Udang yang Tak Terbeli
Suatu siang saya berbelanja di sebuah toko serba ada. Ketika di bagian protein hewani, ada satu orang laki-laki berdiri di dekat saya, dari…
Udang yang Tak Terbeli
Suatu siang saya berbelanja di sebuah toko serba ada. Ketika di bagian protein hewani, ada satu orang laki-laki berdiri di dekat saya, dari penampilannya tampak seperti seorang mahasiswa, masih muda. Kami tidak saling menyapa karena memang tidak kenal satu sama lain, tapi kami memperhatikan hal yang sama, yaitu udang. Ditulis di sana, udang yang masih utuh dengan cangkangnya, yang ukurannya tidak seberapa besar, dihargai sekitar Rp 8000 sekianper 100 gramnya. Berarti sekilo sudah Rp 80.000,- lebih. Saya menaruh kembali kemasan udang tersebut, begitupun si mahasiswa.
Entah kenapa, saya tertarik dengan apa yang akan dibelinya, jadi saya berlama-lama di sana, pura-pura melihat-lihat. Saya akhirnya memilih sayap ayam seharga Rp 19.320,- yang berisi 5 sayap ayam ukuran sedang, sedangkan mahasiswa itu memilih hati ayam, saya tidak melihat harganya berapa, tapi pastinya tidak terlalu jauh dibanding sayap ayam yang ada di keranjang belanja saya, dan tidak lebih mahal daripada udang yang hanya kami lihat dan lewati.
Ah, zaman sekarang, dengan kondisi ekonomi seperti ini, semakin banyak barang yang tidak terbeli. Udang memang enak, apalagi dimasak asam manis, tapi sekilo udang, harganya hampir sama dengan dua kilo ayam.
메타데이터
- post_id
- 310bfa7238c5
- slug
- udang-yang-tak-terbeli-310bfa7238c5
- url
- https://medium.com/@miarahmad/udang-yang-tak-terbeli-310bfa7238c5
- canonical_url
- https://medium.com/@miarahmad/udang-yang-tak-terbeli-310bfa7238c5
- author_url
- https://medium.com/@miarahmad
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13