Guru yang Membingungkan
Ziarah#3
Guru yang Membingungkan
Ziarah#3

Ilustrasi AI
Sejak kecil, aku diajari untuk hormat pada guru. Bahkan dalam tradisi yang kuwarisi, guru disebut sebagai pewaris para nabi. Ia bukan hanya pengajar, tapi penunjuk jalan.
Dalam tradisiku, guru tak hanya dihormati — ia disakralkan. Ucapannya dianggap lebih dari sekadar pengetahuan, melainkan petunjuk keselamatan. Dalam struktur sosialku, suaranya lebih nyaring dan layak didengar dari orang tua, lebih sahih dari buku, dan lebih sakral dari akal sendiri.
Tapi bagaimana jika yang seharusnya menuntun justru membuat bingung?
Di sekolah, aku punya seorang guru agama yang sangat dihormati. Penampilannya bersih, tutur katanya terjaga, dan ia selalu mengutip ayat atau hadits dalam setiap penjelasan. Ia menjadi simbol dari kebaikan dan ketegasan. Ia sering berkata, “Jangan kau ikuti perasaan. Ikuti yang benar, meski tak enak di hati.”
Aku menurut. Waktu itu, belum terpikir untuk membantah. Tapi hari demi hari, ada yang mulai mengganjal.
Suatu ketika, ia memarahi seorang murid karena bertanya tentang keadilan Tuhan. Si anak bertanya: “Mengapa orang yang tak pernah tahu Islam bisa dihukum di akhirat?”
Si guru tak menjawab dengan sabar. Ia menyuruh anak itu diam dan memperingatkan, “Kau bisa tergelincir dalam kekafiran karena pertanyaan seperti itu.” Ucapannya tegas, tapi rasanya menutup ruang ingin tahu.
Aku diam. Tapi batinku berontak. Bukankah bertanya adalah bagian dari mencari kebenaran? Mengapa justru yang mencari disebut sesat? Apa gunanya agama jika ia tak mengizinkan kita menggugat ketidakadilan yang tampak begitu nyata?
Lalu ada guru lain. Guru pesantren yang terkenal luas ilmunya. Aku sempat mengaji beberapa kitab dengannya. Ia memahami syarah, sanad, bahkan filsafat dalam kadar tertentu. Ia berbicara dengan fasih tentang zuhud, tawakal, dan pentingnya menahan diri dari dunia. Tapi suatu malam, aku mendengar dari temanku bahwa ia terlibat dalam jaringan politik lokal yang kotor. Namanya dipakai untuk mendukung penguasa, katanya demi maslahat umat.
Aku tak ingin percaya. Tapi aku juga tak bisa menutup mata. Aku melihat sendiri baliho besar bergambar wajahnya — berdampingan dengan foto caleg — menjanjikan ‘perubahan Islami’. Ia berbicara tentang zuhud, tapi sorbannya terasa lebih mewah dari biasanya, dan jam tangannya berkilat mencolok di bawah cahaya panggung. Aku mulai bertanya-tanya, mengapa orang-orang yang bicara tentang akhirat begitu fasih, bisa begitu terikat pada urusan dunia? Seolah-olah janji surga adalah harga yang harus dibayar dengan tawar-menawar kekuasaan di bumi. Dari situ aku mulai melihat gejalanya. Ternyata, kesalehan bisa dikomersialisasikan.
Di tengah masyarakat yang mengagungkan simbol agama, kesalehan menjadi mata uang sosial. Jubah menjadi lambang kredibilitas. Sorban menjadi pangkat. Mimik khusyuk menjadi performa. Ayat-ayat menjadi alat promosi. Bahkan suara adzan bisa dijadikan intro kampanye.
Aku mulai melihat para guru bukan sebagai pewaris kenabian, tapi sebagai bagian dari kelas elite moral — yang menggunakan posisi mereka untuk membentuk opini, memonopoli tafsir, dan memperjualbelikan pengaruh. Mereka memiliki hak veto atas mana yang benar dan salah, mana yang halal dan haram, dan sayangnya, seringkali atas mana yang boleh hidup dan mana yang patut dicurigai.
Di pengajian yang lain, aku mendengar seorang ustaz berkata, “Ikutilah ulama! Jangan ikuti hawa nafsumu. Jangan pikir pakai akalmu. Kebenaran ada pada yang disampaikan ulama.”
Aku bergidik, merasa seperti kehilangan suara.
Kalimat itu terdengar seperti mantra penyerahan diri. Bukan kepada Tuhan, tetapi kepada manusia.
