Kekeliruan Prof. Magnis Suseno
Melanjutkan tulisan saya kemarin, “Utopis Pemimpin Ideal” akibat dari sistem kepartaian dan pemilihan yang tidak berjalan baik, ternyata di…
Kekeliruan Prof. Magnis Suseno

Sumber : X Goenawan Mohamad
Melanjutkan tulisan saya kemarin, “Utopis Pemimpin Ideal” akibat dari sistem kepartaian dan pemilihan yang tidak berjalan baik, ternyata di sisi lain kita juga perlu melihat tindakan diri sendiri yang secara tidak sadar sebenarnya selama ini kita adalah bagian dari mengamini dan menghendaki sistem tersebut terus ada.
Bagaimana tidak? Dalam pemilihan umum kita hanya dijadikan objek yang dihadapkan pada pilihan yang telah disediakan dalam surat suara. kita terlibat dan juga ikut memberikan pilihan pada sesuatu yang sebenarnya tidak sejalan dengan kita. Keterlibatan ini dapat dibaca sebagai kesepakatan atau menyetujui segala prosedur dan pilihan yang telah ada, alhasil sistem dan pemimpin yang tidak ideal terus bercokol pada legitimasi rakyat.
Belum lagi ketika kita memilih abstain/golput pada pilihan umum, stigma yang labeli oleh kekuasaan adalah orang yang tidak memiliki jiwa nasionalis dan mengganggu demokrasi. Padahal golput adalah suatu sikap ketidakpercayaan atas sistem dan pilihan yang tidak ideal.
Sangat aneh ketika harus memilih calon pemimpin, tapi pilihan yang diberikan adalah orang-orang yang buruk dan kita di paksa untuk memilih salah satu di antara orang-orang buruk tersebut.
Menormalisasi Keburukan.
Kita mungkin tidak akan pernah asing dengan ungkapan dari Prof. Magnis Suseno soal memilih pemimpin, bahkan ungkapan tersebut banyak dijadikan alat kampanye dan bertebaran saat menjelang Pemilu. Ungkapan ini seperti mantra yang dapat menghipnotis siapapun yang membaca dan mendengarnya. Ibarat kita hanya diberikan dua pilihan antara hidup dengan penuh luka dan mati.
Saya tidak menemukan bukti secara persis kapan Prof. Magnis mengungkapkan hal tersebut, tapi pada tanggal 12 Maret 2019 Prof. Magnis menuliskan hal tersebut dalam opini kompas dengan judul “Golput”.
Kurang lebih ungkapan tersebut seperti ini “pemilu bukan memilih yang terbaik untuk berkuasa, tapi mencegah yang terburuk berkuasa” dalam ungkapan tersebut Prof. Magnis ingin mengatakan bahwa dalam pemilu bukan memilih pemimpin yang terbaik, tapi memilih siapa diantara calon tersebut yang keburukannya lebih sedikit. Ungkapan ini kemudian dapat diartikan bahwa prof magnis mengamini calon-calon pemimpin yang buruk untuk tetap dipilih, walaupun dengan kadar pertimbangan buruknya lebih sedikit.
Bagi saya Ungkapan ini merupakan sesuatu yang menormalisasi keburukan, Pernomalisasian ini secara ‘terang’ oleh Prof. Magnis Di sampaikan dalam ungkapannya “bukan memilih terbaik’ tapi mencegah yang terburuk” memberikan panggung kepada mereka yang buruk untuk tetap bisa dipilih menjadi pemimpin dengan dalil ada yang lebih buruk dari pada pilihan ini. Kita dipaksa untuk tetap memberikan pilihan dan harus menerima kenyataan karena hanya pilihan itu yang tersedia. Alhasil kita tidak akan pernah mendapatkan pemimpin ideal jika ungkapan tersebut diamini sebagai kebenaran.
Seyognyahnya pemimpin itu adalah orang yang benar-benar ideal, baik berfikir, kebijaksanaan dan integritasnya, bukan justru harus menerima keadaan dan memilih orang-orang buruk. Ungkap prof. Magnis tersebut tidak melahirkan alternatif apapun ia hanya melegitimasi atas sistem yang buruk ini dan membiarkan orang-orang buruk terus berkuasa.
Memang jika di pahami lebih dalam esensi dari ungkapan Prof. Magnis adalah untuk mencegah terjadinya Golput, tapi dengan memberikan pernyataan “mencegah yang buruk dari yang terburuk berkuasa” adalah suatu pernyataan yang salah kaprah.
Kampanye Hitam (Black Campaign)
Mau tidak mau di setiap pemilihan umum kepala daerah, ataupun presiden kampanye hitam pasti selalu ada untuk merusak reputasi lawannya. Kampanye hitam atau Black Campaign merupakan tuduhan atau persepsi yang tidak berdasarkan fakta atau fitnah menyangkut kekurangan suatu calon untuk merusak reputasi lawan dan menarik suara.
Kampanye hitam ini oleh setiap lawan politik dicari celah untuk saling serang dan merusak reputasi dengan mengkampanyekan keburukan. Apalagi di era digital saat ini, informasi sangat sulit dibendung, sehingga keburukan dari setiap calon dengan mudah tersebar.
Barangkali Kampanye hitam itu ada kaitannya dengan ungkapan Prof. Magnis, yang membuat Tim sukses setiap calon menonjolkan keburukan lawan politiknya dari pada mengadu kualitasnya, Walau sebetulnya kampanye hitam ini ada jauh sebelum Prof. Magnis memberikan ungkapan tersebut.
Mengapa saya mengatakan ada kaitannya? Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Pertama. Prof. Magnis tetap menganjurkan untuk memilih dengan kategori “lebih sedikit keburukannya” ini kadang di artikan bahwa dengan membuat kampanye hitam yang lebih banyak maka dapat mempengaruhi pemilih untuk merubah pilihan politiknya. Sedangkan kita juga tau bahwa dalam politik bukan lagi nilai yang ditekankan tapi menang atau kalah, sehingga cara-cara kotor kadangkala juga dilakukan. Kedua. Publik teracuni oleh kampanye hitam sehingga yang banyak di tonjolkan bukan lagi soal ide, gagasan dan integritas, tapi kampanye hitam/Black Campaign setiap calon.
Bagi saya memilih pemimpin harus memang benar-benar ideal, namun sistem dan pilihan tidak pernah menghendaki.
메타데이터
- post_id
- 3316ec520b8a
- slug
- kekeliruan-prof-magnis-suseno-3316ec520b8a
- url
- https://medium.com/@rockyhuzaen/kekeliruan-prof-magnis-suseno-3316ec520b8a
- canonical_url
- https://medium.com/@rockyhuzaen/kekeliruan-prof-magnis-suseno-3316ec520b8a
- author_url
- https://medium.com/@rockyhuzaen
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 04:12:11