← Back to list

Alok dan Duka yang Dipercakapkannya

Semakin dekat kereta itu, semakin kuat tercium bau kembang kantil. Tidak lama kemudian kereta itu lewat di depannya. Kusir sibuk…

Margareth Ratih · 2026-02-09 12:30 · 9 claps · 4.0 min read
#ulasan-buku #alok #arie-saptaji #duka #kematian
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Alok dan Duka yang Dipercakapkannya

Dokumentasi Bawa Buku.

Dokumentasi Bawa Buku.

Semakin dekat kereta itu, semakin kuat tercium bau kembang kantil. Tidak lama kemudian kereta itu lewat di depannya. Kusir sibuk mengendalikan keempat kuda itu, putri cantik bermahkota di dalam kereta kencana, dan enam pengawal berkuda di belakanganya-lewat begitu saja, menatap lurus ke depan, tidak ada yang menoleh ke arahnya. Ia masih terpaku, tetapi matanya mengikuti kereta itu dan tiba-tiba ia tersentak sadar, nyaris pangling dengan pengawal paling belakang- atau, benarkah itu?

“Mas Santoooo!”

Kutipan ini diambil dari salah satu adegan di bab pertama novela Alok, yang sontak membuat saya berpikir ini buku fantasi horor. Sepertinya pembaca akan disuguhi petualangan mistis yang mendebarkan. Mungkin tentang penjelajahan dimensi tokoh-tokohnya. Juga mungkin tentang kekuatan supranatural yang mengadu daya kebajikan dan kebatilan. Imajinasi saya secepat itu bergerak ke sana kemari, membayangkan ledakan, kejutan, dan keriuhan yang dramatis menanti di bab-bab berikutnya.

Secara perlahan saya pun mengikuti alurnya dan ternyata semua dugaan itu tidak ada sampai ke halaman terakhir. Karya Arie Saptaji ini begitu sunyi tapi menghisap, mengajak pembaca masuk menjelajah ke dalam batin dan pikiran Pertiwi, seorang perempuan muda yang dikaruniai “kepekaan batin”. Meski begitu saya tak kecewa, karena justru mengikuti perjalanan Pertiwi yang senyap, membawa begitu banyak perenungan tentang relasi manusia yang kian renggang hari-hari belakangan ini.

Pertiwi dan keluarganya dikisahkan kehilangan anak lelaki satu-satunya dalam keluarga itu, Santoso. Remaja itu tergulung ombak saat dirinya berwisata dengan teman-teman sekolah ke pantai. Kehilangan yang begitu telak memukul keluarga ini, khususnya Pertiwi yang sangat dekat dengan Santoso. Kehilangan Santoso juga membuka babak baru dalam hidup Pertiwi kecil; ia mendadak jadi anak istimewa yang sepanjang novela ini disebut Arie Saptaji memiliki daya linuwih. Sebuah istilah dan paradigma yang lekat dengan keseharian kultur Jawa.

Kelebihan ≠ Superior

Indera keenam, mata ketiga, atau dalam buku ini disebut daya linuwih, seringkali saya persepsikan setidaknya pada dua hal; superioritas dan agresi. Tampaknya, pandangan ini terbentuk dari produk-produk budaya populer yang saya konsumsi sejak kanak-kanak. Setiap komik, novel, film, atau serial dengan tokoh yang memiliki kemampuan ini pasti diposisikan sebagai jagoan, ksatria, penyelamat orang banyak. Dan jagoan dengan kekuatan istimewa ini pasti dihadapkan pada kekuatan lain, yang biasanya jahat dan harus ditumpas. Apa yang disajikan kemudian adalah pertarungan agresif, maskulin, amat hitam putih, mereduksi kompleksitas persoalan.

Akan tetapi, proses Pertiwi bertumbuh dengan kekuatan itu ditambah satu per satu duka yang tak bisa ia hindari, telah menggeser persepsi saya tentang si indera keenam. Alih-alih ditampilkan sebagai superioritas yang agresif, Arie menempatkannya sebagai alat untuk mendengarkan, menapaki, dan merawat. Dalam perjalanan Pertiwi, ketiga hal ini tidak terjadi secara bertahap. Mereka bisa terjadi bersamaan, berpilin pintal.

Mendengarkan di sini tidak terbatas pada abilitas tubuh untuk menangkap elemen bunyi, tapi soal kepekaan mengenali tanda melampaui batas-batas indrawi. Kepekaan menangkap pertanda untuk bisa masuk jauh ke diri sendiri dan sekitar kita. Pertiwi mempertanyakan kemampuannya membaca pertanda buruk tapi tak mampu mencegahnya. Pertiwi juga mempertanyakan realitas yang berbeda dari nilai-nilai yang selama ini ia yakini lewat ajaran orangtuanya. Pada akhirnya setiap pertanyaan yang mengganggu itu hanya bisa terjawab oleh pengalaman hidup, kerelaan untuk menjalani ketidakpastian. Menariknya, Arie menjadikan duka sebagai instrumen penyadaran.

