← Back to list

Setelah Nonton Film: PANGKU (2025)

Ulasan oleh: Lambang K.R.P

Lambang Kukuh Restu Pambudi · 2026-05-02 22:21 · 0 claps · 3.3 min read
#film-reviews #pangku #reza-rahadian
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Setelah Nonton Film: PANGKU (2025)

Ulasan oleh: Lambang K.R.P

Images: x.com/habisnontonfilm

Setelah dikenal luas sebagai salah satu aktor besar negeri ini, Reza Rahadian tampak sungguh-sungguh merefleksikan lebih dari dua dekade perjalanannya sebagai sineas. Melalui film Pangku, yang dimotori oleh rumah produksi yang ia dirikan, Gambar Gerak Productions, Reza seolah hendak menyampaikan kristalisasi dari seluruh proses belajarnya. Film ini hadir layaknya “rapor” yang konkret–menunjukkan bagaimana ia memanfaatkan kecakapan observasi: mengamati, menyerap, lalu mengendapkan empati terhadap manusia, lingkungan, serta peristiwa di sekitarnya. Sekali lagi, sebagai aktor besar negeri ini, ia mampu mengejawantahkan seluruh hasil dari perjalanannya–yang kali ini ia suguhkan dari balik kursi sutradara.

Kisah pada film ini mengikuti sosok Sartika (Claresta Taufan) yang memilih untuk pergi dari rumahnya dalam keadaan hamil tua. Tak pernah dijelaskan apa sebab musabab dari keputusan yang ia ambil dalam keadaan yang sangat rentan tersebut, namun Reza cukup jeli untuk menganggap bahwa penonton sudah cukup pintar untuk mengerti latar belakang Sartika. Latarnya adalah sebuah kedai kopi di kawasan jalur pantura milik seorang wanita paruh baya bernama Maya (Christine Hakim). Sebuah area yang kumuh dan tak mengenal kehigienisan ataupun moralitas. Tempat di mana para sopir truk mampir, rehat berjam-jam untuk menyesap kopi. Namun, dalih istirahat itu segera kehilangan kepolosannya: kopi bukan komoditas utama di kedai tersebut, melainkan servis pangku dari si pelayan perempuan. Sontak, realitas kemiskinan & seksualitas saling berkelindan-sebuah hal yang kerap kali dieksploitasi sebagai materi jualan yang “seksi” bagi sinema arus utama.

Kekuatan utama film Pangku terletak pada pilihan Reza Rahadian untuk mempertebal realitas di lapangan dengan mempertahankan keadaan seasli mungkin. Latar hiburan malam kelas bawah, bunyi musik dangdut yang saling bersautan, serta kelap-kelip lampu yang mampu membuat mata lelah, semuanya seolah menjadi suguhan realitas yang begitu kental. Naskah yang ia tulis bersama Felix K. Nesi benar-benar enggan untuk mengemis tangis dari penonton. Saat Sartika terlihat luntang-lantung mencari kerja dalam kondisi hamil tua, penonton justru didorong untuk berada di posisi sebagai pengamat yang belajar mencari pemahaman, alih-alih tenggelam dalam rasa penuh kasihan.

Kita akan dibawa untuk memahami betapa kaum yang kerap dianggap amoral justru kerap kali menunjukkan rasa kemanusiaan yang lebih baik ketimbang mereka yang mengaku bermoral. Keberuntungan Sartika bertemu dengan Maya menjadi gambaran nyata dari pernyataan tersebut, di mana Maya, tanpa banyak pertimbangan, bersedia memberi tumpangan cuma-cuma bagi Sartika di rumahnya. Bahkan, Maya juga memberikan pekerjaan kepada Sartika sebagai pelayan kopi pangku–melakoni peran sebagai perempuan yang duduk di pangkuan para pelanggan pria yang digerakkan oleh gairah seksual semata. Mereka mengira memangku Sartika adalah bentuk relasi kuasa, namun justru Sartikalah yang memegang kendali.

Sartika bekerja sembari mendidik dan membesarkan putranya, Bayu (Shakeel Fauzi). Ia tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran laut bersama Maya dan suaminya (Jose Rizal Manua). Penggambaran seluruh karakter yang hidup dalam garis kemiskinan tak serta-merta membuat Reza jatuh pada pilihan untuk mengeksploitasi ratapan para karakternya. Kita pun dibawa untuk menengok ke sekitaran permukiman tempat mereka tinggal yang, pada kenyataannya, jauh dari kata “sederhana”.

Pengarahan Reza Rahadian cenderung menekankan pada sisi sensitivitas, di mana pace yang sangat pelan membawa penonton untuk benar-benar memahami hingga ke detail terkecil. Kita pun tak akan pernah dimanjakan dengan title card yang secara instan memberi keterangan latar waktu film ini. Sebaliknya, seluruh konteks tersebut dihadirkan melalui detail-seperti siaran televisi & radio yang merekam kondisi bangsa di tengah krisis moneter. Pilihan ini terasa lebih aduhai ketimbang sekadar menyuapi penonton dengan penjelasan melalui eksistensi title card.

Kecemerlangan akting duo ansamble cast, Claresta Taufan dan Christine Hakim dalam membawakan karakter yang hidup dalam kepiluan patut diacungi jempol. Alih-alih memberdayakan tangis sebagai senjata utama, mereka justru piawai menyuarakan derita tanpa banyak kata, dan mampu membuat penonton turut larut–merasa seolah dicabik-cabik dari dalam. Visi Reza dalam menggambarkan realitas kehidupan yang pilu terasa relevan secara nyata. Pada titik ini, film seperti hendak menegaskan satu hal: kehidupan yang benar-benar getir justru kerap hadir tanpa eksistensi tangis yang berlebihan di dalamnya.

Harapan indah pun sempat merekah tatkala Sartika berkenalan dengan Hadi (Fedi Nuril), sopir pikap pembawa ikan yang kerap datang mengunjungi kedai kopi bersama temannya, Asep (Kaan Lativan). Benih cinta tumbuh di antara keduanya melalui perhatian-perhatian sederhana yang diberikan Hadi, seperti saat ia sering membawa ikan sisa pengantaran. Sartika sekeluarga pun memakannya dengan lahap. Lalu Bayu, dengan polosnya, menanyakan jenis ikan apa yang diberikan oleh Hadi. Sartika dan Maya tak mampu menjawab. Kemiskinan yang sedemikian mencekik membuat mereka benar-benar asing terhadap ikan–ironis, mengingat mereka tinggal di wilayah pesisir.

Kepiawaian Reza Rahadian dalam mengolah setiap kesubtilan pada film Pangku di sepanjang durasi menjadi bukti bahwa ia benar-benar tumbuh dari perjalanannya sebagai sineas selama dua dekade terakhir. Tidak berlebihan jika film ini terasa jauh dari kesan karya debut. Reza menunjukkan bahwa ia bukan sekadar aktor yang “besar”, tetapi juga seorang kreator yang terus berkembang & memberi dampak bagi dunia peran yang membesarkan namanya.

I’ll give it 9 out of 10. Very recommended ⭐️⭐️⭐️⭐️

  • Surakarta, 27 April 2026

메타데이터
post_id
32d28352bad4
slug
setelah-nonton-film-pangku-2025-32d28352bad4
url
https://medium.com/@satriogagah70/setelah-nonton-film-pangku-2025-32d28352bad4
canonical_url
https://medium.com/@satriogagah70/setelah-nonton-film-pangku-2025-32d28352bad4
author_url
https://medium.com/@satriogagah70
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13