← Back to list

Eskatologi al-Qur’an; Penggambaran Kematian, Surga, dan Neraka terhadap Kaum Pagan

#Studi Qur’an: bagian 5

Nadziffikri · 2026-07-06 07:38 · 0 claps · 4.6 min read
#studi-quran #tafsir
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Eskatologi al-Qur’an; Penggambaran Kematian, Surga, dan Neraka terhadap Kaum Pagan

Studi Qur’an: bagian 5

Sebuah review artikel “Death and Dying in the Qurʾan” karya Walid Ahmad Saleh dalam buku “Troubling Topics, Sacred Texts Readings in Hebrew Bible, New Testament, and Qurʾan” edited by Roberta Sterman Sabbath.

Walid Saleh, profesor Studi Islam di University of Toronto, image source here

Walid Saleh, profesor Studi Islam di University of Toronto, image source here

Adakalanya kematian dianggap suatu hal menakutkan bagi manusia. Dalam dunia kedokteran ia merupakan suatu kebenaran yang sukar untuk didengar, sebuah tragedi yang menakutkan dan tidak alami. Menahlukan kematian adalah misi kedokteran modern, bahkan mereka turus menggali dan mengotak-atik gen manusia untuk menciptakan kehidupan yang abadi di Dunia. Walid Saleh melihat Manusia modern telah menganggap kematian sudah bukan lagi masalah metafisika.

“the post-enlightenment humans, insist on structuring our livesas if death has no bearing on it. Death in this sense is not even ametaphysical problem for us anymore.”

Jika ditarik ke belakang, dalam konteks masyarakat pagan Arab kuno, kematian telah dianggap sebuah tragedi yang menakutkan, menjadi pahlawan adalah salah satu cara melawan kematian, disisi lain nilai agama yang sebagai penyelamat juga menawarkan janji akan kehidupan abadi dalam iman.

Walid Saleh memahami bahwa al-Qur’an turun dalam masyarakat Arab yang melihat kematian adalah sebuah tragedi yang terus mengintai. Maka memahami konsep kematian dalam al-Qur’an menjadi menarik dan kompleks lebih dari hanya sekedar ahir perjalanan kehidupan manusia di Dunia. Disinilah al-Qur’an menjawab bahwa kematian menggugurkan keabadian hidup di Dunia.

“The Qurʾan was not creatinga problem and pretending to offer asolution. It was addressinga major issue in pagan Arabia: the impossibility of immortality and the absurdity of life in the presenceofdeath”.

Ditegaskan dalam al-Qur’an (Q. 29.57)

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”

Ini adalah sangkalan terhadap orang-orang kafir yang sukar menerima fakta kematian. Bagi Walid Saleh banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mengejek kaum kafir makkah yang tidak mau menerima fakta kematian, seperti misalnya dalam Q. 50.19.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ كَيْفَ يُبْدِئُ ٱللَّهُ ٱلْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Al-Qur’an juga tidak segan memberi klise sebagai efek dramatis dalam menggambarkan kematian misalnya pada Q. 39.30;

إِنَّكَ مَيِّتٌۭ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).

yang mengingatkan Nabi dan umatnya dengan bahasa yang sederhana “dia akan mati dan mereka akan mati”, untuk menyampaikan pesan agar manusia dalam hidup tidak sombong.

Kematian dalam Islam adalah sebuah kepastian dan jika ajal telah tiba tak seorangpun bisa menghalanginya, Walid Saleh mengatakan bahwa hal yang paling puitis dalam al-Qur’an ketika menggambarkan kematian adalah ketika posisi kesendirian manusia yang sedang menghembuskan nafas terakhirnya, memperihatkan apa yang selama ini tersembunyi dibalik hiruk-pikuk kehidupan.

“human beingsare solitary creatures, standing alone no matter how surrounded they are by others. When it matters no one can offer help. No amount of loveand wealth can accompanya person in death because death not onlycuts aperson from others, it also cuts others from aperson.”

Jika orang-orang musyrik beranggapan bahwa kematian menjadikan hidup tidak bermakna, maka al-Qur’an membalikkan fakta tersebut dengan memaksa manusia memahami makna hidup dan menjadikan kematian bukan akhir tapi awal kehidupan yang kekal. Kematian adalah pintu bagi manusia untuk bertemu dengan Allah dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di Dunia.

“Therefore, death in the Qurʾan is always tied to life after death. Onlyt he fact that there is life afterdeath renders human life bearable,meaningful, and explains the mystery of human existence”

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana siklus kehidupan manusia yang dimulai dari kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kehidupan setelah kematian. Ini menegaskan sekaligus sanggahan terhadap para penyembah berhala yang meyakini kematian adalah akhir dari segalanya. Menjalankan kehidupan haruslah bermakna sebab Allah itu adil, tetapi karena penghakiman itu tidak terjadi di dunia makan Allah membangkitkan lagi manusia dari kematiannya untuk mendapatkan penghakimannya di akhirat.

