Menjadi Dungeon Master dalam Dungeons & Dragons: Sebuah Retrospeksi
Terhitung sudah 6 tahun saya bermain Dungeons & Dragons (D&D). Sebuah permainan TTRPG (Tabletop Roleplaying Game) atau Permainan Peran Atas…
Menjadi Dungeon Master dalam Dungeons & Dragons: Sebuah Retrospeksi

Terhitung sudah 6 tahun saya bermain Dungeons & Dragons (D&D). Sebuah permainan TTRPG (Tabletop Roleplaying Game) atau Permainan Peran Atas Meja (?) yang belakangan meningkat popularitasnya karena berbagai faktor. Dari sisi global, munculnya produk-produk budaya pop seperti Stranger Things yang mengintegrasikan permainan D&D membuat pemilik hak penerbitannya bergairah untuk mengencangkan promosi permainan ini. Sementara itu dari skena lokal, selebriti dan seniman dalam negeri pun memainkan permainan tersebut.
Saya anggap, siapapun yang membaca tulisan ini (jika ada) sudah memahami atau setidaknya pernah bermain D&D, karena agaknya malas menjabarkan cara permainannya dalam paragraf-paragraf lanjutan.
Kembali ke poin awal, sudah 6 tahun saya bermain D&D, dan dalam 6 tahun tersebut, banyak pula TTRPG lain yang saya mainkan. Meski demikian, baiknya kali ini saya fokus pada permainan D&D, dan hal-hal yang ada dalam kepala saya saat bermain permainan tersebut.
Tulisan ini dibuat saat esok (atau lebih tepatnya, beberapa jam lagi) saya harus memandu permainan D&D sebagai seorang Dungeon Master (begitu mereka menyebutnya). Saya mencoba mengingat permainan yang akan saya laksanakan esok dan permainan yang pertama kali saya mainkan.
Sesi D&D pertama saya adalah pengalaman yang menarik. Saya terjun langsung sebagai Dungeon Master (DM), tanpa sepenuhnya memahami aturan yang ada dalam permainan tersebut. Semua hanya berbekal dari ajaran singkat seorang teman, serta menonton video-video tutorial di YouTube.
Jika saya pikirkan lagi, hal yang saya siapkan saat itu adalah sebuah dokumen di Google Slides dan Google Sheets. Saya menggunakan Google Slides untuk meletakkan foto peta sebuah rumah dan memberikan titik-titik di peta tersebut mengenai hal apa yang dapat ditemukan di sana. Google Sheets saya gunakan untuk menuliskan flow cerita.
Pun namanya pemula, apa itu keseimbangan permainan? Game balance? Tidak ada dalam kamus saya. Saya meletakkan monster-monster yang menempel di dinding, serta sesosok Horned Devil yang menjaga sebuah permata di rumah tersebut. Tanpa saya tahu bahwa Horned Devil umumnya menjadi musuh karakter level 9–11, sementara dua orang yang akan bermain nanti adalah dua orang yang juga pemula dan belum tahu cara bermain.
Ini betul-betul anjing buta menuntun orang buta.
Tapi permainan entah bagaimana berjalan lancar, dengan segala aturan yang saya buat sesuka hati. Acuan saya hanya satu: pemain nampak terkesan. Permainan kala itu tidak selesai karena waktu yang terlampau lama, tapi kedua pemain mengekspresikan kesenangan dan keinginan mereka untuk bermain lagi.
Mari kembali ke masa kini, saat 7,5 jam lagi saya harus menjalankan permainan untuk 7 orang. Nampaknya, satu hal tidak berubah: saya tetap mengacu pada ekspresi pemain. Karena sejujurnya, pun sampai detik ini, saya belum terlalu menyiapkan permainan. Tapi beberapa kali bermain bersama 7 orang ini, membuat saya tahu bahwa saya hanya perlu membuat mereka tergugah dan terkesan.
Dan saya rasa, hal itu yang seharusnya menjadi inti dari permainan ini.
