← Back to list

Bertemu Ayu Utami dan Cerita Jakarta Lainnya

Jakarta bukan kota untuk pemula. Saya tidak begitu sepakat

Belen Amanda in Komunitas Blogger M · 2025-08-30 04:27 · 245 claps · 3.1 min read paywalled
#bahasa-indonesia #ayu-utami #komunitas-blogger-medium #penulis-indonesia #sastra
Open on Medium ↗

Bertemu Ayu Utami dan Cerita Jakarta Lainnya

Jakarta bukan kota untuk pemula. Saya tidak begitu sepakat

Sumber: Dokumentasi Penulis

Sumber: Dokumentasi Penulis

Apa reaksimu jika kamu bertemu penulis favoritmu? Bagaimana perasaanmu jika kamu bertemu penulis dari buku-buku yang selama ini kamu baca? Itulah kira-kira yang terjadi pada saya beberapa hari lalu saat saya bertemu Ayu Utami. Ayu Utami.

Baca selengkapnya di sini!

Setiap kali ditanya tentang buku atau penulis favorit, saya tidak punya jawaban. Rasanya, jawaban saya terus berkembang. Jawaban saya terus berubah sehingga setiap buku dan penulis selalu akan punya kesempatan untuk menjadi hal favorit dalam hidup saya.

Namun, pengalaman bertemu Mba Ayu Utami bukan perkara tulisannya mengubah cara saya menikmati novel, tetapi ini soal kenangan dan proses personal mengenal karya pemenang lomba DKJ ini.

Saya ingat betul, guru SMA saya– Bu Sildam namanya– menghadiahkan saya koleksi novel Ayu miliknya sebelum saya lulus. Saya ingat sekali, saya sering mengobrol dengan beliau, terutama ketika saya berkonsultasi soal tulisan sejak kelas 10. Saya awalnya begitu tidak tertarik dengan novel-novel yang direkomendasikan hingga diksi “feminis” yang sudah diperkenalkan beliau ketika saya masih 16/17 tahun. Saya ingat betul pembicaraan itu, di kelas yang sudah kosong, ketika anak-anak lain sudah beranjak pulang, Bu Sildam dan saya masih ada di kelas.

Kini, saya memiliki 3 buku cetak Ayu Utami. Semuanya adalah hadiah dari guru bahasa Indonesia SMA saya. Dari hadiah-hadiah itu dan pengalaman belajar di kampus, saya semakin terpapar soal karya-karya perempuan sekaligus permasalahan kemanusiaan yang lebih besar. Entah saya memilih atau tidak, bacaan-bacaan saya juga kebanyakan tentang konflik perempuan dan isu masyarakat yang kompleks. Sadar atau tidak, saya membaca buku Perempuan di Titik Nol, Cantik Itu Luka, Please,Take Care of My Mom, The God of The Smallest Thing, Amba, Vegetarian, dan lainnya.

Bertemu Ayu Utami beberapa hari lalu justru membuat saya teringat guru saya. Saya membayangkan beliau juga hadir saat itu dan bertemu dengan penulis yang kesukaannya (meskipun saya juga tidak yakin, apakah beliau belum pernah bertemu dan berinteraksi langsung dengan Mba Ayu).

Perasaan semacam ini sering kali menghampiri saya ketika saya berhadapan dengan hal-hal yang sudah lama saya miliki. Contoh lainnya, seperti saya mendapatkan akses gratis menonton festival musik dari musisi Indonesia beberapa hari lalu. Saya membayangkan adik saya ikut bersama saya karena itulah yang paling dinikmatinya.

Inilah yang jadi alasan saya pun tidak terlalu suka membagikan pengalaman (dibaca: foto) yang “menyenangkan” di media sosial karena dari lubuk hati terdalam, saya lebih ingin membagikannya langsung dengan orang yang ada di pikiran saya saat merasakannya. Saya selalu ingin membagikan momen penting dalam hidup saya dengan orang-orang paling berarti dalam hidup saya.

Tak jarang, rasa bersalah menyelimuti ketika saya menjadi orang yang mendapat kesempatan lebih untuk hal-hal yang diidamkan orang-orang di dalam hidup saya. Satu hal yang saya ingat ketika merasakan ini, yakni pengalaman tersebut tidak bisa berhenti di saya, perasaan ini tak boleh berhenti di sini, saya bisa merasakan ini karena saya punya panggilan untuk melakukan hal lain-- membagikannya.

With great power comes with great responsibility — Paman Ben, Spiderman

(Pola pikir ini yang tertanam di diri saya sejak SMA — sehingga saya berhenti menjadi orang yang mudah iri atas kehidupan atau pencapaian orang lain — karena saya yakin, “kebahagiaan” yang dirasakan orang lain justru “tanggung jawab” bagi mereka agar tidak berhenti di sana. Itulah harganya)

Jadi, jika bertemu Ayu Utami adalah sebuah langkah yang harus saya tempuh, hari yang harus saya hadapi, dan perasaan yang harus saya miliki, semoga (dan semoga), saya bisa mengikuti arah panggilan ini dan membagikan cerita selanjutnya. (Karena jujur, setiap kali mengalami hal serupa, saya selalu bertanya ke diri sendiri, “Apa arti semua ini? Kemana saya setelah ini akan membawa saya?” Saya begitu penasaran)

Jakarta, memang, memberikan pengalaman yang selama ini hanya muncul di layar atau dengar dari orang. Setidaknya itulah yang saya rasakan 3 bulan di sini. Jakarta — seperti kata seorang asing bulan lalu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya — tetap jadi tempat yang tak ada salahnya dihuni.

Jakarta, tidak menjadi kecil atau besar dengan saya menceritakan kisah saya di sini. Jakarta, mungkin tidak sempurna dan tak akan, tetapi bukan berarti jadi tempat paling buruk bagi seorang pemula yang punya mimpi besar dari tempat kecil yang juga baru punya kesempatan untuk menguji dirinya sendiri, seperti saya.

Jakarta dan segala hal kecil dan besarnya — sama seperti tempat-tempat lainnya — selalu ada yang bisa diceritakan. Bisa jadi, Jakarta justru tempat bagi semua pemula untuk mengoleksi perasaan, membagikan perasaan, menilai diri, dan menguji mimpi sendiri.

Jadi, apa cerita Jakarta versimu?

Terima kasih telah membaca ini sampai habis. Jika kamu merasa tulisan menarik, jangan ragu untuk terlibat di dalam tulisan selanjutnya dengan memberi tepukan, berlangganan, atau sekadar memberi komentar apa saja.


메타데이터
post_id
2f0aa4b8c62e
slug
bertemu-ayu-utami-dan-cerita-jakarta-lainnya-2f0aa4b8c62e
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/bertemu-ayu-utami-dan-cerita-jakarta-lainnya-2f0aa4b8c62e
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/bertemu-ayu-utami-dan-cerita-jakarta-lainnya-2f0aa4b8c62e
author_url
https://medium.com/@belenamanda
status
ok
fetched_at
2026-08-09 18:09:25