“Uang Habis, Ilmu Tak Dapat: Fenomena Produk Digital Awur-awuran yang Meresahkan.”
Tidak sedikit konsumen yang merasa kecewa dan tertipu oleh produk digital yang telah dibelinya. Hal itu terjadi karena ada ketimpangan…
Uang Habis, Ilmu Tak Dapat: Fenomena Produk Digital Awur-awuran yang Meresahkan.
Era Covid-19 yang lalu punya dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia. Bagaimana tidak, akibat COVID-19, sebagian besar orang kehilangan pekerjaan yang mereka telah rintis bertahun-tahun. Tidak berhenti sampai di situ, aktivitas di ruang publik juga sangat dibatasi. Lalu bagaimana orang-orang yang barusan kena PHK terus mau cari uang kalau tidak bisa keluar dari rumah? Dititik inilah produk digital yang sejak beberapa tahun sebelum covid-19 sudah mulai ramai di luar negeri dan masuk ke Indonesia, muncul sebagai dewa penolong untuk kembali mendapatkan cuan di tengah segala keterbatasan. Orang mulai mencari oportuniti di bidang lain, belajar hal-hal baru secara daring, mengikuti kelas online guna mengisi waktu di tengah kejenuhan berada di rumah dan ketidakpastian hidup karena covid-19.
Kala itu, produk digital dengan cepat mulai membanjiri masyarakat. Hal itu dinilai sebagai yang positif. Informasi ilmu beragam keahlian pekerjaan bisa diakses dengan mudah hanya bermodalkan gadget dan kuota internet. Mulai dari kelas mahir jadi montir dalam sehari hingga kelas cara jualan foto dengan menggunakan gadget kasta kentang pun ada. Bisa dibilang, di semua bidang apa pun, ada produk digitalnya. Bentuknya biasa terbagi ke dalam kelas online tatap muka, kumpulan video rekaman creator dari youtube, maupun paket e-book eksklusif yang bisa diakses seumur hidup. Harganya pun bervariasi, mulai dari yang terjangkau, harga puluhan ribu, hingga belasan juta.
Jebakan Kemasan dan Skema Private Label Rights
Tren produk digital yang awalnya positif perlahan mulai menunjukkan sisi gelapnya. Saya tidak tahu pasti apakah tahun 2026 adalah puncak kejenuhan dari ekosistem produk digital. Yang pasti dalam perjalanannya, konsumen banyak menjumpai produk-produk digital yang ternyata isinya layak disebut “sampah” alias tidak bermutu. Kenapa bisa seperti itu? Karena isinya tidak lebih daripada copy-paste atau terjemahan dari bahasa asing yang ngawur semisal tentang prosedur coding. Parahnya, tidak jarang isi produk digital itu sebenarnya bisa dicari secara mandiri lewat mesin pencari seperti Mbah Google atau Youtube.
Tidak sedikit konsumen yang merasa kecewa dan tertipu oleh produk digital yang telah dibelinya. Hal itu terjadi karena ada ketimpangan. Produk digital yang beredar di pasaran biasanya dipoles sedemikian rupa dengan menggunakan teknik copywriting dan desain landing page ciamik, yang semuanya itu bertujuan menyentuh sisi emosi dari konsumen. Sehingga konsumen kepencut dan merasa penting untuk membeli dengan segala ekspektasinya dan ternyata setelah mendapatkan akses ke produk, isinya adalah sampah.
Faktor lain dari alasan layak disebut produk sampah adalah adanya skema menjual lisensi Private Label Rights. Produk digital lekat dengan skema ini. Dengan skema PLR, dibuka kesempatan yang sama bagi jutaan orang di Indonesia, bahkan di dunia, yang ingin mendapat cuan bisa punya hak menjual kembali produk digital. Sehingga yang terjadi selanjutnya, konsumen hanya akan menemukan perbedaan visual dari polesan copywriting dan landing page seolah-olah seperti produk otentik dan eksklusif yang hanya bisa didapatkan apabila konsumen membeli produk itu, padahal isi produknya sama plek-ketiplek.
