← Back to list

Kisah Para Pembaru Islam: Dari Istanbul hingga Yaman

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap seratus tahun Allah mengutus kepada umat ini seseorang yang akan memperbarui agama ini (dari penyimpangan).”…

Wiji Al Jawi in Islampedia · 2026-06-17 03:45 · 0 claps · 6.8 min read
#islamic-history #sejarah #sejarah-islam
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Kisah Para Pembaru Islam: Dari Istanbul hingga Yaman

Photo by Yuz Ayub on Unsplash

Photo by Yuz Ayub on Unsplash

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap seratus tahun Allah mengutus kepada umat ini seseorang yang akan memperbarui agama ini (dari penyimpangan).” (HR. Abu Dawud no. 3740 dalam aplikasi Lidwa)

Mujaddid (pembaru agama) adalah ulama yang menghidupkan kembali ajaran Islam dengan mengembalikannya kepada kemurnian asal.

Mujaddid per Abad Hijriah

Berikut ini contoh mujaddid pada setiap abad Hijriah, yaitu mereka yang sangat berpengaruh dalam menegakkan Sunnah:

Abad ke-1 H: Umar bin Abdul Aziz (681–720 M).

Abad ke-2 H: Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i (767–820 M).

Abad ke-3 H: Ahmad bin Hanbal (780–855 M).

Abad ke-4 H: Ad-Daraquthni (918–995 M).

Abad ke-5 H: Ibnu Abdil Barr (978–1071 M).

Abad ke-6 H: Ibnu Qudamah (1147–1223 M).

Abad ke-7 H: Ibnu Taimiyah (1263–1328 M).

Abad ke-8 H: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (1292–1350 M).

Abad ke-9 H: Ibnu Hajar al-‘Asqalani (1372–1449 M).

Abad ke-10 H: Muhammad Birgivi (1523–1573 M).

Abad ke-11 H: Kadızade Mehmed Efendi (1582–1635 M).

Abad ke-12 H: Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792 M).

Abad ke-13 H: Muhammad bin Ali asy-Syaukani (1759–1834 M).

Abad ke-14 H: Muhammad Nasiruddin al-Albani (1914–1999 M).

Adz-Dzahabi dalam Tārīkh al-Islām dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fatḥ al-Bārī menyebutkan bahwa mujaddid dapat lebih dari satu orang dalam setiap seratus tahun.

Karena itu, daftar nama di atas hanyalah contoh ulama yang dianggap sebagai mujaddid, bukan berarti ulama lain di luar daftar ini tidak termasuk.

Lokasi Kemunculan Para Mujaddid

Umar bin Abdul Aziz dianggap sebagai mujaddid karena ia menghidupkan kembali prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang mulai melemah setelah masa Khulafaur Rasyidin.

Ketika menjadi khalifah, ia menegakkan keadilan terhadap rakyat serta mengurangi kemewahan istana. Ia juga menghidupkan Sunnah dan bahkan memulai kodifikasi hadis secara resmi.

Para imam mazhab, seperti Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi‘i, dan Ahmad bin Hanbal, juga termasuk mujaddid karena berperan membangun fondasi fikih sekaligus menjaga Sunnah.

Hampir semua tokoh ini terkait dengan pusat hadis dan fikih awal, yakni Hijaz (Makkah dan Madinah). Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah, menjadi gubernur Hijaz, lalu khalifah di Damaskus.

Abu Hanifah lahir di Kufah, belajar di Hijaz, berkiprah di Kufah, dan wafat di Baghdad. Malik bin Anas lahir, mengajar, dan wafat di Madinah.

Asy-Syafi‘i lahir di Gaza, belajar di Hijaz, berkiprah di Baghdad dan menghasilkan pendapat fikih awal (disebut qaul qadim), lalu menetap di Mesir dan mengoreksi sebagian pendapatnya (disebut qaul jadid).

Ahmad bin Hanbal, yang lahir, mengajar, dan wafat di Baghdad, menandai semakin menguatnya posisi Irak sebagai pusat keilmuan Islam, suatu proses yang telah dimulai sejak masa Abu Hanifah.

