Just Face It, Do It, Take All the Risk
Sejak Presiden (ketua komunitas) Standup Indo, Adjis Doa Ibu, mengumumkan akan diadakannya Jambore Standup Indo di Jogja pada 16–17…
Just Face It, Do It, Take All the Risk

Sejak Presiden (ketua komunitas) Standup Indo, Adjis Doa Ibu, mengumumkan akan diadakannya Jambore Standup Indo di Jogja pada 16–17 September 2022, saya sudah sangat excited ingin datang. Jogja, daerah yang sangat mudah dan familiar. Tidak akan ada yang susah untuk datang, tinggal, atau makan di sana. It’s like my second hometown. Actually, it’s my second hometown. Pak Adjis mengumumkan itu sebulan sebelumnya. Ada banyak waktu mempersiapkan, apalagi acaranya pada saat weekend.
Ketika sampai pada hari penjualan tiket presale dibuka, saya kehabisan. Dua hari kemudian tiket regular dibuka, harganya selisih 100 ribu saja dari tiket presale. Sebenarnya tidak jadi masalah. Sempat berpikir akan membeli saja tiket terusan dua hari, karena kalau sudah beli tiket event nya, pasti saya akan mengusahakan tiket pesawat.
Sebenarnya yang membuat ragu adalah waktu penerbangan. Oke, skenarionya, saya berangkat Jumat tidak terlalu pagi, karena mesti datang absen lebih dahulu. Penerbangan jam sepuluh okelah. Tetapi, penerbangan Balikpapan Jogja hanya ada Lion. Saya agak trauma dengan maskapai ini. Tidak ada pengalaman baiknya. Lalu, pulangnya pun, hari Minggu, misal memaksakan tidak dengan Lion, tidak akan keburu. Kalau pun keburu juga akan terlalu terburu-buru.
Jadi masalahnya dua, tidak dapat tiket presale dan masalah dengan penerbangan. Dua hal itu membuat saya ragu hingga akhirnya membatalkan dengan berpikir, jambore akan ada lagi dua tahun ke depan. Saya akan menunggu kondisi benar-benar sehat. Padahal, itu alasan saja, karena kondisi tubuh saya saat ini pun memungkinkan untuk pergi.
Sampailah pada hari Sabtu, 17 September 2022. Saya melihat instagram strory para komika. Foto-foto event hari pertama. Rasanya ada penyesalah sedikit. Ah, harusnya saya di sana. Andai saja, andai saja, andai saja. Lalu hari ini, Minggu, 18 September, melihat lagi rekap kejadian hari kedua, Sabtu. Headliner alias penampil pamungkas Bene Dion yang sudah bertahun-tahun tidak melakukan standup. Penyesalan itu semakin besar.
Oke, memang Jambore akan ada lagi, atau katakanlah event standup Indo lain. Tetapi, melihat semua komika yang saya ingin lihat berkumpul semua saat Jambore tahun ini, itu yang berbeda. Belum tentu di Jambore 2024 (kalau pun boleh karena bertepatan dengan tahun panas politik), komika yang saya ingin lihat penampilannya itu akan tampil lagi. Bagaimana kalau hanya komika-komika baru yang saya tidak terlalu suka. Saya melewatkan kesempatan. Itu satu.
Lalu, kedua, saat ini, dunia standup komedi Indonesia adalah satu-satunya hal yang paling menarik minat dan perhatian saya. Hanya itu yang ada di pikiran saya, selain rutinitas pekerjaan sehari-hari. Tidak ada lagi. Bagaimana mungkin saya tidak memperjuangkan satu-satunya hal yang saya inginkan sepanjang tahun ini.
Jadi, saya belajar beberapa hal hari ini. Pertama, jangan pernah abaikan keinginan terbesarmu. Seorang kawan bilang, keinginan itu sama dengan mimpi. Ah, beda, kata saya. Tapi sekarang rasanya kok iya juga ya? Apa pun yang bisa kamu lakukan untuk menggapai keinginan atau mimpimu, meski membuatmu berpikir dan berjuang lebih keras, jangan malas. Meskipun membuatmu kehabisan uang dan berutang (oke, ini berlebihan sih, jika sudah memutuskan pergi pasti ada dana cukup), toh uang masih akan datang lagi dan bisa dikelola dengan lebih baik lagi. Kedua, jangan membatasi diri dengan pikiran dan kekhawatiranmu sendiri. Memangnya kenapa kalau harus naik Lion? Ketiga, jangan pernah melewatkan kesempatan yang datang dengan berpikir nanti masih ada lagi. Ya kalau ada? Bagaimana jika tidak? Keempat, jangan selalu berpikir kita dapat membaca pertanda apalagi merasa itu tanda dari Tuhan. Tidak dapat tiket presale mikir, mungkin ini isyarat Tuhan bahwa sebaiknya saya tidak usah datang saja. Rasanya, Tuhan memberikan banyak pilihan, yang penting kita tahu batas dan jalan yang tidak aneh-aneh.
Terakhir, jangan pernah takut ambil risiko karena takut menyesal. Karena, anggap saja kemarin saya jadi ke Jogja dan ke hutan pinus itu, apa sih kemungkinan terburuknya? Gatal karena kena ulat bulu? Kembung karena kedinginan? Kecapekan? Semua bisa diatasi. Minggu datang dari Jogja, Senin kerja, Kamis kemo terakhir. Nanti kalau sakit bagaimana, drop bagaimana? Ya dibuat jangan sampai drop. Karena, misalnya pun saya jadi ke Jogja dan datang ke Jambore, jika ada yang saya sesali, setidaknya saya sudah mendapat pengalaman terbaik dalam hidup saya. Melihat penampilan komika idola saya secara langsung. Satu-satunya hal yang saya inginkan saat ini. Daripada di rumah saja tidak mendapat apa-apa, malah sangat menyesal. Harusnya saya lebih berani ambil risiko, toh semuanya sudah terencana. Seriously, I never regret anything in my life. But now, I regret.
메타데이터
- post_id
- 30bbcb97a5e4
- slug
- just-face-it-do-it-take-all-the-risk-30bbcb97a5e4
- url
- https://medium.com/@ctnovieta/just-face-it-do-it-take-all-the-risk-30bbcb97a5e4
- canonical_url
- https://medium.com/@ctnovieta/just-face-it-do-it-take-all-the-risk-30bbcb97a5e4
- author_url
- https://medium.com/@ctnovieta
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 16:11:00