← Back to list

semua orang punya mantan pacar — katanya normal

rasa excited sudah hilang, yang ada tinggal “recall memory”

Ariya · 2026-06-19 07:42 · 19 claps · 15.5 min read paywalled
#menikah #pernikahan #perempuan #wanita #society
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔒 · Cybersecurity 🌐 · Society · General

semua orang punya mantan pacar — katanya normal

rasa excited sudah hilang, yang ada tinggal “recall memory”

Foto oleh Chen di Unsplash

Foto oleh Chen di Unsplash

saya ingin menampar mulutmu

tulisan ini lahir ketika satu atau dua orang teman yang tidak terlalu dekat, terus menerus mendesak secara halus agar saya pacaran hanya karena mereka pacaran.

pakai standarmu untuk hidupmu sendiri, jangan minta atau suruh atau paksa orang lain pakai standar kebahagiaanmu juga.

sejujurnya saya cukup bosan dikatai sebagai perempuan pemilih, perempuan sombong dan satu lagi… perempuan sok berstandar tinggi.

pertanyaannya: apakah saya benar-benar pernah menolak lelaki tanpa memberi mereka kesempatan? apakah iya saya sepicik itu? sebagai manusia? sebagai perempuan?

memuakkan sekali,

bukan lelakinya, tetapi para perempuan yang terus mendesak saya untuk memakai standar mereka untuk mencari kebahagiaan. sedangkan pola pikir kita saja berbeda.

jikalau standarmu cocok untukmu mengapa pernikahan anda tercerai berai? meminta orang terhubung dengan tali pernikahan dengan dalih mencari kebahagiaan, bukannya terlalu skeptical untuk orang yang tidak bahagia dengan pernikahannya sendiri?

izin.

sayang sekali saya bukan tipe orang yang mentolerir kebodohan.

setiap 53 detik, terjadi aktivitas kriminal di Indonesia, entah di bagian mana dan ada berapa kasus yang masuk.

3 top yang paling tinggi adalah pembunuhan, narkoba dan pelecehan seksual. sungguh beruntung kamu jika itu tidak terjadi di lingkungan kalian. sungguh beruntung….

Having relationship in this generation is scary because everyone has ex and society call it normal.

Membagikan preferensimu tentang relationship secara terbuka di sosial media, terutama di platform yang tidak mengutamakan akademisi dan latar belakang keahlian — singkat saja, sebutlah TikTok — beresiko mendapat serangan dari orang-orang asing yang tidak kamu ketahui backgroundnya.

Ketika kamu mulai terbiasa dengan kehadiran seseorang, sendirian akan terasa sangat buruk dan menyedihkan.

Seringnya yang berlogika menjadi tidak berperasaan, dan yang berperasaan menjadi bodoh. Karena realita hari ini adalah yang benar kalah sama yang rame—kalah sama yang fyp.

hanya karena semua orang menikah dan berbahagia, bukan berarti kebahagiaanmu juga ada dalam pernikahan seperti mereka.

sayangnya, orang tidak bisa tiba-tiba jadi berkualitas setelah menikah. orang tidak bisa tiba-tiba jadi selalu bahagia setelah menikah. orang tidak bisa tiba-tiba berubah jadi lebih baik hanya karena setelah menikah.

Percaya kalau cuma dirimu yang bisa bahagiain kamu adalah kunci menerima diri sendiri.

Before love yourself, accept yourself first.

Jika kamu tidak bahagia ketika kamu sendirian, kamu tidak akan tiba-tiba bahagia saat menikah. tidak ada yang serba tiba-tiba, bung.

mantan dan segala framing romantismenya

dalam Islam, jangankan pacaran, mendekati zina saja sudah haram.

tapi narasi pacaran, mantan terindah, bahkan gamon alias gagal move on memenuhi sosial media.

sampai-sampai kalau ada yang galau sedikit, pasti dikiranya lagi menggalaukan seseorang.

Disamping laki-laki yang membutuhkan rasa hormat dan perempuan yang membutuhkan rasa sayang, kita sebagai manusia, membutuhkan rasa dihargai lebih dulu daripada itu semua.

