← Back to list

Adagio: “Surat untuk Eyang Uti dan Eyang Kakung.”

Dear Eyang Uti dan Eyang Kakung,

Rahmi · 2026-01-18 13:36 · 0 claps · 5.7 min read
#adagio #adagioseries #bahasa-indonesia #cerita-pendek #rahmi
Open on Medium ↗

Adagio: “Surat untuk Eyang Uti dan Eyang Kakung.”

Dear Eyang Uti dan Eyang Kakung,

Apa kabar di sana? Semoga Allah melapangkan kuburnya, memudahkan pertanyaannya, dan semoga kita semua dipertemukan kembali di surga firdaus-Nya. Aamiin.

Masihkah Eyang mengenali Rahmi, kembarannya Rahma, cucu kedua, yang katanya amat sangat pendiam waktu kecil?

“Rahmi masih pendiam ya,” kata Eyang Uti, waktu pertemuan terakhir bulan Maret itu.

Untuk Eyang Kakung

Rahmi masih menyimpan baik foto yang Eyang ambil saat kondangan. Aku pakai jilbab putih, sedang minum fanta yang bikin bibir memerah tidak karuan, pipi menggembung, dan mata melirik ke arah Eyang. Eyang selalu mengajak ke kondangan, makan ala kadarnya.

“Jangan banyak-banyak makannya, nanti kita makan saja di luar,” kata Eyang.

Waktu kecil, Rahmi ingat betul Eyang suka mengajak ke tempat yang menakjubkan bagi anak-anak seantero Indonesia. Untuk anak kecil, untuk pendapatan orang tua yang ala kadarnya, dan untuk aku yang hampir selalu menginap tiap Sabtu dan Minggu, tempat seperti TMII, Dunia Fantasi, Sea World, dan berbagai atraksi lainnya adalah pengalaman yang luar biasa.

Itu pengalaman mahal. Sangat mahal. Terima kasih atas kenangan yang tidak ternilai.

Oh iya, Yangkung ingat tidak masa “jaya” Yangkung? Waktu itu Eyang berbisik di tangga rumah yang indah, yang di sampingnya ada kolam ikan. Lebaran, banyak cucu antre salam, dan aku selalu kabur. Lebih tepatnya, Rahma, Akbar, dan Ica kabur. Dari kecil, Ummi dan Papah mengajarkan untuk malu meminta uang. Aku tidak suka konsep, “Dengan bersalaman, maka akan diberikan uang.”

Tapi Yangkung mencegat, lalu berbisik,

“Ini Rahmi, jangan bilang yang lain ya.”

Eyang memberi aku dua puluh ribu, diselipkan di tangan, lalu dipaksa dilipat rapat. Waktu itu aku tidak paham, dua puluh ribu rupiah di masa itu bisa terasa seperti seratus ribu rupiah di masa ini.

Keluarga Eyang Kakung juga selalu murah hati. Adik Eyang, Eyang Yati, sering sekali memberi materi terutama ketika Lebaran, dan setiap kali datang.

Tanggal 28 Juli 2017, Ummi datang ke rumah Eyang Yati untuk meminta maaf atas kesalahan Eyang Uti pun. Eyang Yati memberi uang, padahal aku menolak.

“Harusnya Rahmi yang ngasih Eyang Yati,” kataku.

Lalu Eyang Yati bilang, “Eyang marah kalau Rahmi tidak terima. Ini supaya Rahmi bisa ngasih ke yang lain.”

Ada makna tersirat yang kuat. Jangan lupakan orang sekitar yang kekurangan. Kalau kita punya lebih, sedekahkan.

Keluarga Eyang Kakung itu rasanya well-built. Concern dengan keluarga. Rahmi ingin belajar dari pengalaman kalian.

Yangkung, terima kasih sudah memperkenalkan Rahmi pada kopi, dan cara minum kopi yang “benar.” Walaupun kata teman-teman, kalau aku minum kopi mirip supir truk. Terima kasih sudah mengenalkan wayang. Eyang menunggu dari jam dua belas malam sampai dua pagi. Aku berusaha mencerna maknanya, tapi maaf ya Yangkung, aku sering ketiduran.

Terima kasih juga untuk batu akik yang Eyang punya. Batu-batunya bagus, terlepas dari kepercayaan orang dulu. Rahmi juga suka batu bagus, terutama amethyst dan ruby. Yangkung tahu tidak, batu warna-warni itu bisa terbentuk dari proses geologi yang panjang, termasuk aktivitas tektonik dan panas bumi. Itu indah, dan itu seperti hidup. Lama. Dalam. Tidak instan.

