Jati: Pohon yang Bernasihat
Pohon jati emas, salah satu jeni jati yang mudah dibudidayakan. (sumber)
Jati: Pohon yang Bernasihat

Pohon jati emas, salah satu jeni jati yang mudah dibudidayakan. (sumber)
Tulisan Ilham Nurwansyah (2020) tentang ajaran spiritual mengenai proses kelepasan jiwa menuju kesempurnaan atau moksa berdasarkan nasakah *Jati Suda* sangatlah menarik.
Melalui pendekatan filologis terhadap lontar L 632b Peti 16, Nurwansyah (2020) menguraikan struktur teks, konteks kosmologisnya, serta tahapan penyucian diri yang digambarkan sebagai perjalanan kembali menuju asal (hakikat) eksistensial manusia.
Naskah ini, menurutnya, menunjukkan adanya sintesis pemikiran Hindu-Buddha dalam tradisi Sunda Kuna, di mana konsep tubuh, jiwa, dan alam semesta dipahami sebagai satu kesatuan yang saling terhubung; pembebasan dicapai melalui pengenalan diri sejati (jati) dan pelepasan keterikatan duniawi.
Kata jati berpendar lebih terang dari sekian banyak hal menarik dari tulisan Ilham Nurwansyah. Adalah kata jati yang akan kita diskusikan sedikit lebih lebar dalam tulisan ini. Dalam khazanah kearifan lokal Sunda, terdapat sebuah peringatan eskatologis yang berbunyi: “mulih ka jati mulang ka asal.” Bahwa kita akan kembali kepada asal yang darinya kita diciptakan.
Jati (Tectona grandis L.f) merupakan nama pohon yang populer di kalangan kita. Pohon ini melambangkan kualitas kebaikan. Darinya kita mengenal kata “sejati”, “jati diri”. Kata jati sendiri secara etmilogi berasal dari kata Sanskerta jāta, “lahir atau diciptakan.” Dari etimologi jati ini kita mendapatkan makna intrinsik “asal” sebagaimana “lahir atau diciptakan” memberikan implikasi tentang asal dari sesuatu.
Hal yang sangat menarik ketika mengaitkan jati dengan filosofi wetan (timur). Kata wetan berakar dari kata *wit yang dalam bahasa Jawa kuna berarti pohon, tanaman, asal-muasal, hingga sebab-musabab. Dari akar kata wit, kita mengenal wiwitan (permulaan), wetan (arah timur), dan weton (hari kelahiran). Frasa bibit buit (keturunan, asal-muasal) berakar dari kata yang sama, wit.*
Kata wetan kemudian jadi identik dengan cahaya sejak matahari terbit dari arah tersebut. Implikasi dari keterkaitan jati dan timur menegaskan bahwa asal kita adalah cahaya, bahwa kesejatian kita adalah adalah nirmala. (Untuk diskusi tentang filosofi arah mata angin bisa dilihat dalam Filosofi Empat Arah Mata Angin)
Jati menasihatkan kita untuk benar-benar menjalani hidup untuk menuju kesempurnaan, serta menjaga kesejatian dan jati diri kita agar tidak dikalahkan oleh godaan-godaan. Leluhur kita kembali menggunakan jati untuk memberikan penguatan berupa peribahasa: “Jati kasilih ku junti.” Arti harfiahnya pohon jati digantikan oleh pohon junti (Dillenia aurea SMITH).
Menurut T. Bachtiar (2021), junti disebut juga sempur dan digambarkan oleh K. Heyne (1927) bahwa kayunya sangat keras namun tidak begitu awet, sehingga jarang digunakan. Artinya, kita harus mengawal ketat prioritas tujuan keberadaan kita dalam kehidupan ini agar tidak terlena dalam jebakan saṃsāra —siklus kehidupan semata. Kata saṃsāra dalam Bahasa Sunda kemudian diserap menjadi sangsara.
Dalam sudut pandang feodalisme jati kasilih ku junti boleh jadi pertarungan kelas. Peribahasa ini menggambarkan pohon jati yang kokoh harus tersisih oleh tanaman junti atau benalu yang menumpang hidup. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke samudra linguistik dan kosmologi Nusantara, ungkapan ini bukan sekadar soal persaingan sosial. Peribahasa ini tidak untuk dilepaskan dari peribahasa mulih ka jati mulang ka asal. Ini tentang kesejatian yang transendental, bukan untuk diseret ka wilayah profan.
