisnya.” Tetapi setelah terbangun, Kant membangun kembali seluruh bangunan filsafat dengan tangannya sendiri.

Saya tidak mengatakan bahwa untuk menjadi jenius Anda harus melajang. Yang saya katakan adalah: kesendirian, jika dijalani dengan sadar dan bermartabat, bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang. Dan ruang itu bisa diisi dengan hal-hal yang jauh lebih kaya dari sekadar status hubungan.

Catatan Akhir

Saya tidak sedang meromantisasi kejombloan. Saya tahu bahwa kesepian itu nyata, bahwa manusia adalah makhluk sosial, bahwa kehangatan obrolan di malam hari adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh argumen filosofis mana pun. Kant sendiri, di tahun-tahun terakhirnya, menderita demensia dan meninggal pada 12 Februari 1804 di kota yang sama tempat ia dilahirkan, dimakamkan di katedral Königsberg. Ia tidak pernah keluar dari kota itu seumur hidupnya. Ada kesunyian yang mendalam di sana, dan saya tidak ingin pura-pura tidak melihatnya.

Tetapi yang ingin saya katakan (dan ini saya katakan kepada diri sendiri sama kerasnya dengan kepada Anda) adalah bahwa jomblo tidak harus berarti gagal. Bahwa ada cara untuk sendirian yang bermartabat, yang produktif, yang penuh makna. Bahwa ruang kosong di samping tempat tidur Anda bisa diisi oleh buku, oleh pikiran, oleh proyek-proyek kecil yang kelak mungkin mengubah cara Anda, dan orang lain, memahami dunia.

Kant tidak pernah menikah. Tidak punya keturunan. Tetapi pemikirannya menjadi “anak” yang mengubah dunia: dasar demokrasi modern, etika universal, dan inspirasi bagi siapa saja yang percaya bahwa status hubungan tidak menentukan nilai seseorang. Ia meninggalkan warisan yang masih kita perdebatkan lebih dari dua ratus tahun kemudian, membuktikan bahwa seseorang bisa hidup dengan penuh, dengan kaya, dengan bermartabat, tanpa perlu menggenggam tangan siapa pun.

Tentu saja, kalau nanti ada yang seseorang datang dan jiwamu merasakan ketenangan, aus Pflicht, karena kamu benar-benar memilih dan bukan sekadar takut, maka sambutlah. Kant mungkin tidak melarang itu. Ia sendiri pernah bilang bahwa keberaniannya adalah menggunakan akal budinya sendiri: Sapere aude! Berani berpikir sendiri. Artinya berani memutuskan sendiri!

Salam untuk para Jomblo-Jomblo keren. Yang ngga keren, ngga salam, hehe…


메타데이터
post_id
2dc0a30869e3
slug
menjadi-jomblo-keren-ala-kant-2dc0a30869e3
url
https://medium.com/@taufikrahmn21/menjadi-jomblo-keren-ala-kant-2dc0a30869e3
canonical_url
https://medium.com/@taufikrahmn21/menjadi-jomblo-keren-ala-kant-2dc0a30869e3
author_url
https://medium.com/@taufikrahmn21
status
ok
fetched_at
2026-06-23 03:48:11