wanci wening — tentrem yang gaduh
wanci wening — tentrem yang gaduh

SORE itu langit terlihat seperti lukisan. Warna oranye mendominasi dengan sedikit gradasi violet sebagai sentuhan. Begitu cantik untuk dipandang.
Dan di sudut cafe tepat di sisi jendela yang menyajikan langit membentang, duduklah seorang laki-laki dalam balutan kemeja flanelnya. Adikara Banyu Laksana.
Berkali-kali mata hitam legam itu menyapu area. Pada pintu cafe setiap kali dentingnya berbunyi dan pada langit sore yang menyajikan keindahan duniawi. Sesekali tangannya mengaduk kopi yang tinggal setengah. Dalam heningnya, dia seperti sedang menunggu. Menunggu seseorang — yang menurut otaknya bahkan mustahil — muncul di hadapan.
Sejujurnya, dia sendiri tidak begitu mengerti apa yang tengah dilakukannya. Membeli kopi dan satu potong cheesecake. Adi bahkan tak begitu menyukai rasa manis. Tapi dengan kesadaran penuh, dia beli makanan yang bahkan dari tampilannya saja sudah terasa begitu manis.
Satu kali Adi menghela napas.
“Ini konyol,” gumamnya pelan.
Adi itu … bukan sekali dua kali melakukan ini. Tapi berkali-kali. Mengusahakan banyak hal hanya agar Mahesa mau melihat ke arahnya. Dan selalu berbuah gagal. Hanya karena … Adi tanpa sengaja terlibat pada sesuatu yang begitu ingin Mahesa hapus. Termasuk jejak orang-orang yang pernah ada di dalam sana. Dan Adi salah satunya.
Laki-laki itu kini menunduk, menatap meja yang di atasnya ada kopi juga cheesecake. Cheesecake yang sama dengan yang dia titipkan kepada Ical. Adi kali ini tak bisa membaca apa langkah yang akan Mahesa ambil. Sebab sejak lebih dari enam bulan mengusahakan laki-laki manis itu, baru kali ini Mahesa mau menerima pemberiannya.
Ada rasa senang juga takut yang bersarang di dalam dada.
Biasanya ketika dia memberikan sesuatu, Mahesa akan mendatangi Adi dengan secepat kilat. Hanya untuk memarahinya atau yang terburuk adalah mengembalikan pemberiannya. Tapi kali ini, Mahesa menerima pemberian itu. Dan sudah satu jam dia di sini, tak ada Mahesa yang mendatanginya. Apakah itu artinya Mahesa mau sedikit membuka diri untuknya? Atau justru … ini hanyalah bentuk penolakan lain yang lebih bisa membuatnya benar-benar berhenti?
Lantas Adi memejamkan mata dan lebih menyandarkan punggung pada penyangga kursi. Sedikit memijat pangkal hidung sebab pening melanda. Terlalu banyak berpikir pada sesuatu yang sama selama berbulan-bulan.
“Apa yang kamu lakuin ke aku sih, Sa?”
Di detik itu juga denting pintu cafe kembali berbunyi. Tapi kali ini, Adi tak berniat mengecek siapa yang masuk. Adi hanya masih terlalu tenggelam pada pikirannya.
Sampai semerbak wangi parfum yang dia kenali, tercium nyata oleh penghidunya dan tanpa sadar bahunya yang semula tegang, jatuh sedikit. Seolah si tubuh lebih dulu mengenali kehadiran itu dibanding pikirannya
Adi sedikit mengintip dari pejam matanya dan senyum kemudian merekah tak terbendung di bibir tipis itu. Dengan cepat mengubah posisi duduk, pun menatap mata yang memantulkan jingga langit di luar sana. Cantik.
“Hai, Hesa?” Sapa itu mengalun lembut. Jelas tak bersambut seperti biasanya.
Mahesa masih bergeming di tempatnya berdiri. Memandang lekat pada Adi yang senyumnya masih betah bertengger di sana.