Jati, sebagai pohon sendiri, menyeret diskusi kita semakin lebar. Sebagai pohon atau tumbuhan jati menarik perhatian untuk masuk menuju pemahaman radikal tentang siapa kita sebenarnya. Sebuah pandangan hipotetis bahwa kita sebagai manusia yang merupakan organisme spiritual pada fase tertenu pernah benar-benar tumbuh dari rahim Bumi. Hipotesis ini saya sebut sebagai Sproutmen atau “Manusia Kecambah.” (Lihat “Sproutmen”: Generasi Pertama Manusia)
Konsep Sproutmen menawarkan kesadaran bahwa manusia tidak muncul di dunia sebagai benda mati yang instan. Kita adalah proses pertumbuhan yang memiliki silsilah genealogis yang nyata dengan alam semesta.
Dalam perspektif Sproutmen, istilah Mother Earth atau Ibu Pertiwi tidak berhenti menjadi sekadar metafora puitis melainkan berubah menjadi hubungan genealogis yang sangat harfiah. Tanah bukan lagi sekadar pijakan atau sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan rahim dan plasenta universal. Tubuh fisik kita — kalsium di tulang kita, zat besi di darah kita, dan karbon dalam sel kita — adalah sari pati bumi yang dipinjamkan. Kita adalah “kecambah” yang menghisap nutrisi dari payudara Ibu Pertiwi.
Hubungan ini menjelaskan mengapa manusia modern sering kali didera kehampaan eksistensial. Kita merasa terasing karena kita telah memutus koneksi “akar” kita dengan tanah. Kita mencoba menjadi pohon yang melayang di udara, melupakan bahwa kekuatan sebuah pohon jati terletak pada seberapa dalam akarnya menghujam ke sumber asalnya. Kita kehilangan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari silsilah besar kehidupan yang tidak terputus.
Menariknya, arah wetan (timur) dalam kosmologi ini bukan sekadar penunjuk navigasi. Wetan yang berakar dari kata wit melambangkan arah terbitnya cahaya. Secara biologis, kecambah selalu tumbuh mencari cahaya (fototropisme). Secara spiritual, Sproutmen adalah makhluk yang secara kodrati dirancang untuk bergerak menuju cahaya kebenaran.
Kita “terbit” di timur untuk memulai perjalanan panjang menuju kematangan diri. Di sinilah ungkapan mulih ka jati, mulang ka asal menemukan makna terdalamnya. Pun demikian halnya dengan jati kasilih ku junti. Ini adalah peringatan agar kita tidak membiarkan nilai-nilai sekunder (benalu) menggeser nilai utama (jati diri).
Jati adalah pohon bernasihat. Mulih ka jati mulang ka asal — yang dalam prosesnya kita harus menghindari jati kasilih ku junti — adalah undangan untuk pulang. Pulang dalam konteks ini bukan tentang kematian fisik, melainkan sebuah proses “eling” (kesadaran diri), tentang perjalanan sang sproutmen untuk kembali ke kemurnian asalnya — kembali ke titik Wiwitan setelah menempuh perjalanan hidup yang penuh kisah.
Kematian, dalam hipotesis sproutmen, adalah sebuah re-integrasi. Saat “pohon” manusia secara fisik akhirnya tumbang, ia kembali menjadi humus di pelukan Ibu Pertiwi. Namun, secara spiritual ia kembali ke asal-muasalnya untuk menjadi nutrisi rohani bagi benih-benih baru yang akan segera bertumbuh.
Ini adalah silsilah abadi yang menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar hilang; kita hanya berganti bentuk dalam siklus pertumbuhan yang sakral. []
메타데이터
- post_id
- 328bdcd0aefc
- slug
- jati-pohon-yang-bernasihat-328bdcd0aefc
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/jati-pohon-yang-bernasihat-328bdcd0aefc
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/jati-pohon-yang-bernasihat-328bdcd0aefc
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 20:33:08