Laki-laki membutuhkan rasa hormat. Cinta yang ia butuhkan hanyalah dari ibunya, karena tanpa syarat. Sedangkan kalau dia menginginkan cinta dari perempuan selain ibunya, banyak konsekuensi yang harus ia emban.

menafkahinya, membimbingnya, menjadi pemimpinnya. Ketika dibeberkan konsekuensinya, banyak lelaki mundur dan kembali pada ibunya. Karena ibunya akan memberikan ia cinta tanpa syarat dan konsekuensi.

Laki-laki manja yang dibesarkan dari seorang ibu patriarki jauh lebih mengerikan daripada patriarki itu sendiri.

threads

threads

saya pernah memiliki kenalan — seorang laki-laki — ia mengaku memiliki 18 mantan, usianya 22 tahun terhitung pada 2025.

bayangkan, usia 22 tahun mantannya sudah 18!

threads diatas banyak banget komentarnya sampai ribuan haha.

mungkin yang seperti itu sudah tidak excited lagi cinta-cintaan karena mantannya banyak.

Saya yakin, yakin sekali kalau belum pernah pacaran, pasti tetap excited untuk mencintai dan dicintai mau berapapun usianya. Bahkan hidupnya sehancur apapun pasti tetap excited untuk saling memiliki dan dimiliki. Tidak peduli laki-laki atau perempuan.

saya memiliki teori sendiri, mungkin pacaran diharamkan karena itu mencabut nikmat rasa excitedmu.

Yang harusnya kamu excited sama pasangan halalmu, tapi sudah kau habiskan dengan pasangan harammu.

tidak sedikit orang yang bercerai hanya karena mereka sudah terbiasa putus nyambung putus nyambung sama pacar, mungkin dikiranya menikah kayak pacaran gitu, kalau tidak cocok dikit, bosen dikit, bisa putus. kocak.

Penyebab KDRT dan perselingkuhan juga bisa dimulai dari “mantan”.

Coba lihat orang yang tidak pernah pacaran lalu menikah, rata-rata lebih langgeng daripada yang mudanya dulu ganti-ganti pacar. Karena semuanya baru dialami pertama kali bareng pasangannya. mereka saling excited untuk melakukan banyak hal bersama. benar-benar dilakukan untuk yang pertama kali.

Saya membayangkan nanti saya pertama kali berpegangan tangan dengan suami, saya excited dong karena belum pernah, dianya malah biasa saja.

tidak mau senyum, kayak benar-benar B aja gitu. Karena sudah dihabisin excited gandengan tangannya sama mantan dulu, berarti saya excited sendirian, dong? duh! (semoga tidak terjadi pada saya)

Itu baru kasus gandengan tangan, belum lagi pelukan, makan bareng, masak bareng, seks, bahkan cari nafkah.

Dulu pas pacaran sudah biasa nafkahin mantannya, jadinya saat bersama pasangan halal, sudah males nafkahin, udah males biayain, malah kayak nafkahin part 2 dong.

Nah ini! Allah sudah larang kamu (laki-laki) pacaran biar tidak tekor nafkahin pasangan haram, malah kamu masuk sendiri di kubangan, kan?

Sekarang pasangan halalmu sudah tidak kebagian excitednya, kamu nafkahin setengah-setengah, karena ngerasa udah males. karena ngerasa udah jor-joran di hubungan yang dahulu, jadi sekarang tinggal lanjutin hidup.

wow. banyak yang seperti ini!

Mereka yang punya mantan, telah kehilangan momen pengalaman pertama.

Inilah kenapa pernikahan terasa kosong karena sudah habis di orang yang bukan jodohnya. Bukan habis, tetapi sudah tidak ada lagi rasa penasaran. Paling sederhana saja pegangan tangan.

Kalau semasa belum menikah sudah terbiasa, maka akan makin terbiasa lagi saat sudah menikah, belum lagi yang lainnya seperti ciuman dan seterusnya. Tidak ada lagi rasa excited dengan istri, mereka menikah ya karena melanjutkan fase hidup saja.

Memiliki mantan adalah cara terbaik untuk mengoyak rumah tanggamu di masa depan, tidak semuanya, tetapi banyak kasus yang seperti itu.

