Tembang Pantura dalam Tangisan Muda-Mudi Metropolitan
Written by: Arsanda Hadriansyah–Music Director
Tembang Pantura dalam Tangisan Muda-Mudi Metropolitan
Written by: Arsanda Hadriansyah–Music Director

Sudah dua kali lebaran dan dua kali libur Nataru — saya kira istilah ini berasal dari bahasa Jepang; nataru-desu — akhirnya pandemi mulai menunjukkan ujungnya walaupun masih malu-malu. Asa untuk merealisasikan rencana-rencana liburan pun akhirnya muncul kembali. Mulai dari liburan ke Bali, merayap pelan-pelan di Puncak, atau sekadar mudik mengunjungi sanak famili di kampung halaman perlahan kembali jadi topik utama di grup WhatsApp.
Saya sendiri sudah dua tahun tidak menjalankan ritual mudik, apa lagi mudik dengan menaiki transportasi umum. Sudah terlalu sulit bagi saya untuk menggali kembali memori tentang kapan terakhir saya mudik ke Jawa Tengah dengan moda transportasi plat kuning, khususnya bus.
Satu hal yang muncul pertama kali dalam pikiran ketika membicarakan naik bus adalah betapa kencangnya musik dangdut diputar sepanjang jalan. Saking kencangnya sampai-sampai air minum yang disimpan di belakang kursi ikut bergetar. Sebetulnya dapat dimaklumi karena mungkin agen usaha transportasi belum aware tentang pentingnya seorang sound engineer dalam suatu hal yang berhubungan dengan musik. Apa lagi genre yang disetel adalah dangdut yang mana kebanyakan tidak slow dan memiliki bass yang cukup dalam serta intens frekuensinya. Memang musik yang disetel di dalam bus malam itu sama sekali bukan untuk meninabobokan penumpang, apa lagi sang supir.
Maka dari itu, sebenarnya alasan mengapa musik dangdut disetel keras-keras di dalam bus, terutama perjalanan bus malam, adalah guna menemani sang sopir dan membantunya dalam melawan rasa bosan dan kantuk. Biasanya, kondekturlah yang berperan sebagai VJ — ciaelah VJ — karena ia bertugas untuk menggonta-ganti lagu sesuai dengan kemauan sang supir. Dulu, diperlukan VCD player untuk memutar lagu, tetapi sekarang sudah mudah, hanya perlu flashdisk atau bahkan media streaming online.
Dangdut: Hiburan di Tengah Gelapnya Jalur Pantura
Jangan harap kalian akan menemukan Lil Nas X dalam daftar putar di bus malam trayek Jakarta-Kebumen karena kalian akan menemukan grup orkes melayu (OM) New Pallapa. Jika boleh diibaratkan, grup ini sudah seperti kiblat musik dangdut koplo. Dangdut koplo muncul dan berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama daerah pesisir pantai utara (pantura) Pulau Jawa.
[embed]Aku Cah Kerjo — Jihan Audy feat. New Pallapa.
Selain koplo, adapun variasi lain dari genre dangdut ini, misalnya campursari dangdut dan juga rap dangdut. Kedua subgenre tersebut juga tidak luput dari preferensi daftar putar sang supir. Dari segi musikalitas, jelas ada perbedaan antara ketiga cabang genre dangdut tersebut. Dangdut koplo memiliki tempo tabuhan gendang yang cepat. Sementara itu, sesuai dengan namanya, dangdut campursari memiliki “rasa” keroncong di dalamnya dan rap dangdut merupakan fusion dari gaya bernyanyi cepat a la rap, tetapi dengan sentuhan musik dangdut dan dinyanyikan dalam berbahasa Jawa. Namun, esensinya masih sama, yaitu suara “dang” dan “dut” sebagai bunyi gendang masih menjadi inti dari subgenre tersebut.
Pun, jika kita dapat jeli memperhatikan, terdapat kesamaan antara subgenre satu dengan yang lainnya, yaitu musik yang easy-listening dan lirik yang mudah dipahami tanpa memerlukan banyak metafora. Bayangkan saja jika sopir bus malam harus mencerna makna lirik lagu “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Bukannya kantuk, malah suntuk. Maka, pilihan yang tepat bagi para sopir bus malam ketika mereka memutar lagu koplo sebagai teman perjalanan mereka sepanjang jalur pantura.
Sebuah Kultur Tandingan dalam Merayakan Kepiluan
Saat ini, musik dangdut yang tadinya hanya menjaring pasar supir-supir bus malam, mulai mencuri hati anak muda baru gede. Mungkin sebelumnya mereka hanya familier dengan nama-nama mainstream seperti Olivia Rodrigo dengan “SOUR”-nya yang menyayat hati, atau mungkin “Walk The Talk” milik Pamungkas. Namun, sekarang mereka pun familier dengan nama biduan-biduan dangdut.
Setelah tren “cendol-dawet” ramai pada tahun 2019, musik dangdut pun memiliki tempat tersendiri untuk menunjukkan eksistensi mereka. Ditambah lagi saat itu Didi Kempot menjadi pusat perhatian karena musiknya yang mewakili hati para penikmat lagunya. Sampai-sampai, Didi Kempot mendapatkan julukan sebagai “The Godfather of Brokenhearted” karena lagu-lagunya menjadi pilihan anak muda yang sedang nestapa.
[embed]Salah satu masterpiece dari Didi Kempot. Rest in peace, Lord.
