Cerita Rakyat Suku Dayak Kayaan : Tiga Pemburu dan Kutukan Muvan
Tiga Pemburu dan Kutukan Muvan
Cerita Rakyat Suku Dayak Kayaan : Tiga Pemburu dan Kutukan Muvan

Ilustrasi batu muvan
Tiga Pemburu dan Kutukan Muvan
Di sepanjang aliran sungai Mendalam, hiduplah beberapa penduduk penghuni asli yang dikenal sebagai suku Bukat, mereka sangat ahli dalam berburu. Suatu hari, tiga pemuda dari mereka pergi berburu ke sebuah anak sungai yang disebut Hunge Teva’an. Sungai kecil itu membelah belantara dan dikenal sebagai tempat perlintasan berbagai satwa liar. Pada hari itu, keberuntungan berpihak kepada mereka — seekor monyet, seekor babi hutan, dan seekor kancil berhasil mereka tangkap.
Setelah merasa cukup dengan hasil buruan, mereka berjalan dan memutuskan beristirahat di sebuah muara anak sungai lain yang disebut Hunge Mali. Di sanalah mereka membersihkan hasil buruan dengan cara membakar bulu-bulunya, sebagaimana tradisi yang biasa mereka lakukan.
Namun, saat mereka membakar bulu monyet, terjadi sesuatu yang tidak biasa. Wajah monyet itu tampak seperti berekspresi — giginya menyeringai, seolah tertawa atau mengejek. Ketiga pemburu itu pun tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Tapi tawa itu membawa petaka.
Langit yang semula cerah tiba-tiba menggelap. Awan hitam menggulung cepat, dan suara guntur menggema dari segala penjuru. Petir menyambar-nyambar, memekakkan telinga dan mengguncang bumi. Ketiga pemburu itu sontak panik. Mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar.
Dalam kepercayaan masyarakat Dayak Kayaan, tindakan seperti itu disebut muvan, menertawakan atau mempermainkan makhluk hidup dalam keadaan tak layak adalah perbuatan yang tidak dihormati, dan bisa mendatangkan murka alam.
Mereka mencoba melarikan diri, tapi semuanya sudah terlambat. Petir menyambar mereka satu per satu. Tubuh mereka tidak pernah ditemukan. Namun, di sekitar tempat kejadian, muncul tiga batu besar: satu di tepi sungai, tepat di seberang muara Hunge Mali, dan dua lainnya tidak jauh dari sana di daratan.
Masyarakat percaya bahwa batu-batu itu adalah wujud ketiga pemburu yang dikutuk karena telah melanggar larangan muvan. Hingga kini, batu-batu tersebut masih ada, berdiri diam sebagai peringatan bagi siapa saja yang lewat.
메타데이터
- post_id
- 2df7e3e4ae40
- slug
- cerita-rakyat-suku-dayak-kayaan-tiga-pemburu-dan-kutukan-muvan-2df7e3e4ae40
- url
- https://medium.com/@sL388/cerita-rakyat-suku-dayak-kayaan-tiga-pemburu-dan-kutukan-muvan-2df7e3e4ae40
- canonical_url
- https://medium.com/@sL388/cerita-rakyat-suku-dayak-kayaan-tiga-pemburu-dan-kutukan-muvan-2df7e3e4ae40
- author_url
- https://medium.com/@sL388
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 21:43:35