Simpan Tangismu!! Karena dalam Bisnis, Tolok Ukur Sukses adalah Uang, bukan Proses!!
Menangislah, Bila Sukses Nanti!!
KEAJAIBAN UMKM (USAHA MODAL KECIL OMSET MILYARAN) #2
Simpan Tangismu!! Karena dalam Bisnis, Tolok Ukur Sukses adalah Uang, bukan Proses!!
Menangislah, Bila Sukses Nanti!!
Kisah seorang teman yang bertahan, dan kisah “Bakso duaribu pak Ndut”, dari jualan cilok dengan sepeda pancal selama 15 tahun, berhasil membeli lima rumah, mobil dan aset lainnya. Bukan Pesugihan, tapi penerimaan pada kenyataan terlahir sebagai ‘orang paling miskin’.
Terhalang payar? gabung member Medium, atau klik di sini, untuk akses baca penuh
Foto oleh Arno Senoner di Unsplash
Ada yang pernah ke Alun-alun Joyondaru Sidoarjo? Taman kota yang lapang di depan Masjid besar kabupaten Sidoarjo, selalu ramai setiap malam.
Kamis malam, pekan lalu kami menghabiskan waktu disana, sekadar nongkrong dan menemani anak-anak bermain apa saja. Ketika saya bertemu seorang teman wali murid. Kita panggil saja bu Nur.
Saya sedang santai melihat status WA memilih duduk dengan kaki selonjor di kursi taman, ketika seorang perempuan bercadar mendekati saya;
“Monggo bun, pentol bakarnya sepuluh ribuan.. “
Mendengar suara seorang perempuan yang ‘simpatik' membuat saya langsung menoleh pada dagangan yang ia tawarkan, dalam hati membatin, duh saya nggak suka bakso, nggak suka pentol pun pentol bakar. Namun, perempuan itu malah menyapa;
“Ummu Imam ya?” (anak kelima saya bernama Imam)
Sekarang, dalam temaramnya lampu taman, saya yang bingung, siapa nih perempuan bercadar yang mengenali saya?
Ternyata beliau sesama wali murid. Teman satu grup, salah seorang sosialita yang paling aktif silaturahim, dan donasi bila ada yang kesusahan.
Siapa sangka, dibalik karakter ‘tangan di atas, yang suka memberi' beliau melakukan segala cara untuk mendapatkan uang halal.
Jika saya tidak mengetahui kesehariannya yang suka donasi, mungkin saya akan memandang rendah seorang perempuan paruh baya yang menjinjing tas plastik menawarkan pentol bakar, selepas Isya di Taman kota Sidoarjo.
Namun, karena saya kenal dia, yang timbul adalah perasaan simpati luar biasa. Saya menyukai kerja kerasnya. Abaikan faktor lain, dimana semestinya dia bisa menjalankan usaha yang lebih ‘layak’. Mohon jangan hakimi, pilihannya untuk menjadi pedagang asongan karena begini inilah Indonesia.
Namun, mereka yang fokus pada bekerja, tanpa melihat status pekerjaan, terbukti mampu bertahan dan bertumbuh.
[embed]
Sebuah tayangan di kanal YouTube Pecah Telur, menjadi bukti, bahwa seorang lulusan SMP, yang fokus pada bekerja. Bisa membangun bisnis, bisa membeli aset dan bisa memberdayakan masyarakat sekitar.
Ini adalah kisah ibu Kolifah, perempuan dari keluarga miskin, hanya lulus SMP yang menikah dengan pedagang cilok keliling desa dengan sepeda pancal. Pak Ndut, begitu panggilan suaminya, melakoni pekerjaan itu selama 15 tahun, sampai akhirnya bisa membuka warung bakso.
Strateginya sederhana. Jual bakso dengan harga murah, tapi enak. Jangan berpikir laba, tapi berpikir laku dan uang berputar. Hasilnya? dari laba yang sangat kecil, terakumulasi dalam nominal yang layak, karena mampu menjual sekian porsi. Faktor kali, disitu kuncinya. Dan ada orang-orang yang bersedia digaji untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Walau menjual dengan harga murah, bu Kolifah tidak menekan gaji karyawan. Dia memberi selayaknya sesuai ketentuan. Berkah, begitulah kita menyebutnya.
Ya, keberkahan itu nyata, Dari seorang istri yang menerima suami apa adanya, namun selalu memberi semangat. Dan seorang suami, yang amanah, hanya berpikir bekerja, tidak menyelewengkan hasil penjualan untuk judi atau lainnya.
Ketulusan dalam menjalani hidup, adalah frasa yang paling tepat untuk menggambarkan pasangan ini, dalam membangun bisnis mereka.
Simak tayangan YouTube diatas untuk merasakan bagaimana perjuangan berat yang membuahkan hasil tersebut.
Bagaimana dengan kerendahan hati, bu Kolifah menceritakan kisahnya.
Bagaimana beliau menangis, karena semua pencapaiannya, tidak bisa dinikmati oleh ibunda tercinta, karena terlebih dahulu berpulang.
Melihat beliau menangis, membuat saya semakin ikut merasakan bahwa hari hari yang pernah beliau jalani, bukan sebuah hal yang mudah.
Orang miskin hanya layak dicibir
Begitulah kira-kira.
Maukah kita memihak pada mereka? bukan menghakimi tapi membeli jualan mereka.
Mereka jual murah, karena ambil laba sedikit, juga karena kebutuhan mereka tidak banyak. Tapi, kita selalu bangga membeli produk ‘waralaba' seperti kopi kekinian yang satu cup diatas Rp 30.000.
Jadi, di posisi mana tingkat ekonomi mu saat ini?
Menengah? Dukung dengan membeli produk mereka.
Atau,
Masih di posisi bawah? sedang berjuang? Jangan menangis! Teruslah bekerja! Simpan tangismu! Biarlah tangis itu pecah, saat kau menikmati hasil lelahmu, suatu hari nanti.
Biarkan api itu selalu menyala, dengan peluh sebagai bahan bakarnya.
Lupakan persepsi manusia, yang penting kita tidak minta-minta pada mereka.
Semangat pelaku UMKM Indonesia 🔥🔥
Salam Hangat, Dypa Dinara 🤗🤗✨✨
메타데이터
- post_id
- 331ff2f4fa43
- slug
- simpan-tangismu-karena-dalam-bisnis-tolok-ukur-sukses-adalah-uang-bukan-proses-331ff2f4fa43
- url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/simpan-tangismu-karena-dalam-bisnis-tolok-ukur-sukses-adalah-uang-bukan-proses-331ff2f4fa43
- canonical_url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/simpan-tangismu-karena-dalam-bisnis-tolok-ukur-sukses-adalah-uang-bukan-proses-331ff2f4fa43
- author_url
- https://medium.com/@dypa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 03:40:03