Kebiasaan Buruk Orang Liberal
Saya telah menyimak perkataan-perkataan orang Liberal yang kadang lewat di beranda Youtube saya. Contohnya adalah Islah Bahrawi, seorang…
Kebiasaan Buruk Orang Liberal
Saya telah menyimak perkataan-perkataan orang Liberal yang kadang lewat di beranda Youtube saya. Contohnya adalah Islah Bahrawi, seorang yang katanya paling “moderat” dalam beragama. Dia sering muncul di TV sebagai orang yang sering membantah kelompok radikal seperti FPI dll serta berdebat dengan mereka. Dari luar, omongan orang ini tampak meyakinkan di mata orang awam. Dengan retorika yang lumayan bagus dan gaya bicara yang lumayan lancar. Tapi tidak bagi orang yang berilmu, apalagi dia sering menabrak ulama besar seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, dll. Dapat disimpulkan dia hanyalah orang yang bodoh namun pandai berbicara.
Gagal Paham Al-Wala wal Bara
Menurut dia, Ibnu Taimiyah adalah tokoh yang membawa pemahaman al-wala wal bara kemudian diwariskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan orang-orang Wahhabi. Kemudian dia menyebutkan judul kitab yaitu Majmu Al-fatawa tentang hal ini. Kami tidak tahu, apakah dia memahami secara detail tentang al-wala wal bara, apa subtansinya, dan adakah ulama sebelum Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menjelaskannya. Yang kami dapatkan dari orang ini adalah pemaparannya sangat ngawur dan terkesan tendensius, orang ini tidak paham apa itu al-wara wal bara kemudian terburu-buru speaking kepada orang awam. Lalu dia mengesankan bahwa pemahaman al-wala wal-bara adalah sumber daripada aksi radikalisme dan radikalisme sangat erat dengan Wahhabi.
Bukankah orang-orang Wahhabi itu paling getol mempelajari al-wala wal-bara tapi mengapa justru orang-orang Wahhabi yang paling getol juga menyerukan taat kepada pemimpin dan membantah pemahaman takfiri? Bukankah hal ini sangat kontradiktif? Justru takfiri sangat membenci ulama Wahhabi yang berada di Saudi Arabia dan menuduh para ulama dengan sebutan Murji’ah, bahkan mereka mengkafirkannya.
Al-wala wal-bara adalah bagian dari Islam, diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya sebagaimana mereka mengamalkan jihad. Apabila ada suatu kelompok di zaman sekarang yang melakukan kerusakan atas nama jihad, jangan salahkan jihadnya karena jihad adalah ajaran Islam, tetapi salahkanlah mereka yang salah dalam memahami jihad. Begitu pula orang salah dalam memahami al-wala wal-bara seperti kelompok radikal saat ini tidak harus al-wala wal-bara nya menjadi salah. Lalu ingin anda kemanakan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang al-wala wal bara, hadits-hadits dan perkataan para ulama? Apakah anda ingin membuangnya dan mengatakan itu bukan ajaran Islam?
Menisbatkan pemahaman Wahhabi kepada para radikalis adalah suatu keanehan. Bagaimana tidak? Para radikalis mengambil pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mencocoki pemahaman mereka, kemudian mereka pula mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai ulama plin-plan karena pendapatnya yang lain membantah pemahaman mereka. Hal ini sudah sering dibuktikan melalui dialog-dialong antara mereka dan para ulama di Saudi Arabia seperti masalah pengkafiran, uzur bil-jahl, dan jihad. Yang ulama dapatkan hanyalah tuduhan Murji’ah, plin-plan, dan kafir ketika menjelaskan pemahaman yang benar kepada mereka.