“ Thus, to claim that there is life after death meant that the Qurʾan had to create aparallel universe in which the resurrected are to live.”

Al-Qur’an menggabarkan kematian terkadang juga dengan hal-hal yang sederhana, kematian seolah-olah serupa dengan tidur seperti dalam Q. 17: 49–52. Meskipun demikian tradisi islam terutama dalam aliran Sunni kurang puas dengan gambaran itu, lalu kemudian berpendapat bahwa orang mati sebenarnya juga telah dibangkitkan di alam kubur bahkan sebelum hari kebangkitan atau hari kiamat, Sunni meyakini ada sebuah alam yang disebut dengan alam barzakh dimana orang yang telah meninggal di alam kubur itu hidup dalam alam barzakh tersebut sambil menunggu hari kebangkitan.

Masih dalam kalangan sunni, gambaran tentang kehidupan akhirat tidak hanya jiwa yang bangkit tetapi juga fisik, konsekuensi dari ini adalah bahwa gambaran itu memang seperti itu adanya seperti bentuk surga-neraka, kenikamatan surgawi dan siksa neraka yang akan dirasakan oleh tubuh itu sendiri.

Al-Qur’an pada gambaran yang lain mengenai kehidupan di akhirat memberikan keterangan yang abstrak, menggambarkan kemungkinan tak terbatas dari kenikmatan yang tersedia, seperti pernyataan bahwa di sana terdapat hal-hal yang belum pernah dilihat atau didengar oleh manusia, yang kemudian dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang berada pada tingkatan yang berbeda dengan yang ada di Dunia.

“Human beings don’tage, they don’t defecate, sweat, bleed, or cry. Their beauty never fades, their powers never diminish, their senses are always keen, their desires answered even before they are uttered, and their abodes and palaces are of pure gold and marble.”

Hal yang tidak pernah luput dari pembahasan surga adalah penyebutan para gadis surga yang sensasional yang di sebut sebagai Huris, bahkan dalam tradisi non-Islam pun mengetahuinya. Menurut Walid Saleh Huris hanyalah cerminan dari figur mitos Hera, dewi bermata sapi, dewi perkawinan dan pasangan Zeus, selain Huris (para gadis surga) ada juga para pelayan muda yang disebut Ephebe yang bertugas sebagai pembawa cawan bagi para mukmin.

Dalam mitologi mereka juga pasangan lain dari Zeus bernama Ganymede. Seolah-olah al-Qur’an ngin mengatakan bahwa jika engkau masuk surga kau akan menjadi seperti sosok Zeus. Ini menekankan bahwa tidak hanya surga yang dijanjikan kepada orang-orang pagan tetapi mereka juga menikmati kehidupan serupa dengan kehidupan para dewa Olimpus.

“The Qurʾan was not onlyassuring the pagans of immortality,but it was alife akin to the lives of the Olympian Gods. The Qurʾan is nothing if not the most complicated response to the troubled world of late antiquity. It harmonized Judaism and Christianity, and promised the Olympian life to the converted pagans”.

Dalam tulisanya nampaknya Walid Saleh memberikan pemaknaan yang mendalam tentang kematian, bahwa kematian tidak menyeramkan yang dilihat banyak orang, ia hanyalah transisi dari kehidupan dunia menuju kehidupan kekal yang telah dijanjikan, gambaran mengenai kehidupan di akhirat dengan segala kenikmatannya itu tidak terlepas dari bagaimana al-Qur’an melihat psikologi masyarakat waktu itu mengenai estetika keindahan.

Al-Qur’an nampaknya juga ingin mendekati kaum pagan dengan menyamakan persepsi tentang keindahan. Meski pada akhirnya kehidupan setelah kematian itu tidak akan sema dengan segala hal yang dipikrikan, yang tidak bisa terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tadak terbesit sekalipun gambarannya dalam hati manusia.


메타데이터
post_id
2dc4e7af378e
slug
eskatologi-al-quran-penggambaran-kematian-surga-dan-neraka-terhadap-kaum-pagan-2dc4e7af378e
url
https://medium.com/@fikriabady/eskatologi-al-quran-penggambaran-kematian-surga-dan-neraka-terhadap-kaum-pagan-2dc4e7af378e
canonical_url
https://medium.com/@fikriabady/eskatologi-al-quran-penggambaran-kematian-surga-dan-neraka-terhadap-kaum-pagan-2dc4e7af378e
author_url
https://medium.com/@fikriabady
status
ok
fetched_at
2026-07-14 16:06:22