Premanisme Menggerogoti Bumi Pasundan.
1 April, Hari yang menjengkelkan bagi beberapa orang karena mereka harus menghadapi lelucon yang tak perlu nan mengada-ada. Tidak bagiku…
Premanisme Menggerogoti Bumi Pasundan.

Potret salah satu tangan pengemis di depan swalayan jl margonda raya depok.
1 April, Hari yang menjengkelkan bagi beberapa orang karena mereka harus menghadapi lelucon yang tak perlu nan mengada-ada. Tidak bagiku, pukul 8:00 pagi Aku dan keluarga berangkat menuju Gunung Mas, Puncak untuk bermalam dan bertamasya riang. Dalam perjalanan tidak ada banyak yang dapat kukatakan — pemandangan tol Jagorawi telah menjadi tontonan yang membosankan bagi warga komuter Jabodetabek — salah satu yang menculik perhatianku adalah jumlah dan arus mobil yang sedikit yang membuatku bersyukur lebih. Keluarnya mobil ini dari jalan TOL menuju jalan Daendels — Jl raya Anyer-Panarukan ruas Ciawi-Cianjur — di sinilah insting kritikus hidup. Dalam perjalanan 17 km menuju Taman Safari — dari gate out TOL — Aku menemui berjibun mobil dan motor yang terdampak macet di sana, membuat waktu tempuh melambat dan adik-adik ku mulai bosan berlama-lama di dalam mobil. Menurut kalkulasi aku jika jalan mulus dan tiada hambatan maka waktu ditempuh menjadi 30 menit dari jalan yang tak mulus dan penuh hambatan 1 jam 3 menit. Sepanjang 1 jam dan 3 menit tersebut aku hitung sudah ada sebelas pedagang asongan dan dua puluh dua “Pak ogah” yang mengetuk badan mobil serta empat pengemis memeras simpati kita untuk merogoh kantong. 38 manusia meminta minta dan mengerjakan pekerjaan yang sepele dan menguras tenaga sendiri ? untuk apa Pemda berikan HGB kepada Pengusaha dan Wirausaha setempat untuk membuka wahana dan atraksi wisata baru demi meraup dan mengisi kekosongan lowongan kerja wilayah setempat ? dan mereka lebih memilih meminta-minta dan bersusah payah menjual makanan di depan mobil orang. Ada kisaran 30an toko pusat oleh-oleh dan rest area di sepanjang ruas Ciawi-Cianjur, tempat yang nyaman bagi para pedagang asongan untuk menjual manisan mereka. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kita ambil contoh Polisi berdinas di Puncak untuk mengatur arus jalan Daendel dan membantua untuk mereka yang ingin berbelok ke jalan lain. Terdengar familiar ? tugas yang sama seperti pak ogah, yang berbeda adalah kita tak perlu membayar Polisi — secara langsung — untuk melakukan itu semua, sedangkan “pak ogah” kita perlu, bahkan wajib membayar kepada mereka jika tidak maka akan ada perkelahian. Budaya Premanisme atau pungutan liar atau kolusi ini sudah lumrah terjadi di Indonesia. Dari hasil observasi langsung di tempat kejadian, saya dapat menyimpulkan bahwa ada 3 faktor fundamental mengapa mereka masih terjumpa dimana-mana:
Simpang sekitar Pasar santa oleh detik.com
- Ketiadaan Lampu lalu lintas di setiap persimpangan. Bagi “Pak ogah” yang bertugas di persimpangan mengatur arus lalu lintas adalah salah satu “pak ogah” yang cukup di minati — di sukai masyarakat — karena mereka mengganti tugas lampu lalu lintas dan polisi di persimpangan. tanpa mereka persimpangan akan menjadi tumpukan mayat korban kecelakaan. Di sisi lain keberadaan mereka sebagai bukti inkompeten pemerintah dalam pemenuhan hak infrastruktur warganya. Semisal lampu lalu lintas, CCTV, layanan pengaduan, Pos Komando Jaga Polri / Babinsa yang masih terpuruk nan sedikit jumlahnya membuat Para preman bergerak bebas dan liar di setiap sudut Jabar. Di susul dengan peribahasa yang melekat di kehidupan sehari-hari “Diam adalah Emas” budaya tutup mulut ketika menghadapi peristiwa yang tak diinginkan. Kita para Khalayak luar yang membenarkan kejadian ini — membiarkan kejadian ini berlangsung dengan tidak mengadu kepada otoritas bersangkut — maka perlahan ini menjadi suatu hal yang lumrah untuk di lakukan dan dengan tak melakukan maka kita telah menyimpang dari kebiasaan sehari-hari/norma.