Ketika kamu punya mantan, Allah akan mencabut rasa excited dalam hatimu dan menukarnya menjadi rasa sakit yang disebut orang zaman ini dengan: GAMON.

Jadi utas dari akun pambukoaji diatas “Men to men, kamu butuh cinta gak si pas nikah?”

Yajelas kamu tidak butuh cinta, mungkin cintamu udah habis kamu berikan ke orang yang tidak diridhoi. Makanya move on itu susah, karena itu hukuman dari Allah untuk kamu.

Dan saya pernah mendengar, katanya move on itu datangnya dari Allah sebagai bentuk Dia menerima permintaan maafmu karena mendekati zina. Makanya move on itu susah. Saat kamu benar-benar mengetahui, memahami dan merenungi kesalahanmu dimana, saat itulah kau diberi kado bernama “move on”

Dan entahlah, tapi teori ini terdengar lumayan masuk akal.

apa saya menyindir orang yang pernah pacaran? iya. anggap saja begitu. tetapi tekanan yang harusnya dipahami adalah, yang berpikir harusnya bertaubat dan yang tersinggung biarlah tersinggung.

perenungan kesalahan harusnya menjadi fase setelah putus cinta, bukan malah memframingnya menjadi kalimat romantis seolah-olah hidup kurang sempurna kalau tidak ada bahasan “mantan”.

Saya khawatir cuma akan jadi fase “melanjutkan hidup” saja buat lelaki. Khawatir kalau ada masalah, sedikit-sedikit dibanding-bandingkan sama masa lalunya. Sedangkan saya tidak punya orang lain untuk dikomparasi, karena tidak pernah punya mantan.

Jadi jika saya memiliki standar bahwa dia juga harus tidak memiliki mantan sebagaimana saya, terasa ini standar yang terlalu tinggi dan konyol. karena SEMUA ORANG menormalisasi punya mantan.

I never share my preference about romance relationship even to my close friends because deep down, I always think that they will judge me anyway.

Tapi orang-orang bilang standard saya ketinggian cuma karena saya bilang ingin yang sama-sama suka buku.

Ternyata membagikan preferensimu tentang lelaki di tongkrongan cewek sosialita itu boomerang. Karena kriteria cowo mereka ya harus kaya raya anak CEO dan ini semakin dinormalisasi.

Yang artinya jika standarmu unik, kau dicap aneh dan gak normal. Atau dinasihati, “Gak ada cowo yang kayak standarmu di dunia ini” dan berlanjut dnegan tawa riuh ha ha ha.

Lalu kubalas, “Ya kalo nggak ada ya tinggal gak usah menikah si” dan kuakhiri dengan ha ha ha juga.

hanya karena standar saya A, bukan berarti saya akan berakhir dengan orang tipe A. dan hanya karena standar kamu B, bukan berarti kamu akan berakhir menikah dengan orang tipe B. lagi-lagi, jodoh bukan ditangan manusia.

saya pernah nemu postingan POV. Disitu ada perempuan menulis: “aku yang tidak pernah diusahakan sama dia, mencoba mencaritahu bagaimana dia nge-treat ex-nya.”

Dan tidak menyangka bahwa cara pasangannya memperlakukan mantannya jauh lebih baik daripada saat memperlakukannya saat ini.

inilah kenapa tidak ada istilah pacaran di Islam, supaya rasa penasaran akan cinta terus tumbuh, kalau ada mantan, artinya semua rasa penasaran akan kehidupan romansa sudah dicoba, sudah terjawab.

jadi cara melindungi pasanganmu yang datangnya dari Tuhan adalah dengan tidak pacaran. Sedangkan cintamu sudah kau habiskan sama pasangan yang datangnya secara haram.

tidak ada rasa excited, yang ada hanya recall memory dari mantan terdahulu.

sorry to say.

butuh energi untuk mencintai seseorang

Kadang hidup jadi lebih tenang saat tidak naksir siapa-siapa, tidak perlu pusing kalau mau pakai baju apa, pakai makeup model gimana, cara ngomong yang kelihatan baik dimatanya gimana, posting story yang dilirik dia gimana atau bahkan gilaknya nungguin chatnya duluan.

Kayaknya hampir semua orang pernah di posisi ini. But deep down, actually, we know. We honestly know that it is tiring.

