← Back to list

Night Talk

Awan · 2025-01-21 13:36 · 81 claps · 3.3 min read
#alternative-universe #wonhui #wonwoo #junhui
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Night Talk.

Wonwoo keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lebih segar, rambutnya setengah basah sehingga air menetes di bahunya. Meninggalkan bercak air di kaos putih itu.

“Abah ketinggalan apa? Kok kayak e seru pol.”

Ia bergabung di tenda bedcover buatan suami dan putranya. Duduk memangku Kai sebab tenda bedcover itu tidak terlalu besar untuk mereka bertiga.

“Ketinggalan dinosaur,” jawab Kai dengan intonasi bicara yang sebal karena dongeng babanya harus berhenti sebentar.

Anak itu sudah tidak cadel, kosakatanya juga banyak, entah apa yang Kai baca dalam masa pertumbuhannya.

“Maaf, jagoan. Maaf, baba. Sekarang baba boleh lanjut, abah ikut dengerin.”

Jun melanjutkan dongengnya, lelaki itu sangat interaktif ketika bercerita sehingga dua lelaki di hadapannya memberikan atensi penuh.

“Selesai. Wes jam segini, Kai waktu e tidur. Baba temenin ta tidur sendiri, nak?”

Buku cerita anak ditutup, diletakkan di samping Jun. Kemudian, mendekati Kai yang masih berada di pangkuan Wonwoo.

“Bobo sendiri, tapi mau dinyanyiin abah sek.”

Wonwoo terkekeh, tangannya mengusap rambut Kai. Lalu mengubah posisi anak itu untuk ia timang layaknya bayi. Senandung lembut mulai terdengar, bersama tangan si Juli yang menepuk pelan pantat putranya. Jun sendiri memperhatikan saja interaksi mereka, ia tidak ingin menginterupsi.

Tidak lama setelahnya, Kai tertidur. Wonwoo memberikan kode kepada Jun. Jun yang mengerti pun berujar, “Gendong ae, gapapa kok.”

Wonwoo bangkit dengan Kai di gendongannya, lalu melangkah keluar kamar. Ia bawa langkahnya menuju kamar Kai di samping kamar mereka. Kamar itu telah mereka siapkan dua hari setelah dari panti asuhan sebagai bentuk kesiapan mereka jika mengadopsi anak.

Ia kembali ke kamar, menutup pintu kamar tanpa dikunci sebab takut Kai mimpi buruk dan kesulitan masuk ke kamar.

“Kai wes aman kan?” tanya Jun sambil merapikan kekacauan yang ia dan Kai buat.

“Aman, wes bobo anak e. Saiki waktu e boboin baba e.”

Lelaki Juli melangkah mendekat, tentu setelah mematikan lampu kamar. Menyisakan lampu tidur. Lengannya melingkar apik di pinggang lelaki Juni. Bibirnya mengecupi leher Jun, terus naik hingga bibir tipis suami manisnya.

“Kangen, mas belum dapet jatah dari Kai dateng.”

Jun terkekeh, tangannya menepuk dada Wonwoo main-main. “Ya dua hari lalu kan Kai tidur sini se, besok kamis ae pas di rumah Malang. Nek di rumah ini susah soale kamar Kai di sebelah.”

Bibir Wonwoo mencebik maju, kesal karena jatahnya tertunda lagi. Untuk melampiaskan kekesalan, digendongnya Jun seperti mengangkat karung. Lalu diturunkan di atas ranjang, tentu tidak sekasar menurunkan karung.

Wonwoo merebahkan diri di samping Jun. Posisinya berbaring menyamping, begitu juga dengan si Juni. Mereka berhadapan, ditemani cahaya lampu tidur.

“Mau night talk gak?”

Jun bertanya, tidak, ia memberikan penawaran. Dulu, mereka sering melakukan night talk sebelum tidur. Membicarakan apapun yang menyenangkan. Itu Wonwoo lakukan sebagai permintaan maaf karena meninggalkan Jun seharian untuk bekerja.