Hal itu pernah saya temukan langsung ketika saya mencoba melakukan tes dengan membeli dua buah produk digital yang berbeda merek, yang masih dalam satu bidang. Saya membeli satu yang berbentuk kelas online dan satu lagi yang berbentuk e-book. Pada kelas online, saya ternyata mendapatkan bonus berupa kumpulan file yang berisi ratusan draf perjanjian kerja sama dan file yang berisi kumpulan SOP. Lalu pada produk digital yang berbentuk e-book dengan judul “Template Kumpulan Draf Perjanjian Kerja Sama” yang di dalamnya berisi ratusan jenis file. Apa yang terjadi? Saya menemukan kesamaan plek-ketiplek isi file dari kedua produk digital tadi. Ini yang saya maksud dengan dampak langsung dari skema praktik jual beli lisensi Private Label Rights (PLR). Belum lagi problem lain seperti produk digital yang sebenarnya isinya sudah ketinggalan zaman, tapi masih saja dijual dan beredar di pasaran hanya demi tujuan mengejar cuan-cuan.
Piramida Setan Skema Menjual Cara Menjual
Kenapa disebut priamida setan? Ya karena sistemnya mirip seperti kelakuan setan. Konsumen itu beli produk digital punya ekspektasi seperti : bisa mendapatkan skill baru, punya side job, dan lain-lain. Tunggu dulu, apakah semudah itu, Bang Ferguso? Tentu tidak. Karena kemungkinan besar konsumen hanya akan mendapatkan remahan rengginan saja dan kerugian nyata dana yang keluar sia-sia untuk membeli produk digital tadi. Kenapa bisa demikian? Karena dalam skema piramida setan yang paling di untungkan adalah pencipta produk asli juga sekaligus yang menyusun sistem afiliasinya. Lalu, di bawahnya, pada tahap afiliasi,yang diuntungkan adalah influencer yang jadi afiliasi yang sudah punya banyak pengikut. Dan terakhir, jelas pemilik platform yang mengambil keuntungan dari setiap adanya transaksi pembelian produk digital. Sebagai contoh: Produk digital “Cara Menjadi Affiliate TokTok Shop”. Ketika konsumen membeli produk digital tersebut, setelah dicek, isinya adalah kumpulan materi promosi yang sudah jadi dan siap pakai. Kemudian, setelah dibaca-baca materinya, ternyata konsumen yang sudah membeli tadi secara tidak langsung punya tugas untuk menyebarkan link produk ke orang lain lagi. Di situ, jatuhnya konsumen hanya jadi sales yang membantu menjual kepada pemilik asli/pencipta produk saja.
Perlahan Merusak Ekosistem
Maraknya produk digital yang kualitasnya awur-awuran di samping merugikan konsumen perlahan akan merusak ekosistem yang ada. Karena konsumen sudah pada tahap skeptis. Muncul narasi besar seperti “Semua Produk Digital Tidak Lebih Dari Penipuan yang Sistematis”. Perang harga antarproduk digital juga semakin tidak terelakkan. Kamu pasti pernah menemukan sebuah promo produk digital yang menjual produknya sangatlah murah, bahkan mendekati harga di bawah 10 ribu, sudah dapat banyak file. Lalu ketika ada produk digital sejenis yang ternyata berkualitas dan dijual dengan harga 1 juta, tentu kamu akan protes keras dan merasa itu sangat mahal.
Sebelum menutup tulisan ini, saya berharap para pelaku usaha yang terjun di dunia jualan produk digital fokuslah pada kualitas produk, bukan hanya memikirkan kuantitas, karena jika diterus-teruskan, kondisi seperti ini akan membuat ekosistem menjadi rusak. Lalu, untuk konsumen memang tidak bisa dihindari, kalian butuh skill baru untuk upgrade diri, untuk menambah income, dan alasan lainnya. Tapi bersikaplah kritis, selektif dan tidak terburu-buru dalam memilih produk digital yang berseliweran agar uangmu tidak habis sia-sia.
메타데이터
- post_id
- 32c487cad21f
- slug
- uang-habis-ilmu-tak-dapat-fenomena-produk-digital-awur-awuran-yang-meresahkan-32c487cad21f
- url
- https://medium.com/@matasukma/uang-habis-ilmu-tak-dapat-fenomena-produk-digital-awur-awuran-yang-meresahkan-32c487cad21f
- canonical_url
- https://medium.com/@matasukma/uang-habis-ilmu-tak-dapat-fenomena-produk-digital-awur-awuran-yang-meresahkan-32c487cad21f
- author_url
- https://medium.com/@matasukma
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-06 06:46:49