Tidak Ada “Manusia yang Tercerahkan”, yang Ada Hanya Tindakan Baik Saat Ini (Refleksi-6)
Beberapa hari terakhir, lini masa media sosial dipenuhi oleh berita-berita yang membuat akal sehat dan biji saya rasanya mau pecah.
Tidak Ada “Manusia yang Tercerahkan”, yang Ada Hanya Tindakan Baik Saat Ini (Refleksi-6)
Beberapa hari terakhir, lini masa media sosial dipenuhi oleh berita-berita yang membuat akal sehat dan biji saya rasanya mau pecah.

sumber: Pinterest.com
Bayangkan, seorang tokoh agama yang dihormati tega memperkosa anak asuhnya di dalam institusi yang seharusnya menjadi tempat paling aman. Di sudut lain, kita melihat dukun atau “orang pintar” yang mengklaim bisa mengobati dan memberi berkah spiritual, namun nyatanya isi otaknya hanya selangkangan dan penipuan uang.
Gila. Benar-benar gila.
Banyak orang yang penampilannya agamis dan suci, nyatanya hanya tampilannya saja. Namun, yang lebih menyedihkan adalah masyarakat kita sering kali terlalu polos — atau mungkin terlalu malas berpikir — untuk melihat kepalsuan itu. Kita hidup di tengah masyarakat yang mengidap kepatuhan buta.
Kita begitu mendewakan sosok guru, pemimpin spiritual, atau siapa pun yang diberi label “orang suci”, sampai-sampai kita lupa caranya bertanya. Kita berhenti mengoreksi. Kita menelan mentah-mentah apa pun yang keluar dari mulut mereka atas nama ketaatan. Jangankan mempertanyakan mereka, menanyakan hal yang paling fundamental ke dalam diri kita masing-masing saja k sering kali tidak berani.
Sikap abai dan ketaatan bodoh inilah yang kita saksikan sehari-hari. Kita tertipu oleh kemasan bernama “status”.
Maka, jika kita mau jujur dan menelanjangi semua ilusi ini, kebenarannya hanya satu: sesungguhnya tidak ada manusia yang tercerahkan.
Pencerahan bukanlah sebuah status tetap, bukan jubah agama, dan jelas bukan gelar spiritual yang bisa dipamerkan. Pencerahan adalah sebuah kata kerja.
Ilusi Tentang “Diri” yang Tetap
Mengapa kita bisa menyebut bahwa manusia yang tercerahkan itu tidak ada?
Dalam filsafat eksistensialisme Barat, filsuf Jean-Paul Sartre pernah melahirkan diktum terkenal: “Existence precedes essence” (Eksistensi mendahului esensi). Manusia tidak lahir dengan label atau cetak biru yang kaku. Kita tidak lahir sebagai “orang baik” atau “orang jahat”. Kita mendefinisikan siapa diri kita hanya melalui apa yang kita lakukan dari momen ke momen.
Pandangan ini bertemu dengan sangat indah dalam filsafat Timur, khususnya konsep Anatta (ketiadaan diri yang permanen) dalam Buddhisme, yang juga sering digaungkan oleh guru Zen, Thich Nhat Hanh. Tidak ada “Aku” yang berdiri sendiri, kokoh, dan terpisah dari semesta. Identitas yang kita banggakan ini cair dan terus berubah.
Jika diri kita sendiri adalah ilusi yang terus berubah, bagaimana mungkin ada status permanen bernama “manusia tercerahkan”?
Maka dari itu, kebenaran yang tertinggal hanyalah satu: yang ada adalah tindakan-tindakan yang tercerahkan, di sini dan saat ini.
Pertanyaan Krusial di Setiap Detik
Ketika kita melepaskan beban untuk menjadi “manusia sempurna” atau obsesi untuk mengejar status “pencerahan”, hidup kita mendadak menjadi jauh lebih sederhana, namun sekaligus jauh lebih menantang.
Pertanyaannya tidak lagi: “Apakah saya sudah menjadi orang suci?” atau “Apakah saya sudah mencapai level spiritual yang tinggi?”
