← Back to list

Aku gengsi dengan ibuku sendiri

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berubah. Dulu, aku selalu bercerita kepada ibuku — tentang hari-hariku, tentang teman-temanku, bahkan…

Dina Yasyfa Nurrizqoh · 2025-02-17 00:08 · 0 claps · 5.5 min read
#aku #gengsi #dengan #ibuk #sendiri
Open on Medium ↗

Aku gengsi dengan ibuku sendiri

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berubah. Dulu, aku selalu bercerita kepada ibuku — tentang hari-hariku, tentang teman-temanku, bahkan tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain. Tapi kini, aku semakin menjauh. Aku tak lagi suka berbagi cerita dengannya, bahkan sering kali aku membentaknya tanpa alasan yang jelas.

Ibuku adalah sosok yang lembut dan penuh perhatian. Dia selalu berusaha memahami, selalu mendengarkan dengan sabar, dan tak pernah menghakimi. Tapi entah kenapa, justru kepadanya aku sering meluapkan emosi. Nada suaraku meninggi, kata-kataku kasar, seolah aku lupa betapa besar kasih sayangnya kepadaku. Setiap kali aku melihat wajahnya setelah aku membentaknya, hatiku terasa sakit. Aku tahu aku menyakitinya. Aku tahu aku membuatnya sedih. Tapi entah kenapa, aku terus melakukannya.

Aku merasa jahat. Aku merasa durhaka. Aku ingin menangis setiap kali menyadari bahwa orang yang paling menyayangiku justru menjadi sasaran kemarahanku. Aku ingin meminta maaf, ingin kembali seperti dulu — seperti saat aku bisa berbicara dengannya tanpa ada perasaan bersalah yang menghantui. Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang menahan, entah itu rasa gengsi atau sekadar ketakutan bahwa aku sudah terlalu jauh menyakitinya.

Aku tidak ingin seperti ini selamanya. Aku ingin kembali mendekatinya, ingin membalas semua kasih sayangnya dengan lebih banyak kesabaran dan kelembutan. Aku tahu aku tidak bisa terus menerus menyalahkan diriku sendiri, tapi aku juga tidak boleh terus membiarkan diriku seperti ini. Aku ingin berubah, ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat.

Mungkin langkah pertama yang bisa aku lakukan adalah mencoba memahami diriku sendiri — mengapa aku menjadi mudah marah? Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mungkin aku butuh waktu untuk merenung, untuk menyusun kata-kata yang tepat agar aku bisa meminta maaf dengan tulus. Aku hanya berharap, ibuku masih bisa menerima permintaan maafku, seperti selama ini dia selalu menerimaku tanpa syarat.

Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku juga mencintainya, sama seperti dia mencintaiku. Jika selama ini aku telah menyakitinya, aku ingin mulai belajar untuk menyembuhkan. Aku ingin kembali bercerita padanya, kembali merasakan kehangatan seorang ibu tanpa dihantui rasa bersalah dan penyesalan.

Terkadang, saat aku sendirian, aku memikirkan kembali semua kejadian yang telah berlalu. Aku membayangkan bagaimana perasaan ibuku setiap kali aku membentaknya, setiap kali aku berbicara dengan nada tinggi seolah aku tidak peduli. Mungkin hatinya terluka, mungkin dia ingin menangis tapi memilih menahannya agar aku tidak merasa bersalah. Dan itu membuatku semakin sedih.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri — kenapa aku berubah seperti ini? Aku tahu ibuku tidak pantas menerima perlakuanku yang kasar, tapi kenapa aku tetap melakukannya? Apakah ini karena aku terlalu lelah dengan masalahku sendiri? Atau karena aku menumpuk terlalu banyak perasaan yang tak pernah kusampaikan, hingga akhirnya meledak kepada orang yang seharusnya paling aku jaga?

Yang paling menyakitkan adalah ketika aku melihat ibuku tetap bersikap lembut setelah semua yang aku lakukan. Dia masih menyiapkan makanan untukku, masih bertanya apakah aku sudah makan, masih mengingatkanku untuk beristirahat, seolah tidak ada yang berubah. Seolah aku tidak pernah melukai hatinya.

Terkadang, saat aku sendirian, aku memikirkan kembali semua kejadian yang telah berlalu. Aku membayangkan bagaimana perasaan ibuku setiap kali aku membentaknya, setiap kali aku berbicara dengan nada tinggi seolah aku tidak peduli. Mungkin hatinya terluka, mungkin dia ingin menangis tapi memilih menahannya agar aku tidak merasa bersalah. Dan itu membuatku semakin sedih.

Aku mulai bertanya pada diriku sendiri — kenapa aku berubah seperti ini? Aku tahu ibuku tidak pantas menerima perlakuanku yang kasar, tapi kenapa aku tetap melakukannya? Apakah ini karena aku terlalu lelah dengan masalahku sendiri? Atau karena aku menumpuk terlalu banyak perasaan yang tak pernah kusampaikan, hingga akhirnya meledak kepada orang yang seharusnya paling aku jaga?

Yang paling menyakitkan adalah ketika aku melihat ibuku tetap bersikap lembut setelah semua yang aku lakukan. Dia masih menyiapkan makanan untukku, masih bertanya apakah aku sudah makan, masih mengingatkanku untuk beristirahat, seolah tidak ada yang berubah. Seolah aku tidak pernah melukai hatinya.

Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi anak yang lebih baik, yang bisa berbicara dengan ibunya tanpa harus menyakiti perasaannya. Aku ingin kembali seperti dulu, saat aku bisa tertawa bersamanya, saat aku bisa memeluknya tanpa merasa bersalah. Tapi bagaimana? Bagaimana aku bisa memperbaiki semuanya setelah sejauh ini aku melukai hatinya?