Jangankan pacaran, naksir orang aja ternyata butuh energy segede itu. Saya pernah naksir seseroang dan itu melelahkan. mungkin beda lagi kalau posisinya laki-laki, entahlah. saya tidak pantas memberi komentar.

Saya temui banyak anak muda yang pemikirannya cukup matang tentang pernikahan, sudah prepare untuk single seterusnya.

Seperti persiapan fisik untuk dibuat kerja terus, dan persiapan mental untuk berani apa-apa sendirian terus. Karena hidup terus berlanjut mau ada pasangan atau tidak.

Apapun fase yang kamu alami saat ini, life goes on no matter what.

Mindset genz jomblo saat ini adalah: kita tidak menolak jodoh yang datang tetapi kita sudah persiapan hati dan mental kalau memang harus sendirian terus.

step hidup saya saat ini hanyalah: beribadah, bekerja, melakukan hobi family time, me time, mejaga kesehatan fisik, menjaga kesehatan mental dan menjaga hubungan baik dengan semua orang.

pacaran langgeng sampai menikah?

Pacaran langgeng, lalu menikah dan masih langgeng, memang romantis.

kalian nantinya bisa menceritakan ke anak dengan bangga, tetapi anak perempuan memiliki pemikiran baru yang malah justru akan menjerumuskannya.

dia akan berpikir “Oh berarti aku harus pacaran dulu kalau mauu hubungan bertahan lama seperti ayah dan ibu.”

anak perempuan akan berharap akan dapat pacar yang setianya seperti orang tuanya.

sebaiknya tidak perlu diberi tahu, nanti dinasihati malah susah. anak perempuan bisa aja membantah.

“kenapa aku nggak boleh pacaran Papa Mama aja dulu pacaran 10 tahun”

kata-kata ini berkonotasi bahwa dia juga pengen punya pacar yang sama langgengnya seperti ayah Ibunya. padahal pacaran langgeng sampai menikah, hanya terjadi pada sangat sedikit orang.

dinasihati bakal susah banget kalau sudah terlanjur tahu tentang kisah cinta orang tuanya.

skenario terburuknya bisa saja anak ganti-ganti pacar tiap putus, setelah putus apapun yanng terjadi dia akan langsung cari lagi karena terobsesi dengan kalimat “pacaran langgeng” yang dialami oleh orang tuanya.

Kelihatan simpel dan membanggakan buat orang tua, tapi itu mempengaruhi pola pikir anak perempuan seumur hidupnya tentang hubungan romansa sebelum pernikahan.

karena fakta pahitnya tidak semua orang berakhir menikah dengan pacarnya. Namun kita menikah sama jodoh yang sudah ditentukan dan jodoh itu bisa saja pacar, orang baru atau yang lainnya. Pacaran langgeng bukan berarti dia jodohmu.

Tapi anak sudah terlanjur percaya, “orang tuaku aja bisa, aku juga pasti bisa. Jadi aku harus cari pacar dulu.”

Ini pola pikir yang susah hilang. apalagi perempuan kalau naksir serius, mereka akan berekspektasi. Pengen diperhatiin, pengen di-peka-in tanpa harus jelasin, pengen didengerin ceritanya, pengen dimengerti mood swing-nya.

Makanya, jangan sampai jatuh cinta sama orang yang tidak suka kamu, karena ekspektasi itu akan menghabisi perlahan.

Jangan sampai mood dan kebahagiaanmu, kamu gantungan “cuma” pada perhatian laki-laki.

Memang sudah fitrahnya, kalau laki-laki bahagia mendapat perempuan yang ia inginkan, sedang perempuan merasa bahagia jika hanya dia yang diinginkan.

Semakin maju peradaban, semakin sulit menemukan cinta sejati, karena persaingan standar yang tidak ngotak belum lagi seleksi alam yang semakin ketat (laki-laki kaya menang, laki-laki miskin kalah atau perempuan cantik menang, perempuan jelek kalah)

standar kaya-miskin dan cantik-jelek ini semakin menjadi-jadi dengan adanya sosial media dan jutaan standarnya.

Teknologi membuat perselingkuhan lebih mudah, memanfaatkan orang lain lebih mudah, bahkan melecehkan pun jadi jauh lebih mudah.

