← Back to list

Chapter XXI : JEBAKAN

*

RainieeNuna · 2026-05-27 13:57 · 0 claps · 9.1 min read
#minwon #mingyu #wonwoo #alternative-universe #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Chapter XXI : JEBAKAN

Sementara ombak di Laut Selatan masih menelan sisa-sisa tragedi, di daratan Pinyin yang terletak ribuan mil jauhnya, musim seolah menolak untuk membawa kehangatan. Suasana duka bertiup bersama angin pegunungan yang menusuk tulang, menyelimuti sebuah kediaman yang mendadak terasa begitu asing dan sepi. Rumah yang biasanya dipenuhi oleh gelak tawa, obrolan cerdas tentang dunia luar, dan kehangatan yang dibawa oleh kehadiran Michael, kini menjelma menjadi sebuah makam bagi harapan.

Setelah jatuh pingsan di dermaga yang basah dan becek akibat hantaman kenyataan pahit semalam, Wiaksara akhirnya siuman. Kesadarannya kembali secara perlahan, ditarik paksa oleh rasa sakit yang berdenyut di pelipisnya. Ketika matanya terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah kegelapan langit-langit kamar yang suram. Tubuhnya menggigil hebat di balik selimut tebal yang berlapis-lapis. Dingin itu bukan hanya berasal dari udara luar, melainkan hawa es yang menjalar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Aksa mencoba menggerakkan jemarinya, namun rasanya begitu kaku. Matanya yang biasa bersinar cerdas, memancarkan wibawa seorang putra keraton yang disegani, kini tampak kosong, pias, dan bengkak parah. Air matanya telah mengering, menyisakan jalur samar yang terasa perih di pipinya. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke samping. Di atas meja kayu kecil di sebelah ranjangnya, tergeletak kacamata khas miliknya pemberian michael. Kacamata yang selalu bertengger di hidungnya untuk membantu penglihatannya yang kurang baik itu kini berada dalam kondisi mengenaskan…retak seribu di salah satu sudut lensanya, membentuk pola labirin yang hancur.

Retakan pada kaca itu adalah cermin sempurna bagi jiwanya sendiri. Hati Aksa telah hancur berkeping-keping, hancur oleh lautan yang dengan kejam merenggut pria yang dicintainya. Aksa memejamkan matanya kembali, membiarkan dadanya sesak oleh sesal yang terlambat.

“Michael… kau berjanji…”

bisik Aksa lirih, suaranya nyaris menyerupai desiran angin malam yang putus asa. Ia menatap langit-langit kamar lagi dengan pandangan hampa, berharap bahwa seluruh kabar buruk yang dibawa oleh Vanco semalam hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan menguap begitu fajar tiba.

Pintu kamar berderit pelan, memecah kesunyian yang mencekam. Vanco melangkah masuk dengan hati-hati. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap pijakannya memikul beban duka yang sama besarnya. Di kedua tangannya, ia membawa nampan kayu berisi secangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Wajah pemuda itu sendiri masih menyiratkan kesedihan yang teramat mendalam, matanya merah, dan binar jenaka yang biasanya ia miliki telah padam sepenuhnya sejak berita karamnya kapal Michael menyebar.

“Kak Aksa,”

suara Vanco terdengar sangat lembut, seakan takut getaran suaranya bisa menghancurkan tubuh Aksa yang tampak begitu rapuh. Ia meletakkan nampan di atas meja, tepat di samping kacamata yang retak.

“Minumlah sedikit teh ini. Hangatkan tubuhmu. Kau… kau harus kuat, Kak.”

Aksa tidak bergeming sedikit pun. Selimut tebal itu tetap ditarik hingga ke dadanya, dan tatapannya tidak beralih dari satu titik kosong di atas sana. Teh hangat yang disuguhkan Vanco sama sekali tidak menarik perhatiannya, rasa hangat tidak lagi memiliki arti bagi seseorang yang jiwanya telah membeku.