Tidak Mengerti Kedudukan Ibnu Taimiyah
Apalah kami dibanding Ibnu Taimiyah rahimahullah, ulama yang begitu berjasa dalam sejarah Islam telah menorehkan banyak karya yang sangat bermanfaat bagi umat. Pujian ulama kepadanya sangat banyak, muridnya sangat banyak dan rata-rata para muridnya adalah pakar di bidangnya masing-masing seperti Ibnu Katsir adalah pakar tafsir, Ibnul Qoyyim adalah pakar hadits dan tazkiyatun nufus, Ibnul Jauzi adalah pakar hadits, Ad-Dzahabi adalah pakar hadits terbaik di zamannya, Al-Mawarzi pakar sejarah dll rahimahumullah. Seandainya kami tuliskan pujian para ulama dan biografi Ibnu Taimiyyah di sini, kami rasa tidak akan cukup karena saking bersinarnya beliau melebihi matahari. Ini bukan perkataan kami, ini adalah perkataan ulama besar yaitu Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah yang dijadikan rujukan oleh orang-orang Asy-Ariyyah di Indonesia :
*Dan tersohornya keimaman As-Syaikh Taqiyyuddin (Ibnu Taimiyyah) lebih tersohor daripada matahari. Dan penggelaran beliau dengan Syaikul Islam tetap terjaga di lisan-lisan yang suci sejak zaman beliau hingga saat ini, dan akan terus lestari hingga hari esok sebagaimana hari yang lalu. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali hanyalah orang jahil (dungu) atau orang yang menjauhi sikap adil**.
Memang betul, Ibnu Taimiyah selain dipuji juga dibenci dan dibantah khususnya oleh orang-orang Ahli Kalam dari kalangan Asy-Ariyyah, karena banyak tulisan beliau yang membantah mereka. Namun kami tidak temukan ada ulama yang membantah Ibnu Taimiyah dalam permasalahan al-wala wal-bara. Apakah saudara Islah Bahrawi ini kecerdasannya melebihi para ulama tersebut sehingga berani menyindir Ibnu Taimiyyah dalam masalah al-wala wal-bara. Wallahu ‘alam, menurut kami ibarat ada seekor lalat yang terbang ingin merobohkan sebuah gunung. Dan keadaan saudara ini sangat persis seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar di atas.
Ibnu Taimiyah selalu bersumpah ketika berdebat dengan ulama sezamannya, bahwa dia akan selalu membawakan perkataan para As-salaf dalam bukunya, tidak mengarang akidah sendiri. Maka dari itu dapat dibuktikan, bahwa perkataan-perkataan beliau sangat cocok dengan pemahaman ulama sebelumnya dan terkadang beliau menjelaskannya lebih detail. Biasanya orang yang sering menyenggol Ibnu Taimiyah mereka tidak sama sekali mempelajari biografinya, mengkaji bukunya, atau melihat dari pujian para ulama. Mereka hanya membaca dan memotong-motong perkataan Syaikh dari suatu blog kemudian dibuatlah suatu kesimpulan, meskipun ngawur.
Cocoklogi Untuk Menyerang
Di antara kelompok radikal yang fenomenal adalah Ikhwanul Muslimin. Anehnya orang liberal ini juga mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah cabang dari paham Wahhabi. Padahal hingga hari ini ulama-ulama Wahhabi sangat keras pengingkarannya terhadap mereka dan Syaikh Al-Albani yang disebut Wahhabi, banyak membantah pemahaman Sayyid Quthb.
Jika orang-orang Wahhabi menggunakan metode cocoklogi yang digunakan oleh orang liberal ini, seharusnya orang yang Sufi disebut cabang paham radikal karena Hasan Al-Bana sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin adalah seorang Sufi yang getol terhadap acara Maulid, orang-orang Asy-Ariyyah adalah cabang dari radikal karena Ikhwanul Muslimin rata-rata berakidah Asy-Ariyyah. Namun karena keadilan Wahhabi dalam menilai, mereka tidak pernah menggunakan metode cocoklogi untuk menyerang pemahaman lain.
Begitu pula dengan Taliban di Afghanistan, bukankah akidah mereka adalah Maturidiyah yang sangat mirip dengan Asy-Ariyyah? Tentunya akidah ini bertentangan dengan akidah Wahhabi, lalu mengapa masih dipaksakan jika Wahhabi adalah sumber radikalisme?
