Aku dan Gelato
Serupa tapi tak sama, itulah ungkapan yang cocok untuk gelato dan es krim. Perbedaan yang tak terlalu tampak itu sering menjadi perdebatan…
Aku dan Gelato
Serupa tapi tak sama, itulah ungkapan yang cocok untuk gelato dan es krim. Perbedaan yang tak terlalu tampak itu sering menjadi perdebatan kecil yang tidak akan menimbulkan baku hantam. Ya, kalian tidak perlu saling pukul untuk membuktikan siapa yang benar karena aku akan mengungkapkan sedikit informasi tentang kudapan asal Italia tersebut.
Bukti mudah yang membedakan gelato dan es krim bisa dilihat dari cara pembuatannya yaitu es krim diolah dengan adukan yang cepat dan gelato diaduk lebih lambat. Perbedaan cara mengaduk tersebut akan berdampak pada kandungan udara yang masuk pada adonan sehingga berpengaruh pada tekstur yang dihasilkan. Jadi tidak heran jika gelato memiliki tekstur yang lebih padat, sedangkan es krim terasa lebih ringan di lidah. Tekstur padat pada gelato juga bisa diperhatikan saat karyawan melayani pembeli. Mereka terlihat mengeluarkan tenaga lebih besar saat mengambil gelato dan memindahkannya ke dalam wadah.
Sebenarnya aku tiba-tiba saja ingin menulis tentang gelato. Aku seperti ingin menyimpan kenangan manis yang mungkin tidak akan terulang atau mungkin juga ini menjadi titik awalku untuk bertualang mencicipi gelato yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia atau bahkan ke luar negeri? Ah! Aku tidak ingin terlalu berangan-angan mengingat saat ini segala hal terasa sulit. Yang diperlukan sekarang adalah sesekali melakukan hal menyenangkan untuk meredam segala kesulitan atau keributan yang muncul secara tiba-tiba di kepala.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah mengonsumsi makanan favorit. Pastikan untuk bisa memanjakan diri karena kamu adalah satu-satunya penyelamat untuk dirimu sendiri. Cintai diri dan jangan abaikan bunyi alarm di kepalamu yang mulai menunjukkan keributan itu.
Aku juga melakukan hal itu dengan kabur ke luar kota dan memburu gelato di kedai yang sudah ingin kudatangi sejak lama, mungkin sudah dua atau tiga tahun yang lalu. Tidak kusangka dalam perjalanan mendadak itu membuatku menemukan gelato lain ketika iseng menjelajahi peta daring dari hotel. Saat itu aku sangat tidak bersemangat untuk jalan-jalan karena badan rasanya ingin nempel di kasur saja. Namun ketika melihat tulisan ‘gelato’, aku langsung bangun dari tempat tidur untuk bersiap pergi dan itulah gelato pertama yang kucoba. Terletak di jalan Malioboro, Yogyakarta, kedai yang tidak sengaja kutemukan itu bernama Malio Gelato.
Saat itu sesampainya di Malioboro, aku tidak langsung mencari kedainya, tapi menikmati terlebih dulu padatnya jalan. Tidak sesak, tapi keriuhan manusia sangat terasa dan memperlihatkan bahwa mereka sedang bersenang-senang dengan caranya sendiri. Aku berjalan dengan tenang dan tidak terburu-buru untuk sampai ke kedai. Kusempatkan diri masuk ke beberapa toko atau bahkan hampir semua toko yang berjajar di sana. Haha! Aku puas bisa menjelajah dan menghabiskan waktu seperti itu.
Senang dengan suasana yang ada, aku tidak sadar jika Malio Gelato sudah berada di depanku. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam kedai dan menuju ke kasir untuk menentukan wadah yang akan kugunakan untuk menikmati gelato pilihanku. Setelah memilih wadah, membayar, dan aku langsung antre di depan etalase gelato yang berisi bermacam-macam rasa. Ah… Aku sangat bingung saat memilih kombinasi gelato yang kuinginkan.
Setelah berpindah-pindah untuk melihat, aku memutuskan untuk mencoba dua rasa dan sayangnya aku tidak terlalu ingat dengan salah satunya. Aku hanya bisa mengingat jika aku memilih rasa yang bisa membuatku segar karena jujur saja aku sangat kelelahan saat itu.