Peta asal Imam Hadis dan Mazhab (ilmfeed.com)

Peta asal Imam Hadis dan Mazhab (ilmfeed.com)

Para imam ahli hadis pun termasuk mujaddid karena berperan menjaga keaslian Sunnah. Di antara mereka ialah Imam Bukhari, Muslim, dan Ad-Daraquthni.

Imam Bukhari dan Muslim berasal dari wilayah budaya Persia, yaitu Khurasan dan Asia Tengah. Sedangkan Ad-Daraquthni berasal dari Irak (Baghdad).

Pembahasan mengenai bagaimana wilayah budaya Persia pernah menggantikan Hijaz sebagai pusat keilmuan hadis terdapat dalam tulisan Bintang Soraya dan Bangsa Persia.

Hampir semua imam ahli hadis melakukan rihlah ilmiah ke Hijaz untuk mengumpulkan hadis. Namun, Baghdad dan kota-kota Khurasan tetap menjadi pusat penulisan dan kritik hadis.

Sedangkan imam ahli hadis dari Andalusia adalah Ibnu Abdil Barr. Pada abad ke-5 H, Andalusia menjadi salah satu poros ilmu yang sejajar dengan Hijaz, Irak, dan Khurasan.

Pada abad ke-6 hingga ke-8 H, tampil mujaddid dari Syam seperti Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qayyim. Sedangkan pada abad ke-9 H, dari Mesir tampil Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Pada masa-masa ini, Syam dan Mesir menjadi pusat politik dan keilmuan dunia Islam di bawah Kesultanan Ayyubiyah dan kemudian Mamluk.

Baca juga bagaimana Ṣalāḥuddīn al-Ayyūbī mengakhiri Dinasti Fāṭimiyah dan mendirikan Kesultanan Ayyubiyah dalam tulisan Ketika Syiah menghadapi Tentara Salib.

Pada abad ke-10 hingga ke-11 H, para mujaddid bermunculan dari Kekhalifahan Utsmani, seperti Muhammad Birgivi dan Kadizade Mehmed Efendi.

Ketika Kekhalifahan Utsmani melemah, para mujaddid muncul dari wilayah yang jauh dari kendali Utsmani, seperti Muhammad bin Abdul Wahhab di Najd dan Muhammad bin Ali asy-Syaukani di Sana’a.

Setelah Kekhalifahan Utsmani runtuh, para mujaddid tetap bermunculan, seperti Muhammad Nasiruddin al-Albani yang berperan besar dalam kebangkitan studi hadis pada abad ke-14 H.

Al-Albani, meskipun berasal dari Albania, menghabiskan sebagian besar hidupnya di Damaskus (Suriah), dan kemudian di Amman (Yordania).

Mujaddid dari Turki Utsmani

Muhammad Birgivi dikenal sebagai pengkritik vokal terhadap kemerosotan moral di Kekhalifahan Utsmani, khususnya penyalahgunaan agama demi kepentingan elite.

Ia menyerukan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta memberikan nasihat secara langsung kepada Perdana Menteri (Wazir Agung) Utsmani, Sokollu Mehmed Pasha.

Birgivi pernah bergabung dengan tarekat Sufi Bayrami, namun kemudian ia mengkritik keras unsur esoterisme (batiniah) dan ritual yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Ia menulis al-Tariqah al-Muhammadiyyah yang menjelaskan penolakannya terhadap bid’ah, ilmu kalam (teologi spekulatif), serta praktik tasawuf yang tidak sesuai dengan syariat.

Birgivi sering disebut sebagai tokoh pendahulu dan sumber inspirasi utama gerakan Kadızadeliler, meskipun ia tidak hidup pada masa gerakan tersebut muncul.

Kadızadeliler adalah label yang digunakan untuk menyebut murid-murid Kadızade Mehmed Efendi. Kadızade Mehmed tidak pernah bertemu Birgivi, tetapi ia belajar dari murid-murid Birgivi.