Mungkin aku bisa memulainya dengan hal kecil. Dengan mencoba menahan diri saat emosi mulai naik. Dengan memilih kata-kata yang lebih baik, meskipun sulit. Dengan menunjukkan perhatian, walau hanya dengan tindakan sederhana seperti membantunya di rumah atau sekadar mengucapkan terima kasih.

Dan suatu hari nanti, ketika aku benar-benar siap, aku ingin mengatakan padanya bahwa aku menyesal. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf untuk semua kata-kata yang menyakitkan. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak pernah berniat melukainya, bahwa aku mencintainya lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Aku hanya berharap, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Bahwa sebelum terlambat, aku bisa menjadi anak yang lebih baik untuknya — anak yang tidak lagi membentaknya, tidak lagi membuatnya sedih, dan tidak lagi menyesali semua yang telah terjadi.

Ibu, tunggu aku. Aku sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Aku sedang belajar untuk tidak menyakitimu lagi. 💙

Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi anak yang lebih baik, yang bisa berbicara dengan ibunya tanpa harus menyakiti perasaannya. Aku ingin kembali seperti dulu, saat aku bisa tertawa bersamanya, saat aku bisa memeluknya tanpa merasa bersalah. Tapi bagaimana? Bagaimana aku bisa memperbaiki semuanya setelah sejauh ini aku melukai hatinya?

Mungkin aku bisa memulainya dengan hal kecil. Dengan mencoba menahan diri saat emosi mulai naik. Dengan memilih kata-kata yang lebih baik, meskipun sulit. Dengan menunjukkan perhatian, walau hanya dengan tindakan sederhana seperti membantunya di rumah atau sekadar mengucapkan terima kasih.

Dan suatu hari nanti, ketika aku benar-benar siap, aku ingin mengatakan padanya bahwa aku menyesal. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf untuk semua kata-kata yang menyakitkan. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak pernah berniat melukainya, bahwa aku mencintainya lebih dari yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Aku hanya berharap, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Bahwa sebelum terlambat, aku bisa menjadi anak yang lebih baik untuknya — anak yang tidak lagi membentaknya, tidak lagi membuatnya sedih, dan tidak lagi menyesali semua yang telah terjadi.

Aku mulai menyadari satu hal: emosiku bukanlah diriku. Aku bukan orang yang jahat, bukan anak yang durhaka, bukan seseorang yang dengan sengaja ingin menyakiti orang lain — terutama ibuku. Tapi kenapa aku masih sering kehilangan kendali? Kenapa amarah dan frustrasi seolah mengambil alih tubuhku tanpa bisa kuhentikan?

Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri. Aku membiarkan emosi menguasai pikiranku, membiarkan kata-kata keluar tanpa sempat kupilah dengan hati-hati. Aku berpikir bahwa aku buruk hanya karena aku marah, bahwa aku tidak layak dimaafkan hanya karena aku pernah menyakiti. Tapi perlahan, aku mulai memahami bahwa emosiku hanyalah bagian dari diriku, bukan keseluruhannya.

Aku bukan amarahku. Aku bukan kesalahanku. Aku bukan bentakan-bentakan yang pernah keluar dari mulutku. Aku hanyalah seseorang yang sedang belajar memahami dirinya sendiri, yang sedang berjuang untuk mengendalikan apa yang selama ini terasa sulit untuk dikontrol.

Aku tidak ingin terus-menerus membiarkan emosi mengendalikan hidupku. Aku ingin bisa menahan diri, mengambil napas dalam sebelum berbicara, dan memilih kata-kata yang tidak akan aku sesali nanti. Aku ingin lebih sadar bahwa setiap kali aku berbicara dengan nada tinggi, bukan hanya ibuku yang terluka, tapi aku juga.

Jadi, mulai sekarang, aku ingin lebih memahami diriku. Aku ingin mengenali kapan aku mulai merasa jengkel, kapan aku mulai kehilangan kendali, dan bagaimana aku bisa menghentikannya sebelum terlambat. Aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa aku lebih besar dari emosiku. Bahwa aku masih punya pilihan untuk menjadi lebih baik, untuk memperbaiki semuanya, untuk menunjukkan pada ibuku bahwa aku menyayanginya tanpa harus menyakiti lebih dulu.

Aku mungkin masih akan jatuh, masih akan keceplosan, masih akan merasa marah sesekali. Tapi aku ingin berusaha. Aku ingin menjadikan kesadaran ini sebagai langkah awal untuk berdamai dengan diriku sendiri. Aku ingin memisahkan emosiku dari siapa diriku sebenarnya, karena aku tahu, di dalam hatiku, aku bukan orang jahat. Aku hanyalah seseorang yang sedang berproses, dan aku ingin percaya bahwa aku bisa menjadi lebih baik.

Dan suatu hari nanti, aku berharap, aku bisa melihat ibuku tanpa rasa bersalah lagi — hanya dengan rasa cinta yang tulus, seperti yang seharusnya. 💙

Ibu, tunggu aku. Aku sedang belajar untuk menjadi lebih baik. Aku sedang belajar untuk tidak menyakitimu lagi. 💙

Ibu, maafkan aku. Aku masih belajar menjadi anak yang lebih baik. 💙


메타데이터
post_id
2e4cc6d943d4
slug
aku-gengsi-dengan-ibuku-sendiri-2e4cc6d943d4
url
https://medium.com/@yasyfadina/aku-gengsi-dengan-ibuku-sendiri-2e4cc6d943d4
canonical_url
https://medium.com/@yasyfadina/aku-gengsi-dengan-ibuku-sendiri-2e4cc6d943d4
author_url
https://medium.com/@yasyfadina
status
ok
fetched_at
2026-06-26 08:21:59