“Mau, mas nanya duluan. Hari ini happy gak?”

“Happy, aku selalu happy tiap sama kamu. Ada ta aku bilang gak happy?”

Wonwoo menggeleng. Jun selalu mengatakan ia bahagia, bahkan sejak mereka belum menikah. “Tapi kamu hari ini gak sama mas, sayang. Nek cuma sama adek, happy gak?”

“Happy, adek gak rewel, adek juga gak ngerepotin aku kok tadi pas belanja. Adek suka makan apa yang aku suka, padahal aku takut nek adek gak suka ta tantrum gara-gara gak tak beliin makanan enak.”

Wonwoo mendengarkan, tangannya mengusap pinggang Jun. Kebiasaannya setiap sesi night talk dan setiap mau tidur.

“Aku happy, apalagi kita mau Imlek-an bareng sama Kai.”

Kai, anggota baru di keluarga besar mereka yang belum dikenalkan secara resmi oleh Wonwoo dan Jun. Rencananya, Kai akan dikenalkan saat keluarga besar berkumpul untuk merayakan Imlek di rumah kerabat tertua keluarga Jun, Malang. Walaupun demikian, Wonwoo juga memiliki rumah yang hanya berbeda blok dari rumah tersebut di Malang.

“Mas, mereka bakal terima Kai gak, ya?”

Usapan Wonwoo berpindah ke pipi Jun, berusaha membuat kucing manisnya ini tenang. “Terima, kok. Mas wes kasih tau mama sama papa nek kita adopsi anak, tapi mas gak kasih tau nama sama cewek cowok e.”

Belum, Jun belum merasa tenang dengan jawaban Wonwoo. Itu hanya mama dan papanya, belum lagi kerabat yang lain.

“Urusan kerabat lain, mas wes kasih tau juga ke mereka. Gak apa-apa, toh yang jalanin kita se. Gak usah dipikir nek ntar ada yang gak suka, oke?”

Diam, Jun terdiam tanpa kata. Akan tetapi, perilakunya menunjukkan bahwa ia mulai tenang. Tubuhnya mendekat, lengannya memeluk Wonwoo, kepalanya ia benamkan di dada si Juli. Ia nyaman dan tenang hanya dengan memeluk suaminya. Sebentar saja, ia lalu mendongak.

“Makasih, aku wes kepikiran dari tadi. Dari aku sama Kai di mall. Aku seneng, sama Kai ya seneng, aku liat kamu akrab sama Kai juga seneng. Kayak apa ya, kalian se-happy itu tapi aku kepikiran yakpa misal nek ada yang gak suka.”

Tangan Wonwoo yang sempat diam, kembali ia bawa mengusap punggung Jun.

“Ya nek ada yang gak suka, biarin ae. Mas gak bisa ngapa-ngapain, mas serahin ke Tuhan ae gimana semua e. Wes ya, sayang. Sakno kepalamu nek kebanyakan overthingking.”

Jun mengucapkan banyak rasa syukur dalam hati. Wonwoo, perilakunya, sifatnya, dan semua hal yang lelaki itu punya adalah harta paling berharga untuk Jun. Kalimat-kalimat suaminya selalu menenangkan hingga ia tidak merasa takut atau khawatir menghadapi dunia.

Usapan tangan Wonwoo masih ia rasakan di punggungnya. Ia memejamkan mata dan mendengarkan bisikan Wonwoo sebelum tidurnya semakin nyenyak.

“Mas sayang kamu, bobo o yang nyenyak.”


메타데이터
post_id
2f25841db151
slug
night-talk-2f25841db151
url
https://medium.com/@minteuchco/night-talk-2f25841db151
canonical_url
https://medium.com/@minteuchco/night-talk-2f25841db151
author_url
https://medium.com/@minteuchco
status
ok
fetched_at
2026-07-21 06:15:37