Arsip Batavia 1939 oleh Juragan Layar Tancap YT
2. Budaya feodal (KKN) dan sikap pragmatis dan mimesis wong cilik. Jika mendengar kata Feodal apa yang datang di benak pikiranmu untuk pertama kali ? apakah Kartini yang menolak mencuci kaki sang suami ketika adat istiadat pernikahan Jawa, atau kisah Abdul Muis yang babak belur di Bandung karena tak acuh atas teguran patih Bandung untuk Pribumi dilarang memakai sepatu di ruang publik karena dianggap sebagai hal kafir dan menandingi kelas 1 — Orang belanda/ Kaukasoid . — Semua itu adalah bentuk penentangan atas sistem feodalisme Jawa dan kolonial. Untuk definisi lebih jelas;
Feodalisme merujuk pada hak-hak istimewa yang dimiliki sebagian orang, yaitu mereka yang dengan kekebalan hak dan keistimewaan tertentu dibebaskan dari apa pun, terutama dari hukum.
Dalam konotasi lain adalah Feodalisme di Indonesia berupa “Hubungan antara tuan-pelayan” yang dipengaruhi lebih oleh sistem adat yang rumit — bagi feudal pada umumnya — Di sisi lain Pragmatis menurut KBBI adalah;
Bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis.
Pada kehidupan sehari-hari, kata umum tidak selaras dengan aktivitas yang mereka timbulkan, lebih tercondong kepada khalayak tertentu seperti keluarga, teman-teman, saudara mereka — para preman. — inilah kunci dari jawaban, mengapa mereka tidak mengambil kesempatan lapangan kerja dan lebih memilih untuk menjadi benalu masyarakat. Mereka Seperti singa lapar yang memilih mengaum di pasar daripada berburu di hutan, Mereka bertindak liar pun di luar akal manusia tanpa tahu apa yang mereka sebenarnya lakukan, mereka tidak dapat menentukan pilihan mana yang berdampak lebih baik dan sejahtera bagi anak kanaknya maupun khalayak luar, mereka adalah bukti kegagalan pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan membebaskan mereka dari rantai perbudakan modern. Adapun, mereka peniru kebiasaan negatif aparat negeri kita.
Menurut anda, Apakah salah semata pada individu yang mengetuk kaca dan minta uang? atau justru sistem yang mencetak mereka? Merujuk pada dialektika Plato, Mimesis bukan sekadar seni, tapi tiruan dari tiruan yang menjauhkan jiwa dari ide yang sejati, jadi benar jika Seni dianggap penghalang menuju kebenaran. Warga miskin terkhusus yang terjun dalam dunia premanisme mereka peniru dari Budaya Feodal beracun, yakni KKN (Kolusi, Korupsi, Nepotisme) mulai dari Kolusi; dalam kasus premanisme mereka ubah menjadi aksi pemerasan informal yaitu tindakan meminta uang atau imbalan secara paksa tanpa dasar hukum, di luar institusi negara, dengan ancaman yang merugikan korban jika tidak memenuhi tuntutan tertentu, serta umunya dilakukan oleh individu atau Ormas. Lanjut ke Korupsi, Tidak beda jauh dengan kolusi, Korupsi penuh dengan praktik Extortion. walaupun, Korupsi tak hanya soal memiliki jabatan tinggi, contoh saja “Pak Ogah” memakai akses ke ruang publik (simpang jalan) untuk menciptakan “Monopoli Jasa Palsu” dan menuntut imbalan paksa -> itulah cerminan korupsi skala mikro. Nepotisme, dari suku kata latin Nepos yang berarti Keponakan/ Saudara/ cucu. Dalam Substansi fenomena ini, jika kita ingin memperlebar jejaring preman dan kultur pungli ini, hal termudah adalah dengan menjerumuskan saudara dan teman sekitar kita untuk mulai membuka “bursa jasa palsu.” Besar sudah “bursa jasa palsu” tersebut, arus dana deras dan terkontrol membuat klan preman semakin kaya dan kaya, membuat kultur pungli susah dihapus karena sudah diterima di masyarakat.

