← Back to list

Malpraktik Emosional: Memanen Luka Orang Lain dan Menjadikannya Estetika

Ketika lukamu hanya dijadikan dekorasi.

Win in Berbagi & Berdampak · 2026-03-22 05:01 · 155 claps · 1.4 min read
#mental-health #reflections #berbagi-dan-berdampak #vulnerability #kepenulisan
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry 🔒 · Cybersecurity

Malpraktik Emosional: Memanen Luka Orang Lain dan Menjadikannya Estetika

Ketika lukamu hanya dijadikan dekorasi.

Photo by Debby Hudson on Unsplash

Photo by Debby Hudson on Unsplash

Menulis adalah cara diriku bertahan di tengah badai kehidupan. Menulis kulakukan karena itu adalah sebuah kebutuhan.

Bagiku, untuk sampai pada suatu kesimpulan, atau bahkan satu kalimat — adalah sebuah proses batin menahun setelah aku merasakan yang namanya luka, kekecewaan, dan patah hati. Baris demi baris yang aku tulis, semuanya adalah pengalaman batin dan reflektif yang dalam dan panjang.

Jadi ketika ada yang mengerdilkan proses itu lalu menjadikannya sebuah karya yang dipoles dengan kata-kata berbunga-bunga tanpa mencantumkan namaku sedikitpun, aku merasa terkhianati dan merasa cukup direndahkan karena seseorang melakukannya dengan kesadaran penuh.

Bahkan aku merasa kalau itu sama saja menghina daya nalarku dengan merebut kedalaman emosional yang kubangun susah payah, dengan berdarah-darah. Lalu ia berharap aku akan diam dan tak sadar kalau ada jejak-jejak pikiranku di karyanya?

Aku memang sering telanjang dalam tulisanku, tidak berarti aku terlalu baik dan naif sampai-sampai aku tidak sadar ketika ada seseorang yang mengambil kedalaman emosionalku dan menjadikannya aksesori cantik tanpa permisi.

Kupikir, sangatlah tidak etis ketika kamu terinspirasi dan menggunakan ide pokok orang lain untuk menulis, tapi kamu menjadikannya seolah ide pokok itu datangnya dari dalam dirimu sendiri, bukan dari luar.

Bagiku, menulis itu sakral dan membebaskan, aku tidak mau menulis jadi terasa seperti beban hanya karena ada orang yang menggunakan ide pikiranku dan kerentananku yang merupakan hasil refleksi bertahun-tahun, seolah tulisanku hanyalah sebuah tulisan umum yang bisa diambil intisarinya tanpa permisi, seolah tulisanku itu tanpa proses panjang di belakangnya.

Kuharap sebagai sesama penulis, kita saling menghormati batasan ini, agar ekosistem menulis di medium Indonesia menjadi sesuatu yang nyaman, aman dan baik.

Semestinya, penulis tak perlu menjadi takut untuk menunjukkan kerentanan karena ekosistemnya adalah lingkungan yang aman, namun kalau ada kejadian seperti ini, tentu semua akan terasa berbeda, penulis akan lebih berhati-hati untuk membagikan sesuatu yang sangat personal.


메타데이터
post_id
3056f03b189a
slug
malpraktik-emosional-memanen-luka-orang-lain-dan-menjadikannya-estetika-3056f03b189a
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/malpraktik-emosional-memanen-luka-orang-lain-dan-menjadikannya-estetika-3056f03b189a
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/malpraktik-emosional-memanen-luka-orang-lain-dan-menjadikannya-estetika-3056f03b189a
author_url
https://medium.com/@win_
status
ok
fetched_at
2026-06-09 21:21:26