← Back to list

Menulis Ulang

Melihat tulisan orang-orang di Medium ini, kadang menjadikan satu hal yang kadang bisa membuat rasa ingin menulis kembali dan kembali…

Gizan__ · 2026-01-16 14:17 · 0 claps · 2.7 min read
#stories #cerita #kisah-hidup #sma
Open on Medium ↗

Menulis Ulang

Melihat tulisan orang-orang di Medium ini, kadang menjadikan satu hal yang kadang bisa membuat rasa ingin menulis kembali dan kembali, walau kadang apa yang di tulis tidak berarti. Kadang ingin menertawakan semua apa yang ada di dalam lingkar kepala, mulai dari mana, berakhir dari mana, begitu setiap ingatan yang hadir untuk memulai bercerita, namun ada sebagian mengatakan, tulis saja dulu, editing nanti, entah siapa yang membaca, terserah, bahkan tidak ada yang membaca sekalipun, tulisan tetaplah tulisan yang pada suatu saat nanti akan menjadi kenangan tersendiri bagi si penulisnya. Kisah di mulai dari kata MENULIS ULANG, yang sebenarnya, setiap cerita sudah aku ceritakan di sebuah blog yang tidak pernah ada pembacanya, namun di situ, rasanya aku bisa menemukan ketenangan tersendiri. Yeach, kadang orang berkata bahwa menulis ada sarana untuk menyampaikan emosi dengan kata-kata yang tersusun dengan baik dan benar, namun adakalanya menyusun kata tesebut menjadi hal yang sangat berat untuk dilaksanakan dan di rapikan, tidak mengapa, asal apa yang tertulis tetaplah tertulis. Tidak ada pembaca? tidak mengapa aku rasa, tidak mengapa juga tidak ada yang melirik, namun sebenarnya, ini tulisan apa?? kadang bertanya seperti itu adalah hal yang wajar dalam setiap tulisan. MENULIS ULANG DARI AWAL. Prolog diatas cukup tidak menjelaskan apa yang ingin di sampaikan oleh diri saya pada kalian, semoga kalian pening dengan prolog tersebut, dan semoga kalian tidak bisa menangkap apa yang ingin di sampaikan oleh saya melalui prolog tersebut. 2002, tahun dimana aku sering menceritakan pada teman-temanku bagaiman aku memuli kehidupan seperti orang dewasa pada umumnya, bagun tidur jam 5, ke sungai di belakang rumah untuk mandi, memakai seragam SMA, pergi ke pinggir jalan raya dan menunggu angkutan umum pedesaan (bendi / benhur / cidomo), jam 6 harus sudah ada di jalan raya, lewat 10 menit sudah di pastikan akan telat sampai di sekolah. Lepas dari angkot pedesaan tersebut, kendaraan umum lainnya adalah lanjutan untuk sampai di sekolah, 50 menit di jalanan tanpa gedget seperti saat sekarang, hanya memandang wajah teman-teman di dalam angkot, bercanda tanpa tawa, bercerita tanpa akspresi adalah hal biasa yang dilakukan oleh kami pada saat itu, dan itu sudah biasa setiap harinya. Di sekolah, bertemu dengan teman-teman, belajar sewajarnya anak sekolah SMA yang lainnya, tidak mengikuti kompetisi ini itu, hanya di sekolah, tidak pernah ikut pramuka atau sejenisnya, tidak pernah membolos, bahkan hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh guru di sekolah, nikmat mana lagi yang harus di dustai dengan itu semua? jam 12 atau jam 1 siang, selepas sekolah, pulang bersama teman-teman, jalan kaki 1Km dari sekolah menuju tempat mangkal angkot, haha hihi kadang sering berlari kecil kejar-kejaran bersama teman, saling mengolok bahkan ada yang sengaja mencari masalah dengan teman lainnya, kisah yang tidak bisa di lupakan. Hari yang dijalani pada saat itu adalah kenangan yang pantas untuk di ceritakan untuk saat sekarang, sangat pantas untuk di ceritakan kepada generasi yang akan melanjutkan kehidupannya di atas tanah ini. Hahaha ijinkan saya mengagumi sejenak kenangan tersebut, ijinkan saya untuk mengingat semua kisah tersebut yang akan menjadi satu kenangan abadi. NAMANYA FADILATULQADARIAH (almh, 2018) sebelum nama tersebut hadir menjadi sebuah nama yang pantas untuk di kenang, ada satu nama yang sempat menggantikan nama tersebut, ROSDIANA, ah ini kisah yang akan panjang nantinya untuk di ketik di halaman ini, aku singkat saja, nanti aku cerita di halaman selanjutnya bagaimana ROSDIANA menggantikan FADILA :) Selepas sekolah, bersama teman-teman pergi ke tempat mangkal angkot, di jalan kami berkelompok, lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan, tidak boleh bercampur baur. 2002, berceletuklah seorang teman, “han, kamu sama ani, manter sama mar’ah, aku sama rahmi, hila (aku) sama fadila, deal?!!” kami hanya menyahut “deal” secara bersamaan di bawah pohon peringin halaman sekolah. kelas kami antara lelaki dan perempuan sengaja di pisah oleh pihak sekolah, karena peraturan dari negara, begitu katanya, kamilah di angkatan pertama yang merasakan pisah kelas tersebut. bertemu dengan orang-orang yang sudah di atur oleh temanku tadi ketika pulang sekolah, kelompok wanita berjalan sendiri, kami lelaki berjalan sendiri, jarak selempar batu kata orang dahulu, namun kami menikmatinya. Disitulah pada awal saling mengenal dengan intens, tidak ada SMS, tidak jemput sana sini, tidak ada “ngapel”, tidak ada “dia pacar aku” yang ada hanya “jangan ganggu dia, dia sudah ada pacar”. Saling mengerti dan memahami antar teman dan kawan, saling memahami antar sahabat. ___ to be continue


메타데이터
post_id
30eb669f08b5
slug
menulis-ulang-30eb669f08b5
url
https://medium.com/@gizan__/menulis-ulang-30eb669f08b5
canonical_url
https://medium.com/@gizan__/menulis-ulang-30eb669f08b5
author_url
https://medium.com/@gizan__
status
ok
fetched_at
2026-06-14 11:28:49