potret pemukiman padat kumuh di bantaran kali krukut
- Urbanisasi. Sejalannya Peradaban Milenium III dan Kecerdasan Buatan yang semakin menggantikan posisi manusia sebagai pekerja. Mereka yang telat beradaptasi terkena imbas ombak PHK dan menjadi “hama masyarakat” dengan kata lain menjadi seorang adiktif atau preman (dalam konteks umunya.) Preman lahir dari paksaan lingkungan, mereka yang belum mendapat pekerjaan dipaksa hidup di jalan, mereka yang dipecat dari pekerjaan dipaksa pula hidup di jalan. Kontrol Urbanisasi yang hilang kendali, tata wilayah pinggiran kota yang semrawut, keadaan ekonomi dan politik yang tidak membaik di Indonesia serta keberagaman latar belakang suku, agama, ras, golongan membuat lingkungan lembab bagi preman untuk berkembang biak. Banyak daerah yang semakin lama semakin menyingkirkan struktur komunitas tradisional yang dulunya menjadi pengekang terhadap perilaku menyimpang. Dengan menurunnya nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, persatuan, praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan/ekses kekerasan di jalanan semakin berkembang biak.
Konklusi Penghujung Kalimat, PR bagi Pemda Jabar sangat berat nan kompleks untuk benar-benar membunuh kultur preman/pungli yang telah memakan sebagian besar tubuh bumi Pasundan. Langkah awal untuk Pemda ialah dengan memberikan penyuluhan terhadap pelaku preman atas dampak kerusakan yang mereka lakukan serta memberikan kepastian atas kehidupan masa depan mereka agar hati nurani para preman ini benar-benar tergerak untuk hijrah. Tak luput perihal Anak-anaknya, Anak-anak preman patut jadi pantauan ketat oleh pemerintah untuk memberikan contoh, pengajaran dan panutan tepat agar mereka tidak terjerumus kembali menjadi preman maupun pelaku kejahatan lainnya. Berganti kita ke lingkungan, Bagaimana jika preman siap untuk hijrah tetapi lingkungan tidak? Pola pikir masyarakat dalam menghadapi para eks preman harus berubah, mereka tak patut takut jika , di syiriki, seolah di lupakan, maupun menjaga jarak. Sifat Apartheid mesti di hapus dan hilangkan agar sila ke-3 Pancasila dapat menyatukan seluruh bangsa dalam semangat persatuan Indonesia, di mana perbedaan SARA tak menjadi penghalang untuk mewujudkan harmoni sosial dan kekeluargaan yang utuh. Bicara soal kekeluargaan tak luput persoalan hubungan antar sesama manusia, mengutip dari salah satu filosofi sunda yang fenomenal;
“Silih Asah, Silih Asah, Silih Asih.”
Dalam bahasa Indonesia kita memahaminya sebagai “Saling mengasihi, saling mengajari, dan saling menjaga/mengasuh.” jika nilai-nilai adat dan tradisional itu terlestarikan maka tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan dan kekeluargaan. Selesai atas Langkah awal, Pemda Jabar dapat beralih dengan langkah strategis seperti penegakan hukum, Transparansi dan Reformasi tata kelola pemerintahan provinsi. Saya harap mereka — pemda jabar — betul bekerja keras dalam memutus mata rantai premanisme.
Akhir kata, tulis pendapatmu di kolom komentar tentang bagaimana cara alternatif lain untuk mengakhir fenomena premanisme di Indonesia secara explisit. Dukung penulis kecil dengan kritik dan saran membangun, bukan kritik dan makian kasar.
메타데이터
- post_id
- 2e2df97fde88
- slug
- premanisme-menggerogoti-bumi-pasundan-2e2df97fde88
- url
- https://medium.com/@ubermenschh/premanisme-menggerogoti-bumi-pasundan-2e2df97fde88
- canonical_url
- https://medium.com/@ubermenschh/premanisme-menggerogoti-bumi-pasundan-2e2df97fde88
- author_url
- https://medium.com/@ubermenschh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 08:23:55