Tentang K-Wave
K-Wave atau Hallyu (Wikipedia, 2022) adalah sebuah istilah yang merujuk pada tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara…
Tentang K-Wave
K-Wave atau Hallyu (Wikipedia, 2022) adalah sebuah istilah yang merujuk pada tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara diseluruh dunia dimulai dari tahun 1990-an. Sebagai suatu budaya, bagaimana baiknya peristiwa ini dilihat?
Bagaimana seseorang memperoleh kebudayaannya? Kebudayaan (Noam Chomsky, 2015) bukan sesuatu yang dapat diperoleh sejak lahir. Proses “pemerolehan” ini juga tidak berlangsung secara instan, sebagaimana Chomsky menggambarkan, “…don’t get it by taking a pill…”, tetapi melalui pengamatan terhadap sebagian kecil kebiasaan dan tindakan. Hasil dari pengamatan itu mungkin tidak sepenuhnya diperoleh dengan netral, sehingga cara pandang yang terbentuk juga bukan sebuah struktur yang netral. Jadi, peristiwa apa yang membentuk K-Wave atau Hallyu?
Budaya populer, budaya massa, atau budaya arus utama, mengacu pada bentuk kebudayaan yang sama, yaitu budaya yang diproduksi secara masal. Budaya populer menempatkan kebudayaan sebagai komoditas, sebagaimana Adorno dan Max Horkheimer katakan (dalam Aslamiyah, 2013), budaya sudah saling berpautan dengan sistem ekonomi politik dan produksi oleh kapitalisme.
Tidak berbeda dengan pandangan Warhol (Malott et al., 2013) terhadap seni, budaya populer memiliki sisi menarik, yaitu tentang cara memperlakukan budaya bukan sebagai sesuatu yang eksklusif dan hanya dapat diakses melalui kuncen-kuncen kebudayaan. Sebagaimana popart ala Warhol, K-Wave adalah komoditas yang diproduksi masal. Apa masalahnya, jika sebuah kebudayaan diproduksi secara masal?
Sebagai sebuah komoditas, produk-produk K-Wave tentunya melewati proses produksi. Saya tidak dapat menjelaskan keseluruhan proses produksi dari masing-masing produk dalam peristiwa K-Wave. Akan tetapi, pasar adalah salah satu intrumen penting dalam proses produksi. Korea Selatan membutuhkan pasar untuk menjual produk-produk budayanya dan K-Wave ini adalah wujudnya. Mungkin pertanyaannya selanjutnya adalah, bagaimana peranan K-Wave bagi korea?
Orientasi produksi ala kapitalisme biasanya dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi. Artinya, kapitalis butuh banyak penawaran (pasar yang luas), produksi massal sehingga untuk mendapatkan nilai lebih yang akan digunakan kembali sebagai kapital dan tentu distribusi efesien untuk mempercepat putaran produksi. Saya kira, hal seperti itulah yang Korea Selatan kejar.
Pada tahun 1950-an, Korsel mengalami peristiwa yang dikenal sebagai perang korea. Perang ini juga disebut perang proksi (bahasa Inggris: proxy war) antara Amerika Serikat bersama sekutu PBB-nya dengan komunis Republik Rakyat Tiongkok yang bekerja sama dengan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB. Sekutu Korea Utara, seperti Republik Rakyat Tiongkok menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet menyediakan penasihat perang, pilot pesawat, dan juga persenjataan untuk pasukan Tiongkok dan Korea Utara. Perang itu mungkin berakhir di permukanan, tetapi secara ideologis, ketegangan di antara keduanya masih berkecamuk.
Korea adalah negara yang terbilang kecil dengan luas 100.210 Kilometer persegi, lebih kecil dari negara tetangganya, Korea Utara, yang memiliki luas 120.210 Kilometer persegi. Sebagai negara kecil yang pernah terlibat konflik (dan masih berlangsung hingga saat ini), sudah sepatutnya menjadikan korea selatan sebagai negara yang waspada. Tabiat semacam itu bisa ditemukan pada negara-negara kecil yang lain. Singapura, misalnya. Singapura mungkin bukan negara rawan konflik militer, tetapi Singapura adalah negara berkebangsaan ‘tionghoa’ yang terhimpit negara-negara melayu yang cukup besar seperti Malaysia dan Indonesia. Oleh karena itu, Singapura perlu waspada dan yang terpenting, perlu membangun simbol ‘kekuatan’ untuk negaranya.
Sebagai negara rawan konflik, selain kekuatan ekonomi dan militer, Korea juga perlu kekuatan lain. Korea Selatan (Roll, 2021) adalah salah satun negara di dunia, jika bukan satu-satunya, yang memiliki tujuan khusus untuk menjadi pengekspor budaya populer terkemuka di dunia. Ini adalah cara bagi Korea untuk mengembangkan "soft power"-nya. Soft power adalah istilah populer yang diciptakan pada tahun 1990 oleh ilmuwan politik Harvard Joseph Nye. Ini mengacu pada kekuatan tak berwujud yang dimiliki suatu negara melalui citranya, bukan melalui kekerasan. Kekuatan keras mengacu pada kekuatan militer atau kekuatan ekonomi. Contoh kekuatan lunak dalam praktiknya adalah bagaimana AS membujuk dunia untuk membeli celana jin Levi’s, iPhone Apple, rokok Marlboro, minuman ringan Coca-Cola, dan film Hollywood, dengan memanfaatkan citra yang diinginkan.
