Lupa Menyapa Diri Sendiri
Kita sering berbicara tentang budaya dan tradisi, seolah keduanya adalah hal yang sama. Padahal keduanya memiliki ruang yang berbeda.
Lupa Menyapa Diri Sendiri

Dokumentasi Pribadi (pocof3)
Kita sering berbicara tentang budaya dan tradisi, seolah keduanya adalah hal yang sama. Padahal keduanya memiliki ruang yang berbeda.
Tradisi lahir dari hal-hal yang terus dilakukan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ia hidup dalam kebiasaan, tumbuh dalam keseharian, lalu menjadi bagian dari cara suatu masyarakat memandang dunia.
Dahulu, manusia memiliki banyak tradisi untuk berjumpa dengan dirinya sendiri. Ada yang melakukannya melalui tafakur, doa-doa panjang selepas malam, menyendiri sejenak dari keramaian, atau sekadar duduk diam memandangi langit sambil bertanya tentang makna hidup yang sedang dijalani.
Namun perlahan, tradisi itu mulai memudar.
Hari ini kita hidup dalam budaya yang membuat manusia terus bergerak, terus berbicara, terus terhubung dengan banyak hal di luar dirinya. Anehnya, di saat yang sama kita justru semakin asing dengan diri sendiri.
Kita semakin pandai berlari ke luar, tetapi semakin canggung ketika harus pulang ke dalam.
Mungkin karena menghadapi diri sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah. Ketika kita berani duduk dalam kesunyian dan menatap ke dalam, yang pertama kali terlihat sering kali bukan kelebihan, melainkan kekurangan. Bukan keindahan, melainkan retakan-retakan yang selama ini kita sembunyikan.
Dan tidak semua orang siap melihatnya.
Maka kita memilih sibuk. Memilih ramai. Memilih menenggelamkan diri dalam berbagai distraksi. Apa saja, asal tidak perlu berjumpa dengan diri sendiri.
Padahal perjalanan paling sunyi yang pernah ditempuh manusia adalah perjalanan menuju dirinya sendiri.
Kita perlahan kehilangan keberanian untuk menghadapi diri. Padahal di sanalah sumber kekuatan itu berada. Sebab bagaimana seseorang dapat memperbaiki dirinya jika ia tidak berani mengakui kekurangannya? Bagaimana tubuh bisa dikuatkan jika kita bahkan tidak mengetahui bagian mana yang lemah? Bagaimana jiwa dapat bertumbuh jika kita terus menolak bercermin?
Mengenali kekurangan bukanlah bentuk kebencian terhadap diri. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk cinta yang paling jujur.
Sebab semakin dalam seseorang mengenali dirinya, semakin ia menyadari bahwa hidup ini bukan semata-mata tentang mengejar sesuatu yang berada di luar sana. Bukan tentang pengakuan, pencapaian, ataupun berbagai hal yang sering kita anggap sebagai tujuan akhir kehidupan.
Barangkali perjalanan kita di bumi adalah perjalanan untuk membuka bungkus karunia cinta ilahi yang telah dititipkan Tuhan sejak awal.
Bukan untuk mencapai cinta-Nya.
Bukan untuk mendapatkan cinta-Nya.
Apalagi untuk menjadi pantas dicintai-Nya.
Sebab samudra cinta Allah yang tak bertepi itu sejatinya telah ada di dalam diri kita.
Yang perlu dilakukan hanyalah menyingkap lapisan demi lapisan yang menutupinya: ketakutan, kesombongan, luka, amarah, dan segala hal yang membuat kita lupa pada hakikat diri.
Mungkin itulah mengapa para bijak sering mengatakan bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu dimulai dari perjalanan yang jauh, melainkan dari keberanian untuk mengenali diri sendiri.
Karena pada akhirnya, siapa yang mengenal dirinya dengan jujur, akan lebih mudah mengenali Tuhannya.
Dan bisa jadi, di tengah dunia yang semakin bising ini, ibadah yang paling sulit bukanlah berbicara tentang Tuhan.
Melainkan duduk dalam kesunyian, lalu menyapa diri sendiri.
Sebab bisa jadi, hal yang paling lama kita tinggalkan bukanlah sebuah tempat, bukan pula seseorang.
Melainkan diri kita sendiri.
Salam Cinta. _alhaq
메타데이터
- post_id
- 30644d68cd4e
- slug
- lupa-menyapa-diri-sendiri-30644d68cd4e
- url
- https://medium.com/@ahaq2744/lupa-menyapa-diri-sendiri-30644d68cd4e
- canonical_url
- https://medium.com/@ahaq2744/lupa-menyapa-diri-sendiri-30644d68cd4e
- author_url
- https://medium.com/@ahaq2744
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36