Aku lalu membaca kembali kisah Ibrahim a.s., yang berani menghancurkan berhala-berhala kaumnya — tapi juga sempat berkata kepada Tuhannya: “Tunjukkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati.” (QS. Al-Baqarah: 260). Nabi pun bisa bertanya. Nabi pun bisa ragu. Tapi para guru zaman ini, seolah ingin tampak pasti dalam segala hal.
Padahal Al-Ghazali, dalam al-Munqidz min al-Dalal, mengaku pernah mengalami krisis intelektual dan spiritual yang membuatnya meninggalkan pengajarannya, lalu hidup sebagai pengembara. Ia menulis bahwa ia tidak akan pernah sampai pada keyakinan sejati jika tidak terlebih dahulu menembus lapisan keraguan¹.
Tapi guru-guru yang kutemui seolah alergi pada keraguan. Mereka ingin tampak seolah sudah selesai mencari, dan karena itu berhak menghakimi pencarian orang lain.
Dan mungkin di situlah bahayanya: ketika seseorang berhenti mencari.
Aku juga membaca kisah Thomas Merton, seorang biarawan Kristen yang dalam perjalanannya justru menemukan Tuhan di luar gereja — dalam kesunyian, dalam wajah-wajah orang kecil, dalam perenungan yang tak bisa ditentukan hanya oleh liturgi atau dogma².
Dari Merton aku belajar bahwa kebingungan bisa menjadi ladang pertumbuhan, bahwa Tuhan tak hanya hadir dalam ayat dan ritual, tapi juga dalam kekecewaan dan pertanyaan.
Aku kemudian membaca Merton’s Palace of Nowhere karya James Finley, murid Merton yang dengan jernih menuliskan pengalaman batin dalam menanggalkan ego demi menjumpai kehadiran ilahi. Di sana tertulis, “Kita tidak dapat menemukan Tuhan kecuali kita rela kehilangan diri palsu yang kita bangun selama ini.”³
Dalam sunyi dan kejujuran, aku mulai mengerti bahwa kebenaran bukan tempat menguasai, tetapi ruang untuk melepaskan kelekatan yang palsu. Mungkin Tuhan tidak dapat dijumpai jika aku masih sibuk mempertahankan identitas yang ingin selalu benar dan diterima.
Namun, guru-guru yang kutemui selama ini seolah alergi pada keraguan.
Hari-hari setelah itu, aku berhenti mencari guru yang tak pernah salah. Aku mulai mencari manusia yang mau berjalan bersama, yang tak malu mengakui bahwa ia pun sedang belajar. Bahwa ia pun bisa salah. Bahwa kebenaran bukan miliknya, tapi cahaya yang kadang samar, dan harus kita kejar bersama.
Tapi anehnya, sejak aku berhenti mencari guru yang sempurna, aku mulai menemui pembimbing dalam wujud yang tak terduga, seperti hujan yang turun bukan dari mendung, tapi dari kerinduan yang diam. Seorang petani tua di sawah tetangga, menjelaskan siklus tanam sambil menatap langit dengan khusyuk, seolah dia sedang berbicara dengan Sang Pencipta secara langsung. Seorang ibu tukang sayur yang tiap pagi mengucap hamdalah meski dagangannya belum laku, tanpa keluh kesah. Mereka tidak pernah membicarakan tauhid, fiqh, atau tafsir. Tapi dalam diam dan kesederhanaan mereka, aku merasa sedang ditunjukkan sesuatu. Bukan lewat ceramah, tapi lewat cara hidup.”
Mungkin itulah maksud dari kata “guru” yang sejati: bukan yang menjelaskan segala hal, tapi yang menghadirkan suasana di mana kita berani melihat diri sendiri.
Aku mulai membedakan antara guru yang bijak dan guru yang hanya ingin diikuti. Yang pertama mengajakku berpikir. Yang kedua memaksaku untuk diam. Yang pertama mengakui keterbatasannya. Yang kedua mengklaim kebenaran seolah kunci surga sudah digenggamnya.
Aku pernah ikut satu pengajian besar di stadion terbuka. Panggungnya megah, layar LED menampilkan sorban, jubah, dan kalimat-kalimat indah. Ribuan orang menunduk khusyuk. Tapi dalam hati aku merasa asing.
Sebab yang kudengar bukan cinta, tapi klaim. Bukan kelembutan, tapi slogan. Bukan undangan, tapi ancaman. Aku menyaksikan kesalehan diatur seperti pertunjukan. Terukur. Terarah. Tertib. Tapi dingin.
Di tengah keramaian itu, aku ingin sekali bertanya, “Di mana tempat bagi mereka yang belum yakin? Yang masih takut tapi ingin dekat?” Tapi mimbar itu tak menyediakan ruang untuk tanya. Ia hanya menyediakan tempat untuk percaya, atau pergi.