Dimulai dengan duka kehilangan Santoso yang membuka keran daya linuwih Pertiwi. Lalu satu per satu kematian bapak dan ibunya, menyingkap tabir lain dalam diri Pertiwi yang tidak ia sadari ada. Situasi-situasi yang tidak menyenangkan ini memaksanya untuk terus bertanya dan peka mendengarkan sembari merawat orang-orang yang dikasihi. Dengan kesadaran dan pengetahuan baru yang ia miliki, sedikit demi sedikit Pertiwi menapaki jalan yang tadinya tampak samar. Menapaki sambail terus mendengarkan dan merawat apa dan siapa saja. Hal ini tentu seturut dengan pilihan judul buku ini, Alok, yang salah satunya bermakna seruan, teriakan, permintaan tolong, dan peringatan bahaya.

Selain pilihan teknik menulis yang tidak neko-neko, saya pikir keputusan Arie untuk tidak menempatkan Pertiwi sebagai pahlawan, walaupun itu potensial, cukup berperan membuat novel ini tidak mempersepsikan indera keenam sebagai hal yang superior. Di akhir Pertiwi memang punya peranan penting untuk membawa Santoso “kembali”, tapi ia diceritakan hanya menjalani tuntunan lewat pertanda-pertanda, bukan jagoan tangkas yang tahu segalanya.

Pertiwi adalah fotografer lepas yang juga peka pada isu-isu sosial, tapi juga bukan aktivis yang berada di pusara gerakan. Saya senang mendapati pengalaman belajar Pertiwi di kampus ikut membentuk nalar kritisnya soal bagaimana menatap dan memperlakukan subjek-subjek karyanya. Ini hal yang penting digarisbawahi, mengingat fotografi adalah bidang penciptaan yang sarat praktik mengjobjektifikasi kerentanan kaum marginal.

Pertiwi tidak lepas dari realitasnya sebagai warga di negara dengan tata kelola yang problematis, tapi menyadari kapasitasnya yang mungkin belum cukup untuk berkontribusi secara sosial lebih jauh lagi. Tapi bukan berarti menjadikan tokoh ini aktivis adalah pilihan buruk. Kalau pun pilihan itulah yang dieksekusi, saya rasa tidak ada nilai yang beerurang, hanya pemaknaan atas Pertiwi dan kelebihannya akan jadi berbeda.

Duka yang Dipeluk dan Dibicarakan

Tiap duka meminta dikelola dengan ketabahan dan keikhlasan masing-masing

Duka menjadi elemen yang sangat penting dalam Alok. Bukan saja sebagai instrumen untuk Pertiwi mengenali dirinya, tapi juga untuk lebih dalam mengenali orang-orang di sekitarnya. Duka bapak-ibunya atas kehilangan Santoso membuat Pertiwi mempelajari dinamika perilaku mereka. Usai kematian orangtuanya, Pertiwi dan dua saudara kandung lainnya (Lintang dan Wening) mulai berani membicarakan duka, khususnya bagaimana tenggelamnya Santoso punya dampak berbeda pada masing-masing dari mereka. Juga bagaimana pengalaman berduka, membentuk persepsi yang berbeda pada Pertiwi dan Teguh, pasangannya, soal bagaimana cara berpulang yang dianggap lebih baik.

Kematian dan duka tidak diposisikan Arie di novela ini sebagai hal yang terlalu besar untuk bisa dipeluk oleh tokoh-tokohnya. Rasa tragis dan pilu tidak ditampik, tapi hal-hal yang tidak nyaman itu dibahasakan dengan sangat tenang dan grounded.

Di tengah kehidupan manusia yang rapuh, khususnya kelompok marginal yang hanya bisa bertahan, kematian mereka sering hanya dianggap data statistik tanpa cerita dan aspirasi signifikan. Apalagi untuk dikenang dengan penuh rasa hormat dan digali lagi musababnya untuk perbaikan dan pembelajaran komunal. Dalam Alok, Arie menekankan bahwa sosok yang sudah meninggal tetap menjadi subjek penting yang perlu didengarkan, dengan beragam cara yang tidak selalu bisa dipahami nalar kita yang terbatas.


메타데이터
post_id
3238fc00dcdc
slug
alok-dan-percakapan-tentang-duka-3238fc00dcdc
url
https://medium.com/@margiefz.workstuff/alok-dan-percakapan-tentang-duka-3238fc00dcdc
canonical_url
https://medium.com/@margiefz.workstuff/alok-dan-percakapan-tentang-duka-3238fc00dcdc
author_url
https://medium.com/@margiefz.workstuff
status
ok
fetched_at
2026-06-23 19:38:28