Pertanyaan itu runtuh dan berganti menjadi pertanyaan etis yang sangat praktis:
“Saat ini, di detik ini, apakah tindakan saya sedang menyakiti makhluk lain, atau sedang menolongnya dari penderitaan?”
Kita tidak dinilai dari apa yang kita lakukan kemarin, bukan pula dari niat abstrak kita besok. Kita didefinisikan oleh apa yang kita pilih untuk lakukan sekarang.
Pencerahan dalam Etalase Hidup Sehari-hari
Untuk memahami hal ini, kita tidak perlu pergi ke puncak gunung atau bermeditasi di dalam gua selama puluhan tahun. Mari kita lihat kontrasnya dalam kehidupan sehari-hari:
- Skenario Pertama: Seseorang yang membaca ratusan buku filsafat, bisa mengutip ayat-ayat suci di luar kepala, dan merasa dirinya sudah berada di tingkatan spiritual yang tinggi. Namun, di siang hari yang terik, dia memaki kurir paket dengan kasar hanya karena salah alamat, atau dengan sengaja menyebarkan gosip yang menjatuhkan martabat temannya di grup WhatsApp. Di detik ketika dia menyakiti orang lain, seluruh “pencerahan” yang dia klaim sebenarnya lenyap tanpa bekas.
- Skenario Kedua: Seorang pekerja biasa yang mungkin tidak pernah membaca buku filsafat berat. Namun, saat mengendarai motor di jalanan yang macet dan panas, dia memilih untuk menurunkan egonya, mengerem, dan memberikan jalan bagi pejalan kaki yang ingin menyeberang. Atau di waktu lain, dia memilih menyisihkan sedikit makanannya untuk kucing liar yang kelaparan di pinggir jalan.
Di detik ketika pekerja itu memilih untuk tidak menyakiti dan justru meringankan penderitaan makhluk lain, tindakannya adalah tindakan yang tercerahkan. Di momen itu, dia membawa pencerahan ke dunia nyata.
Menjadi Obat, Bukan Luka
Pada akhirnya, hidup adalah rangkaian dari ribuan “momen saat ini”. Kita bisa saja menjadi orang yang bijaksana di jam 7 pagi, lalu menjadi orang yang penuh amarah dan menyakiti sesama di jam 12 siang.
Itulah mengapa pencerahan harus dijemput dan dipraktikkan berulang-ulang, tanpa henti, di setiap tarikan napas.
Kita tidak perlu menunggu diri kita menjadi suci atau sempurna untuk mulai membawa kedamaian bagi dunia. Berhentilah mencari pencerahan sebagai sebuah piala, baju kesalehan, atau tujuan akhir.
Di setiap detik yang berganti, kita selalu dihadapkan pada persimpangan jalan: Apakah kita akan menjadi sumber penderitaan baru bagi dunia, atau menjadi obat yang menyembuhkannya?
Saat kamu selesai membaca kalimat terakhir di artikel ini, dan kembali ke realitasmu… pilihan apa yang akan kamu ambil di detik berikutnya?
Purworejo, Senin Wage, 1 Juni 2026 Fajar E Hadianto
catatan: Tulisan ini dikembangkan oleh penulis dengan bantuan Gemini AI untuk menyusun alur dan memperjelas struktur narasi.
메타데이터
- post_id
- 33d2188c9e71
- slug
- tidak-ada-manusia-yang-tercerahkan-yang-ada-hanya-tindakan-baik-saat-ini-refleksi-6-33d2188c9e71
- url
- https://medium.com/@fajareh/tidak-ada-manusia-yang-tercerahkan-yang-ada-hanya-tindakan-baik-saat-ini-refleksi-6-33d2188c9e71
- canonical_url
- https://medium.com/@fajareh/tidak-ada-manusia-yang-tercerahkan-yang-ada-hanya-tindakan-baik-saat-ini-refleksi-6-33d2188c9e71
- author_url
- https://medium.com/@fajareh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 07:36:30