Di titik ini aku memahami bahwa kita tengah berada dalam krisis otoritas keagamaan. Di satu sisi, masyarakat haus bimbingan. Tapi di sisi lain, banyak yang merasa terkhianati oleh mereka yang mengaku pembimbing.
Media sosial memperkuat wajah simbolik para tokoh agama, tapi menipiskan kedalaman spiritual mereka. Mereka menjadi selebritas rohani: berpenampilan khusyuk, berucap syahdu, tetapi menyimpan ambisi, memanipulasi, dan membangun brand personal atas nama Tuhan.
Dalam situasi ini, kebenaran menjadi kabur. Apakah benar itu yang diucapkan dengan lantang? Ataukah yang diam-diam dihayati dengan kejujuran? Apakah guru yang benar adalah yang menguasai dalil dan berbicara panjang? Ataukah dia yang tahu kapan harus diam, dan mengakui bahwa ia belum tentu benar?
Kebenaran tak lagi disampaikan. Ia dijual.
Dalam bentuk buku motivasi Islami, konten TikTok dengan kutipan ayat, sampai sinetron yang menjual kesalehan penuh air mata. Padahal, sebagaimana kata Martin Buber, “Kebenaran hanya dapat ditemukan dalam hubungan yang sejati antar manusia — bukan dalam ceramah satu arah.”⁴
Di suatu malam, aku bermimpi tentang seorang guru. Ia tak mengenakan sorban. Tak membawa kitab. Ia hanya duduk di tanah, memandangi langit, dan berkata, “Kebenaran bukan untuk dihafal. Ia untuk dijalani.” Lalu ia menatapku dalam-dalam dan bertanya, “Berapa banyak yang kau baca? Sekarang, berapa banyak yang kau jalani?”
Aku terbangun dengan jantung berdebar. Mimpi itu seperti menamparku, namun juga membebaskanku.
Satu sore, di sekolah, aku datang lebih awal dan masuk ke kelas yang masih kosong. Di papan tulis masih tertulis ayat yang diajarkan guru agama paginya. Tapi yang menarik perhatianku justru selembar kertas yang tertinggal di meja guru: catatan pribadi.
Tertulis dengan tulisan tangannya, “Tuhan, berikan aku kesabaran, aku sudah lelah menghadapi mereka yang tak paham aku pun sedang belajar.”
Aku tertegun. Itu kalimat paling jujur yang pernah kutemui dari seorang guru. Tidak ditujukan pada murid, tidak disampaikan di mimbar. Murni dari kelelahan manusia biasa yang juga ingin mengerti.
Saat itu aku sadar: mungkin, guru-guru kita bukan tak punya keraguan — mereka hanya tak berani menunjukkannya. Dan kita, para murid, juga belum cukup dewasa untuk melihat guru sebagai sesama pencari.
Sejak itu, aku mulai menata ulang cara pandangku.
Aku tak lagi mudah menyebut seseorang “ustaz” hanya karena ia punya pengikut. Tak mudah menyebut seseorang “alim” hanya karena ia bisa mengutip kitab. Dan tak mudah menyebut diriku “beriman” hanya karena aku taat pada rutinitas agama.
Karena aku mulai sadar, kebenaran tidak turun dari podium. Ia tumbuh dari kejujuran — yang lahir dalam hati yang gentar karena merasa belum tahu, tapi tak menyerah untuk mencari.
Dalam satu refleksi malam yang panjang, aku bertanya pada diriku sendiri: Jika suatu hari aku diminta menjadi guru, siapa yang ingin kuwakili?
Dan aku hanya ingin berkata: aku tak ingin menjadi wakil Tuhan. Aku hanya ingin menjadi saksi bagi mereka yang sedang tumbuh. Aku ingin menjadi orang yang bisa mendengarkan, bahkan ketika tidak ada jawaban. Bukan untuk mengajari, tapi menemani. Bukan untuk menjelaskan, tapi mendengarkan
Karena semakin lama aku hidup, semakin aku sadar: kebenaran bukan sesuatu yang diwariskan oleh suara lantang. Ia tumbuh dalam diam, dirawat oleh kejujuran, dan disirami oleh kerendahan hati.
메타데이터
- post_id
- 2ecbefc8e130
- slug
- guru-yang-membingungkan-2ecbefc8e130
- url
- https://medium.com/@rahmatul.ummah1001/guru-yang-membingungkan-2ecbefc8e130
- canonical_url
- https://medium.com/@rahmatul.ummah1001/guru-yang-membingungkan-2ecbefc8e130
- author_url
- https://medium.com/@rahmatul.ummah1001
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 09:17:55