Penantang Impian-Atap Jateng
Sebuah cerita pendakian chapter ‘perayaan’ di Gunung Slamet 3428 mdpl.
Penantang Impian-Atap Jateng
Sebuah cerita pendakian chapter ‘perayaan’ di Gunung Slamet 3428 mdpl.
Jika ada yang bertanya di mana puncak impianmu ? aku akan menjawab : Gunung Slamet. Bagaimana tidak, aku hidup di lereng Gunung Slamet. Sehari-hari melihat megahnya gunung itu. Dari kecil pagi siang malam sudah hafal keindahan yang ia hadirkan, Namun selama aku hidup sama sekali belum pernah menginjakan kaki di atas 3428 mdpl, ketinggian impian para pendaki.
November 2021 aku pernah mencoba menggapainya bersama teman-teman alumni pesantrenku. Kala itu kami memilih jalur Gunungmalang, Jalur tersulit Gunung Slamet. Tidak heran jika dijuluki jalur tersepi. Namun sayang, Tuhan belum mengizinkanku berhasil. Cuaca yang kurang bersahabat membuat salah satu temanku sakit, dan kami memutuskan turun dari pos 5. Untuk pertama kalinya aku gagal summit.
Setelah kejadian hilangnya Syafiq Ali, pendaki tektok via Dipajaya awal tahun 2026. Aku belum mendapat izin pendakian Gunung Slamet dari keluarga. Begitu juga peningkatan aktivitas vulkanik membuat pihak berwenang menutup semua jalur pendakian sejak 5 April 2026. Kembali lagi belum ada kesempatanku untuk mencoba lagi. Hingga pada akhir Mei 2026 aku dapat kabar bahwa Gunung Slamet akan kembali dibuka mulai 10 Juni 2026. Lantas sesegera mungkin aku planning pendakian.
Broadcast ke teman-temanku siapa yang tertarik join. Di sini aku jadi ingat 9 -10 tahun lalu. Ketika awal kuliah dan aku masih 18 -19 tahun, dimana kebanyakan kawanku sedang hibe mendaki gunung. Waktu itu aku diajak teman-temanku untuk mendaki Gunung Slamet, lantaran kala itu aku masih sibuk bekerja sambil kuliah sehingga aku tidak punya banyak waktu dan mental untuk mendaki. Tapi saat ini, ketika aku memiliki cukup waktu dan resource teman-temanku yang tidak bisa, tanggung jawab atas karir dan keluarga menjadi penghalang kami untuk mendaki bersama. Akhirnya team yang kemarin ke Sindoro kembali angkat carrier, yaitu Misbah dan Bashir kawan sekampungku, dan kali ini bertambah satu lagi, Bayu sohibku dari kecil.
Beranggotakan 4 orang, team mulai start dari basecamp Dipajaya pukul 14:55 WIB menggunakan ojeg menuju pos 1. Moment melingkar dan berdoa sebelum melangkah masih menjadi momen paling favoritku. Di momen ini aku mengatakan : Diantara kita ada yang sudah berkawan lama, dan ada juga yang baru kenal. Tapi semoga perjalanan ini justru akan merekatkan persahabatan kita. Tujuan kita sudah pasti puncak, tapi aku ingin mengajak kalian untuk bersepakat naik bareng turun juga bareng. Doa kali ini akan lebih panjang dari biasanya. Karena Gunung Slamet bagiku sangat magis. Mari berdoa untuk kelancaran perjalanan kita, meminta Allah mudahkan langkah kaki kita, diberi kekuatan baik fisik dan mental. Seperti slogan dari bang Misbah “Mangkat Slamet, Munggah Slamet, Mudun Slamet, Balik Slamet”
Seusai berdoa kami pun mulai bergerak pukul 15:17 WIB. Ada 2 Handy Talkie satu dipakai Bayu karena pace dia cukup kencang, akhirnya aku suruh dia di depan bareng Bashir, sedangkan satu lagi aku pegang di belakang bersama Misbah. Formasi bergantian dan terus berjarak dekat. Suasana hutan lumut dari pos 1 ke pos 2 benar-benar rasanya seperti di hutan belantara. Suasana yang jarang ditemui di gunung-gunung yang sudah terjamah oleh manusia untuk berwisata. Banyak sekali jenis burung (yang aku tidak tau namanya) bahkan beberapa kali kami melihat lutung bergelantungan di pohon-pohon besar.