Kedamaian tertinggi adalah ketika kau tidak memiliki keinginan sama sekali untuk dipahami, dikagumi, dikasihani, atau bahkan dikenal.

because there is a big difference between loneliness and solitude.

lagipula gentleman and gentlewoman itu dibentuk, bukan bawaan lahir.

Distopia romantisme modern

Saya pernah dinasihati laki-laki yang bukan mahram. apakah berdosa jika saya menolak nasihat tersebut? Apalagi jika ia tidak memintanya.

“Kok tidak berhijab? Jika suami masa depanmu melihat ini, pasti jadi aib. Sebaiknya jadi perempuan itu yang pasti-pasti aja. Pake hijab terus atau tidak usah sama sekali. Ayah dan suamimu yang bakal menanggung dosanya di neraka. Kalau aku suamimu aku udah marah banget. Emangnya mau caper sama siapa sih!”

Saya tidak tahu bagaimana pandangan ahli agama tentang ini. Tetapi menurut saya bukan cuma nasihat baik saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga dari mana nasihat itu berasal.

Iya, kalau dia suami saya pasti akan saya turuti, bahkan marahnya mungkin… mungkin akan saya toleransi.

Tetapi pria ini bukan mahram, bukan ayah, bukan pula saudara. Terlebih ia mulai mengkotak-kotakkan mana yang aib dan mana yang tidak.

Saya sendiri sebagai perempuan saja merasa malu menasihati laki-laki tentang bagaimana ia melirik perempuan bahkan melirik “saya.”

Tidak pernah saya menasihati mereka tentang bagaimana ia memakai celana sangat pendek yang notabenenya paha laki-laki adalah aurat.

Saya tidak pernah menasihati baik tentang auratnya maupun perilakunya, bahkan jika seorang laki-laki tersebut benar-benar berniat melamar.

“halah perempuan jaman sekarang dikit-dikit merasa dikekang. Dinasihatin yang baik ada aja ngelawannya, ada aja argumennya, ada aja cara dia ngajak debat.”

Bahkan Rasulullah sendiri bilang mengajak orang pada kebaikan bukan dengan cara paksaan, diolok kurang iman, kurang ibadah, apalagi ditakut-takuti api neraka. Tapi dengan diberi contoh.

ya kalau anda mau seorang perempuan menurut, pastikan karakter anda layak dituruti. Bukan omon-omon doang. Ngomong doang kayak presiden aja kau lah.

Kau dan aku—kita memilih jalan dosa yang berbeda.

Ada yang punya dosa pacaran, ada yang mendzalimi orang lain. ada yang tidak berjilbab atau ada yang berjilbab tapi seperti telanjang.

menasihati pilihan A akan membawamu pada surga dan pilihan B membawamu masuk neraka. Memangnya kau siapa memutuskan seseorang akan berakhir dimana?

polanya selalu seperti ini. perhatikan baik-baik.

  1. Cewe cantik: dimanipulasi, dimanfaatin, dilecehkan.
  2. Cewe jelek: dihina, dibuli, dilecehkan JUGA.
  3. Cewe cerdas: dikatain gak laku biar jadi salah satu jenis cewe diatas.

menikah rasa-rasanya seperti gambling bagi perempuan. antara ia berakhir sendirian selamanya atau dia maju bermain judi. pilihan hidup di dunia modern seolah cuma dua ini.

jika beruntung, pernikahannya berhasil. jika gagal, bukan cuma pernikahannya yang hancur, tubuh dan mental perempuan juga ikut hancur.

laki-laki yang cari istri dan laki-laki yang siap jadi suami, adalah 2 hal yang berbeda.

Sebaiknya kalo kamu apa-apa sendiri, cari laki-laki yang tidak akan biarin kamu apa-apa sendiri.

Cari pasangan yang bisa kamu ajak diskusi manajemen risiko, bukan cuma diskusi siapa yang bayar makan siang.

Hidup ini perang, pastikan rekan setimmu bisa pegang senjata. Pada akhirnya mencari partner in survival lebih penting daripada mencari lover semata.

Inilah mengapa perlu kesetaraan dalam berbagai aspek, termasuk pola pikir.