Dia mengatakan bahwa sering berdiskusi dengan tokoh-tokoh Arab bahwa fitnah yang terjadi di negeri mereka adalah karena pemahaman Wahhabi. Padahal fitnah yang terjadi di negara-negara Arab Spring disebabkan oleh dakwah tokoh Ikhwanul Muslimin yang ditentang habis-habisan oleh ulama Wahhabi, lantas apakah kita masih mengatakan Wahhabi sumber radikalisme? Atau acara Maulid sumber radikalisme? Seharusnya negara Saudi yang dikenal negara Wahhabi terdampak juga oleh peristiwa Arab Spring, namun mengapa hal tersebut tidak terjadi? Justru yang kita dapati ulama Wahhabi lah yang berkontribusi menstabilkan negara konflik seperti Syaikh Said Ruslan hafizahullah di Mesir, bahkan beliau didukung oleh pemerintah disana. Sungguh kontradiktif bukan?
Tahukah kalian, bahwa Yusuf Al-Qardawi adalah tokoh Ikhwanul Muslimin yang menghalalkan mengucapkan selamat natal, boleh bekerja sama dengan Syiah, menghalalkan musik? Bukankah orang-orang liberal juga setuju dengan pemahaman Syaikh ini?
Begitu-pun yang terjadi di Indonesia, yang getol melakukan demonstrasi adalah mereka yang berakidah Asy-Ariyyah dan Sufi, bukan Wahhabi. Tapi mengapa orang liberal ini tidak pernah menisbatkan radikalisme di Indonesia sebagai cabang dari paham Sufi atau Asy-Ariyyah? Justru mengaitkan dengan Wahhabi yang jelas-jelas sangat jauh?
Apakah mentang-mentang ISIS sebagai kelompok radikal saat ini sering mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab, lantas langsung diambil kesimpulan mereka adalah Wahhabi? Ini adalah cocoklogi yang sangat picik dimana mereka tidak melakukan cocoklogi yang sama terhadap kelompok radikalis yang lain seperti Jamaah Islamiyah, Al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin, FPI, dan seterusnya.
Wahhabi Pemberontak Turki Utsmani
Untuk membuktikan kebodohan dari orang liberal adalah mengatakan bahwa Kerajaan Saudi berdiri atas dasar pemberontakan terhadap Turki Utsmani. Dalam hal ini, ada dua versi cerita :
- Kelompok yang ekstrem mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bekerjasama dengan agen Inggris bernama Hempher untuk meruntuhkan Utsmani.
- Kelompok yang lumayan netral, namun mengatakan Saudi memberontak Turki Utsmani.
Cerita yang pertama membuat kami bergeleng kepala. Bagaimana tidak? Bibit pemberontakan mulai terjadi pada tahun 1900 an sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1700 an. Terdapat selisih hampir 2 abad! Selain itu tidak diketahui siapakah Hempher, kapan lahirnya, kapan bertemunya dengan Syaikh. Yang ada hanya cerita tanpa alur yang jelas dan terkesan dipaksakan. Tentunya orang yang berakal tidak mungkin mempercayai cerita dongeng tersebut.
Cerita yang kedua juga sangat mudah dibantah, yang melakukan pemberontakan adalah gubernur Hijaz yang bernama Syarif Husein, dia adalah Seorang Sufi. Dan Najd yang dikuasai Ibnu Su’ud saat itu bukanlah wilayah dari Turki Utsmani. Jika Ibnu Su’ud memberontak Turki Utsmani, apakah ini masuk akal? Yang ada hanyalah sebaliknya, justru pasukan Turki Utsmani yang memerangi Najd (Dir’iyyah) dan memenggal kepala Muhammad bin Saud di Istanbul.

Najd bukan bagian dari Turki Utsmani
Selanjutnya, Ibnu Su’ud memerangi Syarif Husein yang sudah menguasai Hijaz, setelah Hijaz lepas dari Utsmani dan Syarif Husein mewarisi negara yang saat ini disebut Yordania.
Kami tidak perlu menulis dengan panjang lebar, hal itu bisa dibuktikan dalam bukti-bukti sejarah yang bisa ditemukan di internet.
메타데이터
- post_id
- 33315ffa0f48
- slug
- kebiasaan-buruk-orang-liberal-33315ffa0f48
- url
- https://medium.com/@agnbhr/kebiasaan-buruk-orang-liberal-33315ffa0f48
- canonical_url
- https://medium.com/@agnbhr/kebiasaan-buruk-orang-liberal-33315ffa0f48
- author_url
- https://medium.com/@agnbhr
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 12:13:33