Kriminalitas dan Patriotisme
Keberadaan Jago memang menjadi persoalan, karena memadukan antara kriminalitas dan patriotisme sehingga dibutuhkan dalam perjuangan melawan kembalinya Belanda ke Indonesia.
Kriminalitas dan Patriotisme
Menurut Benedict Anderson, revolusi Indonesia bukan dilakukan oleh para cendekiawan terisolir atau secara khusus kaum tertindas, tetapi dilakukan oleh kaum muda atau dikenal dengan nama pemuda. Dalam kajian lain, Robert Cribb dalam bukunya Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945–1949 menjelaskan secara menyeluruh terkait proses revolusi yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya, untuk melihat lebih dekat bahwa peran Jago yang juga pemuda meski menurut Benedict Anderson tidak lagi muda sangat berpengaruh terhadap jalannya revolusi. Di Jakarta dikenal Jago bernama Haji Darip dari Klender yang mendirikan Barisan Rakyat Indonesia dan memberlakukan pengawasan terhadap lalu lintas di wilayah kekuasaannya, serta mematok pajak terhadap siapa saja yang lewat. Tidak jarang juga pengikut Haji Darip melakukan perampokan terhadap orang-orang berkulit putih seperti Belanda, Indo Belanda dan Tionghoa serta berkulit hitam yaitu orang Ambon dan Timor.

Gambar: Haji Darip (Bawah) Kutil (Atas)
Para Jago memiliki karakteristik tersendiri, biasanya mereka memiliki ilmu magis seperti kekebalan terhadap peluru atau benda tajam, selain itu tidak dapat terlihat atau tidak dapat terdengar. Kebanyakan para pemimpin Jago memiliki latar belakang ilmu keagamaan yang kuat, seperti Haji Darip ataupun Haji Toyib dari Lembang. Bahkan sosok Jago sekaligus algojo dari Talang bernama Sakhyati atau sering disebut Kutil merupakan orang yang memiliki latar belakang keagamaan yang kuat. Revolusi sosial yang terjadi di tiga daerah atau dikenal peristiwa Tiga Daerah yaitu Tegal, Brebes dan Pemalang menjadi bukti eksistensi Jago pada masa revolusi Indonesia. Menurut Anton Lucas dalam bukunya Peristiwa Tiga Daerah dijelaskan dinamika sosial politik yang terjadi di daerah tersebut. Kutil atau gerakan Kutil menjadi gerakan paling sadis dan terkenal dengan AMRI, tidak segan-segan dalam menghabisi lawan khususnya mereka yang terlibat sebagai agen NICA.
Di wilayah lainnya revolusi sosial pecah, dengan tergantikannya para pangreh praja yang dipandang oleh masyarakat sebagai kaki tangan kolonial, karena mereka sangat oportunis. Ketika masa Belanda mereka mengabdi untuk Belanda, ketika masa Jepang mereka menjadi kaki tangan Jepang. Tentu rakyat merasakan kesengsaraan ketika tidak memiliki power, tapi semua itu berubah ketika Jepang kalah dan posisi pangreh praja mulai terancam untuk dihakimi massa. Terjadi peristiwa yang disebut mendombreng, atau mengarak para pangreh praja, entah itu camat, wedana atau bupati dengan memakaikan karung goni sebagai bentuk kekecewaan rakyat dan sebagai bentuk mempermalukan. Lebih sadis lagi revolusi sosial di tiga daerah tersebut tidak sedikit memakan korban, dengan terbunuhnya camat atau wedana. Di Bandung, menurut John Smail dalam buku Bandung Awal Revolusi 1945–1946 aktivitas para Jago terafiliasi dengan laskar-laskar terutama API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang bermarkas di Lengkong Besar.
Seorang tokoh Jago sekaligus menantu Haji Darip yaitu Panji dan rekannya Fakhruddin memiliki jalan perjuangan yang berbeda dengan mertuanya. Panji beserta pengikutnya bergabung dengan HAMOT (Here Majesteit’s Ongeregelde Troepen) atau pasukan liar ratu yang dikendalikan oleh Bavinck, tujuannya untuk menjadi mata-mata di garis perbatasan demarkasi. Eksistensi dari HAMOT meningkat, setidaknya berguna bagi Belanda karena dapat digunakan untuk pasukan tambahan. Namun pada akhirnya Panji menghilang, ada yang menyebut dibunuh oleh pihak Belanda, ada yang menyebut bahwa Panji diculik oleh TRI dan ditembak.
Keberadaan HAMOT tidak lain sama menguntungkannya seperti Po An Tui. Seperti yang dijelaskan oleh Sulardi dalam bukunya Po An Tui 1947–1949 Tentara Cina Jakarta, bahwa Belanda mendapatkan tambahan pasukan untuk melawan republik atau setidaknya menjaga garis demarkasi agar tidak dimasuki mata-mata. Meski pada awalnya Po An Tui didirikan untuk kepentingan menjaga keselamatan warga Tionghoa, tetapi lama kelamaan fungsinya beralih sebagai pasukan tambahan Belanda.
Keberadaan Jago memang menjadi persoalan, karena memadukan antara kriminalitas dan patriotisme sehingga dibutuhkan dalam perjuangan melawan kembalinya Belanda ke Indonesia. Aksi sadis yang dilakukan Kutil tidak dapat ditoleransi meski dia mengaku sebagai upaya menyelamatkan teman-temannya. Kutil dipandang sebagai pria kurus tapi ditakuti, bahkan sering menjadi guyonan orang tua kepada anaknya jika bandel, dengan menyebut “awas nanti ada Kutil”, anak langsung ketakutan. Begitu pula Haji Darip, sosok panglima perang dari Klender memiliki tempat dalam revolusi. Setidaknya keberadaan mereka memiliki tujuan yang sama untuk mengusir penjajah.
메타데이터
- post_id
- 2e46f1b8db3a
- slug
- kriminalitas-dan-patriotisme-2e46f1b8db3a
- url
- https://medium.com/@rifalmiftahudin23/kriminalitas-dan-patriotisme-2e46f1b8db3a
- canonical_url
- https://medium.com/@rifalmiftahudin23/kriminalitas-dan-patriotisme-2e46f1b8db3a
- author_url
- https://medium.com/@rifalmiftahudin23
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 05:58:23