Namun, di tengah kekosongan itu, arah pandang Aksa yang tidak sengaja bergeser ke sudut meja menangkap seberkas carikan kertas yang terletak agak berantakan. Itu adalah surat dari Romonya, Prabu Suryawikrama, yang sempat ia remas dengan penuh emosi sebelum badai kedukaan ini merenggut seluruh kesadarannya. Tulisan tangan yang kaku dan penuh ketegasan khas sang ayah seolah menuntut perhatiannya kembali.

TENG… TENG… TENG…

Jam dinding kuno yang terpasang di ruang tengah berdentang nyaring, suaranya menggema membelah keheningan rumah itu. Lima kali dentangan terdengar, menandakan bahwa waktu telah menunjukkan angka lima sore. Kegelapan malam akan segera turun menggantikan senja yang temaram.

Dentang jam itu seolah menjadi alarm yang membangunkan Aksa dari kelumpuhan emosinya. Ia teringat akan isi surat tersebut. Perintah sang Romo sangat mutlak, sebelum larut malam tiba, Aksa sudah harus berada di Bukit Qingyan, sebuah bukit terpencil yang terletak di pinggiran Pinyin yang terkenal dengan jurang-jurang batunya yang curam dan kabutnya yang tebal. Waktu pertemuan itu sudah sangat dekat.

“Vanco,”

suara Aksa keluar, serak dan pecah, seolah pita suaranya telah habis terkikis oleh jeritan pilu di dermaga semalam.

Ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari posisi berbaring, meskipun setiap sendinya menolak dan kepalanya berputar hebat karena pusing. Ia meraih kacamata retaknya dengan tangan yang gemetar, memakainya kembali meski pandangannya kini terganggu oleh garis-garis retakan di lensa kiri.

“Aku harus pergi ke Bukit Qingyan sekarang. Romo… Romo menungguku di sana.”

Vanco terkejut melihat perubahan mendadak dari Aksa. Ia segera melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Aksa, mencoba menahan pemuda Jawa itu agar tidak turun dari ranjang.

“Tidak, Kak! Kau tidak boleh pergi ke mana-mana dalam kondisi seperti ini. Tubuhmu masih terlalu lemah, kau baru saja siuman dari pingsanmu. Angin di luar sangat kencang dan kabut sore ini lebih tebal dari biasanya.”

Aksa menggelengkan kepalanya perlahan, menepis tangan Vanco dengan gerakan yang lemah namun sarat akan ketetapan hati yang tidak bisa diganggu gugat.

“Romo menungguku, Vanco. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia bicarakan denganku secara mendadak di tempat seperti itu. Tapi… firasatku sangat buruk sejak kabar tentang kapal Michael datang semalam. Ada sesuatu yang tidak beres, dan aku harus mencari tahu jawabannya langsung dari Romo.”

“Kalau begitu, biar aku saja yang pergi memeriksa ke Bukit Qingyan terlebih dahulu!”

desak Vanco, matanya memancarkan rasa khawatir yang luar biasa. Ia tidak ingin kehilangan siapa pun lagi setelah Michael.

“Atau setidaknya, izinkan aku menemanimu ke sana setelah kau beristirahat sedikit lebih lama dan mengumpulkan tenagamu. Jangan pergi sendirian dalam kegelapan, Kak.”

“Tidak, Vanco. Jangan,”

Aksa menatap Vanco dalam-dalam melalui lensa kacamatanya yang retak. Tatapan mata itu tidak lagi dingin seperti es yang biasa ia tunjukkan pada dunia, melainkan sebuah tatapan memohon yang begitu pilu, penuh dengan kerapuhan seorang manusia yang berada di titik terendahnya.

“Di dalam surat itu, Romo menegaskan bahwa ia hanya ingin bertemu denganku secara pribadi. Tanpa ada orang lain. Jika kau ikut, itu hanya akan memperkeruh suasana dengan Romo.”

