Ki Ageng Suryomentaram (plato nya jawa)
Di tengah gemerlap darah biru dan kehidupan keraton, lahirlah seorang anak bernama Raden Mas Kudiarmadji — yang kelak dikenal sebagai Ki…
Ki Ageng Suryomentaram (plato nya jawa)

Di tengah gemerlap darah biru dan kehidupan keraton, lahirlah seorang anak bernama Raden Mas Kudiarmadji — yang kelak dikenal sebagai Ki Ageng Suryomentaram. Putra dari Hamengkubuwana VII ini tumbuh dalam kemewahan, tetapi justru memilih jalan sunyi: meninggalkan gelar, meninggalkan istana, dan mendekat pada pertanyaan paling mendasar dalam hidup manusia — mengapa dan kenapa manusia menderita?
Dari pencariannya lahirlah ajaran Kawruh Jiwa, dan salah satu pembahasan terpentingnya adalah tentang lingkaran rasa senang dan susah.
Manusia Hidup dalam Lingkaran Rasa Senang dan Susah
Menurut Ki Ageng Suryomentaram, hidup manusia tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dalam lingkaran rasa: senang, lalu susah. Selesai susah, muncul senang. Setelah senang, datang lagi susah. Begitulah seterusnya.
Kita merasa bahagia ketika keinginan tercapai, namun tak lama kemudian, muncul keinginan baru, kita merasa sedih ketika kehilangan sesuatu. Namun beberapa waktu kemudian, kita terbiasa, lalu menemukan harapan lain. Tidak ada rasa yang menetap, semua bergerak.
Beliau mengamati bahwa manusia sering keliru: kita mengira senang adalah tujuan akhir, dan susah adalah musuh yang harus dimusnahkan. Padahal keduanya hanyalah bagian dari gerak alami jiwa.
Seperti siang dan malam.
Seperti pasang dan surut.
Seperti hidup dan mati.
Mengapa Kita Terjebak?
Ki Ageng Suryomentaram menjelaskan bahwa penderitaan muncul bukan karena rasa susah itu sendiri, tetapi karena kita ingin rasa senang itu menetap selamanya.
Kita ingin: dihormati terus-menerus, dipuji tanpa henti, berhasil tanpa gagal, dicintai tanpa risiko kehilangan, Padahal, dalam hukum rasa, itu mustahil.
Rasa senang tidak bisa dipaku, rasa susah tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Ketika kita tidak memahami lingkaran ini, kita akan terus mengejar bayangan — dan lelah tanpa sadar.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era media sosial, lingkaran rasa ini terasa semakin cepat. Hari ini kita merasa senang karena unggahan kita mendapat banyak apresiasi. Besok kita merasa susah karena tidak lagi diperhatikan. Atau hari ini kita bangga dengan pencapaian, besok kita gelisah karena melihat pencapaian orang lain. Lingkaran itu semakin cepat berputar. Dan manusia modern sering kali tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Di sinilah ajaran Ki Ageng Suryomentaram menjadi sangat relevan:
Bukan untuk menghapus rasa senang atau susah, tetapi untuk memahami geraknya.
Memahami, Bukan Melawan
Beliau tidak mengajarkan untuk membenci keinginan, tidak pula menyuruh manusia menjadi pasif. Yang beliau ajarkan adalah pengamatan.
Amati rasa senang saat ia datang.
Amati rasa susah saat ia hadir.
Sadari bahwa keduanya akan pergi.
Ketika seseorang benar-benar memahami bahwa hidup hanyalah lingkaran rasa, maka ia tidak lagi panik saat susah datang, dan tidak pula terlalu mabuk ketika senang hadir. Ia menjadi lebih tenang, bukan karena hidupnya tanpa masalah, melainkan karena ia memahami hukum gerak jiwa.
Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan istana bukan karena membenci kemewahan, tetapi karena beliau melihat bahwa baik kemewahan maupun kesederhanaan tetap berada dalam lingkaran rasa yang sama.
Senang dan susah hanyalah tamu.
Datang dan pergi.
Dan manusia yang mengenal lingkaran itu akan lebih dekat pada kebijaksanaan.
메타데이터
- post_id
- 3111f76dfbab
- slug
- ki-ageng-suryomentaram-plato-nya-jawa-3111f76dfbab
- url
- https://medium.com/@rhmnkhfd563/ki-ageng-suryomentaram-plato-nya-jawa-3111f76dfbab
- canonical_url
- https://medium.com/@rhmnkhfd563/ki-ageng-suryomentaram-plato-nya-jawa-3111f76dfbab
- author_url
- https://medium.com/@rhmnkhfd563
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08