Ngobrol Soal Terapi Berjalan Kaki bareng Komunitas GS Semarang
Bertemu orang yang memiliki minat dan kesenangan yang sama tentu adalah hal yang menggembirakan. Bagaiamana jika bertemunya dengan…
Ngobrol Soal Terapi Berjalan Kaki bareng Komunitas GS Semarang
Bertemu orang yang memiliki minat dan kesenangan yang sama tentu adalah hal yang menggembirakan. Bagaiamana jika bertemunya dengan keleompok orang dengan minat yang sama? Tentu semakin menggembirakan. Itu yang saya alami hari Jum’at, 1 Agustus 2025 lalu. Saya datang ke forum simpul Gambang Syafaat (Selanjutnya disebut GS). Berawal dari melihat postingan di instagram @gambangsyafaat yang membagikan poster diksusi bertajuk “Terapi Berjalan Kaki” saya berjalan menuju masjid Diponegoro Pleburan, yang beralamatkan di Jalan Singosari Raya itu.
Saya mengira acaranya di dalam Masjid, ternyata kami duduk bersantai membentuk simpul lingkaran kecil di pelataran Majid Diponegoro tersebut. Saat saya datang, saya disambut dengan senyum ramah khas orang Maiyah. Setelah bersalaman, saya duduk dan disuguhi air mineral. Momen yang saya rindukan dari komunitas Maiyah.
Saya agak lupa nama mas MC yang membuka. Tapi yang saya rasakan, beliau hangat dan bersahabat, menanyai asal dan aktivitas saya di Semarang ini. Saya ucapkan terima kasih ke beliau. Setelah MC membuka, acara di isi oleh Pak Ihfan, seorang Psikolog di Binar Kalbu Psikologi. Ia membahas dengan bahasa santai nan hangat terkait apa itu berjalan, terapi berjalan, manfaat hingga menyinggung logoterapi.

Yang saya ingat, di bagian awal beliau mengajak peserta diskusi lain berpikir tentang apa perbedaan jalan kaki dan olahraga? Apakah jalan kaki termasuk olahraga? Para peserta lain melempar jawabannya. Mas Agung menjawab bahwa jalan kaki meruapakan awal dari olahraga. Peserta lain yang saya lupa namanya, menjawab bahwa jalan kaki tidak bagian dari olahraga.
Pak Ihfan menyambung dengan menjelaskan bahwa ketika kita berjalan kaki, kita bebas, karena tidak terikat tujuan, harus jarak berapa Kilometer, harus kecepatan berapa, dan sebagainya. Itulah yang membedakan jalan kaki dengan olahraga seperti lari. Dimana lari diukur jarak, waktu, dan kecepatan waktu yang ditempuh untuk menempuh 1 Kilometer (Pace).
Jalan kaki merupakan pembebasan diri kita, dari rutinitas. Tatkala biasanya kita beraktivitas diukur oleh satuan waktu, atau jumlah pekerjaan yang diselesaikan, saat jalan kaki, kita terbebas dari itu semua. Saat kita jalan kaki, kita tidak menetapkan tujuan mau kemana, atau harus ditempuh dengan waktu berapa. Hal ini membuat kita relaks, dan berpikir tanpa beban.
Saya menayambung pembahasan Pak Ihfan ini dari buku “A Philosophy of Walking” karya Frédéric Gros, seorang filsuf yang membawa kita melihat berjalan kaki bukan sebagai olahraga, melainkan praktik eksistensial, spiritual, dan perlawanan terhadap kecepatan dunia modern. Ia menyebutkan bahwa jalan kaki, merupakan bentuk pembebasan diri dari waktu dan produktivitas. Saat kita berjalan kaki, kita melambat dari yang biasanya kita hidup dalam berabgai tuntutan, mulai dari pekerjaan, hingga sosial. Ketika berjalan kaki, kita bebas dari keharusan ‘menjadi produktif’.
“To walk is to lack a place. It is the process of being somewhere, but not staying there.” — Frédéric Gros
Terhubung dengan diri sendiri, dengan berjalan kaki.
Dalam penjelasannya, pemantik diskusi menyebutkan bahwa saat berjalan, kita terhubung dengan tubuh sendiri secara penuh tanpa gangguan. Saat ada sesi pendapat, saya melontarkan pendapat saya yang setuju terkait hal ini. Saya bilang bahwa barangkali dari pagi sampai sore, kita lebih banyak terhubung ke dunia luar, mulai dari pekerjaan, media sosial, dan orang lain. Kita mungkin kurang terhubung dengan diri kita sendiri.
Pak Ihfan membagikan pengalamannya yang saat ini suka berjalan kaki untuk datang ke kantornya. Ketika pulangpun, ia berjalan kaki, bahkan mencari rute memutar yang lebih jauh untuk menikmati keheningan dan mengikuti hatinya.
“Dalam tradisi kejawen, simbah kita dahulu, suka menyempatkan jalan kaki di sore hari. Merka menyebutkan ‘nggoleki Gusti’ atau dalam bahasa Indonesianya, mencari Tuhan.” Ujar salah satu peserta yang lagi-lagi saya lupa namanya. Mas perawakan gagah, dan kematangan pribadi yang terekam dalam memori saya.
Setelah diskusi berjalan satu jam, sektiar jam 21.00 WIB diskusipun berakhir. Acara dilanjutkan rapat persiapan rutinan Gambang Syafaat yang biasa diagendakan pada Jumat terakhir di bulan tersebut. Hal yang menarik adalah bahwa acara rutinan GS akan mengundang Mas Sabrang “Noe” Letto di tanggal 29 Agustus 2025 mendatang.
Perjalanan singkat malam itu terasa menyenangkan buat saya, karena saya bisa bertemu orang-orang dengan frekuensi serupa, membicarakan hal menarik yang sama-sama kami sukai.
메타데이터
- post_id
- 30b9ba1c3e5b
- slug
- ngobrol-soal-terapi-berjalan-kaki-bareng-komunitas-gs-semarang-30b9ba1c3e5b
- url
- https://medium.com/@helmydenada.15/ngobrol-soal-terapi-berjalan-kaki-bareng-komunitas-gs-semarang-30b9ba1c3e5b
- canonical_url
- https://medium.com/@helmydenada.15/ngobrol-soal-terapi-berjalan-kaki-bareng-komunitas-gs-semarang-30b9ba1c3e5b
- author_url
- https://medium.com/@helmydenada.15
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 13:46:51