Aksa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang tersisa.

“Tetaplah di sini, Vanco. Tolong jaga rumah ini baik-baik. Dan… dan jika ada kabar terbaru… kabar apa pun dari pihak dermaga atau tim penyelamat tentang Michael… tolong beri tahu aku secepatnya begitu aku kembali.”

Dengan berat hati yang teramat sangat, Vanco perlahan melepaskan cengkeramannya pada lengan Aksa. Ia tahu, di balik kelembutannya, Raden Wiaksara memiliki keteguhan prinsip yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun jika ia sudah mengambil keputusan.

Aksa berdiri dengan kaki yang agak lemas. Ia melangkah menuju gantungan baju, meraih jubah hitam tebalnya, lalu menyampirnkannya di atas bahunya untuk menghalau dingin. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari pintu rumah. Langkah kakinya yang berat terdengar menjauh, menembus kabut sore Pinyin yang mulai menebal, merayap turun dari puncak-puncak bukit seperti selimut putih yang menelan bayangan tubuhnya menuju Bukit Qingyan.


Suasana di dalam rumah pasca keberangkatan Aksa kembali menjadi sunyi, namun kesunyian kali ini terasa berbeda. Kesunyian ini tidak lagi membawa kedamaian, melainkan sebuah firasat mencekam yang membuat bulu kuduk berdiri. Vanco duduk di kursi ruang tengah, menatap cangkir teh yang kini mulai mendingin, merasa cemas dengan keselamatan Wiaksara di atas bukit sana.

Namun, hanya berselang beberapa menit setelah langkah kaki Aksa benar-benar hilang dari pendengaran, keheningan itu terkoyak secara brutal.

TENG……

Denting lonceng kuno yang terpasang di gerbang depan rumah kembali berbunyi, memecah kesunyian malam yang mulai turun. Suara logam yang beradu itu terdengar begitu nyaring dan mendadak, membuat Vanco tersentak dari duduknya. Pikirannya langsung dipenuhi oleh berbagai spekulasi. Apakah itu kurir pos yang membawa surat baru? Ataukah tetangga desa yang membawa kabar terbaru dari pelabuhan mengenai pencarian korban kapal karam?

Berharap bahwa itu adalah secercah harapan tentang keselamatan Michael, Vanco bergegas melangkah menuju pintu depan. Ia menarik selot kayu pengunci pintu dan membukanya dengan tergesa-gesa.

“Siapa — “

Kata-kata Vanco terputus di tenggorokan. Bukan kurir pos atau tetangga berwajah ramah yang menyambutnya di ambang pintu, melainkan tiga orang pria bertubuh tegap, mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu dengan kegelapan malam, berdiri di sana. Wajah mereka ditutupi oleh topeng kain hitam, hanya menyisakan sepasang mata yang memancarkan aura dingin tanpa belas kasihan.

Sebelum Vanco sempat bereaksi atau berteriak meminta pertolongan, ketiga pria itu bergerak menerobos masuk ke dalam mendorong pintu hingga menabrak dinding dengan keras. Dua orang di antara mereka langsung mencengkeram kedua lengan Vanco, memitingnya ke belakang dengan kekuatan yang begitu besar hingga tulang belikat pemuda itu terasa mau patah.

“Siapa kalian?! Lepaskan aku! Tolong!”

teriak Vanco, mencoba memberontak dengan liar. Ia menendang ke depan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan-tangan kekar yang menjepitnya bagai tanggem besi.

“Diam kau, bocah keparat!”

salah satu dari mereka…pria dengan tato bekas luka di dekat matanya…melayangkan sebuah pukulan mentah yang sangat keras tepat ke arah uluh hati Vanco.

BUUKKK!