Semoga kamu dipilih karena kehadiranmu bisa membuatnya benar-benar bersyukur memilikimu. karena banyak orang menikah bukan karena cinta, tapi karena “sudah waktunya.” (baca: usia yang pas sesuai society.)

Tapi Al-Qur’an menyebut tujuan menikah bukan itu. Menariknya, Allah tidak menyebut “cinta” dulu. Yang disebut dulu justru ketenangan. Karena cinta bisa naik turun. Tapi rasa aman membuat cinta bertahan.

Tenang itu artinya: kamu tidak perlu pura-pura kuat. Tidak perlu jadi orang lain. Tidak takut salah bicara. Rumah harus jadi tempat paling aman.

“Rumah yang baik bukan yang paling sempurna, melainkan yang paling menenangkan.”

Jadi kalo dia bingung antara iya atau tidak, berarti jawabannya tidak. Ketika dia tau itu tepat, dia tidak akan ragu dengan itu.

Ketika dia pikir dia lagi bersaing dengan laki-laki lain, padahal sebenarnya dia sedang bersaing dengan kehidupan damai yang susah payah dibangun untuk diri sendiri.

bersama orang yang baiknya bikin tenang. Bukan baik yang hari ini hangat, besoknya bikin kita takut salah. atau tidak sama sekali.

jadi dia pergi, itu karena otaknya sudah mendapat sinyal yang dia cari. Bukan salah kamu, atau kamu kurang sesuatu. Kadang orang yg punya akses dihidupmu ga sadar kalo kamu itu sebenarnya susah banget di jangkau orang lain, sampai akhirnya mereka jadi “orang lain” juga.

laki-laki dewasa jatuh cinta pake materi. perempuan dewasa jatuh cinta pake logika.

Setia karena cinta itu dangkal, setia itu karena Allah.

Saat ijab qabul kamu sudah berjanji untuk menafkahinya, membimbingnya, menjadi pemimpin untuknya, dihadapan para saksi kau sudah berjanji pada Allah.

Perempuan yang malu dengan usianya

Masyarakat sosial mengkonstruksi usia perempuan seperti produk.

diproduksi tahun sekian, lalu expired tahun sekian. hal ini memicu konflik internal dan ketidakpercayaan diri yang berkepanjangan.

dari sinilah perempuan saling bersaing satu sama lain. karena usia produktif dibatasi society dengan ketat. sebut saja, batas waktu lajang adalah 25 tahun.

Seringnya perempuan yang berusia 25 keatas, merasa dipaksa oleh lingkungan untuk mencari jati diri part 2 — seperti mengulang kembali fase remaja saat berusia 15 tahun.

Merasa dipaksa oleh batin mereka sendiri, yang sebenarnya bukan mereka yang menginginkannya. Yang sebenarnya terjadi adalah akal merekonstruksi rule yang diciptakan masyarakat, sehingga seorang perempuan berkembang menjadi apa yang telah dikotak-kotakkan masyarakat.

Seolah kalau mencari koneksi dan relasi di usia 25 tahun keatas, dituduh mencari pasangan dengan alasan kepepet umur. Nah ini menyebalkannya.

Meskipun memang terjadi pada sebagian perempuan, tetapi lingkungan menggeneralisasinya.

Perempuan usia 18-24 dikatakan oleh masyarakat bahwa mereka perlu mencari relasi. Sedangkan prefrontal Cortex baru tumbuh pada usia 25 keatas. Belum lagi dipengaruhi oleh di negara mana seorang perempuan tinggal.

Dulu, ketika saya berusia 24 tahun, saya pernah bekerja dengan perempuan yang usianya sekitar 20-23 tahun. Hampir seluruhnya ingin berhenti bekerja dan menikah di usia itu.

Dan mereka pun bingung mengapa saya yang lebih tua dari mereka tidak menginginkan hal tersebut.

Ini, disini. Para perempuan ini terorganaisir oleh mindset kolektif bahwa mereka yang berusia 20-23 ini harus segera menikah. Karena mereka merasa berada ditengah kompetisi lomba lari.

Padahal yang sesungguhnya mereka rasakan adalah intimidasi psikologi. Sedangkan saya tidak merasa sedang berada di lintasan lari dan menolak merasa terintimidasi.

