← Back to list

Mengetuk Pintu yang Mana

Photo by jordan duca on Unsplash

Mee · 2026-02-14 02:51 · 0 claps · 1.7 min read
#words #life-lessons #writing #alone #self-awareness
Open on Medium ↗

Mengetuk Pintu yang Mana

Photo by jordan duca on Unsplash

Photo by jordan duca on Unsplash

Ada satu pertanyaan yang diam-diam muncul di dalam benak. Siapa yang pertama kali kau pikirkan saat ingin ditemani, meski hanya untuk segelas kopi atau mencoba beberapa menu pada kafe yang lama kau incar?

Kau diam. Mencari satu nama. Dan anehnya, tak ada yang benar-benar muncul.

Bukan karena tak mengenal banyak orang. Bukan karena tak punya siapa-siapa.

Hanya saja… tak ada yang terasa ingin kau ganggu, tak ada yang terasa ingin kau repotkan, tak ada yang terasa pasti akan berkata, “Ayo. Kutemani ke mana pun kau ingin pergi.

Atau bahkan tak menunggu kau berkata apa-apa, tak ada kah seseorang yang sudah lebih dulu bertanya, “Kau sedang ingin ke mana hari ini?

Kau bahkan sempat berpikir iseng. Membuat sebuah story dengan tulisan, “Info nongkrong?” Lalu tak lama kemudian kau menertawakan dirimu sendiri, merasa itu ide yang sangat konyol.

Lucunya, kau selalu berkata pada orang-orang yang kau sayang, “Jangan sungkan hubungi aku jika butuh sesuatu.” “Kabari saja kalau ingin mendatangi suatu tempat.” “Aku ada di sini kapanpun kau butuh.”

Akan tetapi ketika giliranmu yang ingin ada bersama seseorang, kau justru kebingungan hendak mengetuk pintu siapa.

Dan bagian paling sunyi bukan pada kesendirian itu. Melainkan pada kesadaran bahwa kau adalah tempat banyak orang pulang, namun kau belum tentu tahu ke mana harus pulang ketika lelah.

Ada beberapa nama yang muncul saat dipikirkan sedikit lebih lama. Tapi jaraknya bukan hanya soal waktu, namun juga kilometer yang tak bisa ditempuh hanya dengan rindu.

Kau tahu? Yang terasa hampa sebenarnya bukan karena tak ada orang di sekitar, tetapi karena orang yang paling ingin kau jadikan teman duduk di seberang tak berada dalam jangkauan tangan.

Rasanya seperti ingin berkata, "Temani aku ke kafe itu sebentar."

Lalu kemudian tersadar. Yang ingin kau temui ada di daerah lain, di rutinitas lain, di hidup yang tak bisa kau datangi begitu saja. di waktu yang tak bisa kau minta dengan tiba-tiba.

Kadang, kita merasa seakan tak butuh banyak orang. Cukup beberapa yang terasa tepat, yang bersamanya kau tak perlu berpikir dua kali untuk mengirim pesan, dan kehadirannya terasa sederhana namun sangat cukup.

Saat yang terasa dekat justru berada jauh, semesta mendadak terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena kau sudah terbiasa pergi ke mana pun sendiri. Tapi karena yang dirindukan dan dibutuhkan tak bisa sekadar dipanggil untuk duduk di kursi seberang.


메타데이터
post_id
2f85d05d455a
slug
mengetuk-pintu-yang-mana-2f85d05d455a
url
https://medium.com/@meiarml/mengetuk-pintu-yang-mana-2f85d05d455a
canonical_url
https://medium.com/@meiarml/mengetuk-pintu-yang-mana-2f85d05d455a
author_url
https://medium.com/@meiarml
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13