Makna Tanah dalam Al-Qur’an, Dosen UM Bandung Beri Pencerahan
Bandung — Manusia berasal dari tanah. Selama ini, pernyataan tersebut kerap dipahami sebatas penjelasan tentang asal-usul penciptaan…
Makna Tanah dalam Al-Qur’an, Dosen UM Bandung Beri Pencerahan

Bandung — Manusia berasal dari tanah. Selama ini, pernyataan tersebut kerap dipahami sebatas penjelasan tentang asal-usul penciptaan manusia.
Padahal, Al-Qur’an menggunakan beragam istilah untuk menyebut “tanah”, yang masing-masing mengandung makna filosofis dan menjadi gambaran perjalanan hidup manusia.
Hal itu disampaikan Dosen UM Bandung sekaligus Ketua DKM Masjid Raya Mujahidin PWM Jawa Barat Ihsan Imaduddin dalam kajian GSM Aisyiyah Jawa Barat bertajuk Menyelami Variasi Kata Tanah sebagai Bahan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an, Selasa lalu.
Menurut Ihsan, Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan proses biologis penciptaan manusia.
Namun, menghadirkan pelajaran psikologis, sosial, spiritual, hingga ilmiah yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.
Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah SWT pada QS Al-Mu’minin ayat 12, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
“Beragam istilah tanah dalam Al-Qur’an bukan sekadar variasi bahasa. Setiap istilah memiliki karakteristik dan makna yang menggambarkan proses pembentukan sekaligus perjalanan hidup manusia,” ujar Ihsan.
Ia menjelaskan, istilah thin atau tanah liat menggambarkan fitrah manusia yang masih lentur dan mudah dibentuk.
Sebagaimana tanah liat yang lunak, manusia sejak lahir memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik melalui pendidikan dan lingkungan yang tepat.
Selanjutnya, thin lazib atau tanah liat yang lengket melambangkan pentingnya membangun hubungan antarmanusia melalui kasih sayang, persaudaraan, gotong royong, dan solidaritas.
Di sisi lain, manusia juga diingatkan agar tidak terlalu melekat pada kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan hidup yang hakiki.
Istilah sulalah, yang berarti sari pati atau esensi terbaik dari tanah, menunjukkan bahwa setiap manusia telah dianugerahi potensi terbaik oleh Allah SWT.
Potensi tersebut harus dikembangkan melalui ilmu, amal, dan akhlak sehingga mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Sementara itu, shalshal atau tanah kering seperti tembikar menggambarkan fase kedewasaan.
Pada tahap ini manusia dituntut memiliki prinsip hidup yang kuat, namun tetap terbuka terhadap nasihat dan perubahan menuju kebaikan.
Adapun turab atau pasir mengingatkan manusia akan asal-usulnya yang sederhana.
Setinggi apa pun jabatan, ilmu, ataupun harta yang dimiliki, semuanya bermula dari tanah dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
Kesadaran inilah yang melahirkan sikap tawadhu’ dan menjauhkan manusia dari kesombongan.
Ihsan juga menjelaskan makna hama’in masnun, yaitu tanah hitam yang telah dibentuk.
Menurutnya, istilah ini menggambarkan proses pembentukan karakter melalui berbagai pengalaman hidup, termasuk kegagalan, luka, dan trauma.
Jika disikapi dengan baik, setiap ujian justru menjadi sarana pendewasaan yang melahirkan pribadi lebih tangguh dan bijaksana.
“Manusia merupakan makhluk yang utuh dengan dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkaitan,” ujarnya.
“Memahami asal-usul penciptaan manusia menjadi pengingat agar kita menjaga kelembutan hati, membangun hubungan sosial yang sehat, mengembangkan potensi diri, serta menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT,” jelasnya.
Ihsan menegaskan bahwa kekayaan bahasa Al-Qur’an bukan hanya menunjukkan keindahan sastra, melainkan menyimpan hikmah yang luar biasa bagi kehidupan.
Enam variasi kata “tanah” menggambarkan perjalanan manusia, mulai dari fitrah yang suci, membangun kepedulian sosial, mengembangkan potensi, menempa kedewasaan, menjaga kerendahan hati, hingga mengubah setiap ujian menjadi kekuatan.
Oleh karena itu, menurutnya, memahami Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada makna tekstual semata.
Lebih dari itu, setiap muslim perlu menggali pesan-pesan yang terkandung di dalamnya agar mampu membentuk karakter sebagai pribadi yang beriman, berilmu, rendah hati, dan senantiasa memberikan manfaat bagi sesama.***
메타데이터
- post_id
- 31044b8b7d52
- slug
- makna-tanah-dalam-al-quran-dosen-um-bandung-beri-pencerahan-31044b8b7d52
- url
- https://medium.com/@ferianugrah212/makna-tanah-dalam-al-quran-dosen-um-bandung-beri-pencerahan-31044b8b7d52
- canonical_url
- https://medium.com/@ferianugrah212/makna-tanah-dalam-al-quran-dosen-um-bandung-beri-pencerahan-31044b8b7d52
- author_url
- https://medium.com/@ferianugrah212
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 04:10:03