Hantaman itu begitu telak. Vanco seketika kehilangan seluruh pasokan udara di paru-parunya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dada dan perutnya, membuat seluruh tubuhnya lemas kehilangan tenaga. Cengkeraman pada lengannya dilepaskan, dan Vanco tersungkur ke atas lantai kayu yang dingin, meringkuk kesakitan sembari terbatuk-batuk hebat hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Para penyerang itu tidak memberikan waktu bagi Vanco untuk memulihkan kesadarannya. Tanpa membuang waktu sepeser pun, orang-orang suruhan Lord Cauliz itu kembali mencengkeram kerah baju Vanco dan menyeret tubuhnya yang setengah sadar keluar dari rumah melalui pintu belakang. Ujung sepatu Vanco bergesekan dengan lantai kayu, meninggalkan jalur seretan darah yang berantakan di atas ubin rumah yang bersih.

Mereka tidak berniat menghabisi nyawa Vanco di dalam rumah itu. Sesuai dengan instruksi dan rencana keji yang telah disusun oleh Cauliz dari tanah Jawa, kematian Vanco harus terlihat bersih dari unsur pembunuhan. Cauliz menginginkan sebuah skenario yang sempurna untuk mengelabui dunia dan menjauhkan kecurigaan dari dirinya.

Tujuan mereka malam itu adalah membawa Vanco menuju sebuah tebing terpencil yang terletak di sudut terluar wilayah Pinyin. Tebing itu adalah tempat sepi yang jarang dikunjungi oleh warga, dikelilingi oleh pohon-pohon mati dan langsung menghadap ke jurang berbatu yang curam di bawahnya. Tempat itu sangat ideal untuk dijadikan lokasi “bunuh diri” palsu sang pemuda.

Di sepanjang jalan setapak hutan yang gelap, kedua pembunuh itu terus menyeret Vanco yang sesekali mencoba merontak lemah, sementara pemimpin mereka berjalan di depan memastikan situasi tetap aman dari patroli warga.

“Pastikan talinya terpasang dengan benar begitu kita sampai di tebing,”

bisik salah satu pembunuh dengan nada suara yang kejam.

“Lord Cauliz menegaskan bahwa kematian bocah ini harus terlihat seolah-olah dia murni melakukan bunuh diri karena depresi berat setelah mendengar kabar bahwa kakaknya, Michael, tenggelam dan tewas di lautan Selatan semalam.”

“Ya, aku tahu,”

jawab rekannya sembari mempererat cengkeramannya pada tubuh Vanco.

“Dengan hilangnya bocah ini karena bunuh diri, tidak akan ada satu pun orang di desa ini yang akan menaruh curiga pada kita. Semua orang akan mengira ini adalah tragedi keluarga biasa karena rasa duka. Dan setelah ini, Raden Wiaksara akan benar-benar sendirian di Pinyin, kehilangan seluruh pelindung dan orang yang bisa ia mintai bantuan. Dia akan menjadi mangsa yang sangat mudah bagi rencana Lord Cauliz selanjutnya.”

Vanco, meskipun kesadarannya timbul tenggelam akibat rasa sakit di perutnya, masih bisa menangkap samar-samar percakapan keji tersebut. Air mata frustrasi dan ketakutan mengalir di sudut matanya. Ia menyadari bahwa mereka semua…Michael, dirinya, dan Aksa…telah masuk ke dalam sebuah jaring laba-laba konspirasi besar yang mematikan, dan ia kini sedang diseret menuju ajal tanpa bisa melakukan apa-apa untuk memperingatkan Aksa dan Kakaknya.


Di sisi lain daratan Pinyin, jauh dari tempat Vanco diseret, Wiaksara sedang berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak menuju Bukit Qingyan. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah setiap jengkal otot di tubuhnya telah digelantungi oleh timah cair. Jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk. Di sekelilingnya, deretan pohon-pohon bambu tinggi menjulang, menciptakan suara gesekan daun yang berisik bagai bisikan-bisikan gaib di tengah kegelapan sore yang semakin pekat.