Sampai di pos 2 Gubug Abang pukul 16:20 WIB. Tidak kelewat kami berswafoto di plang dan take beberapa konten. Pohon tumbang sudah pasti menjadi andalan kami untuk mengatakan “Rehat Sejenak” . Lanjut perjalanan sampai di persimpangan antara jalur Dipajaya dengan jalur Bambangan pukul 16:45 WIB. Di sini kami bertemu dengan 2 pendaki perempuan muda mungkin kisaran 18–20 tahun. Mereka share info bahwa di pos 3 sudah terpasang 13 tenda dan di pos 5 sudah terpasang 28 tenda dari OT (operator trip) karenanya mereka memutuskan akan bikin tenda di sini saja. Aku meminta izin buat pake lahan datarnya sebentar buat sholat Ashar terlebih dahulu. Karena ketiga temanku ini adalah perokok berat. Alhasil kami di sini cukup lama beristirahat sambil mereka sebat (sebatang rokok) dulu.
Perjalanan terus berlanjut sampai pos 3 Pondok Cemara Pukul 18:30 WIB. Benar adanya, sudah terpasang banyak tenda rapih berseragam ciri khas OT (operator trip). Mirisnya tenda-tenda itu kosong, setelah aku gali informasi dari pedagang ternyata tenda-tenda ini bookingan untuk besok malam minggu. Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan OT, hanya saja aku cukup kesal ketika cara mereka tidak adil dalam hidup berdampingan di alam. Di pos 3 ada satu warung yang buka. Lantaran sebelum berangkat Misbah, dan Bashir belum sempet makan siang, melihat tumpukan gorengan dan lontong suara perutnya sudah tidak bisa berbohong. Mereka berdua makan, sedangkan aku dan Bayu cukup mencicipi donat dan molennya saja.
Perut sudah terisi perjalanan pun dilanjutkan. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan 3 orang pendaki tektok, dua laki-laki satu perempuan. Terlihat mereka sudah sangat drop sekali. Aku bertanya apakah situasinya aman. Mereka bercerita, kalau laki-laki yang satunya sempet sakit tapi sudah aman, sedangkan satu perempuan memang sudah sangat lelah makanya sampai larut baru sampai di pos 3. Perlahan-lahan mereka melanjutkan perjalanan. Semoga selamat sampai kembali ke rumah.
Kami Sampai di pos 4 Samaranthu pukul 19:25 WIB. Sengaja memang aku planning untuk tidak sampai di Samaranthu waktu ‘sandekala’. Meski aku tidak peduli dengan mitos horor yang beredar, tapi menghindari apa salahnya. Di Samaranthu kami beristirahat bersama dengan 7 pendaki dari Jogja yang akan sama-sama naik. Akhirnya perjalanan menuju ke pos 5 pun kami berbarengan.
Sesampainya kami di pos 5 pukul 20:05 WIB, kami cukup tercengang dengan situasi camp area. Camp area ini mirip sekali dengan bumi perkemahan. Di mana setiap sudut lahan tenda-tenda berjejer rapih berseragam. Dan ketika kami tengok, tenda-tenda itu kosong. Semua tenda itu untuk peserta OT besok malam. Tenda-tenda yang terisi juga cukup banyak, sehingga situasi camp memang terasa seperti bumi perkemahan. Apalagi banyak warung yang buka, dan semangka-semangka itu memang menggoda sekali.
Setelah dirikan tenda, Bayu menyiapkan cooking set dan aku mulai memasak Nasi. Pendakian kali ini aku sengaja membawa logistik lengkap. Rasanya bosan sekali di gunung cuma makan mie instan dan roti terus. Sengaja aku membawa beras, sayuran, ayam fiesta, cireng, mie instan, sosis, dan jajanan cukup banyak. Apesnya. Karena kecerobohanku ketika aku masak ayam minyaknya tumpah. Maklum badan udah lelah, otak ga bisa berfungsi normal. Akhirnya peran chef diambil alih Bayu. Menu simple dan sederhana tapi nikmat sekali kalau di gunung. Selesai makan, kami pun sholat bergantian. Tidak lama kemudian kami terlelap masing-masing. Seingatku aku mulai terlelap pukul 23:00 WIB.
Pukul 02:35 WIB aku bangun. Melihat Bayu yang sudah terbangun terlebih dahulu dan mulai memasak mie instan untuk sarapan sebelum summit. Diikuti Bashir yang seperti biasa, dia tidak bisa tidur nyenyak di gunung, Sedang Misbah dan aku merasa cukup nyenyak tidur selama 3–4 jam. Selesai sarapan dan siap-siap kami pun bergegas summit pukul 04:00 WIB. Sampai di pos 7 pukul 05:00 WIB, situasi di track sudah mulai ramai oleh pendaki tektok jadi susah nyari tempat istirahat. Beberapa jarak sebelum pos 8 aku menemukan lahan datar cukup luas untuk beristirahat, aku pun menggelar sajadah untuk sholat Shubuh terlebih dahulu.
