Kami Ada, Kami Terpinggirkan
Hidup di tengah keterbatasan fisik memang bukanlah hal yang mudah. Mengadu nasib di kota tidak seindah yang mereka bayangkan. Mereka…
Kami Ada, Kami Terpinggirkan

Hidup di tengah keterbatasan fisik memang bukanlah hal yang mudah. Mengadu nasib di kota tidak seindah yang mereka bayangkan. Mereka terpaksa harus terbiasa dengan pola kehidupan masyarakat normal pada umumnya. Bagi mereka, stigma dan diskriminasi bukanlah hal yang baru. Kehadiran mereka juga sering kali diabaikan oleh masyarakat.
Ini yang dirasakan oleh Yoseph Loku dan istrinya, Albina Abong. Mereka adalah penyandang disabilitas fisik. Yoseph Loku memiliki gangguan gerak pada tangan kiri dan kedua kakinya, sedangkan istrinya harus menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk menopang dirinya agar bisa berdiri ataupun berjalan.
Sejak November 2001, pasutri ini memilih untuk bekerja sebagai penjahit yang sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Selama 21 tahun mereka harus menaiki tangga untuk menuju ke kios tempat mereka bekerja. Kios tersebut berada di pusat kota Maumere, tepatnya di pintu masuk kawasan pertokoan.
“Awal-awal itu sangat susah membuat orang yakin dengan hasil jahitan kami, mungkin karena kondisi kami yang seperti ini,” ungkap Yoseph.
Pada awal meniti usaha sebagai penjahit, Yoseph pernah memilih untuk tidak pulang ke rumah dan tetap berada di kios yang Ia sewa tersebut. Kios yang berukuran 2x3 meter itu dijadikan sebagai rumah keduanya. Mirisnya, Yoseph masih harus menuruni setiap anak tangga untuk ke kamar mandi ataupun toilet yang terletak di lantai satu. Hal tersebut berlangsung selama dua tahun.

Tidak seperti orang pada umumnya, Yoseph Loku menaiki tangga dengan cara duduk di setiap anak tangga dan pelan-pelan mengangkat kakinya menuju tangga berikutnya.
Sama halnya ketika Ia menaiki tangga untuk bertemu salah satu Kabag di Kantor Bupati Sikka yang berada di lantai dua tanpa alat bantu dan bantuan pegawai. Bagi Yoseph dan istrinya, menaiki atau menuruni tangga sama halnya dengan melewati seribu tangga.
Aksesibilitas untuk penyandang disabilitas di kota Maumere, kabupaten Sikka jauh dari kata ramah. Padahal kabupaten Sikka merupakan wilayah dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak di NTT berdasarkan data BPS Provinsi NTT tahun 2017. Dan menurut data dinas sosial kabupaten Sikka, jumlah penyandang disabilitas di Sikka pada Desember 2021 mencapai 2.444 jiwa.
Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pemberian kemudahan akses bagi para penyandang disabilitas masih belum dipatuhi sepenuhnya, bahkan diabaikan oleh kantor-kantor pemerintahan. Apalagi tidak ada sanksi yang berkaitan dengan diabaikannya pemberian akses kepada para difabel.
Yoseph mengaku bahwa kesusahan ini tidak hanya dirasakan oleh Ia dan istrinya, namun semua penyandang disabilitas di kabupaten Sikka. Mereka masih kesulitan mengakses berbagai tempat umum, gedung perkantoran serta angkutan umum.
Pemenuhan hak-hak para penyandang disabilitas hingga saat ini masih diperjuangkan oleh Yoseph dan teman-temannya yang tegabung dalam Forum Belarasa Difabel Nian Sikka (Forsadika). Mereka yang tergabung dalam forum ini, masih mengingat dengan jelas janji Bupati Sikka pada 2018 lalu.
“Bupati pada awal kampanye dulu pernah bilang kalau akan memenuhi setiap hak-hak dasar warga Sikka tanpa terkecuali. Tapi itu tidak terjadi kepada kami,” jelas Yoseph.
Namun sayangnya, keberpihakan terhadap kelompok difabel masih sangat minim. Jalur khusus untuk pengguna kursi roda, jalan khusus untuk pejalan kaki tunanetra, pelayanan publik untuk tunawicara dan tunarungu jarang ditemukan, baik itu di kantor-kantor pemerintahan ataupun di ruang publik lainnya.
UU №8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas hanya sekedar peraturan tanpa adanya aksi nyata. Hak-hak mereka sebagai manusia sering kali diabaikan. Penyandang disabilitas masih dipandang sebelah mata. Keterbatasan yang dimiliki, membuat mereka dianggap sebagai kelompok yang lemah, tidak berdaya dan hanya perlu mendapatkan belas kasihan.
Yoseph menyadari bahwa ketika diri mereka sendiri tidak menganggap mereka ada dan berharga, orang lain pun tidak akan menghargai mereka. Itulah yang selalu ditekankan Yoseph kepada teman-temannya di Forsadika.
“Kami tidak butuh belas kasihan orang-orang apabila kami sendiri tidak punya belas kasihan terhadap diri kami sendiri,” tutur Yoseph.
메타데이터
- post_id
- 330ffef895c1
- slug
- kami-ada-kami-terpinggirkan-330ffef895c1
- url
- https://medium.com/@meylindaputriyanimukin/kami-ada-kami-terpinggirkan-330ffef895c1
- canonical_url
- https://medium.com/@meylindaputriyanimukin/kami-ada-kami-terpinggirkan-330ffef895c1
- author_url
- https://medium.com/@meylindaputriyanimukin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 00:49:34