Apakah hidup ini akan selamanya seperti ini?
Anak kecil berumur 10 tahun itu tidak akan pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah bak membalikkan telapak tangan.
Apakah hidup ini akan selamanya seperti ini?
Anak kecil berumur 10 tahun itu tidak akan pernah menyangka bahwa kehidupannya akan berubah bak membalikkan telapak tangan.
Hidup yang sebelumnya indah, dipenuhi keberkahan, ‘cukup’ untuk mendapatkan boneka Barbie yang berserakan di rumah Barbie tingkat miliknya, setiap hari libur tiba selalu pergi entah ke pusat perbelanjaan atau menginap di penginapan bersama roda empat jadul yang sudah ada sejak ia lahir menuju tempat itu.
Hingga musibah itu datang. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat pulang dan menenangkan pikiran, kini berubah menjadi bara api yang menyesakan. Sebelumnya ia bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan, kini harus menelan rasa pahit melihat kedua manusia itu mendebatkan siapa yang akan membayar makanan. Anak kecil itu bersama adiknya dipaksa untuk mengerti keadaan. Sejak saat itu, hidupnya tidak lagi sama.
Dimulai, dari ‘niat’ untuk semakin sukses malah membawa keluarganya yang terdiri dari empat manusia itu berada di dasar laut yang tidak terlihat cahaya. Niat baik dan cita-cita itu tidak sampai. Justru sebaliknya, mereka sedih, marah, dan frustasi karena pilihannya tidak menampakkan hasil yang diinginkan. Kesalahan demi kesalahan terus dilakukan tidak memikirkan konsekuensinya. Sempat mendapatkan cahaya, tetapi harus ditenggelamkan lagi dengan hasil yang sama seperti awal. Gali lubang tutup lubang dilakukan demi isi perut. Jual rumah, pindah kontrakan, rumah disita, dan kini harus tinggal di tempat yang seperti sungkan untuk menyebutnya rumah. Mirisnya, rumah ini akan dijual oleh pemiliknya beberapa tahun lagi, mungkin setelah adiknya lulus atau bahkan sebelumnya.
Anak kecil itu kini sudah bertumbuh besar, sebentar lagi akan mengemban tugas untuk mencari nafkah demi sesuap nasi dan kebutuhan pokok. Ia merasa takut tidak akan menjadi apa-apa. Tidak bisa membantu keluarganya dan malah menambah beban. Perekonomian sekarang sangatlah miris, harga inflasi dimana-mana sementara pengangguran semakin banyak dan lapangan pekerjaan pun tidak sebanding dengan penduduknya. Ditambah lagi dengan ia berkuliah di PTN non-kemendikbud, jurusan juga terlalu ‘menjurus’, membuatnya menyesal. Akan jadi apa aku ketika lulus kuliah nanti? Apakah aku bisa menghidupi keluargaku yang tengah diambang hancur ini? Apakah keluargaku ini bisa menjadi utuh layaknya ketika aku kecil?
메타데이터
- post_id
- 32a241527dc7
- slug
- apakah-hidup-ini-akan-selamanya-seperti-ini-32a241527dc7
- url
- https://medium.com/@loveerrr24/apakah-hidup-ini-akan-selamanya-seperti-ini-32a241527dc7
- canonical_url
- https://medium.com/@loveerrr24/apakah-hidup-ini-akan-selamanya-seperti-ini-32a241527dc7
- author_url
- https://medium.com/@loveerrr24
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 18:19:11