Terkadang sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan dikatain orang tidak laku, tetapi yang menjadi masalah adalah fakta bahwa hal tersebut mengganggu mereka.

perempuan baru bisa berharga jika ada yang “memiliki.” Seolah-olah kucing liar yang tersesat dan tidak memiliki pemilik, jadi kita harus memiliki pemilik dulu baru bisa dihargai.

Dan terkadang menolak lelaki jadi lebih sulit lagi karena, mohon maaf yang datang merasa sok-sokan bisa mendapatkan semua perempuan.

karena laki-laki tidak memilki kompetisi “lomba lari” di society. padahal usia perempuan sangat dimata-matai ketat. ugh sialan.

jadi mereka banyak yang merasa tidak perlu memperbaiki diri karena dengan bare minimum pun ia akan dapat perempuan spek maid yang akan mengurus mereka seumur hidup. sekali lagi, seumur hidup!

konsekuensi yang mungkin terjadi setelah menolak itu banyak sekali.

“What if he do this, what if he do that?”

Dan ketika ada yang mengatakan, “jangan munafik, kamu pasti pengen punya pasangan, kan?” Pertanyaan yang sebenarnya bukan “pengen atau tidak” tapi “prioritas atau tidak”

Masalah pengen atau tidak pengen, semua manusia menginginkan kestabilan goals, dan iya saya akui, menjadi single di usia ini sangat sulit menentukan goals.

Mungkin beda lagi kalau saya sudah berumah tangga, goals lebih jelas yaitu “menjaga rumah tangga” tapi bukan berarti kalau goals acak-acakan, hidup saya ikut acak-acakan kan?

Iya kan?

kalimat pertanyaan yang lebih mirip pernyataan tersebut membuat perempuan dipaksa menerima “siapa saja” yang datang padanya. meskipun ia adalah pria yang tidak baik.

pernikahan gagal toh society tidak akan ikutan ngurus kamu. mereka hanya menekanmu, tapi tidak ikut menanggung bebanmu.

memangnya keperawanan bisa balik setelah bercerai?

Analoginya, kita normalnya makan nasi, lantas kalau tidak ada nasi, apakah jika diganti gandum atau jagung, kita akan berkurang nilainya jadi manusia? Akankah setelah mengubah makanan pokok dari nasi ke jagung, nilai kita sebagai manusia berkurang?

Nasi memang goals yang stabil, tapi kalau tidak ada, kita tidak akan mati kok. At least, buat orang yang cukup terdidik untuk berpikir panjang dan lebih luas tentang hidup.

Nah, perempuan yang sudah berusia 25 keatas, yang mohon maaf—cukup terdidik tentang socio-culture issue, tidak menentukan apakah “pengen atau tidaknya” tentang pernikahan. Tetapi lebih ke kestabilan prioritas hidup.

Saya contohnya, prioritas hidup saya adalah “makan dan hobi.” Dan teman saya ada yang prioritasnya mencari suami yg baik. Adalagi teman saya yang priorotasnya lanjut S2. Adalagi yang prioritasnya dapat kerjaan di LN.

Baik yang mempriorotaskan pasangan atau tidak — kami perempuan, sejatinya sama-sama butuh lelaki dalam hidup. Tetapi jika kami tidak memprioritaskannya, lantas membuat para perempuan yang memilih “bebas” dengan caranya sendiri, apakah ditolak keberadaannya oleh masyarakat?

Sedih sekali, saya merasa seperti harus menjelaskan bahwa saya sedang tidak “hunting”suami

malu...

malu saya harus menjelaskan bahwa saya cuma ingin tergabung dalam orang-orang yang sejalur. Dan rasa malu ini terREkonstruksi otomatis karena lingkungan tempat perempuan bertumbuh menjadi rule tak terbantahkan di alam bawah sadarnya.

tanpa sadar, perempuan merasa bahwa jika ia keluar dari rule, itu salahnya dia. Kalau keluar sangkarnya itu salahnya. Kalau ditangkap pemburu jahat, itu salahnya. Kalau terbang bebas itu juga salahnya.