Jujur, Mahesa tidak pernah mengerti. Apa sebetulnya yang Adi lihat darinya sampai rasanya begitu gigih menggapai dia. Padahal, laki-laki ini begitu tampan. Teman di mana-mana. Tiap saat, ada saja surat cinta yang sampai padanya. Tapi kenapa Adi lebih memilih membuang waktu kepadanya. Tidak masuk akal.
Lagipula, Mahesa itu sudah begitu rusak. Tidak akan pernah cocok jika harus berdampingan dengan seorang Adi yang begitu diagungkan orang-orang.
Mahesa lalu menghela napas lelah. Bersamaan dengan tangannya yang meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu di atas meja milik Adi. Jelas membuat Adi mengernyit di duduknya.
“Ini apa?” tanyanya heran.
“Untuk cheesecake yang kamu titip ke Ical,” jawab Mahesa tegas. “Lain kali gak perlu repot,” sambungnya lagi.
Ada jarak hening setelah itu. Tapi Mahesa tak membiarkan hening itu makin lama menenggelamkannya. Lantas dia memilih berbalik untuk kembali pulang.
“Hesa,” Satu panggilan itu tak lantas membuat langkah Mahesa terhenti. Sampai ketika kakinya benar-benar menapaki pelataran cafe, tangannya berhasil dijegal. Adi tepat berada di belakangnya.
“Please don’t do this.” Suara Adi terdengar begitu memohon.
Lagi-lagi Mahesa menghela napas. Kalau boleh jujur, jantungnya kini berdetak terlalu cepat. Cepat dengan cara yang dia benci karena terasa … familier. Hanya karena merasakan hangat menggulung pergelangan tangannya. Maka dengan perlahan, dia lepaskan genggaman itu.
“Maaf,” cicit Adi. Barangkali dia menyadari telah secara impulsif menggenggam tangan Mahesa.
“Tapi tolong jangan kayak gini. Jangan ngasih aku uang kayak gini.”
Dalam hati, Mahesa bingung. Kalau bukan ingin diganti uang, lalu Adi ini ingin diganti dengan apa? Oh atau Adi lebih ingin takluknya Mahesa sebagai imbalan?
“Kenapa?” tanya Mahesa akhirnya.
Adi sejenak menunduk. Atau lebih terlihat merajuk?
“Aku malah jadi kayak yang jualan cheesecake kalau gitu.”
Sejenak Mahesa ingin tertawa mendengar itu. Tapi tentu saja dia tahan. Lebih memilih berpikir, apa yang sebaiknya dia lakukan jika bukan dengan mengembalikan uang?
Kalau bukan uang, berarti harus ada cara lain untuk tidak berhutang.
Matanya sedikit melirik ke area bar.
Oh mungkin ini lebih baik.
Dan tanpa menanggapi rajukannya Adi, Mahesa melenggang kembali ke dalam. Menuju bar. Sampai di sana, dia disambut senyum ramah baristanya, menanyakan apa yang bisa dibantu. Lalu Mahesa menunjuk satu menu; cheesecake. Ketika pesanan selesai, Mahesa kembali pada Adi, yang ternyata sedang memperhatikan apa yang Mahesa lakukan.
“Kalau uang gak mau, aku kembaliin yang sama persis kalau gitu,” Mahesa tatap jelaga Adi yang masih menatao lekat ke arahnya. “Kita impas sekarang,” sambung Mahesa lagi.
Satu kotak cheesecake itu berhasil mendarat di tangan Adi. Tanpa menunggu respons apa pun, Mahesa lebih dulu melarikan diri pada motornya dan pergi secepat yang dia bisa dari sana. Meninggalkan Adi pada tegun yang membingungkan sekaligus sedikit melegakan. Karena Mahesa masih seperti sebelumnya.
메타데이터
- post_id
- 3215a85b7a67
- slug
- wanci-wening-tentrem-yang-gaduh-3215a85b7a67
- url
- https://medium.com/@caramelcsalt/wanci-wening-tentrem-yang-gaduh-3215a85b7a67
- canonical_url
- https://medium.com/@caramelcsalt/wanci-wening-tentrem-yang-gaduh-3215a85b7a67
- author_url
- https://medium.com/@caramelcsalt
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-11 23:03:24