Menggugat Maskulinitas, Memulihkan Posisi Perempuan: Menakar Ulang Relasi Gender dalam Peradaban…
Oleh: Tim PORAK (Podcast Rakyat) — Triyasacitya
Menggugat Maskulinitas, Memulihkan Posisi Perempuan: Menakar Ulang Relasi Gender dalam Peradaban Sunda Kuna
Oleh: Tim PORAK (Podcast Rakyat) — Triyasacitya
Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi merupakan sebuah paradoks. Bagaimana mungkin institusi yang digadang-gadang sebagai puncak intelektualitas justru menjadi ruang di mana penghormatan terhadap martabat manusia runtuh? Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang fundamental dalam memandang relasi gender.
Dalam obrolan terbaru PORAK (Podcast Rakyat), Kang Topik Mulyana membedah bagaimana naskah-naskah Sunda Kuna sebenarnya telah menyediakan fondasi etika yang sangat ketat sekaligus progresif dalam mendudukkan posisi perempuan.

Topik Mulyana (narasumber) dan Seny Soniaty (host)
Etimologi Pamajikan: Antara Penghormatan dan Domestikasi
Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah dekonstruksi kata pamajikan. Dalam bahasa Sunda modern, istilah ini sering kali terdistorsi maknanya menjadi sekadar pasangan domestik. Namun, secara etimologi dalam naskah kuno, pamajikan berasal dari kata “majikan”.
Hal ini menyiratkan sebuah struktur sosial di mana istri adalah “pimpinan” dalam ranah rumah tangga. Posisi suami bukan sebagai penguasa absolut, melainkan sebagai partner yang menaruh hormat setinggi-tingginya kepada sang “majikan” rumah tersebut. Ketika seorang suami melakukan kekerasan atau pelecehan, ia sebenarnya sedang meruntuhkan tatanan yang telah ditetapkan oleh leluhurnya sendiri.
Sunan Ambu dan Supremasi Feminin dalam Kosmologi
Budaya Sunda tidak menempatkan sosok maskulin sebagai otoritas tunggal di puncak semesta. Kang Topik menjelaskan bahwa dalam struktur Buana Nyungcung (alam tertinggi), sosok yang memegang kendali visi dan misi kehidupan adalah Sunan Ambu.
Dalam cerita pantun Lutung Kasarung, Sunan Ambu digambarkan sebagai konseptor. Dialah yang memberikan restu, menentukan takdir, dan membekali tokoh laki-laki (Lutung Kasarung/Guruminda) untuk turun ke dunia. Tanpa intervensi dan kecerdasan Sunan Ambu, gerak sejarah dalam mitologi Sunda tidak akan berjalan. Ini membuktikan bahwa dalam alam pikiran Sunda, perempuan adalah sumber kebijaksanaan (knowledge) dan legalitas.
Penjaga Gerbang Langit: Perempuan dalam Naskah Sri Ajniana
Detail menarik lainnya muncul dari naskah Sri Ajniana. Di sana digambarkan bahwa perjalanan menuju kesucian harus melewati berbagai lapisan buana atau surga yang masing-masing dipimpin oleh pimpinan perempuan.
Para pemimpin perempuan ini bukan sekadar penghias, melainkan penguji. Mereka melakukan dialog intelektual dan spiritual dengan tokoh utama (Sri Ajniana) untuk memastikan apakah ia layak naik ke level berikutnya. Ini menegaskan bahwa otoritas spiritual dan intelektual di masa lalu, terutama dalam kebudayaan Sunda, tidak dimonopoli oleh laki-laki.
Kode Etik dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Jika kita bicara tentang pencegahan kekerasan seksual, naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) yang ditulis pada tahun 1518 Masehi telah mengaturnya secara eksplisit. Naskah ini mencatat beberapa larangan keras bagi laki-laki:
- Dilarang mengganggu perempuan yang sudah bersuami atau memiliki pasangan.
- Dilarang berduaan di tempat sepi (ngarangsang) yang dapat menimbulkan fitnah atau tindakan asusila.
- Dilarang melakukan kontak fisik yang tidak diinginkan.
Barangsiapa yang melanggar ketentuan ini, naskah SSKK memberikan peringatan spiritual yang keras: mereka akan terjatuh ke dalam neraka Mergawijaya. Ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap tubuh dan ruang pribadi perempuan adalah bagian dari ketaatan beragama dan bermasyarakat di masa Sunda Kuna.
Intelektualitas Perempuan: Dari Batari Hyang hingga Buyut Ni Dawit
Secara historis, perempuan Sunda juga memegang kendali di sektor publik, khususnya di lembaga pendidikan (Karesian). Kita mengenal sosok Batari Hyang yang memimpin pusat keagamaan dan pendidikan di Galunggung. Ada pula Buyut Ni Dawit, seorang intelektual perempuan yang menulis naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian itu sendiri.
Hal ini mematahkan stigma bahwa perempuan Sunda hanya berkutat di ranah domestik (dapur, sumur, kasur). Sebaliknya, mereka adalah penulis, pendidik, dan pemimpin spiritual yang menentukan arah peradaban.
Penutup
Kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi saat ini adalah alarm bahwa kita sedang mengalami “amnesia budaya”. Kita mengadopsi struktur patriarki yang kaku dan meninggalkan akar budaya kita yang sangat memuliakan perempuan.
Dengan menengok kembali pada ajaran Siksa Kandang Karesian dan memosisikan kembali perempuan sebagai “majikan” atas dirinya sendiri, kita sebenarnya sedang melakukan upaya restorasi peradaban yang lebih beradab dan setara.
Artikel ini disadur dari diskusi Podcast Rakyat (PORAK) Episode 16. Tonton video lengkapnya di YouTube channel **Triyasacitya**.
[embed]
메타데이터
- post_id
- 30d38e892145
- slug
- menggugat-maskulinitas-memulihkan-posisi-perempuan-menakar-ulang-relasi-gender-dalam-peradaban-30d38e892145
- url
- https://medium.com/@triyasacitya/menggugat-maskulinitas-memulihkan-posisi-perempuan-menakar-ulang-relasi-gender-dalam-peradaban-30d38e892145
- canonical_url
- https://medium.com/@triyasacitya/menggugat-maskulinitas-memulihkan-posisi-perempuan-menakar-ulang-relasi-gender-dalam-peradaban-30d38e892145
- author_url
- https://medium.com/@triyasacitya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 22:23:26