Apapaun yang kami ambil demi keberlanjutan hidup yang harmonis, selalu dihakimi karena “para hakim society” tidak mau menerima perbedaan pola pikir.

Sedih, karena perempuan- perempuan ini harus merasa malu dengan usianya sendiri.

Sedih, karena perempuan sudah disiapkan box-nya dengan label-label a sampai z ketika usianya mencapai batas tertentu.

Sedih, karena perempuan terus menerus menjelaskan rasa bersalah yang membingungkan dalam batinnya bahwa ia tidak seperi yang dipikirkan orang lain.

Sedih, karena perempuan yang berusaha untuk tetap bersosialisasi, berkomunikasi dan terkoneksi dengan masyarakat, mempunyai “sebutan” yang sesungguhnya tidak diperlukan.

Belum lagi “acara tambahan” yang dihadapi tiap perempuan yang berusia 25 keatas berbeda-beda.

Ada yang dipaksa menikah dengan siapa saja. Ada yang dipaksa kerja terus sebagai tulang punggung keluarga. Ada yang tidak dianggap kehadirannya di keluarga besar karena dicap memalukan. Ada yang mengalami micro depresi dan berbagai masalah mental akibat tekanan masyarakat yang datang dari berbagai kalangan, usia, bahkan orang terdekat sendiri.

di sosial media saya melihat banyak influencer laki-lakai nakal yang sengaja menargetkan anak perempuan dibawah umur. mereka diwawancarai, “pengen dapat pacar atau suami yang gaji berapa,”

ya jelas itu memang bertujuan menggiring opini netizen agar anak-anak dibawah umur itu dihujat, kalo mau serius tanya ya yang sudah umur 24 ke atas lah yang minimal sudah bisa mikir. ingin saya sebutkan akunnya tapi lupa. bahkan kolom komentar penuh makian untuk anak-anak remaja ini.

mereka belum bisa berpikir jernih, memang apalagi yang diharapkan. konten pembodohan menjamur, sampahisasi!

Laki laki punya standar pasangan harus cantik, menarik, seksi disebut preferensi. Perempuan ingin diperlakukan dengan hormat disebut standar tiktok.

Laki laki ingin diterima apa adanya, itu wajar. Perempuan ingin diperlakukan dengan baik, dikatain banyak menuntut.

Laki laki ingin dihormati sebagai pemimpin disebut fitrah. Perempuan ingin rasa aman dikatain drama.

Cari nafkah, mengasuh anak, skill komunikasi, dan jadi pemimpin. Ini semua bare minimum. High effort itu contohnya memahami fikih perempuan, mau berbagi pekerjaan rumah, pinter, cerdas dll.

Perempuan tidak dewasa lebih cepat, tetapi dia dibentak-bentak lebih banyak, dilecehkan lebih dulu, tidak dihargai posisinya dan masih banyak lagi.

Saat masih kecil, disuruh bersikap dewasa. Saat sudah dewasa, saat bertingkah seperti anak kecil dimarahin. Kemampuan memisahkan antara luka pribadi & penilaian moral itu sulit.

“Halah perempuan sok bilang gak mau nikah, nanti lewat umur 30 juga kalap”

Menarik. Mengapa? Karena biasanya yang berbicara seperti ini cuma ada 2 tipe laki-laki.

pertama, dia tidak pernah merasakan punya pacar dan secara mentalitas tidak percaya diri.

kedua, laki-laki yang sudah menikah tapi ingin poligami.

sebenarnya siapa yang lebih terobsesi dengan urusan pasangan? Nampaknya satu istri saja masih kurang. jadi saya atau anda yg kalap?

lelah jadi perempuan, capek! capek dihakimi! capek dimata-matai! capek keputusan hidup saya dikomentari! capek hidup di lingkungan seperti ini!

ugh sialan.


메타데이터
post_id
2fb6299b33ec
slug
semua-orang-punya-mantan-pacar-katanya-normal-2fb6299b33ec
url
https://medium.com/@ariyaaa/semua-orang-punya-mantan-pacar-katanya-normal-2fb6299b33ec
canonical_url
https://medium.com/@ariyaaa/semua-orang-punya-mantan-pacar-katanya-normal-2fb6299b33ec
author_url
https://medium.com/@ariyaaa
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36