Mandor Pinus Naik Kelas, Pelatihan dari PeFI Kuatkan Standar Penyadapan
Purwokerto, 11 Juni 2026 | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur menyelenggarakan Pelatihan Mandor Getah Pinus…
Mandor Pinus Naik Kelas, Pelatihan dari PeFI Kuatkan Standar Penyadapan

Pelatihan Mandor Getah Pinus bersama PeFI Learning Center dan Kasi Utama HHBK (sumber: perhutani.co.id)
Purwokerto, 11 Juni 2026 | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur menyelenggarakan Pelatihan Mandor Getah Pinus Tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang penyadapan getah pinus. Kegiatan yang merupakan bagian dari program pendidikan dan pelatihan Perhutani Forestry Institute (PeFI) ini berlangsung di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kalirajut, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen pada Kamis (04/06). Pelatihan diikuti para mandor getah dari KPH Banyumas Timur dan KPH Banyumas Barat dan menghadirkan Kepala Seksi Utama Produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah serta Tenaga Pengajar Utama Learning Center dari PeFI sebagai narasumber.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun pemahaman bahwa kualitas produksi getah pinus sangat ditentukan oleh ketepatan pekerjaan di tingkat lapangan. Dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu, peran mandor menjadi penting karena mereka berada di garis depan pengawasan kegiatan penyadapan.
Dalam sambutannya, Kepala Seksi Utama Produksi HHBK Divre Jawa Tengah, Bagas Avianto, memberikan motivasi kepada peserta agar terus meningkatkan kemampuan dan menjaga semangat belajar. Menurutnya, tantangan pengelolaan hutan saat ini menuntut tenaga lapangan yang mampu bekerja sesuai prosedur serta beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan usaha kehutanan.
“Kualitas pekerjaan di lapangan akan sangat menentukan hasil yang diperoleh. Karena itu, harapannya seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk menambah pengetahuan, bertukar pengalaman, dan memperkuat pemahaman terhadap prosedur yang benar. Jangan berhenti belajar hanya karena sudah lama bekerja,” ujarnya.
Wakil Administratur KPH Banyumas Timur, Maman, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, pelatihan menjadi sarana untuk memperdalam apa yang tertulis dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) sekaligus memperkuat standar kerja di lapangan.
“Kami menyambut baik pelaksanaan pelatihan ini karena menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi para mandor,” katanya.
Sementara itu, Tenaga Pengajar Utama Learning Center dari PeFI, Indro Tri Widiyanto, menjelaskan gambaran umum prosedur penyadapan getah pinus yang baik dan benar. Ia menerangkan bahwa penyadapan harus memperhatikan kondisi pohon, posisi quare, kedalaman luka sadap, kebersihan bidang sadap, serta penggunaan alat yang sesuai standar.
“Ada prosedur yang harus diperhatikan agar produksi tetap optimal dan kesehatan pohon tetap terjaga. Jika prosedur ini diterapkan secara konsisten, maka produktivitas dapat meningkat tanpa mengurangi keberlanjutan tegakan pinus,” jelasnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan pada petak yang telah ditentukan. Peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan pengamatan dan praktik perpohon secara langsung. Pada sesi ini, peserta mendapatkan kesempatan mengaplikasikan materi yang telah diterima sekaligus berdiskusi mengenai berbagai kondisi yang sering ditemui di lapangan. Aplikasi yang dimaksud dimulai dari perencanaan hingga penyetoran getah di Tempat Penampungan Getah (TPG).
Selain praktik penyadapan, peserta juga memperoleh pemaparan mengenai pengujian getah pinus oleh Penguji Tingkat II KPH Banyumas Barat, Heru Restianto. Materi ini dinilai penting karena kualitas getah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai jual hasil produksi. Melalui pemahaman pengujian mutu, peserta diharapkan mampu mengenali faktor-faktor yang dapat memengaruhi kualitas getah sejak proses penyadapan.
Setelah kembali ke aula, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil praktik melalui satu orang perwakilan. Sesi ini dimanfaatkan untuk membahas temuan lapangan, mengevaluasi teknik yang diterapkan, serta memperkaya pengalaman peserta melalui diskusi bersama.
Salah satu mandor, Anif, menyampaikan bahwa melalui praktik lapangan, kelompok mereka dapat memahami secara langsung beberapa hal yang sebelumnya hanya dipelajari secara teori. Diskusi bersama instruktur juga membantu mengenali kesalahan-kesalahan yang sering terjadi di lapangan dan cara memperbaikinya.
“Pengalaman ini menjadi bekal yang bermanfaat untuk diterapkan dalam kegiatan penyadapan sehari-hari,” katanya.
Pelatihan kemudian ditutup dengan harapan agar seluruh peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di wilayah kerjanya masing-masing. Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan kualitas hasil hutan bukan kayu, peningkatan kapasitas mandor menjadi langkah yang relevan. Keberhasilan pengelolaan getah pinus tidak hanya ditentukan oleh potensi tegakan, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Karena itu, investasi pada kompetensi lapangan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi dan nilai manfaat hutan untuk masa depan. (*Mei)
메타데이터
- post_id
- 33bea4c9ea2b
- slug
- mandor-pinus-naik-kelas-pelatihan-dari-pefi-kuatkan-standar-penyadapan-33bea4c9ea2b
- url
- https://medium.com/@hijau_lestari/mandor-pinus-naik-kelas-pelatihan-dari-pefi-kuatkan-standar-penyadapan-33bea4c9ea2b
- canonical_url
- https://medium.com/@hijau_lestari/mandor-pinus-naik-kelas-pelatihan-dari-pefi-kuatkan-standar-penyadapan-33bea4c9ea2b
- author_url
- https://medium.com/@hijau_lestari
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 03:02:36