Tren tersebut pun ikut menjadi pintu peluang bagi sebagian penyanyi dangdut baru, seperti Denny Caknan atau Happy Asmara. Bahkan memberikan angin segar bagi para pelaku skena musik dangdut yang tidak baru lagi, seperti Via Vallen atau NDX AKA. Buktinya, pada tahun 2019 lalu, Synchronize Fest — salah satu festival musik terbesar dan tergaul se-jakarta raya — menghadirkan NDX AKA, duo rap dangdut dari Yogyakarta, untuk mengisi panggung yang cukup megah. Hasilnya sangat mengejutkan karena banyak yang menyanyikan lagu mereka, tentu sambil mencekik “Orang Tua” dan menghayatinya dengan tangisan.
[embed]Duo NDX AKA, Yonanda Frisna Damara dan Fajar Ari, beraksi di atas panggung Synchronize Fest 2019
Dapat dikatakan bahwa tahun 2019 adalah tahun “lepas landas” musik dangdut sebagai musik yang mulanya dianggap working-class music dan musiknya para supir. Saat ini, tren tangis-menangis diiringi dengan alunan dangdut “galau” sedang digandrungi anak muda. Kerap kali muncul di media sosial video yang berisi muda-mudi sedang menangis disertai jeritan sambil menyanyikan lagu “Kartonyono Medot Janji” karya Denny Caknan.
Hemat saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan musik dangdut dapat menjaga eksistensinya untuk pasar anak muda di tengah kemunculan kembali musik berbau 80’s dan 90's.
- Platform media sosial dan music streaming mendukung. Hal ini pasti dengan sangat mudah disadari karena kita dapat melihat beberapa tren yang ada di TikTok itu menggunakan lagu-lagu dangdut, seperti lagu “Mendung Tanpo Udan”. Tanpa kita berniat untuk mendengarkan lagu dangdut, alunan gendang yang catchy pun sudah lewat FYP kita tanpa consent. Ditambah lagi kemudahan mendengarkan lagu dari berbagai music streaming platform karena dekade lalu untuk mendengarkan lagu dangdut sering menggunakan VCD bajakan.
[embed]Banyak tren TikTok yang menjadikan lagu dangdut sebagai “sound”, salah satunya menggunakan lagu “Mendung Tanpo Udan”.
2. Mudah didengar dan dicerna. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, tema dan lirik yang disajikan dalam banyak musik dangdut medio 2000-an itu sangat mudah dipahami dan relatable dengan kehidupan sehari-hari, saya jamin — meskipun itu berbahasa Jawa. Liriknya yang merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari — yang kadang pahit, tapi memang itulah realitanya — dan tidak terlalu banyak metafora ndakik tidak lain adalah alasan mengapa lagunya lebih diterima di telinga remaja setengah depresi. Misalnya lagu “Kelingan Mantan” dari NDX AKA yang menggambarkan bagaimana seorang pria yang ditinggal pergi mantan kekasihnya karena hubungannya tidak disetujui oleh orang tuanya. Seperti yang disebutkan tadi, diksinya memang benar-benar ringan. Tergambar dari penggalan lirik berikut, “Mas, pangapurane kanggo awakku. Mergane tresno iki tak direstui ibuku”. Jangan kaget, tetapi hubungan terhalang restu orang tua memang benar-benar menjadi masalah sehari-hari.
[embed]Lagu “Ditinggal Rabi” menceritakan fenomena “ditinggal kawin” dengan diksi yang ringan sehingga mudah dipahami.
3. Jenuh dengan lagu galau yang ada. Di pasaran, sekarang memang banyak pilihan untuk bisa menangis dengan iringan lagu sedih yang kita mau, tetapi yo masa yang dibahas healing lagi healing lagi, penggunaan chord minor7 lagi minor7 lagi, atau mungkin Fiersa Besari lagi, Fiersa Besari lagi. Kalau pilihannya cuman itu-itu saja bisa bosan juga. Kalaupun ada musisi yang menawarkan lagu cengeng baru, pasti formulanya sama dengan yang lain. Alhasil, Air mata yang seharusnya membanjiri pipi, sekarang tidak lagi karena kita harus membuka KBBI dan mencari kata “bergeming” karena kata itu terdapat dalam lagu dan kita tidak mengerti artinya.
[embed]Judulnya doang “Ojo Nangis”, tapi ini air mata gue udah seember.
Alasan lainnya adalah banyak orang yang sekarang bukan hanya mencari hal yang keren dari hal yang betul-betul keren, tetapi dari hal yang dianggap orang lain atau dia sendiri menganggap hal itu tidak keren. In a simple term, “Guilty pleasure”.
Munculnya keengganan dalam menikmati kesedihan dalam musik sedih yang mainstream menjadi suatu penggambaran bahwa publik sudah lelah dan menjadikan dangdut sebagai kultur tandingan. Sekarang kita berada di zaman ketika orang menangis dalam sesi karaoke di bar dan berteriak “Sayaaaang, opo kowe krunguuuuu?”.Atau, sekarang kita berada di zaman anak muda lebih memilih playlist “Ambyar” dibanding playlist “Generasi Galau” dalam menikmati kesedihan mereka. Dan sadar atau tidak, sekarang musik dangdut memiliki dua segmen penikmat yang berbeda 180 derajat, yaitu anak muda di ibukota dan supir penguasa jalur pantura. Yang satu minum single malt whisky, yang satu minum ciu bekonang. Namun, semua seakan melebur menjadi satu ketika mereka meneriakkan “Hokya-hokya!”.
메타데이터
- post_id
- 2f0fca695c9c
- slug
- tembang-pantura-dalam-tangisan-muda-mudi-metropolitan-2f0fca695c9c
- url
- https://medium.com/@rtcuifm/tembang-pantura-dalam-tangisan-muda-mudi-metropolitan-2f0fca695c9c
- canonical_url
- https://medium.com/@rtcuifm/tembang-pantura-dalam-tangisan-muda-mudi-metropolitan-2f0fca695c9c
- author_url
- https://medium.com/@rtcuifm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-27 10:31:03