← Back to list

Seonggok Kayu Tak Berapi

Dalam gelap, malam yang dingin, yang ku punya hanya selembar kain di badan. Tak kuasa memang menolak hawa yang menusuk.

A. Talu · 2026-02-09 04:48 · 0 claps · 1.4 min read
#prosa #puisi #sastra
Open on Medium ↗

Seonggok Kayu Tak Berapi

Dalam gelap, malam yang dingin, yang ku punya hanya selembar kain di badan. Tak kuasa memang menolak hawa yang menusuk.

Kini, Unggun pun mulai mengalah, memberi tanda tak kuasa merawat Api.

“Ah, kapan pula Unggun pernah berjanji menjaga Api, nasip itu sepenuhnya di tanganku.”

Gelap membuatku tak lagi mengenal arah, entah kemana bisa kuraih Batang, walau sekedar Ranting.

Sungguh malam yang buta, apa begini nasip mereka yang… “Ah, sudahlah. Kebanyakan kita memang tak pandai bersyukur.

Rasanya aku seperti diserang habis oleh semesta dari segala sisi. Kemarahan mengkhukum. Seraya mereka membalaskan dendam.

Salah apa diri ini? Aku tak mengerti barang sesuatupun

“Ah, kapan pula manusia mau mengingat salah. Merasa saja tidak. Manusia maha benar dalam dirinya. Yah, jika perlu, aku dapat menuliskan ribuan kebaikan yang pernah kuperbuat. Tak kurang satupun dari ingatanku

Namun, malam tetaplah malam. Gelap tetaplah gelap. Dingin tetaplah dingin. Mereka tak mengerti perdebatan, apalagi pembelaan.

Sial memang, semesta tak pernah berbicara dalam Bahasa manusia. Bahasa mereka adalah hukum.

Aku senantiasa tak mengerti, kekejaman semesta ataukah kebodohon dan keangkuhan manusia? Entahlah.

Kenyataan harus diterima. Malam, gelap, dingin nan sunyi. Unggun bercerai dengan Api. Satu-satunya yang menemaniku adalah diriku sendiri.

Masih sempat menaruh harapan, akan tibanya cahaya disela-sela Rimba gelap ini. Barangkali Bulan tidak serta mendendam padaku. Tapi begitulah nasib berharap sekedar, kepastian adalah milik SangWaktu. Sedang Waktu tak pernah peduli, apalagi menunggu. Ia berjalan menurut hukumnya. Tak barang seorangpun kuasa menghentikan. Waktu hanya dapat bersahabat dengan mereka yang berjalan maju. Apalah aku, tak lebih dari onggokan kayu yang tak berapi.

Kini tinggal aku dan malam. Dalam dingin, gelap nan sunyi, tak lagi dapat menemukan diri, kecuali gelap yang menelan bayangan.

Aku ada, entah, hidup atau mati. Pelan-pelan merebahkan diri, menutup mata yang tak lagi berdaya. Pasrah pada semesta. Pikiran diselimuti ketakutan.

Entah dari arah mana, suara menyeru dengan lembut:

“semesta tak sekejam yang kau kira. Hanya manusia yang memiliki kekejaman.”

Ku bangunkan badan, merusaha menangkap suara, membuka mata. Tak ada yang kulihat kecuali gelap. Ku coba raih jangkauan tangan, hanya dingin yang ku dapati

Tiba-tiba bisikan itu kembali terdengar:

“Gelap adalah milik Malam, jangan paksa kuasa. Fajar akan segera menyapa dengan hangat pada setiap yang bernafas dengan harapan.”


메타데이터
post_id
2fd7e47f10f0
slug
seonggok-kayu-tak-berapi-2fd7e47f10f0
url
https://medium.com/@a.talu/seonggok-kayu-tak-berapi-2fd7e47f10f0
canonical_url
https://medium.com/@a.talu/seonggok-kayu-tak-berapi-2fd7e47f10f0
author_url
https://medium.com/@a.talu
status
ok
fetched_at
2026-06-15 20:49:13