Jujur saja, D&D adalah permainan dengan peraturan tertulis yang tak terhitung banyaknya. Terlalu banyak, hingga banyak orang melupakan satu hal: ini adalah permainan peran. TTRPG. Tabletop Roleplaying Game. Sejatinya dalam bermain peran, setiap orang memiliki peran masing-masing, memiliki cara berkontribusi ke dalam permainan.
Setiap orang tentu memiliki cara menyiapkan permainan masing-masing, tapi saya bahkan sampai sekarang berpikir, “Bagaimana seseorang menyiapkan permainan seorang diri, jika yang terlibat nanti adalah seluruh meja?”
Bagaimana mungkin saya “menulis” cerita untuk sesuatu yang akan dilakukan bersama nantinya. Saya bukan berarti meminta DM-DM di luar sana untuk kemudian datang ke meja permainan dengan kepala kosong, tangan kosong, dan duduk seperti orang bodoh. Tidak. Saya jadi berpikir, bahwa selama ini saat orang berbicara bahwa menjadi DM harus bisa membuat cerita yang menarik, hal tersebut agaknya keliru.
Menjadi Dungeon Master bukanlah menjadi penulis cerita. Sedikit lebih rumit, namun lebih mudah dari itu. Menjadi Dungeon Master adalah menjadi fasilitator diskusi dengan kemampuan improvisasi yang mumpuni. Ia tentu harus memiliki sense bercerita dan menulis, tapi yang paling sulit adalah ia harus bisa meruntuhkan ego sebagai seorang penulis. Ia harus datang ke meja membawa bahan-bahan masakan, dan membiarkan orang-orang lain di meja mempersiapkan masakan tersebut.
Bahkan bukan keterampilan memimpin yang ia butuhkan, tetapi keterampilan sebagai seorang pengikut. Lantas di mana letak bersenang-senang bagi seorang DM? Menurut saya, setidaknya yang saya rasakan, adalah menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa di meja.
Bayangkan: Anda datang membawa sebuah buku tulis ke tengah meja yang sudah dituliskan sebuah cerpen. Anda lalu mempersilakan orang-orang lain di meja untuk mencoret-coret buku tersebut, bahkan mungkin menggambarnya, membuatnya menjadi cerpen yang baru, atau bahkan sebuah novel. Dan Anda tidak punya hak untuk memukul kepala orang yang mencoret-coret buku tulis tersebut.
Setidaknya itu yang saya yakini.
Menjadi DM memberi saya latihan beradaptasi dengan situasi. Tentu, saya memiliki tombol veto untuk kemudian menghilangkan atau memunculkan sesuatu di atas meja, tapi apa gunanya tombol veto itu jika menihilkan kerja sama pencerita lain di atas meja?
Menjadi orang yang paling tidak tahu apa-apa, dikejutkan oleh hal-hal yang tidak terduga yang datang dari pemain, membuat saya merasa berlatih improvisasi. Berlatih adaptasi.
Saya rasa di sana letak kesenangan yang saya dapatkan. Memiliki ruang kepenulisan yang memperbolehkan saya berlatih menulis bebas, sekaligus membiarkan orang lain membebaskan dirinya di dalam tempat tersebut. Karena sungguh, tempat-tempat tersebut adalah tempat untuk melatih diri memperoleh kembali agensi yang selama ini hilang dimakan negara.
메타데이터
- post_id
- 3379d152b3e6
- slug
- menjadi-dungeon-master-dalam-dungeons-dragons-sebuah-retrospeksi-3379d152b3e6
- url
- https://medium.com/@namapanjangsaya/menjadi-dungeon-master-dalam-dungeons-dragons-sebuah-retrospeksi-3379d152b3e6
- canonical_url
- https://medium.com/@namapanjangsaya/menjadi-dungeon-master-dalam-dungeons-dragons-sebuah-retrospeksi-3379d152b3e6
- author_url
- https://medium.com/@namapanjangsaya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 23:07:12