what are we?
Jari-jari kaki itu mulai menarik diri seperti meringkuk, menghindari dinginnya angin yang menyapanya dengan sinis. Barangkali tidak ada…
what are we?
Jari-jari kaki itu mulai menarik diri seperti meringkuk, menghindari dinginnya angin yang menyapanya dengan sinis. Barangkali tidak ada yang menyadari bahwa di malam hari ini, lagi-lagi ia kehilangan alas kakinya yang tidak pernah ia miliki sejak awal. Ia berjalan menunduk, menyapa orang sambil memperhatikan alas kaki yang ia jumpai pada setiap langkahnya. Ingin rasanya ia berjalan, menyodorkan tisu dengan senyuman di wajahnya. Tapi debu-debu jalanan pada pipinya sudah mengeras hingga mulutnya hanya bisa terbuka kurang dari satu senti.
Satu demi satu telapak tangan menyapanya, tidak sedikit yang tampil dengan jari jemari lentik dan cincin emas di jari tengahnya. Sudut bibir itu menurun setiap detik karena tasnya masih penuh dengan tisu. Setiap telapak tangan itu seakan bebicara bahwa saya sudah punya tisu di rumah. Mungkin persediaan di rumahnya sangat banyak atau barangkali tidak ada cukup airmata dalam hari-harinya untuk tisu sebanyak ini.
Kadang ada orang yang datang untuk membeli, meski nampaknya ia tidak begitu membutuhkannya juga. Tapi apalah arti semua itu, tasnya masih penuh hingga menjelang malam tadi.
Cerita perjuangan dan kehidupan orang kecil yang sulit selalu berhasil mencuri hati, hingga mampu membuat perasaan pembaca campur aduk sehingga emosi dalam pikiran dengan mudah bereaksi. Karena itulah mungkin banyak buku-buku hingga film-film yang senang menunjukkan keprihatinan ini.
Tapi sayang, kita ini apa?
Kepala menengok kanan-kiri pada setiap perhentian lampu merah. Pagi, siang, sore, hingga malam. Trotoar hingga jalur jalan kendaran cepat selalu terisi oleh satu dua bahkan lebih manusia yang dipaksa menangis melalui keringatnya. Hati mereka kadang menggerutu, melihat satu persatu manusia yang lewat tanpa senyum. Ada sekelibat di sana raungan permintaan atas haknya kepada orang yang bahkan tidak ia kenal, maupun mengenalnya. Sedikit ilmu yang tertanam pada pikirannya, ada rejeki mereka yang Tuhan berikan melalui orang-orang asing itu. Atau bahkan lebih kejamnya, ada tuntutan tak tertulis bahwa orang-orang asing itu harus melakukan sesuatu untuk melepaskan dirinya dari cengkraman kemiskinan. Pasti mereka merasa tidak adil. Jelas sekali itu nampak dari sorot matanya.
Kegusaran terlukis tegas pada raut wajah mereka. Bagi beberapa orang, raut wajah itu mendorong hati kecilnya untuk merubah sesuatu, mengangkat kakinya maju, dan mengulurkan tangannya -berupa materi maupun untaian kata pergerakan. Tapi, sayang kita ini apa?
Akan lebih mudah bagi kita untuk diam saja, karena apalah arti dari kerikil-kerikil ini untuk sebuah rumah? bahkan mungkin yang kita akan hadapi adalah harapan untuk sebuah istana nyaman dan megah
Entah apa yang harus kita lakukan dengan perasaan berat ini. Banyak orang-orang sudah memalingkan wajah lebih awal hanya untuk membuat indra pengecapnya nyaman merasakan setiap sendok seharga ratusan ribu. Setiap tetesan air dibuangnya sia-sia karena baginya, ia bisa menimba air dimanapun, kapanpun, seakan hujan akan turun dengan sekali permintaannya. Mata-mata itu kerap kali melirik dengan tatapan basi.
Tapi, sayang kita ini apa?
Berapa harga yang harus kau bayar hanya demi mendapatkan hak untuk bisa turut melirik dengan tatapan semacam itu? Berapa banyak perasaan berat yang kau tinggalkan hanya untuk duduk di samping meja mereka-mereka yang bahkan tak mengenal harga hujan?
Goresan tangan penuh empati yang berani hanya tertinggal pada ujung pohon yang tak pernah sudi disinggahi, kecuali bagi semut-semut kecil yang sama seperti kita.
Tapi, sayang kita ini apa?
Tulisan demi tulisan hanya menguap tanpa memberikan arti apa apa. Perasaan bersalah hanya tinggal, membuat diri hanya terperangkap tanpa ada aksi yang berarti. Karena memangnya siapa kita? Hanya sebatas perasaan bersalah saja yang tumbuh secara pasti merangkak ringkih setiap kali menelan santapan dari ujung jurang kesejahteraan.
Bahkan kesadaran akan ketidakadilanpun bisa menjadi konsumsi estetis.
메타데이터
- post_id
- 2e0ccb1519a0
- slug
- what-are-we-2e0ccb1519a0
- url
- https://medium.com/@morethanisee/what-are-we-2e0ccb1519a0
- canonical_url
- https://medium.com/@morethanisee/what-are-we-2e0ccb1519a0
- author_url
- https://medium.com/@morethanisee
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 17:31:34