SOUND OF THIS GENERATION "Lagu Peradaban lebih keras dari lagu metal manapun, dia geram sampai ke…
SOUND OF THIS GENERATION "Lagu Peradaban lebih keras dari lagu metal manapun, dia geram sampai ke bass-bassnya."

Baskara Putera
Siapa yang masih ingat pernyataan barusan? Gue rasa elu semua ada yang ketawa atau berpikir, "Ini siapa sih, ngehe banget." Orang itu adalah Baskara Putra atau Hindia. Namun, kita gak bahas soal pernyataan kontroversial barusan. Gue mengenal .Feast awal-awal kuliah, kalau gak semester satu ya semester empat. Gue ingat dalam perjalanan gue bareng abang-abangan, Aswin Nugroho pernah bersabda: band ini bakal gede. Dan benar saja, Peradaban seolah jadi anthem rebel saat itu; liriknya keras dan tajam. Baskara seolah punya cara sendiri untuk "menampar" dari apa yang dia baca atau dia amati.

berawal dari segmented mereka menyentuh tiap lini
Tapi saat dia merilis proyek solo lewat album Menari Dengan Bayangan, lagu-lagu awalnya macam Rumah ke Rumah atau Secukupnya—dibanding marah-marah dan meledak—malah terasa personal. Ia seolah menguliti diri sendiri. Seperti musisi yang punya ciri khas, Hindia punya cara sendiri men-deliver lagu-lagunya dengan lebih personal.

alter ego nya rupanya
Lagu Cincin jadi favorit gue di album kedua. Dan di Black Dove, dia punya materi jagoan menurut gue. Dia bikin lagu tentang kucingnya, seberapa kehilangan dia akan kucingnya. Gue relate banget karena gue baru aja ditinggal dua anabul gue, Embil dan Cimut. Dan salah satu yang bikin gue kembali terkejut adalah proyek Lomba Sihir-nya bareng Enrico dkk. Apa lagi ini? Gue pikir benang merahnya tetap perenungan, namun lu bisa joget. Lomba Sihir bukan orang-orang baru; beberapa dari mereka bahkan ikut tampil di sesi live session atau festival bareng Baskara. Lagu Semua Orang Pernah Sakit Hati dan lainnya nyantol banget di kuping gue.

another alter ego Lomba Sihir
Baskara itu, padahal menulis lirik yang cenderung tidak terlalu memakai metafora, tapi itu cerdasnya dia. Lo bisa dengar o, Tuan yang jauh dari gaya .Feast umumnya. Di album Membangun dan Menghancurkan, lu bisa simak materi-materi jagoan kayak Tarot atau anthem bapak-bapak keren, Nina.

Puncak Feast menembus khayalak luas .Sholeh Solihun pun memuji album ini .
.Feast dan dia yang dulu segmented, kini menembus semua kalangan. Gue bisa bilang layak sih dia menjadi Voice of Gen Z. Karena gue juga Gen Z—ya, Gen Z half Millennial lah hahahah. Orang-orang punya keresahan mungkin dengan lingkungan atau circle-nya; materi-materi ini menembus spektrum emosi mereka yang lelah karena dituntut serba cepat, belum lagi sindirannya soal lifestyle. Kemarahan soal negara? Jangan tanya lagi. 2025 dengan carut-marutnya seolah menjadikan .Feast sebagai theme song-nya. Oke, mungkin itu dari gue. Ini gak akan lengkap karena gue cuma bicara dari POV gue sendiri. Soal topik apa lagi yang kita bahas, lu bisa baca di kanal Medium gue. Adios! (Tenggeng)
메타데이터
- post_id
- 31f8f7e5f29d
- slug
- sound-of-this-generation-lagu-peradaban-lebih-keras-dari-lagu-metal-manapun-dia-geram-sampai-ke-31f8f7e5f29d
- url
- https://medium.com/@tenggengsedjak2017/sound-of-this-generation-lagu-peradaban-lebih-keras-dari-lagu-metal-manapun-dia-geram-sampai-ke-31f8f7e5f29d
- canonical_url
- https://medium.com/@tenggengsedjak2017/sound-of-this-generation-lagu-peradaban-lebih-keras-dari-lagu-metal-manapun-dia-geram-sampai-ke-31f8f7e5f29d
- author_url
- https://medium.com/@tenggengsedjak2017
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29