Dan beribu terima kasih lain yang masih terpatri di ingatan.

Terima kasih sudah mempertemukan Rahmi dengan Eyang Uti. Terima kasih, Eyang Kakung.

Gambar 1. Surat untuk Eyang Uti dan Eyang Kakung

Gambar 1. Surat untuk Eyang Uti dan Eyang Kakung

Untuk Eyang Uti

Apa kabar, Yangti?

Ummi pernah cerita, 3 November 1997, Ummi pingsan karena mengurus jenazah Eyang Kakung di RSCM. Kata Ummi, “Di ruang jenazah itu banyak bangsal yang tidak diambil keluarganya.”

Dari situ aku sadar, di balik sosok tegar Ummi, ada psikis yang rapuh. Yang sering ingin diperhatikan, sering ingin dianggap benar, dan sering memendam lama. Lalu aku membayangkan, bagaimana psikis Ummi kalau kehilangan Eyang Uti.

Dan benar saja.

Siang itu, Rahmi masih di Jepang. Malamnya hujan dan angin kencang, padahal sedang musim panas. Rasanya aneh. Lalu kabar datang dari adik bungsu, Eyang Uti meninggal.

Yang kupikirkan hanya satu: Ummi.

Aku bergegas pulang. Minta izin ke sensei. Setelah izin didapat, aku booking tiket apa pun yang tersedia. Aku ingin memeluk Ummi dan hadir saat Ummi jatuh. Materi hanya nomor terakhir.

Eyang Uti, Rahmi masih punya “utang” sama Eyang. Aku dulu janji mau beliin baju tidur hangat UNIQLO kalau Rahmi pulang. Tapi sedihnya, Rahmi pulang ketika Eyang sudah disemayamkan.

Rahmi menangis sejadi-jadinya. Saat mau booking tiket, saat menunggu bus ke Haneda, saat di prayer room, saat di pesawat, sampai saat melihat sepatu tidur yang Rahmi berikan bulan Maret itu sudah pudar warnanya.

Eyang pasti suka sepatunya ya, Yang?

Maafin Rahmi. Maafin Rahmi.

Eyang Uti, waktu SMA, Rahmi sempat tinggal di rumah Eyang. Terima kasih sudah menampung Rahma dan Rahmi di kamar bawah yang besar, bekas usaha percetakan. Terima kasih buat traktiran tiap malam, entah itu mie tektek, mie ayam Aca, bakso Arsad, atau teh hangat tiap pagi sebelum berangkat sekolah.

Rahmi kadang diam-diam masak Indomie pakai kompor portable, karena kata Ummi, Eyang tidak boleh makan Indomie. Dan Yangti, Rahmi minta maaf karena Rahmi tidak seceria Rahma. Rahmi tidak selalu bisa nemenin Eyang ngobrol lepas.

Rahmi juga ingat, Rahmi sering ikut Eyang Uti salat Id. Entah hari pertama atau hari kedua. Entah mengikuti Muhammadiyah atau NU. Rahmi ikut saja, karena jalan sama Eyang memberi cara pandang baru tentang humanisme, tentang masyarakat awam, tentang hidup yang tidak selalu rapi.

Eyang suka ke Atrium, Pasar Baru, Pasar Senen, Pasar Cempaka Putih, kan? Rahmi ikut. Selalu ikut.

Percakapan terakhir, Eyang sempat tanya tentang Eropa.

“Hebat Rahmi bisa sampai ke Eropa,” kata Eyang. “Eyang mah cuma bisa ngomong Ichi, Ni, San.” Eyang tertawa, karena Eyang hidup di zaman penjajahan Jepang.

Yangti, Rahmi ini pemerhati tindakan. Rahmi ingin mencontoh Eyang.

Waktu kecil, tiap Sabtu, Rahmi sering memperhatikan dari atas rumah Eyang. Setiap minggu ada peminta-minta yang datang cari Eyang, dan Eyang selalu ngasih beras 1 sampai 2 kilo dalam plastik.

Eyang juga sering beli dagangan kecil yang lewat depan rumah. Donat, jajanan sore, apa pun itu. Walaupun cuma satu.

“Kasian kalau tidak dibeli,” kata Eyang.

Eyang juga suka air. Suka nyuci baju pakai air yang mengocor deras, menyiram tanaman, cuci lantai bukan dengan pel, dan lain-lain. Suka kebersihan. Kata Ummi, “Tagihan air jadi membludak dibanding listrik.”

Yangti tahu tidak, Rahmi kayaknya juga begitu. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya.

