← Back to list

“Lo yang nikah, kok gue yang macet? Mikir, kids.”

Selama hidup di Indonesia, ada satu hal yang bikin gue kesel: kondangan. Kok kondangan? Iya. Soalnya kadang ada orang yang bikin acara…

Maqdis Jannatan Ahmad Zain · 2026-01-04 14:07 · 0 claps · 2.1 min read
#pernikahan #macet #tradisi #kondangan
Open on Medium ↗

“Lo yang nikah, kok gue yang macet? Mikir, kids.”

Selama hidup di Indonesia, ada satu hal yang bikin gue kesel: kondangan. Kok kondangan? Iya. Soalnya kadang ada orang yang bikin acara pernikahan di pinggir jalan, dan ujung-ujungnya bikin macet. Plis deh.

Bukan gue lebay atau gimana-gimana ya, tapi itu jalan umum, bukan jalan milik perseorangan. Kalau emang rumah lo nggak muat, ya cari tempat lain kek. Gedung, aula, atau ya sekalian bikin acaranya sederhana aja. Yang penting sah dan beres, nggak perlu sampe nyusahin orang lain.

Coba bayangin. Jalan umum ditutup setengah sama terop. Lalu lintas yang harusnya aman-aman aja langsung jadi macet. Gimana nggak macet, jalur kanan sama kiri disuruh gantian. Itu baru teropnya. Belum lagi parkir yang ngasal di pinggir jalan, beuh, makin chaos, macetnya nggak kelar-kelar.

Tamu-tamu juga seringnya seenaknya sendiri. Lalu lalang di tengah jalan aspal, seolah-olah itu halaman rumahnya. Padahal itu jalan umum. Minimal mikirlah orang-orang tuh mau lewat, mau kerja, mau pulang, mau hidup. Tai yak kelakuan kayak gitu.

Jalan raya itu ruang publik, bukan halaman rumah yang bisa seenaknya lo pakai buat acara. Sementara kondangan jelas-jelas acara pribadi. Logikanya sebenarnya sederhana: begitu ruang publik dipakai buat kepentingan personal, pasti ada orang lain yang kena dampaknya.

Pernikahan itu urusan personal. Harusnya, kalau ada yang susah, ya yang punya hajat dong, bukan kita-kita yang nggak tahu apa-apa, tiba-tiba kena macet. Apalagi kalau jalannya cuma satu. Orang-orang yang lewat nggak punya pilihan lain selain nerima, kesel, dan akhirnya misuh-misuh sendiri di jalan

Ada hal lain lagi yang, kalau lo tahu, bikin makin kesel. Kebanyakan orang yang bikin acara pernikahan model begini, pas dikasih tahu, “eh, acara lo nyusahin orang lain lho,” jawabannya hampir selalu sama. Kurang lebih: “Lah, saya udah izin Pak RT kok,” atau “acaranya cuma sebentar,” atau yang paling sakti, “ini kan tradisi dari dulu.”

Lah, izin ke Pak RT terus otomatis jadi boleh gitu? Yang lewat jalan itu bukan cuma tetangga-tetangga lo doang, ege. Itu jalan umum. Orang dari mana aja bisa lewat. Mau ke kantor, mau jemput anak, mau pulang capek, semuanya kena dampaknya.

Dan soal “cuma sebentar”, sebentar buat lo, tapi ganggu banget buat orang lain. Macet satu titik aja bisa berantai ke mana-mana. Masa hal sesimpel itu masih harus dijelasin, mikir kids.

Tradisi kok nyusahin orang lain? Ya kalau gitu tradisinya yang bermasalah. Hapus aja. Tolol.

jujur nih ya, gue bukan anti kondangan atau acara pernikahan. Orang mau nikah, mau syukuran, silakan. Yang jadi masalah buat gue adalah ketika lo bikin acara tapi nyusahin orang-orang yang nggak tahu apa-apa dan nggak ada urusannya sama hajat lo.

Masalah kayak gini juga bukan sekali dua kali, tapi kejadian terus, berulang-ulang, sampai akhirnya dianggap biasa. Padahal ya nggak seharusnya begitu. Jangan semua hal dibungkus atas nama tradisi atau kebiasaan, lalu dinormalisasikan, meskipun jelas-jelas merugikan orang lain.

“Lo boleh nikah di mana aja, tapi jangan pakai jalan orang buat validasi bahagia lo.”

IIZZZIINNNN.


메타데이터
post_id
2dd34b916562
slug
lo-yang-nikah-kok-gue-yang-macet-mikir-kids-2dd34b916562
url
https://medium.com/@ahmadzain111005/lo-yang-nikah-kok-gue-yang-macet-mikir-kids-2dd34b916562
canonical_url
https://medium.com/@ahmadzain111005/lo-yang-nikah-kok-gue-yang-macet-mikir-kids-2dd34b916562
author_url
https://medium.com/@ahmadzain111005
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08