Dengan suhu kurang lebih 10 derajat celcius, kami terus melangkah penuh semangat mengejar siluet sunrise. Pukul 05:40 WIB Kami sampai di pos 9 pelawangan. Sunrise yang aku bayangkan ketika aku berangkat kerja itu terpancar indah sekali. Dataran perbukitan, dan gunung yang pernah aku daki terlihat kecil sekali. Dari sisi timur Sindoro dan Sumbing terlihat jaraknya sangat dekat sekali, di belakangnya gunung Merbabu dan Merapi juga tidak kalah megah. Keempatnya diselimuti lautan awan seraya berkata “kita penantang impian, di atas awan, kita kan menang”
Lukisan tuhan ini hanya bisa kita nikmati jika mau bersusah payah. Karenanya kami sangat lama di Pelawangan. Berswafoto, take konten, dan melamun. Bayu mulai mengeluarkan kameranya, Misbah mengaktifkan ponselnya mengecek siapa tahu ada sinyal. Betul ternyata ada sinyal. Misbah pun akhirnya video call dengan orang rumah, dan Bayu sibuk hunting foto. Aku dan Bashir memutuskan jalan lebih dulu. Satu Handy Talkie dipegang Misbah dan satu lagi aku pegang. Kami selalu update dan kordinasi HT.
Dari atas terpantau mereka berdua masih nyaman dan sibuk masing-masing. Sedang aku dan Bashir sudah masuk ke fase-fase krisis. Ini benar-benar yang namanya jalur ‘summit attack’. Jalanan berpasir dan kerikil membuat langkah kita sulit berpijak. Meskipun untuk naik, bagiku rasanya better ini dari Summit-nya Sindoro. Meski kaki kita tidak dipaksa mengeluarkan beban lebih tapi di sini sangat berbahaya jika tidak fokus. Salah berpijak bisa tergelincir dan sangat berbahaya jika sampai jatuh ke sebelah selatan. Karena jurangnya sangat dalam.
Melihat gundukan puncak sudah terlihat, aku jadi lebih bersemangat melangkah, sampai akhirnya di tengah-tengah aku dan Bashir sempat berjarak jauh. Namun dari atas Bashir masih bisa terpantau olehku. Pukul 07:30 WIB aku sampai puncak top 1 Jawa Tengah, puncak impian para pendaki. Di atas ketinggian 3428 Mdpl aku mrebes mili. Dalam hati aku berkata ke ibuku “Akhirnya aku berhasil mah, maturnuwun doane”. Juga tidak henti-hentinya aku bertasbih, dan bertahmid “Sungguh agung ciptaanmu ya Allah, maturnuwun. Jika bukan karena engkau, aku tidak mungkin berada di sini”
Lima belas menit kemudian disaat aku sedang ngantri foto, Bashir sampai di puncak. Sudah puas di puncuk, kami berdua turun ke arah kawah. Dan di tengah-tengah gundukan puncak, kami menikmati puncak dengan ngonten, makan perbekalan sambil meunggu dua kawan kami. Dari HT Misbah menginformasikan masih di Jalur Summit, dan pada pukul 08:30 WIB mereka berdua menyusuli kami. Di spot ini, viewnya mirip di Prau. Kanan Kiri gundukan puncak, dan di tengahnya gunung Ciremai terlihat dari kejauhan.
Sudah puas menikmati puncak. Pukul 10:00 WIB kami mulai turun. Tak disangka, jalur yang aku lewati tadi terlihat sangat menyeramkan. Melihat curamnya jurang di sebelah selatan, dan jalan yang dilewati sulit sekali untuk dipijak, membuat aku sempat krisis di sini. Sebab selama di puncak juga aku lepas jaket, sepertinya badan sedang berjuang melawan terpaan angin. Perut pun mulai mules, orang jawa menyimpulkan masuk angin . “Mau buang hajat gimana dengan kondisi seperti ini ya Allah”. Dalam kondisi seperti ini aku menyadari satu hal ; kita tidak bisa bergantung pada siapapun, selain kepada sang pencipta.
Akhirnya jurus sugesti dari ibukku aku gunakan : aku ambil 3 batu kecil, aku sholawatin kemudian aku saku di celana, lalu teori medisnya juga aku pakai dengan mengoleskan hot cream di perut, minum tolak angin, dan memakai jaket. Alhamdulilah, semua teratasi.
Formasi masih sama. Aku di depan dengan Bayu, dan Misbah berada di belakang dengan Bashir. Pukul 11:00 kami sampai di pelawangan. Sambil menunggu mereka berdua, aku dan bayu sempat terlelap di Pelawangan. Sesampainya Misbah dan Bashir bukanya membangunkan kami, tapi jelas mengikuti jejak kami tidur siang di bawah semak-semak dan semilir angin. Pukul 12:10 WIB kami melanjutkan perjalanan turun. Formasi masih sama. Aku dan Bayu di depan, Misbah dan Bashir di belakang berbarengan. Sampai pos 7 aku semakin berjarak jauh, via HT aku menginformasikan untuk jalan lebih dulu agar aku bisa segera masak, kalian nyampai bisa langsung makan siang.