Dalam dakwahnya, ia menyerukan pemurnian agama serta mengkritik kultus makam, tarian dan musik sufi, serta perayaan keagamaan yang tidak dilakukan oleh generasi awal Islam.

Kadızade Mehmed juga menerjemahkan dan menambahkan catatan atas karya Ibnu Taimiyah tentang tata kelola pemerintahan (al-Siyasah al-Syar’iyyah) untuk Sultan Murad IV (1612–1640 M).

Dalam bahasa Turki Utsmani, Kadı berarti Qadi (hakim agama), dan zade berarti anak atau keturunan. Jadi, Kadızade Mehmed Efendi berarti “Mehmed Efendi, putra seorang Qadi”.

Karena berasal dari keluarga ulama dan memiliki retorika yang kuat, ia menjadi terkenal dalam waktu singkat dan ditunjuk sebagai khatib (penceramah) di Masjid Hagia Sophia.

Ia pun menggunakan posisinya tersebut untuk mengkritik Sufisme, agama rakyat (Islam sinkretis), penyimpangan di dalam pemerintahan Utsmani, dan sekte-sekte yang bertentangan dengan syariat.

Sultan Murad IV banyak menerima pendapat Kadızade Mehmed. Murad IV menekan tampilan kemewahan serta melarang alkohol dan tembakau demi menjaga ketertiban dan moral pasukan.

Setelah Kadızade Mehmed wafat, murid-muridnya — yang kemudian dilabeli sebagai Kadızadeliler — tetap kritis dalam memprotes praktik suap pejabat, pengelolaan anggaran Utsmani, dan Sufisme.

Namun, di masa Sultan Mehmed IV (1642–1693 M), Wazir Agung Köprülü Mehmed Pasha menangkap dan mengasingkan para pemimpin Kadızadeliler ke Siprus.

Tindakan Kadızadeliler, seperti penghancuran pondok Sufi Khalwati dan seruan untuk penghapusan pajak-pajak tertentu, dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Sultan Mehmed IV sendiri lebih sering menghabiskan waktu berbulan-bulan di luar ibu kota untuk berburu, yang membuatnya abai terhadap detail pemerintahan.

Kekalahan dalam Pertempuran Wina (1683) menandai awal kemunduran Utsmani di Eropa Tengah. Setelah kekalahan dalam Pertempuran Mohács Kedua (1687), Mehmed IV dikudeta oleh tentara Janissari.

Mujaddid dari Yaman

Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani (1688–1768 M) awalnya bermazhab Syiah Zaidiyah karena ia hidup dan belajar di lingkungan Zaidi Yaman.

Namun, ia kemudian banyak menyerap gagasan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim yang menekankan ijtihad langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta mengkritik praktik taklid mazhab.

Karena itu, ia termasuk mujaddid yang tidak terikat pada mazhab fikih tertentu. Karya terkenalnya, Subul as-Salam, menunjukkan orientasinya yang kuat kepada hadis sebagai sumber hukum.

Ia juga mengkritik pendekatan ilmu kalam (teologi spekulatif) yang berkembang di lingkungan Zaidi, dan lebih menekankan teologi yang bersandar pada nash (teks Al-Qur’an dan Sunnah).

Karya Ash-Shan’ani lainnya, Tathhir al-I’tiqad, membahas pemurnian tauhid dan mengkritik berbagai bentuk pengagungan berlebihan terhadap kuburan dan orang saleh.

Ash-Shan’ani tidak bertemu dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tetapi keduanya pernah berguru kepada Muhammad Hayat As-Sindi, ulama asal Sindh (Pakistan modern) yang bermukim di Madinah.

As-Sindi dikenal sebagai ulama yang mendorong studi hadis, kritik terhadap bid’ah dan taklid, serta menunjukkan pengaruh pemikiran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim dalam sejumlah pandangannya.