Ummi pernah cerita masa susah. Harus minta beras dari tetangga sebelah. Berasnya jatuh ke lantai saat hujan. Ummi menangis dan memungut satu demi satu. Walaupun kata Ummi Eyang keras, Eyang tetap jadi tujuan pertama Ummi. Kalau Ummi mau pergi, Ummi selalu bilang dengan riang, “Ajak Eyang Uti ya!”

Rahmi memang sudah tidak banyak di Jakarta sejak 2013, saat konflik keluarga Ummi lagi panas-panasnya. Ummi bilang, “Tidak usah dipikirkan, Mi. Fokus studi saja.”

Belakangan Rahmi tahu, Eyang melewati fase yang amat menohok sampai Eyang menangis. Sampai Eyang pindah ke tempat yang tidak Eyang inginkan. Ada juga cerita pahit yang Rahmi dengar belakangan, dan Rahmi kesal sejadi-jadinya.

Tapi Eyang, yang baik akan tetap baik, di mana pun ditempatkan.

Oh iya, Om Giri menangis waktu mengimami salat jenazah Eyang Uti. Sampai di Johar Baru, beliau bilang, “Rahmi enak masih punya Ibu, sumber utama rezeki. Om sudah tidak ada nih. Om sudah tidak punya malaikat nih.”

Di sampingnya ada Tante Sita. Katanya Om Giri itu sabar sekali, dan brilliant.

Masalah keluarga Ummi akhirnya selesai. Om Giri bilang, “Masa iya harus Eyang meninggal dulu baru kelar semua urusan. Rahmi, jalan Rahmi sudah benar. Jaga infaknya ya, Mi. Terutama ke keluarga.”

Tanggal 26 Juli 2017, Eyang Uti dimakamkan bertindihan dengan Eyang Kakung. Om Giri dan Ummi sempat cerita, saat jenazah Eyang Uti dipanggil, ada jenazah lain bernama Sudarsono, nama Eyang Kakung.

“Kok bisa ya. Subhanallah banget kan, Mi?” kata mereka.

Mungkin benar, kita butuh iman untuk percaya pada hal-hal yang tidak bisa kita lihat, dan tidak bisa dikerjakan oleh pancaindra.

Eyang Uti, terima kasih sudah melahirkan Ummi, mendidik Ummi, dan menyayangi Rahma dan Rahmi waktu kecil dulu. Terima kasih sudah mempertemukan Rahmi dengan Eyang Kakung.

Dulu, di teras rumah besar yang sekarang tinggal sejarah, tiap minggu Ummi menjemput. Rahma menangis kejer tidak mau berpisah. Rahmi menangis diam-diam. Dan Rahmi tahu betul, Eyang Uti dan Eyang Kakung memperhatikan.

Sama seperti saat ini.

Saat beberapa teman di sini bertanya, “Kenapa pulang dadakan dan cuma sebentar?”

Aku cuma bisa jawab pelan, ada hal yang berharga, tapi tidak selalu berani kita perjuangkan. Padahal kita tahu. Padahal kita paham. Padahal kita sadar. Tapi belum tentu kita berani. Dan keberanian itu perlu dilatih, seperti melatih kesabaran. Sampai suatu saat, kita tidak perlu berpikir berulang kali untuk memperjuangkan yang ada di depan mata.

Papah juga pernah bilang, waktu Rahmi mengeluh soal tidak dibolehkan duduk di bus saat magang: “Jangan ngeluh. Atur prioritas. Berani ambil keputusan. Tahu waktu. Be the brightest in your field.”

Dan kali ini, Rahmi pulang untuk membalas semua kebaikan Eyang Uti dan Eyang Kakung.

Salam sayang dan kangen. Sampai ketemu di Jannah ya, Yangkung, Yangti.

Allahumma firlahu warhamhu wa afihi wa’fu ‘anhu. Allahumma firlaha warhamha wa afiha wa’fu ‘anha. Aamiin.

Pesawat AirAsia CGK–KLA–HND, 30 July 2017


메타데이터
post_id
2e28d045d8eb
slug
adagio-surat-untuk-eyang-uti-dan-eyang-kakung-2e28d045d8eb
url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-surat-untuk-eyang-uti-dan-eyang-kakung-2e28d045d8eb
canonical_url
https://medium.com/@rahmi.ami/adagio-surat-untuk-eyang-uti-dan-eyang-kakung-2e28d045d8eb
author_url
https://medium.com/@rahmi.ami
status
ok
fetched_at
2026-07-13 08:15:53