Peristiwa yang saya kira dapat penggambarkan hunbungan Korea Selatan dengan penggemar K-Wave di Indonesia, digambarkan dengan baik oleh Edward W. Said dalam buku Musical Elaboration (Bloom et al., 1991) yang disusun untuk mengisi kuliah di University of California.
Said menceritakan penampilan seorang pianis bernama Maurizio Pollini dalam sebuah resital. Ia membayangkan bahwa kekaguman para penonton terhadap Pollini sebenarnya dibangun bukan atas dasar kedekatan. Sebaliknya, kekaguman itu muncul dari jarak yang dibangun di antara keduanya. Jas swallowtail yang digunakan Polllini, kemegahan panggung, ketidaktahuan banyak (meski mungkin tidak bermaksud secara keseluruhan) penonton dengan partitur musik dan antisipasi kesaalahan not atau grasping (mungkin bisa diterjemahkan dengan serampangan sebagai salah pencet) oleh Pollini, adalah hal-hal yang membangun jarak tersebut. Singkatnya, kekaguman itu justru, tanpa disadari, terbangun oleh dominasi Pollini pada sebuah resital.
Entah kenapa, saya membayangkan hubungan itu seperti hubungan penjajah dan masyarakat terjajah dalam proses kolonialisasi. Melalui instrumen ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa dan satra, atau kebudayaan, penjajah membangun jarak dengan negara jajahannya, mengatakan jika bahasa dan sastra, serta ilmu pengetahuan yang mereka miliki lebih luhur daripada pribumi.
Masa kolonialisasi mungkin sudah habis (berganti wajah menjadi Neo-kolonialisme). Akan tetapi, efek kolonialisme terhadap segala macam bentuk kebudayaan masih dapat dijumpai. Agar dapat melihatnya, diperlukan satu diskursus yang disebut Pascakolonial.
Albert Memmi, seorang penulis dan pejuang anti-kolonial asal Tunesia, pernah mengatakan bahwa saat penindasan berakhir, masyarakat terjajah biasanya berimajinasi tentang kemunculan manusia baru. Akan tetapi, itu tidak akan terjadi, kecuali dalam masa yang panjang. Artinya, imajinasi tentang kebudayaan luhur, beradab dan berilmu pengetahuan, yang sudah dijejalkan oleh kolonial tidak akan menghilang begitu saja, tetapi mengendap dalam alam bawah sadar.
Dalam suatu kesempatan diskusi, Katrin Bandel (Katrin Bandel, 2016) menjelaskan jika ada hubungan yang lebih kompleks antara penjajah dan yang dijajah. Hubungan keduanya bukan hanya hubungan si penindas dengan yang ditindas, sebab kita juga dapat menjumpai bagaimana yang terjajah mengagumi sisi tertentu dari penjajahnya, misalnya ingin meniru budaya penjajahnya.
Kemudian, Ashis Nandi (Nandy, 2009) pernah mengatakan bahwa yang dijajah kolonial bukan hanya teritori (fisik) tetapi juga kebudayaan. Penjajahan dari segi kebudayaan ini biasanya ditunjukkan seolah-olah sebagai “tujuan mulia” seperti pembawa peradaban dan kemajuan, pembawa penerang dari zaman kegelapan dan sebagainya. Melalui cara seperti itu, sedikit demi sedikit, kebudayaan dari masyarakat terjajah tercerabut. Novel Sitti Nurbaya sering disebut-sebut sebagai contoh yang cukup “baik” untuk menggambarkan bagaimana suatu kebudayaan dicitrakan kolot.
Kita mungkin tidak menyadari “trauma” kolektif sebagai bangsa terjajah. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat Indonesia adalah manusia yang kehilangan banyak akar budayanya. Barangkali kita hanya bisa mengais-ngais sesuatu yang tersisa dari kebudayaan itu. Seperti manusia bebas ala Karl Max, yaitu “manusia tanpa tuan", “Masyarakat tanpa kebudayaan” adalah objek yang menjanjikan dalam proses produksi ala kapitalisme. Jika “manusia tanpa tuan” bisa menjadi pasokan buruh, “masyarakat tanpa kebudayaan” adalah pasar strategis yang mudah dibentuk untuk menciptakan nilai lebih.
K-Wave menawarkan cerita yang mengharukan atau menyenangkan; yang menggugah perasaan, menawarkan tokoh-tokoh yang mengagumkan (tampan atau cantik), atau makanan yang menggugah selera, dan segala sesuatu yang dibangun begitu sempurna. Melalui tiket, foto-foto, dan bahasa, K-Wave membuat kita merasa memiliki. Padahal, perasaan itu mungkin lahir dari perasaan ketidak mampuan pribadi, merasa tidak menemukan kualitas pada budaya sendiri.
Seperti permainan Moonlight Sonata dari Tiffany Poon, yang membuat saya terus memutar ulang videonya di kanal Youtube dan membuat saya bermimpi memiliki seorang pasangan seorang pianis, atau setidaknya bisa memainkan beberapa bait dari Nocturne karya Chopin, lalu mungkin membayar tiket untuk sebuah resital atau membayar guru les, pola yang sama mungkin bisa ditemukan pada penggemar K-Drama atau K-Pop.
메타데이터
- post_id
- 33c19d76c208
- slug
- tentang-k-wave-33c19d76c208
- url
- https://medium.com/@azizanshari/tentang-k-wave-33c19d76c208
- canonical_url
- https://medium.com/@azizanshari/tentang-k-wave-33c19d76c208
- author_url
- https://medium.com/@azizanshari
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 11:11:10