Aksa membetulkan posisi kacamatanya yang retak. Pandangan matanya yang terhalang oleh garis retakan lensa membuat lanskap di sekitarnya tampak terganggu dan ganjil. Namun, bukan masalah penglihatan yang membuat langkah kakinya tiba-tiba terhenti di tengah jalan setapak yang sunyi itu.

Aksa berdiri mematung di bawah rimbunnya pohon bambu. Suasana di sekitarnya mendadak terasa begitu sunyi, hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.

Nalurinya sebagai seorang putra mahkota keraton yang sejak kecil dididik untuk peka terhadap perubahan atmosfer dan gerak-gerik bahaya, tiba-tiba berbisik dengan sangat kuat di dalam benaknya. Sebuah alarm tak kasat mata berteriak di dalam dadanya, mengatakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi di belakangnya.

Ia mulai merenungkan kembali seluruh rangkaian kejadian yang menimpanya sejak kemarin secara mendalam. Pikirannya yang cerdas mulai menghubungkan titik-titik kejanggalan yang selama ini terabaikan karena kabut duka. Mengapa Romonya, Prabu Suryawikrama, tiba-tiba mengirimkan surat perintah untuk menemuinya di tempat yang begitu terpencil seperti Bukit Qingyan ini secara mendadak? Mengapa Romo tidak menemuinya di kediaman mereka yang biasa atau di tempat yang lebih layak?

Dan yang paling mencurigakan… mengapa surat panggilan dari Romo itu tiba di tangannya hampir bersamaan, bahkan hanya berselang beberapa jam saja, setelah kabar tenggelamnya kapal michael? Apakah semua ini hanyalah sebuah kebetulan yang malang?

Aksa mengepalkan tangannya di balik jubah hitamnya. Tidak. Di dalam dunia politik keraton yang penuh dengan intrik dan darah, tidak ada hal yang dinamakan kebetulan. Segala sesuatu selalu memiliki tujuan dan dalang di balik layar.

Wajah Vanco yang dipenuhi rasa cemas saat melepas keberangkatannya tadi tiba-tiba terbayang di pelupuk matanya. Kata-kata Vanco yang memohon untuk menemaninya kembali bergema di telinganya. Rasa cemas yang teramat sangat, sebuah firasat buruk yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit atas kehilangan Michael, tiba-tiba menghantam dada Aksa dengan telak. Firasat itu memberitahunya bahwa bahaya nyata saat ini tidak sedang menunggunya di puncak Bukit Qingyan, melainkan sedang mendatangi rumah sepi yang baru saja ia tinggalkan.

Aksa membalikkan badannya dengan sentakan cepat.

“Vanco…”

gumamnya lirih, bibirnya bergetar hebat.

Rasa takut kehilangan orang terdekat untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam mendadak membakar seluruh sisa energi di dalam tubuh Wiaksara. Rasa lemas, pusing, dan kedukaan atas Michael seolah tersingkirkan oleh kepanikan yang mendesak untuk melindungi Vanco. Aksa membatalkan perjalanannya menuju Bukit Qingyan tanpa ragu sedikit pun. Ia membalikkan arah langkahnya, memantapkan pijakannya di atas tanah yang licin, lalu mulai berlari kembali menuju rumah mereka dengan kecepatan penuh, membelah kabut malam Pinyin yang semakin pekat dengan jantung yang berdegup kencang diburu oleh waktu.


메타데이터
post_id
33a60e28bdeb
slug
chapter-xxi-jebakan-33a60e28bdeb
url
https://medium.com/@CutieRain/chapter-xxi-jebakan-33a60e28bdeb
canonical_url
https://medium.com/@CutieRain/chapter-xxi-jebakan-33a60e28bdeb
author_url
https://medium.com/@CutieRain
status
ok
fetched_at
2026-07-11 21:30:18