Pembaruan Ash-Shan’ani dilanjutkan oleh Muhammad bin Ali asy-Syaukani. Sebagaimana Ash-Shan’ani, Asy-Syaukani adalah ulama Syiah Zaidiyah yang kemudian beralih kepada Ahlus Sunnah.

Ia mengkritik Sufisme yang telah jatuh ke dalam praktik syirik. Ia juga menolak taklid mazhab, sebagaimana tampak dalam karyanya Nailul Authar, yang menukil pendapat ulama lintas mazhab.

Nailul Authar karya Asy-Syaukani adalah kitab hadis fikih yang menjelaskan (syarah) kitab Muntaqa al-Akhbar karya Abu al-Barkat Majd al-Din al-Harrani (kakek Ibnu Taimiyah).

Pada tahun 1795 M, Imam Al-Mansur Ali I, penguasa Daulah Qasimiyah Yaman, mengangkat Asy-Syaukani sebagai Qadi al-Qudat (hakim agung).

Daulah Qasimiyah (1597–1962 M) adalah dinasti Syiah Zaidiyah yang memerintah sebagian besar Yaman, dan pada masa akhir dikenal sebagai Kerajaan Mutawakkiliyah Yaman.

Peta Daulah Qasimiyah Yaman pada tahun 1675 (wikipedia)

Peta Daulah Qasimiyah Yaman pada tahun 1675 (wikipedia)

Sikap Asy-Syaukani yang menjunjung tinggi otoritas hadis Sunni di atas pendapat para Imam Zaidi memicu bentrokan antara kelompok Zaidi-Hadawi dengan Ahlus Sunnah pada tahun 1796.

Bentrokan antara Zaidi-Hadawi dengan Ahlus Sunnah kembali pecah pada tahun 1802. Setelah kerusuhan berhasil dipadamkan, sejumlah tokoh penting Zaidi-Hadawi dikenai hukuman berat.

Asy-Syaukani menjabat sebagai hakim agung Yaman hingga wafat. Ia berhasil membuka ruang bagi ulama yang berorientasi Sunni-hadis di dalam negara Zaidiyah Yaman.

Ambil Madunya, Buang Sengatnya

Pembaruan (tajdid) adalah membuat sesuatu menjadi baru kembali, seperti saat pertama kali kemunculannya.

Mujaddid tidak membawa ajaran baru, melainkan mengembalikan agama kepada sumbernya. Ia menolak penyimpangan dan tambahan (bid’ah) dengan menghidupkan kembali Sunnah yang ditinggalkan.

Namun, para mujaddid tetap manusia biasa yang bisa benar maupun salah. Memberikan status mujaddid kepada seorang ulama tidak serta merta menjadikan semua pendapatnya sebagai kebenaran.

Karena hal ini dapat jatuh pada sikap kultus individu yang menjadi awal dari banyak penyimpangan. Lihat contohnya dalam tulisan Apakah Semua Tarekat Menyimpang?.

Seorang mujaddid tetap dapat keliru dalam berijtihad, tetapi hal itu tidak serta-merta membuat semua pendapatnya tertolak.

Kaidahnya adalah “ambil madunya, buang sengatnya”: ambil manfaat, ilmu, atau kebenaran dari seseorang, tetapi jangan ikuti kesalahannya jika terbukti bertentangan dengan dalil.

Oleh karena itu, para penuntut ilmu tidak boleh fanatik kepada satu ulama; mereka hendaknya memahami manhaj, dalil, dan kritik ilmiah di antara para ulama. Karena setiap orang dapat diambil dan ditolak perkataannya, kecuali Rasulullah ﷺ.

Wallahu A’lam


메타데이터
post_id
2e57dea84947
slug
kisah-para-pembaru-islam-dari-istanbul-hingga-yaman-2e57dea84947
url
https://islampedia.id/kisah-para-pembaru-islam-dari-istanbul-hingga-yaman-2e57dea84947
canonical_url
https://islampedia.id/kisah-para-pembaru-islam-dari-istanbul-hingga-yaman-2e57dea84947
author_url
https://medium.com/@wiji-aljawi
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39