Aku sampai di camp pukul 12.55 WIB dan langsung masak. Lima belas menit kemudian mereka menyusul dan langsung melanjutkan tidur. Selesai masak dan Sholat pukul 14:00 WIB aku bangunkan mereka dan kami menikmati menu makan siang sayur sop, sosis, dan mie instan.
Suasana camp area pos 5 sudah tambah ramai, tenda-tenda yang semalam kosong sudah terisi, dan kru-kru OT sudah berdatangan membawa client/pesertanya. Bahkan beberapa kali aku menjumpai antar OT rebutan lahan. Sedangkan pendaki mandiri yang baru datang, memasang muka lemas mau camping di mana. Orang-orang yang menyebut dirinya pecinta alam, disadari atau tidak sudah menjelma menjadi kaum kapitalis rimba. Jujur saja, aku pun pengen sekali bukan operator trip tapi mungkin tidak akan open di high season. Selain aku memang tidak suka keramaian, jika harus berkompetisi untuk menikmati alam, sepertinya aku tidak punya energi.
Usai berberes dan packing. Pukul 15:50 WIB kami start turun. Dan moodku rusak menghadapi situasi track ramai parah. Jalur sempit, membuat kita harus bergantian, dan melambat perjalanan kami untuk segera sampai di pos 1 sebelum Maghrib. Aku memang menargetkan Maghrib sudah sampai basecamp, karena mengejar waktu untuk bisa segera beristirahat dengan nyaman. Dengan situasi ramainya jalur, alhasil Maghrib kami baru sampai di persimpangan jalur Bambangan-Dipajaya. Waktu Sandekala kami rehat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan. Suasana berubah menjadi lebih banyak diam. Terlihat sekali ketiga temenku sudah sangat lelah, dan suasana malam di hutan lumut kali ini memang rasanya beda sekali.
Setelah perjalanan yang terasa lebih panjang, akhirnya kami sampai di pos 1 pukul 19:45 WIB. Di sini kami sempat ada drama lantaran tidak ojeg mangkal, di shelter pun aku tidak menjumpai kontak person yang bisa dihubungi untuk memesan ojeg. Berkali-kali aku mencari frekuensi untuk terhubung dengan basecamp. Nihil. Mau tidak mau harus melanjutkan berjalan kaki menuju basecamp.
Dari pos 2 langkah Bayu sudah semakin berat lantaran ada masalah di kaki sebelah kirinya. Dan kini harus melanjutkan berjalan kaki ke basecamp dengan jarak tempuh normal 1 jam, akan jadi lebih berat dengan kondisi seperti itu. Setelah aku paksa, biar carrier nya aku bawa, langkahnya pun masih berat. Jelas ini bukan karena kelelahan, tapi karena ada sesuatu. Misbah dan Bashir juga sudah sangat lelah, bahkan Bashir sering mengeluh lutut bagian kananya. Tidak bermaksud sok pahlawan, tapi untuk keselamatan bersama aku meminta mereka untuk diam di persimpangan jalur ojeg dan pendaki. Biar aku melanjutkan perjalanan sendiri menuju basecamp meminta pertolongan ojeg untuk menjemput mereka. Aku berpesan : “HT untuk selalu terhubung, kalingan bertiga jangan sampai berpisah. Saling jaga !”.
Dalam kondisi overthinking, aku gaspol sekencang-kencangnya menuju basecamp dengan membawa double carrier. Jika seharusnya waktu normal menuju basecamp itu 1 jam. aku pangkas menjadi 25 menit, sendirian tanpa rest. Jika dipikir ulang kalau bukan karena pertolongan Allah dan modal nekat, sepertinya tidak akan bisa.
Sesampainya di basecamp, aku segera mencari pertolongan dan 3 ojeg akhirnya berangkat menjemput teman-temanku. Syukur alhamdulilah, pukul 21.05 WIB Akhirnya semua team sudah kembali selamat sampai basecamp. Situasi basecamp yang sudah ramai para pendaki tektok membuat kami susah untuk beristirahat. Kami pun bergegas kembali ke rumah masing-masing.
메타데이터
- post_id
- 3080aae4e3d8
- slug
- penantang-impian-atap-jateng-3080aae4e3d8
- url
- https://medium.com/@munifuliqbal/penantang-impian-atap-jateng-3080aae4e3d8
- canonical_url
- https://medium.com/@munifuliqbal/penantang-impian-atap-jateng-3080aae4e3d8
- author_url
- https://medium.com/@munifuliqbal
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 23:08:13