Rasa yang bisa kuingat adalah Very Berry dan sesuai dengan namanya, Very Berry adalah campuran dari beberapa macam berry dan rasanya membuatku tidak bisa berhenti menyuap. Lalu untuk rasa kedua sepertinya aku memilih lemon, tapi di sana ada beberapa jenis lemon sehingga aku tidak bisa memasitkan varian yang tepat. Aku hanya bisa mengingat jika aku menemukan potongan kulit lemon di dalam gelatoku. Sebenarnya aku tidak yakin jika itu kulit lemon, tapi penemuan benda asing di dalam gelato itu membuat rasa penasaranku tiba-tiba naik secara drastis dan akhirnya aku menggigitnya perlahan. Setelah dipikir-pikir lagi aku tidak tahu bagaimana rasa kulit lemon, tapi kenapa aku bisa menyimpulkan jika itu kulit lemon? Sangat konyol. Haha!
Setelah Malio Gelato, pada hari kedua aku melanjutkan perburuan gelato yang sudah kuinginkan sejak lama yaitu Tempo Gelato. Sebelum masuk ke kedai gelato, aku mampir ke toko menggemaskan yang bernama Palka ((nanti akan kuceritakan pada kesempatan yang lain)) dan setelah itu aku masuk ke kedai, langsung antre membayar di kasir untuk menentukan wadah yang dipilih.
Sama seperti ketika berada di Malio Gelato, aku sangat kesulitan memilih varian gelato di kedai yang terletak di Prawirotaman ini. Setelah melakukan perenungan yang sangat dalam akhirnya aku memilih nutella dan cokelat. Yak! jauh-jauh ke Prawirotaman ternyata pilihanku jatuh ke cokelat, rasa yang membuatku nyaman.
Setelah mencoba dua gelato di Yogyakarta, aku memiliki kesempatan untuk hinggap ke Bali dan menikmati gelato di salah satu kedai bernama Gusto. Sama dengan semua kedai, pembeli langsung diarahkan ke kasir untuk memilih ukuran wadah yang diinginkan dan tentu saja aku setia dengan wadah kecil karena aku sangat sadar jika lebih besar dari itu aku tidak akan sanggup menghabiskannya.
Ketika melihat gelato yang berjajar rapi di dalam etalase, mataku langsung tertuju pada Milk Choco Cashew dan Dark Choco. Ah sebenarnya aku tidak yakin antara Dark Choco atau Sherbet Choco, tapi intinya adalah cokelat AHAHHAHAHAHHA MAAF!!! Aku sengaja memilih cokelat karena saat itu aku menjalani hari yang sangat melelahkan dan emosiku mengalir seperti roller coaster sepanjang hari. Perasaan gugup yang kurasakan sejak pagi hingga sore seperti lenyap ketika lidah bertemu dengan gelato manis. OOOH NIKMAT!
Jujur saja aku tidak akan menyebutkan detail rasa dan teksurnya agar kalian bisa penasaran dan ingin datang ke sana untuk mencobanya. Pergilah~
Akan terasa sulit jika diminta untuk memilih karena ketiganya memiliki kesan yang berbeda. Mungkin yang bisa kukatakan adalah tentang harga. Dari semua kedai yang sudah kusebutkan, Gusto Gelato memiliki peringkat satu untuk harga tertinggi, Malio Gelato di posisi kedua, dan Tempo Gelato berada di urutan terakhir.
Oh iya, saat ke Tempo Gelato pastikan untuk memiliki uang tunai karena kedai hanya menerima pembayaran tunai. Sementara itu Malio Gelato dan Gusto sudah didukung cara pembayaran yang lebih modern seperti QRIS. Jadi pastikan saldomu berlimpah agar bisa memilih gelato dengan puas tanpa memikirkan sisa tabungan. Serius, cukup siapkan saja saldomu dan nikmati gelato yang ditawarkan oleh kedai.
Sepertinya cukup sampai di sini dulu celotehku untuk gelato dan terima kasih untuk kalian yang sudah membaca kenangan manisku tentang gelato. Last but not least, terima kasih untukmu yang hanya bisa kukenang dan kusebut dalam doa. Salam hangat dan bahagia selalu ^^
메타데이터
- post_id
- 2fe1e46567cd
- slug
- aku-dan-gelato-2fe1e46567cd
- url
- https://medium.com/@praskelana.read/aku-dan-gelato-2fe1e46567cd
- canonical_url
- https://medium.com/@praskelana.read/aku-dan-gelato-2fe1e46567cd
- author_url
- https://medium.com/@praskelana.read
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 01:40:30